MasukLabella Anastasia Laksani, seorang ahli bedah muda jenius, mati saat mencoba menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, bukannya masuk surga, jiwanya justru terlempar ke dalam novel best seller yang pernah dibaca adiknya. Ia terbangun di dalam tubuh Ashyel Clarisse van de Liora, seorang figuran pendiam yang ditakdirkan mati dipenggal bersama seluruh keluarganya. "Aku belum mati? Tapi kenapa aku berada di kamar semewah ini? Dan siapa gadis cantik di cermin ini?" Labella menyadari ia masuk tepat sebelum bencana dimulai. Hanya ada satu cara untuk selamat: Menawarkan kesepakatan pada sang "Monster Utara", Duke Aslan Krossvane, pria dingin yang dikutuk dan benci pada wanita. Berbekal pisau bedah dan sifat barunya yang centil-sangat jauh dari sosok Ashyel yang asli-Labella nekat menerobos barak militer. Saat sang Duke sekarat, ia berbisik dengan berani: "Jangan mati dulu ya, Aslan. Aku sudah menjahit perutmu, jadi sekarang bayar aku dengan gelar Duchess."
Lihat lebih banyakMalam berganti dengan cepat, membawa kegelapan pekat yang menelan menara-menara tinggi Kastel Krossvane. Angin badai di luar mendesau kencang, menciptakan kamuflase suara yang sempurna bagi para penyusup profesional.Di dalam kamar tidur utama Duke, suasananya sengaja dibuat remang-remang. Hanya ada sisa pendaran api perapian yang hampir padam. Di atas ranjang besar, sebuah siluet tubuh tampak terbaring di balik selimut beludru tebal.Namun, di sudut ruangan yang gelap gulita di balik tirai jendela, Aslan berdiri tegak tanpa mengenakan zirah besinya. Ia hanya memakai kemeja sutra hitam longgar, namun tangan kanannya sudah menggenggam erat gagang pedang es murninya. Matanya yang tajam bagaikan serigala malam terus memindai setiap jengkal kegelapan dengan aura protektif yang luar biasa pekat.Di sampingnya, Ashyel bersandar manja di dada Aslan. Alih-alih ketakutan karena menjadi target pembunuhan, sang Duchess centil ini justru sibuk memutar-mutar
Cahaya matahari pagi musim dingin yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden beludru tebal, memantulkan pendaran keperakan di atas ranjang besar kamar utama.Ashyel mengerutkan keningnya sedikit, perlahan membuka mata peraknya. Hal pertama yang ia rasakan adalah pelukan yang luar biasa erat dan posesif. Lengan kekar Aslan mengunci pinggangnya dengan sempurna, sementara kepala sang Duke bersandar dengan nyaman di ceruk leher Ashyel, menghirup sisa aroma stroberi yang manis.Ashyel tersenyum centil. Ia mencoba bergerak sedikit, namun Aslan justru semakin mempererat pelukannya, mengeluarkan geraman rendah dari tenggorokannya."Mau ke mana, Istriku?" bisik Aslan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis."Duke Sayang, matahari sudah tinggi," goda Ashyel manja, jemari lentiknya merayap membelai rahang tegas Aslan yang ditumbuhi rambut-rambut halus tipis. "Seorang dokter harus bangun pagi untuk memer
Kekalahan memalukan dua divisi penuh kekaisaran di bawah kaki Tembok Krossvane menjadi dongeng paling absurd yang menyebar ke seluruh penjuru negeri. Dua puluh ribu ksatria tangguh dilaporkan pulang ke ibu kota dengan wajah berseri-bersi, tubuh bugar karena baru saja menikmati tidur siang paling berkualitas dalam hidup mereka, dan membawa oleh-oleh berupa roti gandum hangat dari dapur kastel Utara.Kaisar Regulus dikabarkan langsung mengunci diri di dalam kamar pribadinya karena menderita migrain akut akibat tekanan darah yang melonjak pasca-mendengar laporan Jenderal Divisi Ketiga. Sementara itu, kedudukan politik Duke Aslan Krossvane kini berada di puncak tertinggi, tidak tersentuh oleh intrik birokrasi mana pun karena pasukannya terbukti tidak melakukan satu pun pelanggaran hukum pertumpahan darah.Malam itu, aula utama Kastel Krossvane disulap menjadi ruang pesta kemenangan yang sangat meriah. Musik ceria berdendang, cangkir-cangkir kayu berisi madu hangat saling berdenting, dan a
Suhu di wilayah Utara merosot hingga ke titik paling ekstrem dalam dekade ini. Angin sedingin es menderu-deru menabrak dinding batu hitam Kastel Krossvane, seolah membawa gema genderang perang yang kian mendekat. Dari atas menara pengawas tertinggi, sejauh mata memandang ke arah dataran salju di luar gerbang utama, hamparan warna perak dan merah darah berbaris rapat.Dua divisi penuh—Divisi Kedua dan Ketiga Kekaisaran, berjumlah hampir dua puluh ribu ksatria berbaju zirah lengkap—telah mengepung total benteng Utara. Mereka membawa meriam sihir penghancur gerbang dan menara-menara kepung raksasa yang dilapisi mantra pelindung api. Kaisar Regulus tidak lagi main-main; ia ingin meratakan pabrik farmasi baru Krossvane dan menyeret kepala Aslan ke ibu kota.Di koridor atas tembok benteng, Aslan berdiri tegak memegang pedang besarnya yang memancarkan pendaran biru es murni. Jubah bulu hitamnya yang megah berkibar ditiup angin badai. Di sampingnya, Ashyel berdiri mendampingi dengan keangguna












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan