ログインGaun yang dipilihkan Rena berwarna biru tua dengan bahan satin yang sudah kehilangan kilaunya. Potongannya terlalu klasik, atau mungkin memang sudah ketinggalan zaman.
Ini milik Nadira, koleksi lama yang entah sejak kapan tergantung tanpa pernah disentuh lagi. Bagian dadanya cukup terbuka, garis lehernya jatuh rendah dengan potongan V yang berani. Bukan gayaku. Sangat bukan aku. Aku berdiri di depan cermin kamar belakang. Lampu kuning yang redup membuat bayanganku tampak asing, seolah aku sedang melihat orang asing yang malang. Aku menekan concealer di leher, bahu, dan tulang selangka lebih tebal dari biasanya. Lalu foundation, dan setting powder. Satu lapis. Dua lapis. Tiga lapis. Tanganku sedikit gemetar, tapi aku memaksa gerakannya tetap presisi. Bekas kemerahan itu bandel. Seolah menolak dilupakan. Seolah ia ingin berteriak pada dunia tentang apa yang terjadi semalam. Jejak Shaka. Rambutku kugelung rapi ke belakang, meninggalkan leher terbuka, sebuah kesalahan fatal, tapi Papa tidak memberi pilihan. Anting kecil kupakai agar tidak menarik perhatian berlebih. Sepatu hak rendah menjadi pilihan terakhirku. Aku butuh stabilitas untuk berdiri, bukan gaya untuk pamer. Di cermin, perempuan itu menatap balik padaku. Bukan Sekar yang bebas. Melainkan Sekar yang sudah dipoles, dibungkus, dan siap dipertontonkan di etalase. Mobil Papa meluncur mulus di jalanan malam Jakarta. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, seperti dunia lain yang tidak pernah benar-benar mengizinkanku masuk. Aku diam sepanjang perjalanan. Mencoba menebak-nebak pria seperti apa Mahesa itu. Aku masih ingat Papa mewanti-wanti sebelum aku berangkat menuju La Vetra. "Ingat, Sekar. Jaga sikap. Dengarkan dia. Jangan bicara sembarangan," entah sudah yang keberapa kali Papa mengulang kalimat itu. "Kamu dengar apa yang Papa bilang kan, Sekar? Kamu harus bisa memikat hati Mahesa!" Aku hanya mengangguk pelan, patuh tanpa tapi. Sopir Papa menurunkanku di depan La Vetra. Restoran Italia kelas atas yang berdiri megah dengan pencahayaan hangat dan dinding kaca tinggi. Tempat orang-orang penting menentukan nasib orang lain sambil memotong steak mahal. Aroma anggur dan rosemary menyambut saat pintu dibuka. Aku menyebutkan namaku pada resepsionis. "Meja atas nama Pak Mahesa Dinata," katanya sopan. "Silakan." Langkah kakiku terasa lebih berat setiap mendekati meja itu. Mahesa sudah duduk di sudut. Punggungnya tegak, jas abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuh tinggi atletisnya. Wajahnya tenang dengan sorot mata tajam yang langsung terangkat begitu aku mendekat. Tatapan itu tidak berlama-lama di wajahku. Ia turun perlahan, mengamati gaun, leher, lalu bahu, sebelum kembali ke mataku. Bukan tatapan lapar seperti Shaka. Melainkan penilaian. Seperti seorang kolektor yang sedang memeriksa apakah barang yang ditawarkan padanya cacat atau tidak. "Sekar Djayadi," katanya sambil berdiri. Suaranya rendah dan jernih. "Terima kasih sudah datang." Aku menjabat tangannya. Hangat. Tegas. Tidak berlama-lama. "Terima kasih sudah mengundang saya, Pak Mahesa," jawabku, berusaha menyembunyikan suaraku yang sedikit bergetar. Mahesa menarikkan kursi untukku. Gestur klasik, sopan, namun ada jarak yang sengaja dijaga. Kami duduk berseberangan. "Berapa umurmu?" tanyanya tiba-tiba. "Dua puluh tiga tahun. Saya sudah dewasa secara hukum, Pak," jawabku sambil melirik gelas anggur, mencoba terdengar berani meski nyaliku menciut. Mahesa tertawa kecil, bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang melihat sesuatu yang lucu namun getir. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatapku dengan binar yang lebih santai. "Saya tidak bertanya karena ingin mengajakmu mabuk, Sekar," ujarnya lembut. Ia menyesap air mineral sejenak. "Dan tolong, berhenti memanggil saya Pak. Kedengarannya seolah saya sedang mewawancarai calon sekretaris baru." Aku sedikit tersentak. Jemariku yang tadinya meremas gaunku di bawah meja perlahan mengendur. "Lalu saya harus memanggil apa?" "Panggil Mahesa saja. Umur saya baru dua puluh tujuh tahun," ia mengangkat bahu dengan senyum tipis. "Selisih empat tahun rasanya tidak cukup jauh untuk membuat saya merasa tua. Memanggil Pak hanya akan membuat makan malam ini terasa lebih berat, bukan?" Aku terdiam. Di rumah, semua orang bicara dengan nada memerintah. Tapi pria ini menawarkan sebuah kesetaraan yang asing. Namun, aku tidak bodoh. Aku tahu ada harga di balik keramahan ini. Di balik nada bicaranya yang santai, matanya tetap tidak bisa berbohong. Ia masih mengamatiku-mungkin menyadari lapisan concealer yang terlalu tebal di leherku, atau mungkin menyadari betapa tidak nyamannya aku dalam balutan satin kusam milik Nadira ini. "Baik... Mahesa," ucapku, mencoba membiasakan lidahku dengan nama itu. Ia mengangguk puas. "Bagus. Sekarang, karena protokol formalnya sudah kita singkirkan, katakan padaku, apa Papamu memberi tahu alasan sebenarnya kenapa kita ada di sini malam ini?" Aku menelan ludah. Pertanyaan itu menekan dadaku. "Papa bilang... Kamu tertarik padaku." Mahesa terdiam sejenak, memperhatikan jemariku yang kaku. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, memperkecil jarak tanpa terasa mengintimidasi. "Tertarik," ulang Mahesa pelan. "Kata yang cukup luas maknanya. Tapi ya, Papamu tidak berbohong. Saya memang yang meminta pertemuan ini." Aku memberanikan diri mendongak. "Kenapa? Kita hanya bertemu sekali. Dan itu juga bukan pertemuan yang baik." "Kamu percaya pada love at the first sight?" tanya Mahesa. "Tidak." Jawabku jujur. Mahesa kembali terkekeh. Kali ini suaranya lebih lepas. "Jawaban yang bagus. Saya juga biasanya tidak percaya. Sampai saya bertemu kamu." Aku menahan napas. Kalimat itu melayang ringan, tapi jatuh tepat di titik paling rapuh di dadaku. "Apa yang kamu lihat dari saya?" tanyaku pelan. "Kemarin saya bahkan tidak dalam kondisi terbaik." "Saya tahu," jawabnya jujur. "Dan justru karena itu. Kebanyakan orang datang dengan topeng paling rapi. Kamu datang tanpa apa pun selain ketegangan. Kamu berdiri di sana seperti seseorang yang tidak ingin, tapi dipaksa." Tentu saja aku tegang karena telah mengotori jas mahalmu! Dan karena aku takut kamu bisa mencium bau ketakutanku. "Oh, apakah kamu mendapatkan impresi seperti itu?" tanyaku dengan nada lembut yang dipaksakan. "Padahal saya sangat bahagia karena adik saya akhirnya menikah." Mahesa tersenyum tipis. Senyum yang memberitahuku bahwa dia tahu aku sedang berbohong besar. "Tentu," sahutnya pendek. "Kebahagiaan terkadang memang terlihat sedikit melelahkan, bukan?" Tepat saat itu, pelayan datang membawakan hidangan pembuka. Carpaccio daging sapi yang diiris setipis kertas dengan taburan keju parmigiano-reggiano dan minyak truffle aromatik. Wanginya seketika memenuhi rongga hidung, memicu rasa lapar yang sejak tadi kupendam karena saraf yang tegang. Mahesa memberi isyarat padaku untuk mulai mencicipi. "Silakan, Sekar. Mereka punya koki terbaik untuk menu ini." Aku mengambil garpu, masih dengan sisa-sisa kewaspadaan. Namun, begitu irisan daging itu menyentuh lidahku, pertahananku runtuh sesaat. Rasa gurih, sedikit asam dari perasan lemon, dan tekstur daging yang lumer seketika membuat mataku terpejam tanpa sadar. Selama beberapa detik, aku lupa pada gaun satin yang gatal ini. Aku lupa pada concealer yang menutupi jejak kasar Shaka. Aku lupa pada beban di punggungku. Aku hanya menikmati ledakan rasa yang begitu jujur di mulutku. "Enak?" suara Mahesa terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan. Aku membuka mata dan mendapati Mahesa tidak menyentuh piringnya. Ia justru sedang mengamatiku-mempelajari bagaimana ekspresiku berubah hanya karena sepotong makanan. "Sangat enak," jawabku jujur, kali ini tanpa nada defensif. "Dagingnya... seolah menghilang begitu saja." "Saya selalu percaya bahwa makanan adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan reaksinya," Mahesa akhirnya mulai memotong porsinya sendiri, gerakannya sangat elegan namun santai. "Kamu bisa berbohong dengan kata-kata, tapi lidahmu tidak akan pernah bisa menipu otakmu." Aku tertegun. Dia baru saja membedahku lagi. "Jadi, selain pengamat topeng, kamu juga seorang kritikus kuliner?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menyuap potongan kedua. "Saya hanya seseorang yang suka memperhatikan hal-hal kecil, Sekar," jawabnya tenang. Matanya kembali mengunci mataku. "Seperti cara kamu memegang garpu dengan sangat erat setiap kali saya menyebut namamu, atau lapisan tebal yang kamu poles di lehermu itu..." Jantungku seolah berhenti berdetak. "Seolah ada sesuatu di sana yang sangat ingin kamu sembunyikan dari saya."Satu minggu ini bukan lagi tentang hidupku, melainkan tentang bagaimana aku dibentuk ulang menjadi komoditas yang layak dipamerkan. Keluarga Dinata tidak hanya membeli perusahaan Papa, mereka membeli setiap detik waktuku, privasiku, bahkan hakku untuk sekadar menarik napas lega.Setiap pagi dimulai dengan ketukan pintu dari tim stylist kiriman Pak Bramantyo. Ruang tamu rumahku berubah menjadi bengkel transformasi. Aku berdiri berjam-jam di atas podium kecil, dikelilingi oleh desainer ternama yang menyematkan jarum pentul pada gaun sutra seharga satu unit apartemen yang melekat di tubuhku."Jangan terlalu banyak makan karbohidrat minggu ini, Nona Sekar. Garis pinggang ini harus tetap presisi," ucap mereka tanpa dosa. Mereka tidak melihatku sebagai manusia, melainkan manekin hidup yang harus tampil sempurna di depan kamera.Aku dipaksa menjalani berbagai prosedur estetika. Aroma bahan kimia dan masker emas memenuhi indra penciumanku. Kulitku dipoles hingga mengilap, seolah-olah lapisan
Siang itu, matahari Jakarta tengah mencapai puncaknya. Namun, hawa dingin yang berembus dari sistem pendingin sentral di Dinata Global resources-perusahaan raksasa di bidang eksplorasi pertambangan dan energi terbarukan-sanggup membekukan sisa-sisa kegelisahanku.Gedung ini adalah manifestasi kekuasaan. Lantai marmernya yang mengilat memantulkan bayangan langkah kakiku yang berderap pelan menuju lantai teratas. Di sinilah Pak Bramantyo, sang patriark keluarga Dinata, mengendalikan imperium bisnisnya dengan tangan besi."Nona Sekar? Silakan masuk, Bapak sudah menunggu," ucap sekretaris pribadinya. Nadanya formal, namun terselip rasa hormat yang kaku.Aku mengembuskan napas panjang sembari merapikan blazer, lalu melangkah masuk. Ruangan kerja Pak Bramantyo begitu luas dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang membingkai lanskap hutan beton Jakarta. Di balik meja jati yang kokoh, seorang pria paruh baya berambut perak duduk dengan aura otoritas yang pekat, tampak khusyuk membaca se
"Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan
Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye
Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun
Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud







