
Pembalasan Dendam Sang Pangeran Mahkota
Dikhianati keluarga. Ditinggalkan oleh orang tua. Disingkirkan dari takhta. Dan tetap berdiri demi cinta serta balas dendam.
Pangeran Mahkota Jagatra Eduardo Batistuta adalah pewaris sah Kerajaan Aethelgard Silvanus. Namun tujuh saudaranya, bahkan Raja dan Ratu sendiri, merencanakan segala cara untuk menyingkirkannya. Mereka ingin Kaesar, anak kesayangan, menjadi raja berikutnya.
Selama bertahun-tahun Jagatra buta akan kebencian keluarganya. Sampai akhirnya, di usianya yang ke-25, semua topeng tersingkap dan darah pertama tertumpah.
Saat balas dendam mulai ia jalankan, hidupnya dipenuhi dilema. Ia jatuh cinta pada Audina, gadis sederhana dari rakyat jelata. Namun cinta mereka dipenuhi duri fitnah, perbedaan kasta, hingga hadirnya putri dan pangeran lain yang mencoba merebut hatinya.
Mampukah Jagatra bertahan dari pengkhianatan demi pengkhianatan?
Akankah ia berhasil membalaskan dendam, merebut takhta, sekaligus mempertahankan cintanya?
Satu hal yang pasti hanya darah dan cinta sejati yang akan menobatkannya sebagai Raja.
Leer
Chapter: bab 299 Rafka dan Rionaldo yang tercatat.BUM... BUM... BUM... Langkah makhluk itu semakin dekat. Setiap pijakannya... membuat dinding lorong dipenuhi retakan baru. Kabut hitam berputar mengelilinginya. Namun... wujudnya masih tertutup kegelapan. Hanya... sepasang mata merah yang tampak jelas. Jagatra mengangkat pedangnya. "Jangan lengah." Lucas berdiri di sisi kirinya. Justin di kanan. Audina dan Nara berada beberapa langkah di belakang. Sedangkan... Rafka dan Rionaldo saling berpandangan. Entah mengapa... keduanya merasakan sesuatu yang sama. Pria tua berjubah hitam berkata pelan, "Ia mulai memilih." Lucas mengernyit. "Memilih apa?" "Nama berikutnya." Sunyi. Mendadak... dua sinar merah keluar dari mata Penghapus. Bukan menuju Jagatra. Bu
Última actualización: 2026-07-16
Chapter: bab 298 Justin yang jadi aib.Lorong terdalam kembali bergetar.DUUUM...DUUUM...Kabut hitam yang memenuhi celah-celah batu perlahan bergerak.Tidak lagi berputar tanpa arah.Kini...kabut itu seperti sedang mencari sesuatu.Jagatra mengangkat pedangnya."Semua tetap waspada."Lucas mengangguk.Justin mengembuskan napas panjang.Sedangkan Rafka mulai mampu berdiri tanpa bantuan.Pria tua berjubah hitam memandang ke ujung lorong."Waktunya sudah tiba."Belum sempat siapa pun bertanya...kabut di depan mereka perlahan membelah.Namun...yang muncul bukan makhluk bermata merah.Melainkan...sebuah aula lain.Sangat luas.Di tengahnya berdiri cermin hitam raksasa.Permukaannya tidak memantulkan bayangan.Melainkan...kenangan.Pria tua itu berkata pelan,"Penghapus selalu menyerang melalui luka yang belum selesai."Tatapannya beralih kepada Justin."Dan kau...""...akan menjadi yang pertama."Just
Última actualización: 2026-07-15
Chapter: bab 297 Michael jadi hantu?Lorong terdalam kembali diliputi keheningan.Namun...keheningan itu tidak lagi terasa kosong.Getaran pelan masih merambat di sepanjang dinding batu.DUUUM...DUUUM...Kabut putih berputar perlahan.Jagatra tetap berdiri di depan Lucas.Justin memandang lorong yang gelap.Sedangkan Rafka...masih berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.Pria tua berjubah hitam memandang jauh ke dalam kegelapan.Wajahnya berubah serius."Ia telah bangun."Jagatra mengangkat pedangnya."Siapa?"Belum sempat pria tua itu menjawab...udara di seluruh lorong mendadak menjadi sangat dingin.Obor-obor batu padam.Satu demi satu.FUSSH...FUSSH...FUSSH...Hanya cahaya putih dari kabut yang masih menerangi ruangan.Audina merapat ke sisi Jagatra."Aku merasakan sesuatu..."Nara menggigil."Bukan manusia."Rionaldo menggenggam pedangnya semakin erat."Lalu apa?"Sunyi.Kemudian...
Última actualización: 2026-07-14
Chapter: bab 296 Lucas jadi bayangan.Lorong kuno kembali dipenuhi keheningan.Kabut putih masih mengelilingi Lucas.Justin.Dan Rafka.Meski doa Ellisha sempat memperlambat kutukan...retakan pada dinding batu belum benar-benar berhenti.KREK...KREK...Suara retakan kembali terdengar.Jagatra langsung menoleh.Tatapannya tertuju pada nama Lucas.Retakan kecil kembali muncul.Pria tua berjubah hitam menghela napas."Kutukan mulai bergerak lagi."Audina menggenggam tangan Jagatra."Kita harus melakukan sesuatu."Jagatra melangkah mendekati dinding batu."Lalu bagaimana caranya?"Pria tua itu menatap Lucas."Kutukan ini...""...akan selalu menguji orang yang paling kuat mengingat."Sunyi.Lucas mengangkat wajahnya perlahan.Tatapannya mulai kembali jernih.Namun...ia merasakan sesuatu.Tubuhnya terasa semakin ringan.Sangat ringan.Ia menatap kedua tangannya."...kenapa?"Justin ikut menoleh."Luca
Última actualización: 2026-07-13
Chapter: bab 295 Kaesar menjadi peringatan.Sementara... jauh dari lorong kuno.Jauh dari cahaya yang mulai menumbuhkan harapan.Di bawah Istana Aethelgard...penjara batu tetap diselimuti keheningan.Obor-obor menyala redup.Suara tetesan air menggema tanpa henti.TOK...TOK...TOK...Di balik jeruji besi...Kaesar masih terduduk seorang diri.Rambutnya mulai berantakan.Jubah kebesarannya telah lama diganti dengan pakaian tahanan.Tak ada lagi mahkota.Tak ada lagi pelayan.Tak ada lagi orang yang memanggilnya "Yang Mulia."Hanya kesunyian...yang menjadi temannya.Ia menatap kedua telapak tangannya.Lalu berbisik lirih,"...aku pernah memiliki semuanya."Namun...tak ada seorang pun yang menjawab.Tak lama kemudian...terdengar langkah kaki.TOK...TOK...TOK...Seorang penjaga tua berhenti di depan sel.Ia membawa semangkuk makanan.Kaesar mengangkat kepala.Penjaga itu meletakkan mangkuk tersebut.
Última actualización: 2026-07-12
Chapter: bab 294 Criastian abadi dalam kisah.Lorong kuno kembali diliputi kesunyian.Namun...kesunyian itu telah berubah.Harapan yang sempat hampir padam...kini kembali menyala.Meski hanya sebesar nyala lilin.Jagatra masih menatap Lucas.Justin.Dan Rafka.Ketiganya masih berdiri di balik kabut putih.Namun kini...mata mereka tidak lagi sepenuhnya kosong.Pria tua berjubah hitam menghela napas panjang."Doa telah memberi mereka waktu.""Tapi...""...waktu itu tidak akan bertahan selamanya."Jagatra menjawab tegas."Kalau begitu kami akan memanfaatkan setiap detiknya."Pria tua itu menatapnya.Tidak menjawab.Hanya mengangguk sangat pelan.Seolah...untuk pertama kalinya...ia mulai mengakui tekad Raja Aethelgard.Di sisi lain lorong...terdapat sebuah ruangan kecil yang belum pernah dimasuki siapa pun.Jagatra melangkah masuk.Audina.Rionaldo.Nara.Mengikutinya.Di tengah ruangan...berdiri se
Última actualización: 2026-07-11

Cinta Di Balik Tanda Tangan
Baginya,Aluna hanya alat. Bagi Aluna, Leonard adalah kutukan. Tapi siapa sangka, tanda tangan yang dipaksakan justru membuka pintu menuju cinta tak terduga.
Saat hidup Aluna yang sederhana berubah drastis karena harus menikah dengan Leonard Alvaro — seorang CEO muda yang dingin, arogan, dan menyimpan luka masa lalu — ia tak pernah menyangka akan terseret ke dunia penuh intrik, penghinaan, dan rahasia keluarga yang gelap.
Leonard tidak menginginkannya. Bagi Leonard, Aluna hanyalah gadis miskin yang terpaksa ia nikahi demi menyelamatkan warisan dan reputasi keluarga. Ia memperlakukannya tanpa hati, tanpa simpati. Tapi, di balik sikap dinginnya, tersembunyi luka lama yang belum sembuh.
Aluna mencoba bertahan. Ia tak meminta cinta, hanya sedikit penghargaan. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat ikatan yang tanpa sadar tumbuh di antara mereka.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi perhatian...
Ketika pernikahan palsu mulai terasa nyata...
Dan ketika kebenaran masa lalu terbongkar, apakah cinta bisa menjadi penyelamat... atau justru penghancur?
Leer
Chapter: bab 150 Ending:Tempat pulang yang menetap.Pagi datang dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan. Leonard bangun lebih dulu,karena kebiasaan baru: memastikan hari dimulai tanpa tergesa. Ia menoleh. Aluna masih tidur, napasnya teratur, wajahnya damai. Leonard tersenyum kecil.Beberapa bulan terakhir berjalan seperti itu. Tidak ada lompatan besar, tidak ada perayaan yang direncanakan. Hanya hari-hari yang dipilih untuk tinggal. Hingga suatu pagi, Aluna memanggilnya dari dapur dengan suara yang berbeda.“Leonard,” katanya pelan, “kita perlu bicara.”Leonard datang dengan tenang. Di meja, ada secangkir teh yang sudah mendingin dan selembar kertas kecil. Aluna tidak menunggu lama untuk menjelaskan. Ia hanya menggeser kertas itu ke arah Leonard.Dua garis tipis,Leonard menatapnya beberapa detik,cukup lama untuk memahami, cukup singkat untuk yakin. Ia mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu, dan di sana tidak ada ketakutan yang dulu sering muncul. Yang ada hanya rasa hadir yang utuh.
Última actualización: 2026-02-18
Chapter: bab 149 hari yang dipilih untuk tinggal.Pagi setelah itu tidak membawa pengumuman apa pun,tidak ada perubahan besar yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal. Leonard bersiap seperti biasa, Aluna merapikan hal-hal kecil yang sempat tertinggal. Namun ada satu perbedaan yang tidak perlu dicari,keduanya bergerak tanpa beban yang dulu tak pernah benar-benar pergi.Leonard berangkat ke kantor dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya, ia tidak lagi memeriksa ulang pikiran sendiri di sepanjang jalan,tidak ada dialog batin yang menimbang kemungkinan terburuk. Ia tiba, bekerja, berbicara seperlunya, dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.Di tengah hari, Leonard berhenti sejenak di depan jendela ruangannya. Kota bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing- masing,ia tidak merasa harus mengatur semuanya agar tetap berada di jalur aman. Ia membiarkan hidup berjalan dan ikut berjalan di dalamnya.Sore datang tanpa drama. Leonard pulang tepat waktu, membaw
Última actualización: 2026-02-17
Chapter: bab 148 yang tidak lagi raguPagi datang dengan cahaya yang lebih bersih. Hujan semalam menyisakan udara dingin yang menenangkan, seolah dunia baru saja dibasuh tanpa diminta. Leonard bangun lebih awal, kali ini tanpa jeda panjang,karena tubuhnya siap. Di dapur, Aluna sudah lebih dulu terjaga. Ia menata dua piring sarapan sederhana,tidak ada menu khusus,tidak ada usaha untuk membuat pagi terasa istimewa,namun justru di sanalah keistimewaannya tinggal. “Kamu kelihatan lebih ringan,” kata Aluna sambil menuang air hangat. Leonard duduk. “Karena aku tidak membawa apa pun dari kemarin.” Aluna mengangguk. Mereka makan tanpa terburu, tanpa percakapan panjang. Sendok bertemu piring, pagi berjalan apa adanya. Hari itu, Leonard tidak langsung ke kantor. Ia mengambil waktu setengah hari,keputusan yang dulu selalu ia timbang berulang kali. Kini, keputusan itu hadir tanpa debat di dalam kepala. Ia dan Aluna berjalan keluar rumah, menyu
Última actualización: 2026-02-16
Chapter: bab 147 hal yang mulai mengakar.Hari-hari berikutnya tidak membawa perubahan yang bisa ditunjuk dengan jelas, namun ada sesuatu yang mulai mengendap,seperti tanah yang perlahan memadat setelah lama diguyur hujan. Leonard merasakannya saat ia bangun pagi tanpa dorongan untuk segera berdiri. Aluna merasakannya ketika ia menata hari tanpa perlu memastikan apa pun pada siapa pun.Pagi itu, Aluna menyiapkan sarapan dengan menu yang sama seperti kemarin,tidak ada niat untuk variasi, dan tidak ada rasa bosan. Leonard memperhatikannya dari kursi makan, menyadari bahwa pengulangan kini terasa aman, bukan menjemukan.“Kita sudah beberapa hari begini,” kata Leonard, lebih seperti pengamatan.Aluna mengangguk. “Dan tidak ada yang terasa tertinggal.”Leonard tersenyum kecil. Ia berangkat kerja dengan pikiran yang tidak lagi memantul ke banyak arah. Di kantor, satu proyek lama akhirnya memasuki fase akhir,tanpa drama, tanpa perayaan besar. Ia menandatangani berkas terakhir dan menyerahkannya
Última actualización: 2026-02-15
Chapter: bab 146 arah yang dibiarkan tumbuh.Pagi berikutnya terasa sama, namun tidak pernah benar-benar serupa. Leonard membuka mata dengan kesadaran yang pelan: hari tidak berulang, ia hanya bergerak dengan cara yang lebih lembut. Aluna sudah bangun lebih dulu, duduk di dekat jendela dengan selimut tipis di bahunya, menatap halaman yang masih basah oleh sisa embun.Leonard mendekat tanpa suara. Ia berdiri di belakang Aluna beberapa detik, lalu duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sisi kursi. Tidak ada sapaan. Tidak ada kebutuhan menandai momen.“Ada hari-hari,” ucap Aluna akhirnya, “yang dulu akan membuatku gelisah.”Leonard mengangkat kepala. “Sekarang?”“Sekarang justru membuatku ingin diam lebih lama.”Leonard tersenyum kecil. Ia memahami pergeseran itu,dari ingin memastikan, menjadi ingin merasakan.Di kantor, Leonard menjalani hari tanpa agenda yang penuh. Beberapa hal diserahkan sepenuhnya pada tim. Ia hadir jika diminta, mundur jika tidak diperlukan. Tidak a
Última actualización: 2026-02-14
Chapter: bab 145 hari yang tidak ditahan.Pagi itu datang dengan suara biasa,air mengalir di kamar mandi, langkah pelan di lantai, bunyi cangkir bertemu meja, Leonard dan Aluna bergerak seperti kemarin, dan entah bagaimana, itu terasa cukup.Leonard berangkat sedikit lebih siang, karena tidak ada alasan untuk berangkat lebih awal. Di perjalanan, lampu lalu lintas memaksanya berhenti lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengeluh. Ia memandang keluar, melihat orang-orang menyeberang dengan langkah masing-masing. Tidak ada satu pun yang tampak salah.Di kantor, sebuah diskusi kecil berlangsung di ruang terbuka. Leonard ikut duduk, mendengar tanpa memotong. Ketika pendapatnya diminta, ia menjawab singkat, tidak menutup kemungkinan lain. Diskusi itu berakhir tanpa kesimpulan final dan tidak ada yang gelisah karenanya.“Besok kita lanjut,” kata salah satu dari mereka.Leonard mengangguk. “Baik.”Menjelang siang, Brayen mengirim pesan singkat: Makan bareng?Leonard membalas: Nant
Última actualización: 2026-02-13