LOGINKiana dibayar 500 juta untuk merusak reputasi Arkan, pria yang esok akan menjadi pamannya. Namun, semuanya tidak berjalan sesuai rencana--dan bahkan Kiana berakhir harus menikah dengan Arkan karena bibinya tidak datang. Namun, bagaimana jadinya jika Kiana tetap dituntut untuk menghancurkan hidup Arkan karena uangnya sudah dia terima? Lalu ... jika sudah seperti itu, bagaimana nasib janin dalam perutnya?
View More“Benar kamu mau jual keperawananmu?” tanya seorang wanita paruh baya yang biasa disapa Soraya sambil meletakkan selembar cek dengan nominal fantastis di atas meja kaca.
Jari-jari tangan Kiana saling meremas erat. Ia menunduk dalam, tak berani menatap wanita di hadapannya. “I-iya, Nyonya,” jawab Kiana terdengar lirih. Soraya tersenyum miring. Tatapannya menelusuri tubuh kurus Kiana dari atas hingga bawah dengan pandangan menghina. "Bagus," ucap Soraya. "Aku memang sedang membutuhkan seorang wanita, tapi aku tak menyangka... ternyata malah kau yang datang padaku." Soraya tertawa kecil, tapi suara tawa itu justru membuat bulu kuduk Kiana meremang. Kiana sendiri tak pernah menyangka, jika rencana nekatnya justru berujung membawanya ke hadapan Soraya. Ia berniat menjual dirinya untuk melunasi utang sang ibu. Namun, saat mengatakan maksudnya di rumah bordil, dirinya justru dibawa ke hadapan Soraya. Beliau adalah tante dari calon suami tantenya Kiana sendiri. Pernikahan mereka akan dilangsungkan besok. “L–lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Nyonya?” tanya Kiana dengan sedikit keberanian yang tersisa. Soraya mendorong cek itu mendekat ke arah Kiana. “Malam ini, pergilah ke Hotel Grand Tower dan masuk ke kamar 308. Di sana akan ada keponakanku, dan aku mau kamu melayaninya.” Netra gadis itu membola seketika. Ia akhirnya menatap Soraya dengan pandangan tak percaya, mulutnya bahkan sedikit menganga. “M-maksudnya, saya harus tidur dengan Tuan Arkan?” tanya Kiana terbata. “Apa ucapanku kurang jelas?” “T–tapi … Tuan Arkan akan menikah dengan Tante Sarah …” “Justru itu,” ujar Soraya sambil kembali menegakkan posisi duduknya, ia menatap Kiana sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar di sebelah kanan. “Aku ingin menghancurkan satu-satunya penghalangku, dan ini adalah cara terbaik.” Mendengar itu, Kiana mendadak membeku. “Yang harus kamu lakukan adalah melayaninya, itu saja,” ucap Soraya. “Lalu sisanya biar aku yang urus. Yang jelas, keponakanku itu pasti tidak akan sombong lagi!” Soraya kembali bicara dengan nada penuh kemenangan, seolah semua rencana itu jelas akan berhasil. “Bayangkan bagaimana hancurnya keluarga itu jika mendapat berita bahwa putra kebanggaan mereka berselingkuh dengan keponakan calon istrinya!” Di tengah tawa puas Soraya, Kiana menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana mungkin ia sanggup melakukan hal kotor itu dengan pria yang besok akan menjadi suami tantenya sendiri? Sungguh perbuatan itu tak masuk akal baginya. Meskipun ia sangat membutuhkan uang untuk membayar utang-utang ibunya pada para rentenir yang terus mendesak mereka, bahkan mengancam akan membunuh ibunya jika tak segera melunasi utang-utang mereka. Tapi, melakukannya dengan calon suami tantenya sendiri bukanlah pilihan yang waras, meskipun sebenarnya keputusan menjual diri ini juga sangat tidak waras. “M–maaf … saya tidak bisa, Nyonya,” ucap Kiana dengan tubuh bergetar. Ia tak berani mengangkat pandangannya. “Saya tidak mau terlibat dalam masalah itu. Keputusan saya ini sudah sangat buruk, jadi saya tidak mau membuatnya semakin buruk lagi.” Melihat tubuh Kiana yang gemetar hebat ketakutan, Soraya justru tersenyum licik. Ia berdiri dan duduk di samping Kiana, merangkul bahu gadis itu seolah sedang menenangkan anak kecil. “Kamu yakin menolak? Memangnya, kamu siap melihat ibumu menjadi santapan para rentenir itu? Kudengar, mereka hanya memberi waktu sampai besok, bukan?” Kiana kelu, kepalanya seolah berhenti bekerja. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Soraya mempererat rangkulannya, membuat Kiana semakin tak bisa lari dan hanya dibanjiri keringat dingin. “Kau tenang saja, tidak usah takut. Setelah tugasmu selesai, aku akan mengatur semua untuk mengamankan posisimu.” Air mata Kiana semakin tak bisa dibendung, dadanya bergemuruh hebat. Pilihan ini sama sekali bukan sesuatu yang mudah. Ia butuh uang itu segera, tapi jika harus terlibat dengan masalah seperti ini … sungguh ia tak bisa. Namun, mengingat sejak ia memutuskan datang ke rumah bordil itu memang tak ada yang bisa memberikan tawaran sebanyak Soraya. Rasanya Kiana semakin tak punya jalan lain. Yang jelas … ia hanya tak mau ibunya mati di tangan para rentenir itu. Sebenarnya, utang itu bermula saat ibunya terpaksa meminjam uang pada rentenir demi biaya pengobatan ayahnya yang sakit-sakitan. Di awal, jumlahnya hanya sedikit, namun karena bunga yang melonjak tak masuk akal, kini angka itu membengkak menjadi 480 juta rupiah. Namun malang, sang ayah tetap pergi meninggal dunia, meninggalkan utang yang menumpuk untuk mereka berdua. Akhirnya, setelah mengusap air matanya, Kiana memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dengan sisa keraguan itu. ‘Tuhan, tolong ampuni aku,’ gumam Kiana dalam hati. “B–baiklah, saya akan melakukannya, Nyonya,” ujar Kiana lirih. Malam itu, di kamar 308, Kiana melangkah masuk dalam kegelapan. “Ah!” Kiana seketika terkesiap saat sebuah tangan yang besar dan sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya saat dirinya mendekati tempat tidur. Tubuh Kiana jatuh tepat di atas dada bidang Arkan yang polos dan basah oleh keringat. Aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas tubuh pria itu langsung mengepung indra penciumannya. Arkan bergerak cepat seperti predator; dalam hitungan detik, ia sudah membalikkan posisi, mengungkung tubuh Kiana di bawah dominasi tubuh kekarnya yang tegap dan berat. "Siapa..." Suara Arkan terdengar serak dan rendah, nyaris seperti geraman di dekat telinga Kiana. Pria itu jelas sedang ada dalam pengaruh obat. Tangan Arkan yang kekar mulai bergerak liar, mencengkeram pinggang Kiana dengan cengkeraman yang menuntut, sementara napas panas pria itu menyapu kulit lehernya, membuat bulu kuduk Kiana meremang. Gadis itu akhirnya hanya bisa memasrahkan diri pada pria itu menjadi santapannya."Kamu sudah merasa baikan, belum?" tanya Kiana lembut, menatap wajah teman baiknya yang masih sedikit terlihat memar.Aisya tersenyum dan mengangguk pelan. "Aku sudah merasa lebih baik, dan kamu tidak perlu khawatir lagi."Namun tak lama kemudian, senyum tipisnya perlahan hilang. Raut wajahnya kembali tampak muram dan sedih."Ada apa?" tanya Kiana.Aisya menunduk dalam, suaranya bergetar pelan. "Kiana... aku harus pulang ke mana sekarang? Rasanya aku sudah tidak punya tempat untuk kembali. Kalau aku pulang ke rumah, aku takut... takut ayah tiriku kembali berniat menjualku lagi. Aku benar-benar takut sekali.""Sudah, tenang dulu ya," ucap Kiana pelan, lalu menghela napas panjang. "Begini saja, bagaimana kalau kamu tinggal sama Ibuku? Kebetulan sekarang Ibu sendirian di rumah dan tidak ada yang merawat. Kasihan dia sendirian begitu, dan aku yakin Ibu pasti tidak akan menolak kamu."Mendengar itu, wajah Aisya perlahan berseri kembali, seolah ada secercah harapan. "Benarkah? Aku boleh tin
