LOGIN“Hmm… sebelumnya saya pernah ditelepon seseorang bernama Karim,” ucap Bunda Zayna pelan, duduk berhadapan dengan suaminya di ruang tamu sederhana mereka. “Dia ingin saya mengelola akun RDN-nya. Katanya pakai referral saya, dengan pembagian hasil 75:25.”
Suaminya mengernyit. “Langsung begitu saja?” “Iya. Saya tolak mentah-mentah. Tidak kenal, tidak pernah bertemu. Kok bisa-bisanya langsung percaya begitu saja? Saya tutup teleponnya. Saya pikir cuma orang iseng.” Ia berhenti sejenak, menarik napas.“Tapi hari ini… asistennya menghubungi lagi. Katanya mereka sedang di Pare-Pare. Mau buka cabang perusahaan di sini. Dan mereka ingin bertemu. Hanya dua hari di sini, setelah itu terbang ke Turki, tempat usaha utamanya.” Suaminya diam cukup lama. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam menimbang. “Tidak ada salahnya dicoba, Dek,” akhirnya ia berkata lembut. “Iya… saya juga pikir begitu. Makanya saya iyakan. Tapi dengan syarat ketemu harus bareng suami dan anak-anak.” Ia tersenyum kecil, mencoba mencairkan kegugupannya sendiri. Suaminya ikut tersenyum. “Semoga ini peluang buat kamu.” "Aamiin.” Mobil mereka berhenti di depan Hotel Lotus, hotel megah yang berdiri anggun menghadap laut. Cahaya matahari sore memantul di kaca-kaca besar bangunan itu. “Mam, kita mau ke mana?” tanya Zayan polos. “Ke Hotel Lotus, Nak.” “Mau nginap?” tanya Kak Ana sumringah. Bunda Zayna tertawa kecil. “Tidak, Sayang. Mama mau ketemu orang.” “Oh… kirain mau nginap. Hotel ini keren, dekat laut. Mama kan suka laut,” lanjut Ana penuh harap. “InsyaAllah, kalau ada rezeki kita coba menginap di sini ya,” jawabnya sambil mengusap kepala putrinya. Aamiin, bisiknya dalam hati. Semoga bukan cuma menginap. Semoga ini awal sesuatu yang lebih besar. Ponselnya berdering. “Halo, sudah di mana, Nyonya?” suara pria terdengar tenang dan berat. “Maaf, panggil Ibu saja, Pak. Hehe… kayak miliarder saja dipanggil Nyonya.” Terdengar tawa kecil di seberang sana. “Baik, Bu. Saya mengikuti kemauan calon mitra.” “Kami sudah mendekati lobi. Bapak di mana?” “Saya yang sedang menelepon Ibu, di depan pintu.” Bunda Zayna mendongak. Seorang pria tinggi dengan setelan rapi melambaikan tangan. Wajahnya ramah namun profesional. “Assalamu’alaikum, Pak Ziyan?” “Wa’alaikumussalam. Dengan Bunda Zayna?” “Iya. Ini suami saya, dan ini anak-anak kami, Zayan dan Ana.” “Wah, hai jagoan. Nama kita hampir sama ya,” Ziyan tersenyum pada Zayan sambil memberi salam tinju. Anak itu tertawa. “Ayo, mari ke restoran. Tuan Karim sudah menunggu.” Di dalam restoran hotel, seorang pria duduk tenang di meja sudut. Aura berbeda langsung terasa. Jasnya sederhana namun berkelas. Tatapannya tajam namun tidak arogan. “Assalamu’alaikum.” "Wa’alaikumussalam.” “Bunda Zayna, kenalkan ini bos saya, Tuan Karim,” ujar Ziyan. Bunda Zayna menelungkupkan tangan ke dada. “Salam kenal, Tuan.” Karim mengangguk sopan. “Salam kenal.” Tatapannya sempat terhenti pada wajah Bunda Zayna yang tertutup masker. “Apakah Bunda memakai cadar?” “Oh tidak, ini hanya masker. Sejak Covid saya terbiasa memakainya dan merasa nyaman,” jawabnya santun. “Oh… begitu.” Karim bergumam pelan, nyaris tak terdengar. Ziyan cepat menyela, menangkap gelagat tuannya. “Bagaimana kalau kita makan dulu, setelah itu baru membicarakan tujuan pertemuan?” “Terserah Tuan,” jawab suami Bunda Zayna. Hidangan pun datang satu per satu. Aneka menu memenuhi meja. “Mam, kita kan sudah makan…” bisik Ana. “Tidak apa-apa, tapi jangan berlebihan. Kita harus menghargai yang mengundang,” jawabnya lembut. Sesekali Karim melirik. Maskernya belum dibuka juga. Ziyan menangkap lagi arah pandang itu. “Zayan masih disuapi ya? Kasihan Bundanya nanti tidak makan,” celetuk Ziyan ringan. Karim tersenyum samar. Kamu cerdas, batinnya. “Mam, Zayan makan sendiri saja,” ujar anak itu tiba-tiba. Bunda Zayna tersenyum, menyerahkan sendok. Bunda Zayna membuka masker perlahan untuk makan, Karim menunduk sejenak. Namun rasa penasarannya terlalu kuat. Akhirnya ia melihat. Dan untuk sesaat, waktu terasa melambat. Sederhana. Bersih. Tanpa polesan berlebih. Wajah yang tidak berusaha memikat, justru memikat karena ketulusannya. Jadi ini perempuan yang selama ini hanya kulihat dari layar… batinnya. Ia bukan glamor. Bukan tipikal influencer finansial yang haus sorotan. Tatapannya teduh… tapi ada api kecil di dalamnya. Karim menarik napas pelan. Kenapa aku merasa sudah lama mengenalnya? Setelah makan selesai, meja dibersihkan. “Anak-anak bagaimana kalau main di sana dulu? Om Rio temani. Mama dan Papa mau ngobrol hal penting,” ujar Ziyan. “Boleh, Om. Pembicaraan orang dewasa tidak boleh didengar, kata Mama,” jawab Ana polos. Karim tersenyum tipis. Suami Bunda Zayna menoleh. “Saya temani anak-anak saja. Tujuan utama kan bertemu Bunda Zayna.” Bunda Zayna menatap suaminya, sedikit tak rela. Namun ia mengangguk. “Baik, Pah.” Di sisi lain restoran, dekat jendela besar yang menghadap laut, percakapan kecil terjadi. “Pah…” Ana duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang pelan. “Mama gugup ya tadi?” Sang ayah tersenyum. “Kok tahu?” “Tadi Mama pegang tasnya kuat banget.” Zayan ikut nimbrung, “Iya, kayak kalau mau disuntik dokter.” Mereka bertiga tertawa kecil. “Apa Mama takut sama Om itu?” tanya Zayan lagi. Ayahnya menatap dua anaknya lembut. “Mama bukan takut. Mama cuma sedang menghadapi kesempatan besar. Kadang kesempatan itu bikin deg-degan.” “Kesempatan apa?” Ana memiringkan kepala. “Kesempatan supaya Mama bisa lebih berkembang. Bisa bantu lebih banyak orang. Dan mungkin…” ia berhenti sejenak, “bisa bantu keluarga kita juga.” “Aku nggak mau Mama capek,” gumam Zayan tiba-tiba. Kalimat polos itu membuat hati sang ayah tersentuh. "Papa juga tidak mau. Makanya Papa ada di sini. Apa pun keputusan Mama nanti, kita tetap keluarga yang sama. Uang bukan segalanya.” Ana mengangguk bijak. “Mama hebat kok, Pah. Kalau Mama takut, kita doakan saja.” Sang ayah tersenyum haru. “Iya. Kita doakan.” Di kejauhan, ia melirik ke arah meja tempat istrinya duduk bersama Karim. Tatapan pria itu terlihat serius, tapi tidak meremehkan. Semoga memang niatnya baik, batinnya. Kini tinggal mereka bertiga di meja itu. “Jadi, Bunda Zayna,” Karim membuka pembicaraan, nada suaranya berubah lebih serius. “Saya ingin menjadi investor pribadi Ibu.” Bunda Zayna terdiam. “Saya mengikuti analisa saham harian Ibu. Saya analisis ulang. Lebih dari 70% akurat. Target minimal 7% sering tercapai. Itu bukan kebetulan.” Jantungnya berdegup. “Maksud Tuan… saya mengelola portofolio Tuan di RDN?” “Benar. Sesuai yang pernah saya sampaikan di telepon.” Wajahnya memanas. Ia teringat bagaimana dulu menutup telepon sepihak. “Ehm… saya mohon maaf soal telepon waktu itu. Saya langsung menutupnya. Tidak sopan.” Karim tersenyum tipis. “Saya bisa memahami kehati-hatian Bunda.” Ziyan menahan senyum kecil. Jarang sekali ia melihat bosnya selembut ini. “Terus terang,” lanjut Bunda Zayna pelan, “saya kurang percaya diri. Saya bukan trader profesional. Saya takut merugikan Tuan.” Karim menatapnya lurus. “Saya tidak mencari yang merasa paling ahli. Saya mencari yang konsisten, jujur, dan punya intuisi tajam. Modal bisa saya sediakan. Integritas tidak bisa dibeli.” Kalimat itu membuatnya terdiam. “Saya ingin kerja sama ini atas nama pribadi saya. Bukan perusahaan. Kontraknya sudah saya siapkan.” Karim menggeser map ke arahnya. “Tolong dibaca di rumah, diskusikan dengan suami. Besok sore sebelum saya kembali ke Bandung, kita bertemu lagi. Jika ada pasal yang ingin ditambah atau dikurangi, kita negosiasikan.” Bunda Zayna memegang map itu. Tangannya sedikit gemetar. Ini bukan sekadar tawaran kerja sama. Ini peluang. Atau ujian. Ia mendongak, menatap Karim. “Baik, Tuan. Saya akan pertimbangkan dengan matang.” Karim tersenyum, kali ini lebih hangat. “Saya menunggu jawaban Bunda.” Di sudut ruangan, suara tawa anak-anak terdengar ringan. Namun di meja itu, keputusan besar sedang mulai tertulis. Dan entah kenapa, keduanya sama-sama sadar… Pertemuan ini bukan pertemuan biasa."Yah... sebenarnya Kak Zayna itu siapa?" Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Eksel.Kelvin yang sedang menyiapkan hasil masakannya mengangkat pandangan. Ia menatap putranya beberapa saat tanpa langsung menjawab.Dari cerita yang disampaikan Eksel sejak tadi, Kelvin justru semakin yakin bahwa putranya diam-diam telah mempelajari teknik keamanan siber hingga tingkat yang cukup tinggi. Berani menguji kemampuan dengan orang yang menjaga sistem keamanan Soraya bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sembarang orang.Kemampuan Eksel rupanya sudah jauh berkembang, bahkan melampaui perkiraannya."Apa yang membuatmu begitu penasaran?" tanya Kelvin tenang. "Dia bukan siapa-siapa."Eksel tidak langsung percaya. Tatapannya masih tertuju pada ayahnya."Kalau memang bukan siapa-siapa, kenapa jejak digitalnya hampir tidak ada? Sulit sekali ditemukan. Bahkan sistem yang melindunginya juga tidak biasa."Kelvin hanya tersenyum tipis. Dugaan itu benar. Semakin sedikit jawaban yang diterima Eksel
Malam itu, Anita dan Gita akhirnya menyelesaikan seluruh persiapan untuk berjualan keesokan harinya. Beberapa adonan telah siap, sementara kue-kue yang bisa dibuat lebih awal juga sudah tersusun rapi."Nak, istirahat dulu saja. Biar mamah yang menyelesaikan sisanya," kata Anita sambil merapikan peralatan di dapur."Baik, Mah."Gita mengangguk pelan. Tubuhnya memang terasa cukup lelah setelah menjalani hari yang panjang. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Belum sempat memikirkan hal lain, matanya sudah terpejam. Rasa kantuk mengalahkan semua rencana yang sempat memenuhi pikirannya sejak sore.Tak lama kemudian, ia benar-benar tertidur.~~~♡♡♡~~~Di tempat lain, Eksel masih memikirkan sosok perempuan yang tadi menjadi bahan pembicaraan ayahnya dan Tante Sonia.Kak Zayna... Rasa penasarannya semakin besar. Ia membuka kembali galeri ponselnya, lalu memilih salah satu foto yang secara khusus memperlihatkan wajah Zayna dengan cukup jelas. Bermodal foto itu, ia
Gita yang sempat mendengar ponsel ibunya berdering sekali tanpa sengaja melirik ke layar. Nomor yang muncul terasa asing, berbeda dengan nomor-nomor pelanggan yang biasa menghubungi mereka. Namun karena panggilan itu langsung terputus, ia mengira hanya ulah orang iseng dan tidak terlalu memikirkannya. Ia pun kembali melayani para pembeli.Sementara itu, Anita juga sibuk melayani pelanggan yang silih berganti datang. Hari itu dagangan mereka laris. Menjelang siang, sebagian besar jajanan sudah habis terjual."Alhamdulillah, Nak. Sepertinya hari ini kita bisa pulang lebih cepat," ucap Anita sambil merapikan wadah dagangannya.Gita yang baru duduk di kelas satu SMP memang sengaja menghabiskan masa liburnya dengan membantu sang ibu berjualan. Ia lebih memilih menemani Anita daripada menerima ajakan ayahnya untuk berlibur ke tempat tinggalnya.Sudah beberapa tahun Anita resmi bercerai. Perpisahan itu terjadi tidak lama setelah ayah Gita memilih mengakhiri rumah tangga mereka. Saat itu, kak
Aim tiba di kantor pada pagi hari dan langsung melapor setelah menyelesaikan perjalanan dinasnya.Sejujurnya ia masih sedikit bingung. Selama ini ia belum pernah mendapat tugas perjalanan dinas yang penugasannya langsung berasal dari kantor pusat. Karena itu, begitu tiba di kantor, ia memutuskan untuk segera menemui atasannya. Selain menyerahkan laporan perjalanan, ia juga ingin memastikan format pelaporan yang benar agar tidak terjadi kekeliruan."Pak Aim, silakan masuk. Pak Jaya sudah menunggu Bapak," ujar salah seorang staf."Baik, terima kasih," jawab Aim sambil mengangguk.Aim mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan."Silakan duduk, Pak Aim," sambut Pak Jaya dengan ramah."Terima kasih, Pak."Aim duduk dengan sedikit canggung. Ini pertama kalinya bertemu dan berbicara dengan Pak Jaya, selama ini ia hanya mengenal nama atasannya itu dari struktur organisasi dan beberapa surat dinas."Pak, mohon maaf mengganggu waktunya. Ini laporan perjalanan saya beserta laporan penggunaan da
Setelah target trading hari itu tercapai, Zayna menutup portofolio milik Karim dengan perasaan lega.Dua saham baru yang dibelinya pagi tadi berhasil ia lepas sesuai rencana. Saham D memberikan keuntungan sekitar 3,2 persen, sedangkan saham E menghasilkan keuntungan sekitar 4 persen. Memang bukan keuntungan yang besar, tetapi baginya konsistensi jauh lebih penting daripada mengejar hasil yang spektakuler.Sementara itu, pada portofolio investasi inti masih tersisa dua saham. Adapun saham-saham yang dinilainya paling rentan terdampak resesi global telah lebih dulu ia lepas. Kini ia memilih mengamati dua saham yang tersisa sambil menunggu arah pasar berikutnya."Hmm... portofolio pribadiku yang masih mencatat capital gain semoga bisa tereksekusi hari ini," gumamnya pelan.Setelah menutup aplikasi perdagangan, tanpa sengaja matanya tertuju pada grup Telegram Bootcamp yang diselenggarakan oleh perusahaan sekuritas tempatnya membuka rekening saham. Rasa penasarannya kembali muncul."Kira-k
Pukul sepuluh tepat, perdagangan sesi pertama resmi dimulai. Layar running trade mulai dipenuhi harga pembukaan setiap saham. Angka-angka terus bergerak, sementara antrean beli dan jual semakin ramai dari detik ke detik.Zayna sudah bersiap di depan monitornya. Jarinya sesekali bergerak di atas mouse, sementara matanya bergantian mengawasi grafik, antrean bid, dan offer. Semua sudah ia susun sejak sebelum pasar dibuka. Kini tinggal menunggu apakah pasar bergerak sesuai rencananya atau tidak.Lima menit pertama berlalu begitu cepat. Senyum tipis akhirnya menghiasi wajahnya ketika dua saham pada portofolio investasi intinya berhasil menembus harga jual yang telah ia targetkan."Alhamdulillah..."Tanpa sadar ia mengepalkan tangan kecilnya. Sesuai rencana, ia langsung melepas sebagian kepemilikan pada kedua saham tersebut untuk mengamankan keuntungan.Memasuki lima belas menit pertama, dana alokasi khusus trading mulai disiapkan. Sekitar empat puluh persen dari dana itu ia gunakan untuk m
Genap sepuluh hari akhirnya keluarga Zayna kembali ke Parepare."Alhamdulillah, akhirnya sebentar lagi kita sampai di rumah," ujar Zayna dengan wajah sumringah."Iya, Bund," jawab Aim sambil tersenyum dan tetap fokus mengemudikan mobil.Zayna teringat semua kebaikan yang mereka terima selama berada
Wisata hari kedua berjalan lancar. Begitu pula dengan pekerjaan Aim. Ternyata perjalanan dinas kali ini jauh lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.Saat kembali ke penginapan, setelah anak-anak sudah terlelap. Aim melihat istrinya sedang serius menatap layar laptop. "Bund, ada apa? situasi
Pagi hari di hari kedua mereka di Bogor, Pak Arman kembali mengambil peran sebagai pemandu. Setelah sarapan, ia mengajak keluarga Bunda Zayna mengunjungi Museum Zoologi.Ana terlihat paling bersemangat. Gadis kecil itu berlari kecil ke sana kemari, matanya berbinar melihat berbagai koleksi satwa ya
Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur. Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan.Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana,







