LOGINDi kehidupan pertamanya, Lian Xue mengkhianati suaminya demi pria yang dicintainya. Demi Pei Zhen, ia meracuni Shen Yang, mencuri segel militer, dan tanpa sadar membuka jalan bagi kehancuran Kerajaan Xiang Xi. Namun ketika ayahnya dibunuh dan dirinya dikhianati hingga kehilangan nyawa, Lian Xue baru menyadari siapa musuh dan siapa yang benar-benar melindunginya. Kini takdir memberinya kesempatan kedua. Terbangun kembali di malam pernikahannya, Lian Xue bertekad menyelamatkan ayahnya, menggagalkan pemberontakan, dan memperbaiki hubungannya dengan Shen Yang. Namun sang jenderal tidak mempercayai perubahan mendadaknya. Dengan identitas tersembunyi sebagai Zhao Tian, pria bertopeng yang hangat dan penuh perhatian, Shen Yang diam-diam mengawasi istrinya. Tanpa mengetahui bahwa Zhao Tian dan Shen Yang adalah orang yang sama, Lian Xue justru jatuh cinta untuk kedua kalinya pada suaminya sendiri. Di tengah konspirasi istana, perebutan takhta, dan rahasia darah kerajaan Shen Yang yang terkubur puluhan tahun, akankah cinta mereka mampu mengalahkan pengkhianatan, atau takdir kembali menuntut harga yang sama?
View More"Shen Yang! Shen Yang! "
Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue tersenyum samar. "Ma- ma ti ... akhirnya Shen Yang mati. Pei Zhen ... Aku berhasil membunuhnya ...." Suara Lian Xue bergetar. Dia tak menyangka bahwa racun yang dimasukan ke dalam arak pernikahan itu bereaksi dengan cepat. Ia mendekap erat segel militer berbentuk patung harimau kecil yang berhasil didapatkan dari balik pakaian pengantin Shen Yang. Barang itu yang sangat diinginkan oleh Pei Zhen, pujaan hatinya. Demi cintanya pada Pei Zhen, ia rela meracuni Shen Yang, suami pilihan ayahnya, agar bisa mencuri segel militer milik Shen Yang. Di dalam otaknya, masih terngiang kata-kata Pei Zhen bahwa jika Lian Xue berhasil mengambil segel militer dari Sheng Yan dan membunuhnya, maka mereka akan bersama selamanya. Angin malam yang dingin menerpa tubuh Lian Xue yang berlari dari kamar pengantin dengan tubuh gemetar dengan masih memakai pakaian pengantin berwarna merahnya bersulam naga. Ia berlari menuju Aula altar leluhur tempat ia berjanji bertemu dengan Pei Zhen. Namun di tengah perjalanan, ia melihat Pei Zhen berjalan menuju kamar ayahandanya, sang Kaisar. Lian Xue mengikuti, namun langkahnya terhenti saat melihat bayangan di jendela kamar sang ayah. Pei Zhen masuk dengan langkah terburu-buru, namun bukan untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, jantung Lian Xue seolah berhenti berdetak. Pei Zhen menarik bantal sutra, lalu dengan dingin menekan wajah Kaisar yang lemah. Sang Kaisar meronta, tangannya mencakar udara, namun tenaga pria tua yang sakit-sakitan itu bukan tandingan kekuatan Pei Zhen. "Ayah!" jerit Lian Xue histeris, menghambur masuk ke dalam kamar. Terlambat. Tubuh Kaisar sudah lemas. Pei Zhen berbalik dengan tenang, di tangannya tergenggam Segel Kekaisaran yang baru saja ia dapatkan dari Kaisar. "Berhenti!" Lian Xue meronta saat dua pengawal pribadi Pei Zhen mencengkeram lengannya dengan kasar sebelum ia sempat menyentuh pria itu. "Pei Zhen! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tega membunuh ayahku?!" Pei Zhen tidak menunjukkan raut penyesalan. Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa sinis yang belum pernah didengar Lian Xue selama tiga tahun mereka menjalin cinta. "Bagaimana aku tega?" Pei Zhen mendekat, menatap Lian Xue dengan pandangan menghina. "Kau pikir selama ini aku tulus mencintaimu? Kau pikir aku benar-benar ingin menghabiskan sisa hidupku dengan putri manja sepertimu?" Lian Xue menggeleng, air mata membanjiri wajahnya. "Tapi kau bilang ... kau bilang kita akan membangun masa depan bersama ...." "Kau hanya alat," potong Pei Zhen tajam. Ia mengangkat Segel Kekaisaran tinggi-tinggi. "Aku hanya menggunakanmu untuk mendapatkan ini. Tanpamu, aku harus menunggu bertahun-tahun untuk menguasai takhta ini." Pei Zhen kemudian melirik tangan Lian Xue yang masih menggenggam kotak segel milik Shen Yang. "Sekarang, berikan segel militer itu padaku. Setidaknya aku akan memberimu kematian yang tidak terlalu menyakitkan." Melihat seringai iblis di wajah pria yang ia puja, rasa cinta Lian Xue menguap, digantikan oleh kebencian yang membara. Saat Pei Zhen mengulurkan tangan untuk merampas kotak itu, Lian Xue mengumpulkan sisa tenaganya dan .... Cuih! Ludah bercampur amarah mendarat tepat di wajah Pei Zhen. PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lian Xue. Kekuatannya begitu besar hingga Lian Xue tersungkur ke lantai kayu yang dingin. Sudut bibirnya pecah, darah segar mulai menetes. "Dasar jalang tidak tahu diuntung!" geram Pei Zhen sambil mengusap wajahnya. Lian Xue tidak menyerah. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba bangkit dan lari menuju pintu keluar. Namun, ia tidak pernah sampai ke sana. Sebuah desing tajam membelah udara, diikuti oleh rasa dingin yang menusuk dari arah punggung tembus ke dada. Lian Xue terpaku. Ia menunduk dan melihat mata pedang yang berkilau darah muncul dari tengah dadanya. Pei Zhen telah melemparkan pedangnya dengan akurasi mematikan. Tubuh Lian Xue limbung. Matanya sempat menangkap sesosok bayangan tak jauh di depan pintu, seorang wanita. Namun sebelum mengenalinya, pandangannya sudah mengabur. Ketika kesadarannya belum hilang sepenuhnya dan tubuhnya belum rebah ke tanah, ia membisikkan sumpah dengan suara yang bergetar. "Jika ada kehidupan kedua ... akan kubalas ... apa yang telah kau lakukan padaku... dan ayahku ... Pei Zhen!" BUKK! Tubuhnya bedebum jatuh di atas lantai kayu yang keras. Kegelapan menelannya. "Tuan Puteri ...." Lian Xue tersentak. Napasnya tersengal seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam lama. Ia tidak merasakan dinginnya lantai kayu, melainkan kehangatan sebuah kursi empuk. Ia mengerjapkan mata. Pemandangan di depannya bukan lagi kamar ayahnya, melainkan sebuah kamar luas yang didominasi warna merah terang. Lilin-lilin besar menyala di setiap sudut, dan aroma arak yang manis memenuhi hidungnya. Ini bukan alam baka. Ini adalah kamar pengantinnya dengan Shen Yang. Seorang pria berdiri membelakanginya. Bahunya lebar, mengenakan jubah merah pengantin yang gagah. Itu Shen Yang. "Jika Tuan Puteri memang tidak berkenan dengan pernikahan ini," suara rendah dan dalam milik Shen Yang terdengar. "Maka aku akan menyelesaikan ritual ini sendirian. Aku akan meneguk arak pernikahan ini demi menghormati Kaisar, setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi." Tangan Shen Yang mulai meraih cangkir arak di atas meja. Mata Lian Xue membelalak. Cangkir itu. Ia ingat betul. Di dalam cangkir itulah ia telah mencampurkan racun beberapa menit yang lalu atas perintah Pei Zhen. Sekelebat bayangan mengerikan berputar di kepalanya: pedang yang menembus dadanya, tawa iblis Pei Zhen, dan wajah ayahnya yang meregang nyawa di bawah bantal. Aku kembali? batinnya tak percaya. Aku kembali ke saat semuanya bermula. "JANGAN!" Lian Xue melompat dari kursinya, gaun pengantinnya yang panjang hampir membuatnya tersandung. Sebelum jemari Shen Yang menyentuh cangkir itu, Lian Xue sudah menerjang maju dan menepis tangan sang jenderal dengan keras. Prang! Cangkir porselen itu jatuh ke lantai, isinya tumpah membasahi lantai, dan aromanya yang manis kini terasa seperti bau busuk kematian di hidung Lian Xue. Shen Yang berbalik, wajahnya yang kaku menunjukkan keterkejutan. "Tuan Puteri? Apa maksudnya ini?" Lian Xue menatap pria di depannya. Pria yang di kehidupan sebelumnya ia bunuh dengan dingin demi seorang pengkhianat. Dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Ia tidak hanya harus menyelamatkan dirinya sendiri, ia harus menyelamatkan pria ini. Shen Yang tidak boleh mati, bisiknya dalam hati. Ayah tidak boleh mati.Sinar matahari sore menembus tirai sutra Paviliun Yue Hua sepenuhnya. Di sudut ruangan, Shen Yang sudah tidak ada di kursi panjangnya. Jenderal itu pergi begitu melihat istrinya terlelap.Lian Xue bangkit dari ranjangnya. Baru saja ia hendak memanggil A'Ning, perhatiannya teralih pada sebuah gulungan kertas kecil yang terselip di bawah kotak perhiasannya di meja rias. Dengan jantung berdebar, ia membuka gulungan itu.Itu adalah surat dari Pei Zhen.Xue'er, aku mendengar desas-desus bahwa Jenderal Shen Yang mencoba mengaitkan jaringan dagang keluargaku dengan racun Barat yang menyerang sepupumu. Demi Langit, aku bersumpah tidak tahu-menahu tentang hal itu. Shen Yang menggunakan insiden ini untuk menyingkirkanku dari sekitarmu dan memfitnah keluargaku. Jangan biarkan dinding esnya mengurung pikiranmu yang jernih. Aku akan mencari bukti untuk membersihkan namaku.Lian Xue meremas surat itu dengan perasaan berkecamuk. Tuduhan Shen Yang dan pembelaan diri Pei Zhen saling bertabrakan d
Aroma anyir darah yang pekat perlahan memudar, digantikan oleh bau harum dupa kayu cendana saat Lian Xue melangkah kembali ke dalam Paviliun Yue Hua. Langkah kakinya terasa seberat timah. Di bawah jubah tebal yang membungkus tubuhnya, hanfu sederhana yang kotor dan robek di bagian siku menjadi saksi bisu malam yang begitu menguras jiwanya.A'Ning segera mendekat dengan wajah cemas, berniat membantu melepaskan jubah sang putri. Namun, sebelum jemari pelayan itu menyentuh kain, sepasang sepatu yang berat melangkah melewati ambang pintu."Keluar," perintah Shen Yang datar tanpa menoleh.A'Ning tersentak. Ia menatap Lian Xue dengan pandangan memohon, namun setelah anggukan pelan dari sang putri, pelayan setia itu membungkuk dalam dan bergegas meninggalkan ruangan, menutup pintu kayu ganda di belakangnya.Keheningan pagi kembali merayap, menyisakan Lian Xue dan Shen Yang di dalam kamar yang luas. Lampu minyak di sudut ruangan berkedip gelisah, melemparkan bayangan panjang tubuh tinggi