Ayah tiri Aisya terkapar tak berdaya di lantai setelah dihajar habis-habisan oleh dua pria besar suruhan rumah bordil.Mereka datang menagih uang yang diserahkan semalam karena kesepakatan penjualan Aisya batal, namun uang itu sudah ludes di tangan pria tua tersebut.Ibunya Aisya berdiri mematung, menatap suaminya yang meringis kesakitan. "Kamu sih, Mas! Baru saja semalam uang itu kamu ambil, tapi bisa-bisanya sekarang sudah habis!"Pria itu mendongak dengan napas tersengal. "Kamu bukannya bantuin panggil orang kek, malah cuma diam saja lihatin aku digebukin!""Siapa yang mau dipanggil, Mas?" sahut wanita itu sengit. "Kamu pikir ada orang yang berani? Tidak akan ada yang mau ikut campur!""Oh, jadi kamu memang lebih suka aku digebukin sampai mati?" bentak pria itu. "Nggak gitu juga, tapi semua masalah yang terjadi ini, kamu yang buat sendiri!""Cih! Lihat saja kalau putrimu itu kembali akan wajar dia habis-habisan!"_____"Tuan!" panggil Kiana, menyusul langkah cepat Arkan yang hendak
"Maaf, siapa yang baru saja Anda hubungi?" tanya Kiana, suaranya sedikit gemetar akibat rasa penasaran yang bercampur cemas.Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum misterius. "Kamu tenang saja. Dia adalah wanita yang akan menjadi bosmu nanti.""Bos? Maksud Anda, saya harus mengikuti dia, Bu?""Jangan panggil aku Bu. Panggil aku Mami," potong wanita itu tajam."Ya... maksud saya, saya harus ikut dia ke mana, Mami?" ulang Kiana."Kau mau uang, kan? Kau akan mendapatkannya. Dengan catatan, jangan terlalu banyak bertanya. Sekarang, pergilah."Tanpa pilihan lain dan didesak oleh kebutuhan, Kiana akhirnya mengangguk pasrah. Ia kemudian diantar menuju sebuah kediaman mewah milik Soraya. Kiana tidak memiliki firasat sedikit pun bahwa tempat yang ia datangi adalah rumah kediaman tante dari Arkan.Saat pintu terbuka dan mereka bertemu muka, baik Soraya maupun Kiana sama-sama terperanjat. Soraya menatap Kiana dengan binar mata yang licik sebelum tersenyum lebar. "Bukankah kau keponakannya
"Maksud Anda apa, Tuan? Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Anda tanyakan," jawab Kiana berusaha tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar. Arkan tidak langsung menanggapi. Pria itu justru memutar kepalanya sedikit. Seringai tipis yang sulit diartikan tersungging di bibirnya. "Yakin kau tidak mengerti?" tanya Arkan sekali lagi. Kiana semakin gugup. Dinginnya ruangan itu karena AC, tapi dia justru mulai berkeringat. "Tuan," pekik Kiana tertahan saat Arkan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Arkan menarik tangan itu dengan sentakan keras, membuat Kiana kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di samping pria itu. Arkan mencondongkan tubuhnya, mengunci tatapan mata Kiana dengan sorot yang menuntut jawaban mutlak. "Katakan! Ada hubungan apa kau dengan pemilik rumah bordil itu?" desak Arkan, suaranya mengancam. Bibir Kiana bergetar hebat. Ia ingin membuka suara, ingin menyangkal atau mungkin memberikan alasan yang masuk akal, namun tenggorokann


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews