
Dokter Duchess: Jangan mati dulu, Tuan Duke!
Labella Anastasia Laksani, seorang ahli bedah muda jenius, mati saat mencoba menyelamatkan nyawa orang lain. Namun, bukannya masuk surga, jiwanya justru terlempar ke dalam novel best seller yang pernah dibaca adiknya.
Ia terbangun di dalam tubuh Ashyel Clarisse van de Liora, seorang figuran pendiam yang ditakdirkan mati dipenggal bersama seluruh keluarganya.
"Aku belum mati? Tapi kenapa aku berada di kamar semewah ini? Dan siapa gadis cantik di cermin ini?"
Labella menyadari ia masuk tepat sebelum bencana dimulai. Hanya ada satu cara untuk selamat: Menawarkan kesepakatan pada sang "Monster Utara", Duke Aslan Krossvane, pria dingin yang dikutuk dan benci pada wanita.
Berbekal pisau bedah dan sifat barunya yang centil-sangat jauh dari sosok Ashyel yang asli-Labella nekat menerobos barak militer. Saat sang Duke sekarat, ia berbisik dengan berani:
"Jangan mati dulu ya, Aslan. Aku sudah menjahit perutmu, jadi sekarang bayar aku dengan gelar Duchess."
Baca
Chapter: Bab 106: Bedah Bayangan di Kamar TidurMalam berganti dengan cepat, membawa kegelapan pekat yang menelan menara-menara tinggi Kastel Krossvane. Angin badai di luar mendesau kencang, menciptakan kamuflase suara yang sempurna bagi para penyusup profesional.Di dalam kamar tidur utama Duke, suasananya sengaja dibuat remang-remang. Hanya ada sisa pendaran api perapian yang hampir padam. Di atas ranjang besar, sebuah siluet tubuh tampak terbaring di balik selimut beludru tebal.Namun, di sudut ruangan yang gelap gulita di balik tirai jendela, Aslan berdiri tegak tanpa mengenakan zirah besinya. Ia hanya memakai kemeja sutra hitam longgar, namun tangan kanannya sudah menggenggam erat gagang pedang es murninya. Matanya yang tajam bagaikan serigala malam terus memindai setiap jengkal kegelapan dengan aura protektif yang luar biasa pekat.Di sampingnya, Ashyel bersandar manja di dada Aslan. Alih-alih ketakutan karena menjadi target pembunuhan, sang Duchess centil ini justru sibuk memutar-mutar
Terakhir Diperbarui: 2026-06-16
Chapter: Bab 105: Sarapan Manja dan Proposal Pernikahan HebohCahaya matahari pagi musim dingin yang lembut menerobos masuk melalui celah gorden beludru tebal, memantulkan pendaran keperakan di atas ranjang besar kamar utama.Ashyel mengerutkan keningnya sedikit, perlahan membuka mata peraknya. Hal pertama yang ia rasakan adalah pelukan yang luar biasa erat dan posesif. Lengan kekar Aslan mengunci pinggangnya dengan sempurna, sementara kepala sang Duke bersandar dengan nyaman di ceruk leher Ashyel, menghirup sisa aroma stroberi yang manis.Ashyel tersenyum centil. Ia mencoba bergerak sedikit, namun Aslan justru semakin mempererat pelukannya, mengeluarkan geraman rendah dari tenggorokannya."Mau ke mana, Istriku?" bisik Aslan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, matanya masih terpejam namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis."Duke Sayang, matahari sudah tinggi," goda Ashyel manja, jemari lentiknya merayap membelai rahang tegas Aslan yang ditumbuhi rambut-rambut halus tipis. "Seorang dokter harus bangun pagi untuk memer
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Bab 104: Pesta Kemenangan dan Ranjang yang Terlalu SempitKekalahan memalukan dua divisi penuh kekaisaran di bawah kaki Tembok Krossvane menjadi dongeng paling absurd yang menyebar ke seluruh penjuru negeri. Dua puluh ribu ksatria tangguh dilaporkan pulang ke ibu kota dengan wajah berseri-bersi, tubuh bugar karena baru saja menikmati tidur siang paling berkualitas dalam hidup mereka, dan membawa oleh-oleh berupa roti gandum hangat dari dapur kastel Utara.Kaisar Regulus dikabarkan langsung mengunci diri di dalam kamar pribadinya karena menderita migrain akut akibat tekanan darah yang melonjak pasca-mendengar laporan Jenderal Divisi Ketiga. Sementara itu, kedudukan politik Duke Aslan Krossvane kini berada di puncak tertinggi, tidak tersentuh oleh intrik birokrasi mana pun karena pasukannya terbukti tidak melakukan satu pun pelanggaran hukum pertumpahan darah.Malam itu, aula utama Kastel Krossvane disulap menjadi ruang pesta kemenangan yang sangat meriah. Musik ceria berdendang, cangkir-cangkir kayu berisi madu hangat saling berdenting, dan a
