author-banner
Wei Yun
Wei Yun
Author

Novelas de Wei Yun

Menukar Takdir Istri Sang Adipati

Menukar Takdir Istri Sang Adipati

Song Liya, seorang guru olahraga dari dunia modern, terbangun dalam tubuh Murong Shi, tokoh antagonis dalam novel Gelora Cinta Sang Adipati, yang ditakdirkan mati tragis. Terjebak dalam pernikahan politik dengan Adipati Xuan, penguasa Beiyuan yang dingin, ia mewarisi reputasi buruk yang menyeretnya menuju hukuman mati. Menolak takdir itu, Song Liya mengubah hidup Murong Shi; meninggalkan kebiasaan buruk, menjadi disiplin, dan membangun kembali kendali atas kediaman adipati. Namun perubahan itu justru menarik perhatian sang adipati. Ketika ia hampir lolos dari nasib buruknya, Song Liya menemukan rahasia kelam, Murong Shi hanyalah pion keluarga Murong untuk menjatuhkan sang adipati, dan saudari kembarnya, Murong Lian, berambisi merebut identitas, kedudukan, serta suaminya. Kini Song Liya harus melawan takdir novel, menghadapi saudari yang ingin menggantikannya, dan bertahan di dunia penuh intrik, sebelum takdir kematian kembali mengejarnya.
Leer
Chapter: Bab 200
Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela kayu Kediaman Long, membawa kehangatan yang sudah lama tidak dirasakan oleh dinding-dinding rumah besar ini. Suasana ruang makan yang biasanya sunyi dan kaku, kini berubah total. Gelak tawa kecil dan denting sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen menciptakan simfoni kehidupan yang baru.​Di kepala meja, Nyonya Besar Long duduk dengan keanggunan yang kembali memancar dari wajahnya. Guratan-guratan kesedihan yang selama bertahun-tahun mengukir wajahnya seolah sirna dalam semalam, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya, si kecil Long Yuan sibuk mengunyah kue beras dengan pipi yang menggembung, sesekali tertawa saat Xiao Cui menyeka sisa makanan di sudut bibirnya.​Mereka semua baru saja tiba kembali di Kediaman Long kemarin, setelah Long Xuan menjemput mereka dari Gunung Yu.​Hari ini, aturan ketat tentang kasta dan pelayan dilebur atas perintah Long Xuan. Di meja makan panjang itu, Fan Yi dan Xiao Cui duduk ber
Última actualización: 2026-06-07
Chapter: Bab 199
Ketakutan yang tiba-tiba menyergap membuat senyum di bibir Liya mendadak kaku. Bayangan kelam tentang penyakit darah iblis yang kini mengalir di dalam darahnya seolah bangkit, menjadi kabut tebal yang mendadak menutupi kebahagiaannya. Ia tahu betul bagaimana kutukan itu bekerja—rasa sakit yang menyiksa, hilangnya kesadaran, dan haus darah yang mengerikan. Bagaimana jika janin suci ini harus menanggung beban kutukan yang sama?Ia dan Long Xuan sudah mengetahui cara mengatasi sat kambuh walau belum mendapatkan obatnya. Namun bagaimana jika anaknya nanti muncul sakitnya. Apa yang harus ia lakukan.​Long Xuan, yang selalu peka terhadap setiap perubahan ekspresi istrinya, menyadari binar kebahagiaan di mata Liya yang mendadak meredup. Ia mengusap pipi Liya yang masih agak dingin dengan ibu jarinya.​"Shishi, ada apa? Mengapa wajahmu mendadak sedih?" tanya Long Xuan dengan nada rendah, penuh perhatian.​Liya memaksakan sebuah senyuman, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Xuan. Aku hanya ...
Última actualización: 2026-06-06
Chapter: Bab 198
Suasana sepi di koridor menuju Paviliun Anggrek seketika pecah saat beberapa pelayan yang membawa nampan berisi teh melintas. Begitu melihat sesosok wanita terkapar tak sadarkan diri di atas lantai batu, salah satu dari mereka menjerit histeris hingga nampan di tangannya jatuh berdentang nyaring.​"Nyonya Besar! Astaga, Nyonya Besar!"​Kepanikan meluas dalam hitungan detik. Beberapa pengawal anak buah Zhang Yu yang berjaga di perimeter luar segera berlari masuk. Di antara kekacauan itu, Fan Yi yang kebetulan sedang berpatroli langsung bergegas mendekat. Wajah Fan Yi itu seketika pucat pasi melihat Liya yang terpejam rapat dengan wajah seputih kertas.​"Nyonya! Minggir kalian semua!" teriak Fan Yi, langsung berlutut dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Liya. Denyutnya terasa cepat namun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh sang Nyonya Besar ke dalam gendongannya. "Cepat panggil Tabib Utama ke kamar di Paviliun Anggrek! Sekarang!"​Berita pingsannya Liya m
Última actualización: 2026-06-04
Chapter: Bab 197
Langkah kaki Liya bergema pelan di sepanjang koridor kediaman Keluarga Long. Tempat ini dahulunya adalah pusat kejayaan keluarga suaminya, tempat tinggalnya, sebelum akhirnya direbut secara paksa dan dikuasai oleh Murong Guan dengan cara yang licik. Kini, setelah Murong Guan tumbang, atmosfer mencekam di dalam kediaman megah itu perlahan mulai terkikis, berganti dengan kesunyian yang asing. ​Liya berjalan menuju Paviliun Phoenix, tempat tinggal dan bekerja masa lalu milik Long Xuan yang selama masa pendudukan digunakan oleh Murong Guan sebagai ruang pribadinya. ​Saat jemari lentiknya mendorong pintu kayu yang tebal, pemandangan di dalam kamar membuat Liya menghentikan langkah sejenak. Bentuknya sudah berubah sama sekali. Tirai-tirai sutra berwarna hijau tua khas kamar suaminya telah diganti dengan kain-kain beludru merah marun yang mencolok dan beraroma dupa gaharu yang pekat. Perabotan kayu cendana yang dulu sederhana namun kokoh, kini digantikan oleh meja-meja berlapis emas dan uk
Última actualización: 2026-06-03
Chapter: Bab 196
Dengan satu gerakan yang bertenaga namun penuh perhitungan, Liya mendorong bahu Long Xuan hingga pria itu kembali telentang di atas dipan, lalu ia bergerak cepat menaiki tubuh suaminya, mengungkungnya dari atas.​Long Xuan meringis sedikit saat punggungnya membentur kayu dipan, namun seringai jenaka justru kembali terukir di bibirnya. Hanfu sutra milik Liya yang sudah agak longgar kini tersingkap di bagian bahu, menampilkan kulit putihnya yang sehalus porselen di bawah temaram lampu minyak. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi begitu pekat, sarat akan ketegangan intim yang memabukkan.​"Kau berani menantangku dalam kondisi seperti ini, Shishi?" bisik Long Xuan.​Sepasang tangannya yang kekar langsung naik dan mencengkeram pinggang ramping Liya dengan posesif, bersiap untuk menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang lebih dalam. Gairah yang meletup-letup setelah lolos dari maut seolah memberinya energi tambahan yang tak terbendung. Pusaka di bawah sana yang mulai menega
Última actualización: 2026-06-02
Chapter: Bab 195
Di dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. ​Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. ​"Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. ​"Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. ​"Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." ​Su Lang terbelalak, hampir saja menj
Última actualización: 2026-06-01
Kembalinya Sang Puteri Phoenix

Kembalinya Sang Puteri Phoenix

Di kehidupan pertamanya, Lian Xue mengkhianati suaminya demi pria yang dicintainya. Demi Pei Zhen, ia meracuni Shen Yang, mencuri segel militer, dan tanpa sadar membuka jalan bagi kehancuran Kerajaan Xiang Xi. Namun ketika ayahnya dibunuh dan dirinya dikhianati hingga kehilangan nyawa, Lian Xue baru menyadari siapa musuh dan siapa yang benar-benar melindunginya. Kini takdir memberinya kesempatan kedua. Terbangun kembali di malam pernikahannya, Lian Xue bertekad menyelamatkan ayahnya, menggagalkan pemberontakan, dan memperbaiki hubungannya dengan Shen Yang. Namun sang jenderal tidak mempercayai perubahan mendadaknya. Dengan identitas tersembunyi sebagai Zhao Tian, pria bertopeng yang hangat dan penuh perhatian, Shen Yang diam-diam mengawasi istrinya. Tanpa mengetahui bahwa Zhao Tian dan Shen Yang adalah orang yang sama, Lian Xue justru jatuh cinta untuk kedua kalinya pada suaminya sendiri. Di tengah konspirasi istana, perebutan takhta, dan rahasia darah kerajaan Shen Yang yang terkubur puluhan tahun, akankah cinta mereka mampu mengalahkan pengkhianatan, atau takdir kembali menuntut harga yang sama?
Leer
Chapter: Bab 49 - Amarah Tanpa Suara
​Lian Xue melangkah perlahan di sepanjang lorong yang menghubungkan kediaman dalam dengan Aula Agung Kekaisaran. Udara siang itu terasa cukup gerah, namun niat mulianya untuk menjenguk sang ayah yang belakangan ini dikabarkan kurang fit membuatnya tetap mengayunkan langkah. Ditemani A'Ning, Lian Xue berniat membawa ramuan teh ginseng hangat.​Namun, begitu mendekati gerbang gading menuju Aula Agung, langkah Lian Xue mendadak terhenti. Derap langkah para prajurit pengawal yang biasanya bersiaga di luar pintu justru tampak menjauh, seolah diberi instruksi untuk memberi jarak. Suara seruan yang berat dan menggema dari dalam aula memecah keheningan koridor.​"Ada Rapat Militer Kekaisaran, Putri ..., " bisik A'Ning cemas, memegang lengan jubah Lian Xue.​Lian Xue tidak menjawab. Rasa ingin tahunya yang membara menarik langkahnya mendekat tanpa suara. Ia menyelinap melewati selasar samping, berdiri tersembunyi di balik tirai sutra tebal berwarna merah marun yang menyekat area privat aula. M
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: Bab 48 - Bukan Lagi Putri Pasrah
"Perayaan ulang tahun Kaisar bukan sekadar acara makan bersama atau pertunjukan seni biasa, Xue'er," ujar Selir Agung Wei tenang. Ia menyesap tehnya sekali lagi sebelum melanjutkan dengan suara sehalus sutra. "Itu adalah panggung di mana seluruh mata tertuju, mulai dari para menteri, keluarga kerajaan, hingga utusan dari berbagai negeri tetangga. Siapa pun yang memimpin acara ini akan menjadi pusat perhatian." ​Lian Xue mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap bibinya dengan binar penuh rasa ingin tahu yang sengaja dipelihara. "Namun bukankah Selir Wu masih relatif baru dan belum pernah memegang tanggung jawab sebesar ini, Bibi? Jika terjadi sedikit saja kesalahan, bukankah akibatnya bisa sangat berbahaya bagi nama baik istana belakang?" ​Selir Agung Wei tertawa kecil, suara tawa yang begitu merdu namun menyimpan dinginya es. "Justru karena itulah Bibi memberikannya padanya, Xue'er. Selir Wu belakangan ini tampak begitu ambisius. Ia sering kali datang menunjukkan bakatnya di hadapan
Última actualización: 2026-07-26
Chapter: Bab 47 - Topeng Lembut Selir Agung
Keheningan malam di atas atap Paviliun Yue Hua mendadak terasa begitu menggantung. Lian Xue menghentakkan kakinya kekanak-kanakan di atas genteng, mendengkus gusar saat hembusan angin dingin beraroma mint menyapu wajahnya yang masih hangat. ​"Datang sesukanya, pergi sesukanya. Benar-benar pria yang tidak punya sopan santun!" gerutu Lian Xue pelan, merapatkan jubah hitamnya sebelum merayap turun kembali menuju tangga kayu di balik semak-semak. ​Setibanya di dalam kamar, Lian Xue tak langsung tidur. Ia melangkah menuju meja rias, menatap bayangan dirinya di cermin porselen, lalu beralih pada bagan tiga nama yang sebelumnya ia buat. Dengan jemari bergetar halus, ia mengambil kuas tinta dan melingkari nama Kepala Pengawal Yan dengan tinta. Ia melipat kertas bagan itu dengan teliti, lalu menyimpannya rapat-rapat di balik selipan kotak perhiasan rahasianya. Bagaimanapun, bagan ini adalah peta analisis utamanya yang belum selesai. ​Jika Zhao Tian bergerak malam ini untuk memburu Pengawal
Última actualización: 2026-07-25
Chapter: Bab 46 - Petunjuk di atas Atap
Lian Xue memandangi bagan tiga nama di atas mejanya dengan tatapan lekat. Tinta hitam yang masih basah itu seolah memantulkan kerumitan benang kusut di istana belakang. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja batu secara konstan. Ada satu-satunya cara untuk mengurai simpul ini dengan cepat: ia harus memverifikasi dugaannya kepada pria yang memegang potongan teka-teki pertama. ​Zhao Tian. ​Bayangan tentang pria bertopeng itu seketika memicu gelombang hangat yang menjalar naik ke wajah Lian Xue. Ingatan tentang tubuh tegap yang mengungkungnya di atas ranjang, desakan napas yang begitu dekat, hingga kecupan dalam yang membungkam racauannya semalam membuat dada Lian Xue berdesir hebat. Rasa malu yang teramat sangat menyeruak, membuatnya sempat membeku beberapa saat. Namun, ego dan rasa malunya harus disingkirkan demi permainan besar ini. ​Satu-satunya orang yang memergoki perselingkuhan Selir Wu selain dirinya adalah Zhao Tian. ​Tanpa membuang waktu, malamnya Lian Xue menyelinap keluar lewat j
Última actualización: 2026-07-24
Chapter: Bab 45 - Rahasia Tiga Nama
​Lian Xue melangkah mendekati cawan porselen yang berisi lilin kecil di meja riasnya.​Pikirannya kini berputar dengan kecepatan tinggi. Kebenaran bahwa kehamilan Selir Wu merupakan hasil hubungan haram seketika membuka tabir intrik yang jauh lebih gelap. Siapa pria berselimutkan nekat yang berani menyentuh wanita milik Kaisar? Dan yang tak kalah penting, sejauh mana Zhao Tian terlibat dalam menyusun kepingan teka-teki yang rumit ini?​"A'Ning!" panggil Lian Xue dengan nada suara yang terkontrol rapat begitu ia selesai merapikan meja riasnya.​Daun pintu berderit halus ketika A'Ning melangkah masuk dengan raut cemas. "Ya, Putri? Apakah pening di kepala Putri sudah mereda?"​"Aku sudah merasa jauh lebih baik," ujar Lian Xue, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pelayan setianya. "Siapkan pakaianku yang bagus. Aku ingin mengunjungi Paviliun Selir Wu sore nanti. Sudah lama aku tidak menyapanya."​A'Ning tersentak kaget, sepasang matanya membelalak lebar. "Ke Paviliun Selir Wu, P
Última actualización: 2026-07-23
Chapter: Bab 44 - Bukan Benih Sang Naga
​Shen Yang memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Lian Xue dengan saksama. Sang Jenderal kembali mengambil sumpitnya, menggerakkannya dengan santai seolah informasi yang baru saja ia jatuhkan bukan sebuah bom waktu. ​"Mengapa kau begitu terkejut?" tanya Shen Yang, nadanya terlampau tenang. "Bukankah wajar jika seorang Selir Agung mendelegasikan tugas urusan domestik istana kepada selir lain yang dianggapnya kompeten?" ​"Kompeten atau sengaja dijadikan umpan?" sahut Lian Xue ketus, mengabaikan supnya yang mulai mendingin. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap Shen Yang lekat-lekat. "Perayaan ulang tahun Kaisar bukan sekadar pesta minum teh, Shen Yang. Itu adalah panggung di mana seluruh pejabat, perwakilan klan, bahkan utusan negeri tetangga akan hadir. Kesalahan sekecil apa pun dalam protokoler atau keamanan bisa berujung pada tuduhan makar. Selir Wu tidak memiliki latar belakang keluarga yang kuat untuk menahan tekanan seperti itu jika terjadi sesuatu." ​Shen Yang menghenti
Última actualización: 2026-07-21
Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!

Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!

Ketika dendam bertemu cinta, siapa yang akan lebih dulu menusuk jantung? Bai Xiang, pendekar cantik dari Sekte Gunung Yang, masuk ke istana hanya untuk satu tujuan, membunuh Jenderal Han Feng, pria bertopeng hitam yang menumpahkan darah keluarganya.  Namun takdir berbalik kejam, Kaisar justru menjodohkan mereka. Kini, musuhnya tidur di ranjang yang sama, menatapnya dengan mata yang menyimpan rahasia terlalu dalam. Saat cinta tumbuh di antara bilah pedang dan kebohongan, Bai Xiang perlahan sadar, musuh sejatinya bukan pria di sisinya, melainkan orang yang selama ini ia panggil “Guru”. Dan ketika semua topeng terlepas, hanya satu pilihan tersisa: membunuh atau mencintai.
Leer
Chapter: Bab 204
Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.​Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.​Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan
Última actualización: 2026-02-27
Chapter: Bab 203
Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. ​Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. ​"Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. ​Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci
Última actualización: 2026-02-25
Chapter: Bab 202
Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. ​Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. ​"Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut
Última actualización: 2026-02-24
Chapter: Bab 201
Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,
Última actualización: 2026-02-23
Chapter: Bab 200
Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka
Última actualización: 2026-02-22
Chapter: Bab 199
Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F
Última actualización: 2026-02-21
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status