MasukAndini melaporkan perselingkuhan suaminya dengan seorang influencer terkenal pada polisi. Namun, ternyata Fahmi menuding dirinya selingkuh. Ia menjelaskan jika dirinya dan Indri sang Influencer sudah resmi menikah. Hal itu, membuat Andini tak habis pikir. Akankah Andini bertahan dengan rumah tangganya atau memilih berpisah?
Lihat lebih banyakTepuk tangan bergemuruh saat kedua mempelai telah sah sebagai suami istri. Raut bahagia terpancar dari pengantin pria dan wanita yang serasi mengenakan busana berwarna putih. Mereka saling tatap malu-malu.
Acara itu hanya dihadiri keluarga inti saja. Pesta sederhana di pesisir pantai Bali yang eksotik. Nuansa warna putih serta krim, menghiasi hamparan pasir putih.
Di tengah kegembiraan itu, seorang pria berbusana batik hitam duduk termenung sendirian, wajahnya sedikit muram. Ia terus menatap sekeliling, takut jika majikan perempuannya tiba-tiba hadir di sana. Meskipun, tidak mungkin ada yang memberitahu tentang pernikahan suaminya.
"Tidak makan Pak?" tanya pengantin pria di belakangnya.
Ia menoleh serta kaget, lalu berkata, "sudah Tuan,saya ... Benar-benar takut."
"Tidak perlu takut, kamu cukup bersikap seperti biasa, yang saya lakukan bukanlah pembunuhan. Saya juga akan menceritakan ini semua nanti pada Andini," tukas Fahmi seraya mengeluarkan amplop coklat dari tas hitam selempang miliknya. Ia menyerahkan amplop tebal itu pada Bagas sang sopir. "Ambilah! Kalau kurang, Pak Bagas bisa minta lagi."
"Tapi Tuan ... Saya ...," ucapannya terhenti.
"Semua akan baik-baik saja," bisik Fahmi.
Bagas menerima amplop itu, tangannya gemetar. Memang ia sedang membutuhkan uang banyak untuk pengobatan sang istri di kampung. Jika hanya mengandalkan gaji bulanannya saja, tentu belum cukup.
"Sayang,"
Dari sebelah barat tampak seorang wanita melambaikan tangan. Lekuk tubuhnya selalu membuat Fahmi tergoda. Memiliki tubuh seperti jam pasir dan tinggi semampai. Rambutnya meliuk-liuk saat wanita itu setengah berlari.
"Aku cari kamu, kamu disini," keluh wanita itu manja.
"Lagi ngobrol sama Pak Bagas," jelas Fahmi mencium kening wanita yang baru saja beberapa menit lalu menjadi istrinya.
"Pak Bagas sudah makan? Muka nya pucet banget," tebak Indri mengerutkan dahi.
"Sudah," jawabnya singkat menunduk.
"Emh ... Sayang kita ngobrol di sana yuk! Sambil menikmati suara ombak," ajak Fahmi menganggandeng lengan Indri.
Kedua pengantin itu berlarian menuju tepi pantai. Sesekali ombak datang dan menyapu gaun yang dikenakan. Gelak tawa dari keduanya begitu renyah terdengar, sehingga membuat orang di sekitar lokasi pun merasakan kebahagiaan mereka.
"Aku bahagia hari ini," ucap Indri matanya menatap langit yang mulai jingga.
"Aku juga," balas Fahmi menoleh kearah Indri.
Wanita berambut lurus hitam itu berjalan sedikit, sambil menggendong kedua tangannya. "Tapi, kenapa keluarga mu tidak ada yang datang?"
"Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing, apalagi semenjak kedua orang tuaku meninggal, aku tidak terlalu dekat dengan mereka," jelas Fahmi sedikit gugup.
Indri menatap Fahmi serius, ia memegangi dada bidang suaminya lalu memgelus perlahan. Ia meletakan kepala dan memeluk erat.
"Aku gak tau, kalau saja hari itu kita tidak bertemu, mungkin ...,"
"Jangan di ungkit lagi, aku tidak mau kamu sedih di hari bahagia kita," tutur Fahmi menyela perkataan Indri. Ia mekanjutkan, "aku akan selalu ada untukmu, sampai kapanpun."
"Terimakasih ya sayang," ungkap Indri menenggelamkan kepalanya.
"Kamu akan aman bersamaku, aku juga sudah meminta polisi untuk mencari dan menangkap mantan pacarmu itu," jelas Fahmi.
"Tapi, dia masih selalu mengancamku, setiap aku ganti nomor pasti dia selaku tau," keluh Indri.
"Tidak usah khawatir,"
Indri tersenyum mendengar kata-kata itu. Ia kembali menikmati kehangatan tubuh Fahmi di tengah semilir angin dingin.
"Tuan!" seru Bagas terengah-engah.
Fahmi menoleh kearah sopirnya itu. Bagas memberikan kode jika ada telepon masuk dari majikan perempuannya. Fahmi langsung melepaskan pelukan erat Indri.
"Sayang, aku harus menerima telepon dari client dulu ya," tutur Fahmi menjauh perlahan.
"Loh, mereka tidak tahu kalau kamu sedang melangsungkan acara," gerutu Indri.
"Mungkin ini sangat penting," ujar Fahmi menyongsong Bagas.
Ia meraih ponsel miliknya yang di pegang Bagas. Jantungnya berdegup kencang, ia menjauh dari tempat Indri berdiri.
"Hallo,"
"Kamu dimana sayang? Pak Julian mencarimu, dia bilang susah menghubungi kamu," gerutu seorang perempuan dari dalam ponsel itu.