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 103: Kabut Tidur di Tembok Krossvane dan Janji di Bawah Langit MerahSuhu di wilayah Utara merosot hingga ke titik paling ekstrem dalam dekade ini. Angin sedingin es menderu-deru menabrak dinding batu hitam Kastel Krossvane, seolah membawa gema genderang perang yang kian mendekat. Dari atas menara pengawas tertinggi, sejauh mata memandang ke arah dataran salju di luar gerbang utama, hamparan warna perak dan merah darah berbaris rapat.Dua divisi penuh—Divisi Kedua dan Ketiga Kekaisaran, berjumlah hampir dua puluh ribu ksatria berbaju zirah lengkap—telah mengepung total benteng Utara. Mereka membawa meriam sihir penghancur gerbang dan menara-menara kepung raksasa yang dilapisi mantra pelindung api. Kaisar Regulus tidak lagi main-main; ia ingin meratakan pabrik farmasi baru Krossvane dan menyeret kepala Aslan ke ibu kota.Di koridor atas tembok benteng, Aslan berdiri tegak memegang pedang besarnya yang memancarkan pendaran biru es murni. Jubah bulu hitamnya yang megah berkibar ditiup angin badai. Di sampingnya, Ashyel berdiri mendampingi dengan keangguna
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 102: Kemarahan Istana dan Rencana Benteng MedisBerita tentang lumpuhnya lima ratus ksatria elit divisi pertama di halaman pabrik Krossvane meledak seperti bom waktu di ibu kota. Kaisar Regulus von Aurelius dilaporkan menghancurkan meja marmer di ruang dewan rahasia setelah menerima surat dari Aslan yang menyatakan bahwa pasukannya sedang "menjalani karantina medis wajib akibat kelelahan fisik"."Sialan kau, Aslan! Sialan kau, Duchess penyihir!" raung Kaisar Regulus, napasnya memburu di hadapan para menteri yang tertunduk ketakutan.Di sudut ruangan, Profesor Harrison Vane gemetar hebat. Jimat anti-ilusi buatannya ternyata menjadi lelucon terbesar di mata dewan militer. Kaisar tidak bisa menuduh Utara melakukan pemberontakan berdarah karena seluruh pasukannya ditawan dalam kondisi sehat, gemuk, dan diberi makan sup hangat di dalam sel Krossvane. Namun, penghinaan ini terlalu besar bagi harga diri kekaisaran."Mobilisasi seluruh pasukan divisi kedua dan ketiga!" perintah Kaisar Regulus, matanya memancarkan kedengkian murni. "Kita ak
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: Bab 101: Vaksinasi Massal Pasukan ElitHalaman depan pabrik farmasi baru Krossvane tampak dipenuhi kilatan perisai perak. Lima ratus ksatria elit divisi pertama kekaisaran berdiri dalam formasi barikade besi yang kokoh. Di barisan paling depan, menunggangi kuda perang berzirah baja, tampak Jenderal Varian—seorang veteran perang bertubuh tegap dengan bekas luka segaris di pipinya yang memancarkan aura arogansi khas ibu kota.Aslan dan Ashyel melangkah keluar dari pintu pabrik, didampingi oleh Sir Brandon dan puluhan ksatria Utara yang semuanya mengenakan masker kain berlapis arang aktif dan filter perak—alat pelindung pernapasan buatan Arthur."Duke Aslan Krossvane," Jenderal Varian membuka suara, suaranya menggelegar dipenuhi energi sihir pengeras suara. "Atas perintah tertulis dari Yang Mulia Kaisar Regulus, kami datang untuk melakukan inspeksi mendadak atas dugaan kepemilikan dan pengembangan senjata sihir ilegal berkedok pabrik obat! Singkirkan pasukanmu dan biarkan kami menyita seluruh isi tempat ini!"Aslan menatap sa
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14