Lian Xue masih mematung di selasar, jemarinya meremas botol porselen biru tua. Angin fajar yang membawa sisa aroma daun mint perlahan menyapu wajahnya, menyadarkannya dari pesona magis pria bertopeng itu. “Jangan pernah menemui Pei Zhen lagi.” Peringatan Zhao Tian terus terngiang di kepalanya, memicu tanda tanya besar yang saling bertabrakan dengan ingatannya di kehidupan pertama. "Putri? Apakah kau di luar?" Sebuah suara serak dari dalam kamar memecah keheningan. A'Ning berjalan mendekat sambil mengucek matanya. Pandangannya langsung terkunci pada botol yang dipegang erat oleh Lian Xue. "Putri ... pria itu benar-benar datang?" "Dia menepati janjinya, A'Ning," jawab Lian Xue, suaranya bergetar namun ada nada lega yang tak terbendung. "Kita harus ke Paviliun Ah Xian sekarang juga." "Tapi gaunmu, Putri! Dan luka-lukamu ..." A'Ning menunjuk hanfu Lian Xue yang compang-camping dan ternoda tanah. "Biarkan saja. Nyawa Ah Xian lebih berharga daripada selembar kain," potong Lian Xu
Sisa aroma daun mint yang segar dan dingin masih tertinggal di udara, bercampur dengan tajamnya angin malam yang belum juga usai. Di selasar Paviliun Yue Hua yang sunyi, Lian Xue terpaku menatap kegelapan. Jemarinya perlahan menyentuh permukaan bibirnya yang mendadak terasa kering. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan lagi karena ketakutan akibat kepungan para begal, melainkan karena kehangatan asing yang ditinggalkan oleh dekapan pria itu.Zhao Tian.Nama itu terus berputar di kepalanya bagai mantra. Siapa dia sebenarnya? Mengapa tangannya terasa begitu kokoh namun lembut? Dan yang paling membuat hatinya gelisah, mengapa sepasang mata di balik topeng perak itu menatapnya seolah mereka telah berbagi seribu rahasia di masa lalu?"Putri! Demi Langit, Kau sudah kembali?!"Sebuah bisikan cemas memecah lamunan Lian Xue. A' Ning, pelayan setianya yang sejak Lian Xue pergimenunggu dengan gelisah di pintu belakang Paviliun Yue Hua. Mata A Ning membelalak lebar saat melihat hanf
Angin pagi membawa aroma dupa cendana menyusup melalui jendela Paviliun Shengde, namun kehangatan sinar matahari tidak mampu mencairkan suasana yang mendadak beku. Di atas meja perjamuan, piring-piring porselen berisi hidangan mewah seolah kehilangan daya tariknya saat Kasim Zhang melangkah maju.
"Tuan Putri, bangunlah! Selir Agung memintamu dan Jenderal Shen untuk hadir dalam perjamuan makan pagi bersama Kaisar."Suara lembut A'Ning, dayang pribadinya, perlahan membangunkan Lian Xue. Ia mengerjap, menarik kesadarannya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tersentak menyadari sekelilingnya. In
Angin malam berdesir dingin, menyusup di antara celah jendela paviliun pengantin yang megah. Di dalam ruangan yang didominasi rona merah dan emas itu, suasana terasa mencekam. "Jangan pernah berani melakukan ritual penutup tanpa bersulang denganku!" seru Lian Xue dengan napas memburu. Jantungn
"Shen Yang! Shen Yang! " Lian Xue menggoyangkan tubuh laki-laki yang kini tergeletak kaku di atas meja setelah menenggak arak pernikahan mereka. Namun Shen Yang tidak merespon. Lian Xue memeriksa nafas dari Shen Yang. Tidak ada embusan nafas dari hidungnya. Bibirnya mulai menghitam. Lian Xue t
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore