Beranda / Rumah Tangga / Tukar Ranjang Puaskan Rasa / BAB 6 — KEPUTUSAN YANG MAHAL

Share

BAB 6 — KEPUTUSAN YANG MAHAL

Penulis: SamL9
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 00:58:59

Laura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar.

"Masuk dulu," ucap Laura pelan.

Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini."

Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?"

Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang."

Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin."

Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya."

Laura mengangkat wajah.

"Saya datang karena saya bingung."

Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti."

"Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung menolak. Tapi sekarang ada ibu saya yang sedang berjuang di rumah sakit."

Laura tidak menyela.

"Saya merasa seperti apa pun keputusan saya ... tetap akan menyakiti seseorang."

Keheningan menyelimuti keduanya.

Beberapa saat kemudian Laura berkata pelan, "Aku tidak ingin penderitaan ibumu menjadi alasan kamu melakukan sesuatu yang nanti kamu sesali."

Faela menatap Laura, seolah tidak percaya mendengar kalimat itu. "Tawaran itu ..."

"... aku tarik."

Faela membeku. "Nyonya?"

"Aku sudah terlalu jauh." Laura menarik napas panjang. "Aku sedang kecewa dengan hidupku sendiri, lalu tanpa sadar menyeretmu ke dalamnya."

Suara Laura mulai bergetar. "Maafkan aku."

Faela tidak langsung menjawab.

Laura mengambil sebuah map dari meja kecil di dekat pintu. "Di dalam sini ada nomor dokter kenalanku dan surat pengantar. Besok pagi kita cari cara supaya ibumu mendapat penanganan lebih cepat."

Faela mengernyit. "Nyonya ... tanpa syarat?"

Laura mengangguk. "Tanpa syarat."

Air mata Faela kembali jatuh. "Kenapa Nyonya masih mau membantu saya?"

Laura tersenyum tipis, meski matanya ikut berkaca-kaca. "Karena aku hampir membuat kesalahan terbesar dalam hidupku."

Di sisi lain rumah, Edward terbangun. Dia meraba sisi ranjang. Kosong. "Faela?"

Tidak ada jawaban.

Edward segera mengenakan jaket tipis dan keluar mencari istrinya.

Sementara itu, Bald yang belum bisa tidur juga turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air. Tanpa mereka sadari, dua langkah kaki yang berbeda sedang mengarah ke koridor belakang pada waktu yang hampir bersamaan.

Faela menerima map dari tangan Laura. "Terima kasih, Nyonya."

"Besok kita bicarakan lagi setelah keadaan lebih tenang."

Baru saja Faela hendak berbalik, terdengar suara langkah kaki dari ujung koridor.

Tap ...

Tap ...

Tap ...

Laura dan Faela saling berpandangan. Wajah keduanya langsung memucat. Seseorang semakin mendekat. Bayangan itu mulai terlihat diterpa cahaya lampu dinding.

Faela menahan napas.

Laura menggenggam ujung pintu dengan erat.

Mereka tidak tahu ...

Apakah yang datang adalah Edward atau justru Bald?

"Laura, Faela, sedang apa kalian di sana?"

Ternyata Bald yang memergoki mereka. Laura langsung mendekat. "Sayang, maaf ... Aku membuat keputusan sendiri untuk membantu Faela. Dia ... butuh bantuan untuk pengobatan ibunya dan meminta izin pulang rumah sementara."

"Oh, ibunya sakit?" tanya Bald memastikan.

"Ya, sakit cukup parah dan harus ke ICU," jawab Laura dengan nada bicara meyakinkan.

"Kalau begitu biar dia pulang saja dan berikan uang yang dibutuhkan dengan syarat, Edward tetap di sini. Aku kesulitan mencari pengganti sopir pribadi jika Edward ikut pulang," pungkas Bald.

"Oke, Sayang. Terima kasih." Laura merasa lega. "Faela, kamu bersiap untuk pulang dan uang yang sudah aku berikan bisa digunakan untuk berobat ibumu sampai membaik. Tapi seperti kata suamiku tadi, Edward itu sopir pribadi jadi tidak boleh ikut pulang, mengerti?"

Faela langsung menjawab, "Mengerti Nyonya, Tuan. Terima kasih banyak atas kebaikannya."

----------

Malam itu, Faela mengemasi barang yang dibutuhkan untuk dibawa pulang dan juga pakaian. Dia meninggalkan rumah megah dan mewah itu untuk menuju ke stasiun kereta api terdekat dengan diantarkan oleh Edward sesuai perintah yang diberikan oleh Tuan Bald.

Terpaksa, dia harus meninggalkan suami tercinta karena itu merupakan persyaratan. Tanpa Faela tahu, Edward sudah mengetahui kalau sebenarnya Nyonya Laura memiliki hasrat terpendam padanya. Hanya saja, Edward tetap memilih setia pada Faela dan mencoba melupakan apa yang dia tak sengaja dengar tempo lalu.

Edward berpisah dengan Faela dengan rasa sedih. Tapi tak bisa melakukan apa-apa karena itu syarat dari majikan.

"Hati-hati di jalan, Faelaku."

"Iya, Mas Edward. Tenang saja. Aku pasti jaga diri baik-baik. Mas juga jaga diri baik-baik, ya?"

-----------

Malam harinya, Edward sudah dilanda rindu pada sang istri. Dia tahu Faela pasti sibuk mengurus ibu yang sakit, jadi sulit untuk dihubungi.

Akhirnya, dia membayangkan Faela. Edward saat ini di kamar sedang memainkan miliknya yang tegang dan berurat. Dia merancau dan membayangkan tubuh molek istrinya.

"Ahhh ... Sayang ... Faela sayangku ... ahhh ...."

Edward menggerakkan tangannya yang kekar naik turun mengocok miliknya sendiri dengan pemikiran liar setelah ditinggal istrinya pulang ke kampung halaman.

Tanpa sengaja, Laura sedang mengambil minum di dapur. Dia mendengar suara aneh dari kamar pembantu. "Suara apa itu? Padahal Faela sedang pulang ke kampung halamannya. Apa jangan-jangan Edward selingkuh?!" gumam Laura dengan rasa penasaran luar biasa.

Pelan tapi pasti, langkah kaki kecilnya menyusuri jalan rumah menuju kamar pembantu. Tak disangka, jendelanya sedikit terbuka, memperlihatkan aktivitas liar seorang Edward sendirian sedang berusaha memuaskan kebutuhan biologisnya.

Laura terkejut. Matanya terbelalak. Reflek langsung kedua tangannya menutupi mulut yang terbuka. Tak percaya akan pemandangan yang dia tengok dari celah jendela yang terbuka.

"Edward ... besar sekali dan panjang," batin Laura merasa panas dingin melihat Edward yang sedang memainkan barang pusakanya sendirian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   Bab 7 - Debaran Menantang

    Laura terkejut mendengar suara desahan Edward. Sopirnya yang tampan dan gagah rupawan itu berhasil membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Apalagi kondisi saat ini jendela kamar pembantunya itu tidak tertutup dengan rapat sehingga menampilkan hal yang seharusnya tidak dilihat oleh Laura."Tidak ... aku sudah mencoba untuk menahan diri dan aku memberikan uang secara cuma-cuma untuk Faela pulang kampung demi membantu keselamatan ibunya," gumam Laura dengan perasaan yang campur aduk. Dia berbicara dalam benaknya sendiri menahan rasa resah dan gelisah, tetapi matanya terus tertuju pada kenikmatan sesaat yang terpampang nyata. Edward masih berupaya untuk menyelesaikan permainannya sendiri dengan tangannya yang kekar dan berotot. Hal itu membuatnya selalu membayangkan istri yang dicintai saat ini sedang berada di kampung halaman, tidak bersama dengan dirinya. "Ahhh ... Faelaku ... Aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu meski hanya semalaman saja. Argggh ...."Tangan Edward be

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   BAB 6 — KEPUTUSAN YANG MAHAL

    Laura terpaku di ambang pintu. Dia tidak menyangka Faela benar-benar datang malam itu. Koridor belakang rumah begitu sunyi. Hanya suara rintik hujan yang masih terdengar dari luar. "Masuk dulu," ucap Laura pelan. Faela menggeleng. "Saya tidak lama, Nyonya. Maaf, saya sudah banyak merepotkan selama bekerja di sini." Laura memperhatikan wajah pembantunya yang tampak lebih pucat daripada siang tadi. "Ada kabar dari ibumu?" Faela mengangguk. "Dokter meminta tindakan secepatnya. Om saya sudah meminjam uang ke tetangga, tapi masih kurang." Laura ikut menundukkan kepala. "Aku ikut prihatin." Faela menggenggam kedua tangannya sendiri. "Saya datang bukan karena saya setuju dengan keinginan Nyonya." Laura mengangkat wajah. "Saya datang karena saya bingung." Kalimat itu terdengar lirih, tetapi cukup membuat dada Laura sesak. "Aku mengerti." "Tidak, Nyonya ... mungkin Nyonya tidak mengerti." Air mata Faela kembali mengalir. "Kalau saya hanya memikirkan diri sendiri, saya pasti langsung

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   BAB 5 — TAWARAN YANG BELUM TERJAWAB

    Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Faela sudah berada di dapur sejak pukul lima. Tangannya sibuk mengiris bawang dan menyiapkan bahan sarapan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Semalaman dia hampir tidak memejamkan mata. Wajah ibunya. Suara omnya yang terdengar panik.Lalu ucapan Laura kemarin soal tawaran. "Aku akan memberimu sepuluh juta. Dua puluh juta. Bahkan tiga puluh juta kalau perlu."Faela mengembuskan napas panjang. Pisau yang dipegangnya nyaris mengenai ujung jari karena lamunannya. "Astaga ...."Dia buru-buru meletakkan pisau itu."Faela." Suara lembut membuatnya menoleh. Laura sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan pakaian formal yang rapi. Wajahnya terlihat pucat, seolah sama lelahnya karena tidak bisa tidur."Pagi, Nyonya.""Pagi."Suasana mendadak canggung. Tak ada lagi obrolan ringan seperti biasanya.Laura memperhatikan mata Faela yang sembap. "Kamu menangis?"Faela buru-buru menggeleng. "Enggak, Nyonya."Laura tahu perempuan itu

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   BAB 4 — PERTAMA KALI DENGAN LIDAH

    Tok ...Tok ...Tok ...Suara ketukan pelan di pintu membuat Laura dan Faela sama-sama tersentak. Wajah Faela yang masih basah oleh air mata langsung memucat.Laura buru-buru mengusap sudut matanya. "Si-siapa?" tanyanya dengan suara berusaha tenang."Maaf, Nyonya." Suara itu terdengar dari balik pintu. "Saya Pak Darto."Pak Darto adalah kepala keamanan yang sudah bekerja belasan tahun di rumah keluarga Bald.Laura mengembuskan napas lega. "Ada apa, Pak?""Tukang listrik datang. Katanya mau mengecek lampu taman yang semalam mati.""Iya. Silakan.""Baik, Nyonya." Langkah kaki itu kembali menjauh.Ruangan kembali sunyi. Namun, suasananya sudah berbeda. Faela memanfaatkan kesempatan itu untuk segera membuka pintu. "Nyonya ... saya izin keluar.""Tunggu."Faela menghentikan langkahnya.Laura tidak lagi mendekat. Dia hanya berdiri beberapa meter dari pembantunya dengan wajah penuh penyesalan. "Aku minta maaf."Kalimat itu terdengar tulus.Faela menundukkan kepala. "Saya anggap ... saya tida

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   BAB 3 — SATU KESEPAKATAN

    Sejak percakapan singkat di koridor malam itu, Laura tidak lagi bisa memandang Faela seperti biasanya. Setiap kali perempuan muda itu menyuguhkan teh, menyapu lantai, atau sekadar menanyakan menu makan siang, pikiran Laura justru dipenuhi pertanyaan yang sama."Bagaimana rasanya menjadi Faela?" Pertanyaan itu terdengar gila. Bahkan Laura sendiri membencinya.Dia memiliki semua yang diimpikan banyak perempuan. Rumah megah. Perhiasan mahal. Rekening yang tidak pernah kekurangan isi.Namun, setiap malam dia tidur dengan perasaan hampa.Sementara Faela ... Hidup sederhana. Tetapi sorot matanya selalu penuh kebahagiaan.Sore itu hujan turun cukup deras.Bald menelepon dari kantor. "Aku ada rapat dadakan. Mungkin pulang malam."Laura menjawab singkat. "Iya."Telepon ditutup. Rumah kembali sunyi.Faela sedang mengepel lantai ruang keluarga ketika Laura memanggilnya. "Faela."Perempuan itu segera menghentikan pekerjaannya. "Iya, Nyonya?""Temani saya minum teh."Faela tampak bingung. Biasanya

  • Tukar Ranjang Puaskan Rasa   BAB 2 — KEINGINAN YANG TAK PANTAS

    Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela besar ruang makan. Meja sepanjang tiga meter telah dipenuhi berbagai hidangan. Roti panggang, telur setengah matang, salad, buah-buahan segar, hingga kopi hitam kesukaan Bald telah tertata rapi.Faela berdiri beberapa langkah di belakang Nyonya Laura. Seperti biasa, dia menunggu jika majikannya membutuhkan sesuatu. Namun, pagi ini suasananya terasa berbeda.Laura tampak lebih banyak diam. Tatapannya kosong, sesekali justru mengarah ke halaman depan melalui jendela kaca."Laura?" Suara Bald membuyarkan lamunannya."Hmmm?""Kamu sakit?"Laura menggeleng. "Enggak.""Kamu enggak makan?""Nanti saja."Bald menatap istrinya beberapa saat. Kalau biasanya Laura cerewet menanyakan jadwalnya atau mengingatkan agar tidak melewatkan makan siang, hari ini perempuan itu bahkan hampir tidak mengucapkan sepuluh kalimat."Kamu masih kepikiran semalam?"Laura tersentak. Semalam ... Bukan kegagalan suaminya untuk urusan ranjang yang memenuhi pikirannya. Melaink

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status