MasukAndini membisu sepanjang perjalanan pulang, ia begitu syok.
“Sabar ya Mbak,” hibur Sintya matanya fokus ke jalanan.
Andini hanya tersenyum sebentar, setelah itu kembali murung. Mereka sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Andini. Mata Andini terbelalak saat melihat mobil berwarna putih di halamanya.
“Itu Mas Fahmi udah pulang,” cetus Sintya.
“Iya,” sahut Andini singkat, ia melepaskan sabuk pengaman dari badannya.
“Mbak, kamu bersikap seperti biasa ya jangan dulu aneh-aneh,” pinta Sintya.
Andini mengangguk, ia menyiapkan wajah manisnya sebelum turun dari mobil.
“Kamu gak mampir dulu?” tanya Andini seraya membuka pintu mobil.
“Lain kali aja,”
Ia mengatur nafas sebelum memasuki rumah mewah berlantai dua itu. Perlahan kakinya melangkah menuju pintu utama. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gagang pintu. Namun, Andini harus bisa mengendalikan emosinya.
“Surprise!” seruan itu membuat Andini terperanjat saat sudah berada di dalam rumah. Tampak, Fahmi dan asisten rumah tangga nya menyambut dirinya di ruang tamu.
Wajah suaminya itu begitu sumringah, Fahmi langsung memeluk Andini erat. Ia mengajak Andini ke meja makan, belum ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.
“Kamu sudah pulang, ada apa ini?” tanya Andini bingung, ia menoleh kanan dan kiri ruang tamu yang penuh dengan balon, tercium pula aroma masakan yang terasa begitu lezat.
Fahmi tersenyum pada Andini, ia mencubit gemas kedua pipi milik istrinya itu seraya berkata, “kamu lupa ya? Ini Anniversary kita.”
Wanita itu sedikit mengerutkan dahi, mencoba mengingat kembali tanggal pada hari itu.
Ia sedikit tersenyum saat sudah ingat, hari Anniversary yang setiap tahun mereka rayakan. Hal itu, membuat Andini sedikit meredam emosi.
“Thanks,” ucap Andini.
“You are welcome, ini semua buat kamu.” Dengan perasaan menggebu-gebu Fahmi memeluk lagi Andini erat dan menciumnya berkali-kali. Namun, Andini menepis. Leni yang melihat itu langsung berlalu menuju ruang makan.
“Iya, makan yuk! Aku lapar,” ajak Andini memegangi perutnya yang ramping.
Fahmi menghela nafas diiringi rasa pasrah, ia mempersilahkan Andini untuk duduk, “Oke, sebentar! Duduk disini my queen silahkan.”
“Terimakasih lagi,” timpal Andini.
“Sama-sama,”
“Kamu suka?” Tanya Fahmi dengan nada riang.
“Yes,” jawab Andini singkat.
“Sebentar, ada satu lagi buat kamu.” Ia beranjak lagi dari kursi makan menuju sebuah rak yang tak jauh sari dapur, ada sebuah kado yang di sembunyikan Fahmi di belakang badannya. Ia berjalan dengan senyum menyimpan rahasia, “Tada ….”
Andini sedikit terkejut menyipitkan kedua bola matanya dan bertanya, “Apa ini?”
“Buka dong,” pinta Fahmi mendekatkan diri pada Andini sambil mengelus rambut istrinya yang harum itu.
Perlahan jari-jemari Andini membuka bungkus kado bermotif abstrak itu. Sedikit tampak kotak berwarna coklat. Alangkah kaget Andini saat membuka keseluruhan kado tersebut, matanya melotot dan berbinar-binar. Sebuah benda yang selama ini dia ingin, hanya saja belum sempat beli karena terlalu sibuk dengan urusan butik. Dia berucap, “Hah! Ini kan …,”
“Tas yang kamu mau, yang selalu ada di screenshot ponsel kamu, di sosial media kamu dan di pencarian website kamu,” ujar Fahmi menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan.
“Terimakasih, padahal aku baru aja mau pesan,” tukas Andini matanya terus memandangi tas idamannya tersebut.
“Suka?” tanya Fahmi penasaran dengan pendapat Andini.
“Tentu, ini idaman. Elegan tapi simpel,” jelas Andini menempelkan tas itu ke dekat pipinya.
“Seperti kamu.” Fahmi mencium pipi Andini.
“Ayo makan,” ajak Andini memelankan suaranya.
“Aku senang, melihat kamu tersenyum sambil mata berkaca-kaca,”
Andini dibuat bingung dengan ucapan Fahmi,“Kenapa begitu?”
“Itu tandanya kamu benar-benar terharu,” jelas Fahmi.
"Kamu jam berapa sampai rumah?" tanya Andini.
"Sekitar dua jam yang lalu, Mbak Leni bilang kamu langsung pergi dengan Sintya,"
Andini hanya terdiam seraya mengunyah nasi dan lauk pauk yang dimasak Fahmi juga Leni. Sejenak, segala hal yang membuat hatinya kecewa sedikit sirna. Padahal Fahmi begitu romantis dan selalu mengedepankan Andini juga kebahagiaannya. Lantas, kenapa harus berselingkuh?
“Enak?” tanya Fahmi merendahkan kepalanya.
Andini mengangguk dengan mulut penuh.
“Kamu percaya ini semua aku yang masak?” tanya Fahmi lagi sedikit terkekeh-kekeh.
“Kamu dibantu Mbak Leni? ” tebak Andini mengerutkan dahi.
“Iya …,” Fahmi tak kuasa melanjutkan perkataannya, ia malah tertawa kencang hingga memenuhi ruang makan. Andini menggelengkan kepalanya sambil ikut tertawa.
“Emh … sayang, sebenarnya aku juga ingin bicara sesuatu sama kamu,”
Seketika Andini menghentikan kunyahnya. Ia minum air putih dihadapannya, “bicara apa?”
“Kita sudah … hampir empat tahun menikah, sudah banyak melewati segala hal. Kamu juga sudah memiliki bisnis yang selama ini kamu impikan, begitupun aku,” ungkap Fahmi sedikit sendu.
“Rumah ini … Terlalu luas jika hanya kita yang menghuninya,tidak ada tangis dan tawa seorang anak,” ujar Fahmi suaranya sedikit serak hendak menangis.
Andini paham, yang diinginkan Fahmi. Tetapi, dia masih trauma pasca keguguran tahun lalu. Ia masih belum siap untuk kehilangan lagi. Rasa sakit hati yang masih membekas dan selalu tumbuh jika membayangi musibah itu.
“Kamu tau aku tidak pernah siap untuk hal itu, aku tidak mau depresi lagi,” ucap Andini menatap kosong pada gelas dengan setengah air putih di depannya.
Fahmi menghela nafas, mendekatkan diri pada Andini. Ia menggenggam kedua tangannya dan menciumnya.
“Aku tau sayang, tapi kejadian itu sudah satu tahun clalu. Rahim mu sudah sehat kembali,” bujuk Fahmi.
“Bukan masalah itu, aku takut jika suatu saat aku hamil lagi kejadian yang sama akan terulang.” Andini beranjak pergi meninggalkan Fahmi, dengan deraian air mata yang sudah banjir di pipi.
Fahmi mencegahnya, segera ia menahan lengan kiri Andini dengan cengkraman agak kuat.
“Sayang, aku minta maaf aku bukan bermaksud membuatmu sedih. Kalau kamu memang belum siap, tidak apa-apa. Ada cara lain untuk mendapatkan seorang anak tanpa harus hamil,” kata Fahmi menekankan nada bicaranya.
Andini berbalik dan menatap Fahmi, ia menunduk sedikit.
“Adopsi?”
“Iya, kita bisa adopsi seorang anak,” timpal Fahmi semangat.
“Nanti aku pikirkan lagi,” ucap Andini lalu meninggalkan Fahmi sendirian.
Sirine ambulans masih terngiang-ngiang di telinga Andini. Meskipun ia sudah berada di rumah yang tenang dan sunyi, kepalanya riuh dengan suara tangisan dan jeritan keluarga Bagas saat jenazahnya tiba di rumah duka. Apalagi, Bagas sudah bekerja pada orang tuanya sejak ia masih sekolah. "Om harus pulang, tante mu pasti menunggu di rumah." Sambil mengenakan jaketnya Hans memghampiri Andini yang duduk sendirian di balkon. "Hati-hati Om," sahut Andini pandangannya kosong. Hans mengerutkan dahi, ia menatap jeli pada wajah Andini sedekat mungkin. "Tak usah terlalu dipikirkan lagi, Bagas sudah tenang di alam sana," ucap Hans, ia mengelus rambut Andini yang berkilau terkena cahaya lampu. "Bukan itu yang aku pikirkan, tapi ...." Andini menunduk lirih tak meneruskan perkataannya. Hal itu membuat Hans makin khawatir dengan keponakannya. Ia mencoba menenangkan dengan memeluk Andini, tangisnya semakin kencang bahunya berguncang. "Ada yang ingin kamu ceritakan pada ku?" tebak Hans menatap n
Andini frustasi dengan kemacetan Jakarta di sore hari. Berkali-kali ia membunyikan klakson karena kesalnya. Kepalanya pun tiada henti menoleh memastikan Bagas masih bernyawa. "Sialan!" gerutu Andini menggebrak stir di depannya. "Nyonya, biarkan saya mati di sini nyonya," ujar Bagas di sela-sela sekaratnya. Nafasnya mulai terdengar berat, suara nya terputus-putus saat mencoba berucap lagi. Andini bingung, menangis dan kesal adalah hal yang paling bisa ia lakukan saat itu. sekali lagi Andini membunyikan klakson agak lama hingga beberapa pengendara menyahut dan saling balas. "Pak Bagas, bertahan! Sedikit lagi kita sampai di Rumah Sakit," kata Andini lirih. Perlahan mobil di depannya mulai merangkak maju, Andini sedikit lega. Namun, hanya dengan kecepatan sangat pelan. "Pak Bagas, sebentar lagi kita sampai," kata Andini matanya tak kuasa menahan tangis. Ia harus menyingkronkan otak dan gerakan tangan, agar selamat sampai tujuan. Suara nafas lelaki di belakangnya makin samar, tangis
