Share

#8 Aksesoris yang sama

Penulis: Brown Sugar
last update Tanggal publikasi: 2026-06-07 20:57:37

Cahaya matahari masuk menyorot seluruh ruangan saat Andini membuka gorden kamar. Cahaya itu menyinari sebagian wajah Fahmi yang masih tertidur setengah pulas. Sehingga, ia mengerjap karena silau.

“Sayang,” kata Fahmi suaranya parau.

Andini cekikikan, lalu duduk di samping Fahmi dan berkata sambil menyisir rambut, “Hari ini aku harus ke butik, ada seseorang yang ingin bertemu.”

“Siapa?” tanya Fahmi seraya minum air putih yang telah disediakan Andini.

“Jessica dan Influencer yang nantinya aka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #16 Adegan jahanam!

    Sirine ambulans masih terngiang-ngiang di telinga Andini. Meskipun ia sudah berada di rumah yang tenang dan sunyi, kepalanya riuh dengan suara tangisan dan jeritan keluarga Bagas saat jenazahnya tiba di rumah duka. Apalagi, Bagas sudah bekerja pada orang tuanya sejak ia masih sekolah. "Om harus pulang, tante mu pasti menunggu di rumah." Sambil mengenakan jaketnya Hans memghampiri Andini yang duduk sendirian di balkon. "Hati-hati Om," sahut Andini pandangannya kosong. Hans mengerutkan dahi, ia menatap jeli pada wajah Andini sedekat mungkin. "Tak usah terlalu dipikirkan lagi, Bagas sudah tenang di alam sana," ucap Hans, ia mengelus rambut Andini yang berkilau terkena cahaya lampu. "Bukan itu yang aku pikirkan, tapi ...." Andini menunduk lirih tak meneruskan perkataannya. Hal itu membuat Hans makin khawatir dengan keponakannya. Ia mencoba menenangkan dengan memeluk Andini, tangisnya semakin kencang bahunya berguncang. "Ada yang ingin kamu ceritakan pada ku?" tebak Hans menatap n

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #15 Kematian Bagas

    Andini frustasi dengan kemacetan Jakarta di sore hari. Berkali-kali ia membunyikan klakson karena kesalnya. Kepalanya pun tiada henti menoleh memastikan Bagas masih bernyawa. "Sialan!" gerutu Andini menggebrak stir di depannya. "Nyonya, biarkan saya mati di sini nyonya," ujar Bagas di sela-sela sekaratnya. Nafasnya mulai terdengar berat, suara nya terputus-putus saat mencoba berucap lagi. Andini bingung, menangis dan kesal adalah hal yang paling bisa ia lakukan saat itu. sekali lagi Andini membunyikan klakson agak lama hingga beberapa pengendara menyahut dan saling balas. "Pak Bagas, bertahan! Sedikit lagi kita sampai di Rumah Sakit," kata Andini lirih. Perlahan mobil di depannya mulai merangkak maju, Andini sedikit lega. Namun, hanya dengan kecepatan sangat pelan. "Pak Bagas, sebentar lagi kita sampai," kata Andini matanya tak kuasa menahan tangis. Ia harus menyingkronkan otak dan gerakan tangan, agar selamat sampai tujuan. Suara nafas lelaki di belakangnya makin samar, tangis

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #14 Rahasia yang terungkap

    "Mbak, Fahmi kemana? Mobilnya gak ada," tanya Andini heran. "Tadi, Tuan buru-buru nyonya tidak bilang apa-apa," jawab Leni menghadap. Andini berpikir sejenak dalam posisi tegapnya,ia melirik jam yang menujukan pukul empat sore. Dari siang, nomornya tak bisa dihubungi, di chat pun tidak dibalas. "Bawa koper gak?" tanya Andini memastikan. Leni menggeleng dengan wajah polosnya. "Oke kalau gitu, perginya sama pak Bagas?" tanya Andini lagi. "Tidak nyonya," jawab Leni. "Hah?!" Andini sontak kaget, ia segera mencari Bagas yang entah di mana. Ia mencari keseluruh bagian rumah, termasuk balik arah lagi ke halaman depan, dan belakang. Rupanya, Bagas tengah menikmati kopi duduk sendirian sambil mengobrol lewat video. Ia terlihat sumringah, dengan nada bicara ceria. Andini yang melihat itu, menunda sejenak untuk menemui nya. Ia tak mau menganggu suasana itu. Tak lama Bagas berpamitan pada orang dalam telepon itu, ia melambaikan tangan dan memonyongkan bibirnya selayaknya mencium. "Pak Ba

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #13 (Pov Indri) Tidak mudah percaya

    Aku suka saat menancing seseorang, mas Fahmi terlihat gugup untuk menjawab. Bola matanya bergulir ke kiri dan kanan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu pasti. "Mas, kok diam sih? Kenal gak," cecar ku. "Emh ... Andin style? iya aku tahu tapi aku ... gak kenal sama owner nya, memangnya kenapa?" dia malah kelimpungan, seolah menyembunyikan sesuatu. "Aku besok jadi konten kreator di sana," jelasku berdiri, aku duduk di kursi rias menatap cermin. "Loh, kok kamu gak bilang sama aku," ujarnya tampak kaget. Aku tersenyum sedikit tengil, ia makin terlihat salah tingkah dengan tingkahku saat itu. "Kamu kok kaget sih? Jujur aja, kamu kenal kan sama owner nya?" "Kalau butik nya tahu, kalau ownernya jujur ... Aku gak kenal," jelasnya tak menatap ku sedikitpun. "Yakin?" goda ku, aku mendekat duduk di samping mas Fahmi. Ku rasakan tangannya dingin saat ku genggam. "Kamu kedinginan?" Dia menggeleng tanpa suara, menatapku begitu dalam. Hembusan nafasnya terasa dari mulutnya

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #12 (Pov Indri) Ada hubungan apa?

    Aku merogoh ponsel yang seunyi itu, membuka kunci dan gambar pertama yang tampak adalah foto diriku dan Mas Fahmi, saat itu kami berdua tengah pre-wedding. Namun, yang aku pasang sebagai wallpaper hanya tampak punggung saja. Layar ponsel terus aku gulir ke atas dan ke bawah. Pesan masuk terakhir dari Mas Fahmi adalah empat hari yang lalu, itupun saat di Bali ketika dia berada di tempat gym. Aku mencoba menghubunginya lagi, tetap sama tidak aktif. Jantungku berdegup, takut sesuatu terjadi pada dirinya. Tidak ada kontak lain, saudara bahkan teman terdekatnya, begitupun nomor sopirnya. Bahkan, aku secara diam-diam mengunjungi apartemen tadi pagi sekali, dia tidak ada disana. "Argh!" pekik ku membanting ponsel berlogo apel itu. "Mas, kamu kemana sih?" ucap ku menutup seluruh wajah dengan telapak tangan. Ting ...! Pemberitahuan pesan masuk, segera aku mengambil lagi ponselku. Aku mulai bisa tenang, lega. Tetapi, itu bukan dari mas Fahmi, melainkan dari mbak Andini. Dia memintaku untu

  • Pernikahan Rahasia Suamiku    #11 (Pov Indri) Mulai curiga

    Setelah pulang dari menemui mbak Andini, aku langsung menuju kamar. Penjelasan dia tentang sosok suaminya itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku jadi sedikit curiga pada mas Fahmi, apalagi saat hari pernikahan tidak ada satupun sanak saudaranya yang datang. Aku termenung sambil memainkan cincin nikah yang berada di dalam kotak berwarna merah. Memandangnya terus menerus, permatanya berkilau saat terkena sinar matahari. Suara ketukan pintu membuatku kaget, aku menyambut orang yang mengetuk pintu kamarku itu. Mamaku,dia berdiri di hadapanku dengan senyuman manis yang selalu aku lihat tiap saat. “Kamu baru pulang Nak?” tanya mama tersenyum. “Iya mam,” jawabku mengajak mama masuk. Kulihat matanya menyoroti setiap ruangan di kamarku, mama memang jarang masuk kesana. Apalagi, setelah aku menjadi Influencer katanya takut mengganggu saat aku sedang membuat konten endorse atau live. “Fahmi belum pulang?” mama menatapku penuh tanya. “Belum mam, dari kemarin aku belum bisa menghub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status