"Aku ... Sebentar lagi pulang sayang, aku belum menemukan lokasi yang cocok untuk butik baru kamu di sini," ujar Fahmi sedikit memelankan suara.
"Sayang, aku sudah bilang tidak perlu membuka cabang di luar kota apalagi di luar pulau untuk saat ini, aku belum siap," tukasnya.
"Kamu jangan khawatir, suami mu ini kaya raya. Aku bisa menghandle segalanya, mulai dari karyawan, logistik dan semuanya," hibur Fahmi.
"Hahaha ... Kamu ini, ya sudah cepat pulang. Tidak ada kamu satu minggu membuatku kesepian," katanya terkekeh-kekeh.
Sirine ambulans masih terngiang-ngiang di telinga Andini. Meskipun ia sudah berada di rumah yang tenang dan sunyi, kepalanya riuh dengan suara tangisan dan jeritan keluarga Bagas saat jenazahnya tiba di rumah duka. Apalagi, Bagas sudah bekerja pada orang tuanya sejak ia masih sekolah. "Om harus pulang, tante mu pasti menunggu di rumah." Sambil mengenakan jaketnya Hans memghampiri Andini yang duduk sendirian di balkon. "Hati-hati Om," sahut Andini pandangannya kosong. Hans mengerutkan dahi, ia menatap jeli pada wajah Andini sedekat mungkin. "Tak usah terlalu dipikirkan lagi, Bagas sudah tenang di alam sana," ucap Hans, ia mengelus rambut Andini yang berkilau terkena cahaya lampu. "Bukan itu yang aku pikirkan, tapi ...." Andini menunduk lirih tak meneruskan perkataannya. Hal itu membuat Hans makin khawatir dengan keponakannya. Ia mencoba menenangkan dengan memeluk Andini, tangisnya semakin kencang bahunya berguncang. "Ada yang ingin kamu ceritakan pada ku?" tebak Hans menatap n
Andini frustasi dengan kemacetan Jakarta di sore hari. Berkali-kali ia membunyikan klakson karena kesalnya. Kepalanya pun tiada henti menoleh memastikan Bagas masih bernyawa. "Sialan!" gerutu Andini menggebrak stir di depannya. "Nyonya, biarkan saya mati di sini nyonya," ujar Bagas di sela-sela sekaratnya. Nafasnya mulai terdengar berat, suara nya terputus-putus saat mencoba berucap lagi. Andini bingung, menangis dan kesal adalah hal yang paling bisa ia lakukan saat itu. sekali lagi Andini membunyikan klakson agak lama hingga beberapa pengendara menyahut dan saling balas. "Pak Bagas, bertahan! Sedikit lagi kita sampai di Rumah Sakit," kata Andini lirih. Perlahan mobil di depannya mulai merangkak maju, Andini sedikit lega. Namun, hanya dengan kecepatan sangat pelan. "Pak Bagas, sebentar lagi kita sampai," kata Andini matanya tak kuasa menahan tangis. Ia harus menyingkronkan otak dan gerakan tangan, agar selamat sampai tujuan. Suara nafas lelaki di belakangnya makin samar, tangis
"Mbak, Fahmi kemana? Mobilnya gak ada," tanya Andini heran. "Tadi, Tuan buru-buru nyonya tidak bilang apa-apa," jawab Leni menghadap. Andini berpikir sejenak dalam posisi tegapnya,ia melirik jam yang menujukan pukul empat sore. Dari siang, nomornya tak bisa dihubungi, di chat pun tidak dibalas. "Bawa koper gak?" tanya Andini memastikan. Leni menggeleng dengan wajah polosnya. "Oke kalau gitu, perginya sama pak Bagas?" tanya Andini lagi. "Tidak nyonya," jawab Leni. "Hah?!" Andini sontak kaget, ia segera mencari Bagas yang entah di mana. Ia mencari keseluruh bagian rumah, termasuk balik arah lagi ke halaman depan, dan belakang. Rupanya, Bagas tengah menikmati kopi duduk sendirian sambil mengobrol lewat video. Ia terlihat sumringah, dengan nada bicara ceria. Andini yang melihat itu, menunda sejenak untuk menemui nya. Ia tak mau menganggu suasana itu. Tak lama Bagas berpamitan pada orang dalam telepon itu, ia melambaikan tangan dan memonyongkan bibirnya selayaknya mencium. "Pak Ba
Aku suka saat menancing seseorang, mas Fahmi terlihat gugup untuk menjawab. Bola matanya bergulir ke kiri dan kanan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu pasti. "Mas, kok diam sih? Kenal gak," cecar ku. "Emh ... Andin style? iya aku tahu tapi aku ... gak kenal sama owner nya, memangnya kenapa?" dia malah kelimpungan, seolah menyembunyikan sesuatu. "Aku besok jadi konten kreator di sana," jelasku berdiri, aku duduk di kursi rias menatap cermin. "Loh, kok kamu gak bilang sama aku," ujarnya tampak kaget. Aku tersenyum sedikit tengil, ia makin terlihat salah tingkah dengan tingkahku saat itu. "Kamu kok kaget sih? Jujur aja, kamu kenal kan sama owner nya?" "Kalau butik nya tahu, kalau ownernya jujur ... Aku gak kenal," jelasnya tak menatap ku sedikitpun. "Yakin?" goda ku, aku mendekat duduk di samping mas Fahmi. Ku rasakan tangannya dingin saat ku genggam. "Kamu kedinginan?" Dia menggeleng tanpa suara, menatapku begitu dalam. Hembusan nafasnya terasa dari mulutnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.