Langkahku terasa berat, seolah terseret oleh beban tak kasat mata saat aku memasuki area toilet yang sunyi. Getaran di tanganku bukan lagi sisa amarah pada Reo, melainkan sensasi aneh yang mulai menjalar-panas yang merambat dari ujung jari, mendaki lengan, hingga membakar tengkuk. Dengan sisa kesadaran yang kian menipis, aku menggeser ikon terima di ponselku."Kenapa lama sekali baru dijawab?" Suara berat Shaka langsung menguasai pendengaranku. Di latar belakang, sayup-sayup terdengar deru angin dan deburan ombak yang liar. "Aku baru sampai di resort. Kamu di mana, Sekar?"Aku bersandar pada wastafel marmer yang dingin, mencoba mencari pegangan. Di cermin, pantulan diriku tampak buram, berbayang, dan asing. "Aku... aku sedang di luar, Mas. Ada urusan sebentar.""Urusan apa jam segini? Pulang sekarang. Aku nggak mau tahu, kamu harus sudah di rumah saat aku menelepon satu jam lagi," titahnya tanpa kompromi. Dominasi Shaka biasanya selalu berhasil membuatku patuh, tapi saat ini, akal seh
Terakhir Diperbarui : 2026-07-04 Baca selengkapnya