"Mbak, Fahmi kemana? Mobilnya gak ada," tanya Andini heran. "Tadi, Tuan buru-buru nyonya tidak bilang apa-apa," jawab Leni menghadap. Andini berpikir sejenak dalam posisi tegapnya,ia melirik jam yang menujukan pukul empat sore. Dari siang, nomornya tak bisa dihubungi, di chat pun tidak dibalas. "Bawa koper gak?" tanya Andini memastikan. Leni menggeleng dengan wajah polosnya. "Oke kalau gitu, perginya sama pak Bagas?" tanya Andini lagi. "Tidak nyonya," jawab Leni. "Hah?!" Andini sontak kaget, ia segera mencari Bagas yang entah di mana. Ia mencari keseluruh bagian rumah, termasuk balik arah lagi ke halaman depan, dan belakang. Rupanya, Bagas tengah menikmati kopi duduk sendirian sambil mengobrol lewat video. Ia terlihat sumringah, dengan nada bicara ceria. Andini yang melihat itu, menunda sejenak untuk menemui nya. Ia tak mau menganggu suasana itu. Tak lama Bagas berpamitan pada orang dalam telepon itu, ia melambaikan tangan dan memonyongkan bibirnya selayaknya mencium. "Pak Ba
Aku suka saat menancing seseorang, mas Fahmi terlihat gugup untuk menjawab. Bola matanya bergulir ke kiri dan kanan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu pasti. "Mas, kok diam sih? Kenal gak," cecar ku. "Emh ... Andin style? iya aku tahu tapi aku ... gak kenal sama owner nya, memangnya kenapa?" dia malah kelimpungan, seolah menyembunyikan sesuatu. "Aku besok jadi konten kreator di sana," jelasku berdiri, aku duduk di kursi rias menatap cermin. "Loh, kok kamu gak bilang sama aku," ujarnya tampak kaget. Aku tersenyum sedikit tengil, ia makin terlihat salah tingkah dengan tingkahku saat itu. "Kamu kok kaget sih? Jujur aja, kamu kenal kan sama owner nya?" "Kalau butik nya tahu, kalau ownernya jujur ... Aku gak kenal," jelasnya tak menatap ku sedikitpun. "Yakin?" goda ku, aku mendekat duduk di samping mas Fahmi. Ku rasakan tangannya dingin saat ku genggam. "Kamu kedinginan?" Dia menggeleng tanpa suara, menatapku begitu dalam. Hembusan nafasnya terasa dari mulutnya
Aku merogoh ponsel yang seunyi itu, membuka kunci dan gambar pertama yang tampak adalah foto diriku dan Mas Fahmi, saat itu kami berdua tengah pre-wedding. Namun, yang aku pasang sebagai wallpaper hanya tampak punggung saja. Layar ponsel terus aku gulir ke atas dan ke bawah. Pesan masuk terakhir dari Mas Fahmi adalah empat hari yang lalu, itupun saat di Bali ketika dia berada di tempat gym. Aku mencoba menghubunginya lagi, tetap sama tidak aktif. Jantungku berdegup, takut sesuatu terjadi pada dirinya. Tidak ada kontak lain, saudara bahkan teman terdekatnya, begitupun nomor sopirnya. Bahkan, aku secara diam-diam mengunjungi apartemen tadi pagi sekali, dia tidak ada disana. "Argh!" pekik ku membanting ponsel berlogo apel itu. "Mas, kamu kemana sih?" ucap ku menutup seluruh wajah dengan telapak tangan. Ting ...! Pemberitahuan pesan masuk, segera aku mengambil lagi ponselku. Aku mulai bisa tenang, lega. Tetapi, itu bukan dari mas Fahmi, melainkan dari mbak Andini. Dia memintaku untu
Setelah pulang dari menemui mbak Andini, aku langsung menuju kamar. Penjelasan dia tentang sosok suaminya itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku jadi sedikit curiga pada mas Fahmi, apalagi saat hari pernikahan tidak ada satupun sanak saudaranya yang datang. Aku termenung sambil memainkan cincin nikah yang berada di dalam kotak berwarna merah. Memandangnya terus menerus, permatanya berkilau saat terkena sinar matahari. Suara ketukan pintu membuatku kaget, aku menyambut orang yang mengetuk pintu kamarku itu. Mamaku,dia berdiri di hadapanku dengan senyuman manis yang selalu aku lihat tiap saat. “Kamu baru pulang Nak?” tanya mama tersenyum. “Iya mam,” jawabku mengajak mama masuk. Kulihat matanya menyoroti setiap ruangan di kamarku, mama memang jarang masuk kesana. Apalagi, setelah aku menjadi Influencer katanya takut mengganggu saat aku sedang membuat konten endorse atau live. “Fahmi belum pulang?” mama menatapku penuh tanya. “Belum mam, dari kemarin aku belum bisa menghub







