Ballroom Grand Serenity berkilau seperti mimpi yang disewa mahal. Lampu kristal raksasa menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan ke ratusan kursi berbalut kain satin gading. Bunga peoni dan mawar putih tersusun rapi di sepanjang aisle, wangi lembutnya bercampur dengan parfum para tamu undangan-para kolega Papa, rekan bisnis, dan kerabat jauh yang namanya bahkan nyaris tak kukenal.Aku duduk di barisan belakang, mengenakan kebaya broken white yang sama sederhananya dengan hatiku yang kupaksa tenang. Rambutku kini tersanggul kembali, rapi, tanpa helaian dramatis. Bekas tamparan di pipi telah disamarkan sempurna oleh riasan, seolah tak pernah ada kekerasan, tak pernah ada air mata, tak pernah ada pengakuan berbahaya di balik pintu kamar tadi.Di sekelilingku, hampir tak ada yang menoleh. Aku memang selalu begitu-hadir, tapi tak benar-benar terlihat.Berbeda dengan Nadira.Saat musik pengiring mengalun dan Nadira melangkah masuk bersama Papa, seluruh ruangan seakan
Terakhir Diperbarui : 2026-07-01 Baca selengkapnya