LOGINSatu sentuhan tanpa sekat mendatangkan nikmat, satu getaran cinta mendatangkan laknat. Di atas kanvas kulit yang dingin penuh luka, sepasang netra beradu menjemput kutukan yang tak termaafkan.
View MoreNapas Rosa kian memburu, menciptakan harmoni yang ganjil di antara dinding-dinding studio yang sunyi. Wanita itu sengaja memundurkan pinggulnya, menyandar manja pada tepi meja kayu tempat Wira biasa menaruh peralatan tatonya. Dengan gaun kaos ketat yang masih tersingkap hingga batas pinggang, ia membiarkan sepasang mata tajam Wira merekam lekuk tubuh bagian bawahnya yang hanya berbalut seutas tali G-string merah menyala. "Mas Wira... lihat aku," bisik Rosa, suaranya mendayu, sengaja memecah keheningan pagi. "Kamu mau mendiamkan aku sampai kapan? Kita sudah sering ketemu, tapi kamu selalu pura-pura jadi patung di depanku." Wira bergeming di tempatnya berdiri. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi paha, mencoba menahan dorongan primitif yang mulai bergejolak di dalam dadanya. Namun, wangi parfum melati yang menguar dari tubuh Rosa seolah mengunci pergerakannya. Melihat Wira yang hanya diam dengan rahang mengeras, Rosa justru semakin percaya diri. wanita itu menunjukkan seula
Pemandangan erotis di depan matanya sempat membuat Wira terpaku selama beberapa detik. Sebagai pria dewasa dengan naluri normal, desiran darah panas itu sempat mengetuk pintu akal sehatnya. Lembaran kain merah tipis yang tenggelam di balik kulit putih bersih milik Rosa adalah jenis racun dunia yang biasa melumpuhkan iman para lelaki. Namun, kilasan memori tentang wanita yang tengah pingsan di kamar belakang, serta beban utang yang esok hari bisa merenggut nyawanya, mendadak menjadi air es yang menyiram habis letupan gairah tersebut. Wira mengalihkan pandangan. Dengan rahang yang mengeras, ia berbalik membelakangi Rosa, berpura-pura sibuk merapikan kembali jajaran jarum tato steril di atas meja stainless steel. "Turunkan rokmu, Rosa," ujar Wira, suaranya terdengar datar dan dingin, mengabaikan debar abnormal di dadanya. Rosa tidak menyerah begitu saja. Penolakan halus dari Wira justru menjadi bensin yang membakar ego dan nafsunya. Alih-alih merapikan pakaiannya, Rosa justr
Malam terus berlalu merayap turun menjemput fajar. Tapi kantuk sama sekali tidak sudi mampir ke pelupuk mata Wira. Pria tegap itu hanya bisa terduduk diam di sudut lantai kamar yang temaram, melipat kedua lututnya sembari menyandarkan punggung pada dinding semen yang lembap. Sepasang matanya tidak pernah lepas menatap tubuh Senjana yang kini telah ia selimuti hingga sebatas dada menggunakan kain jarik lusuh.Pikirannya berkecamuk hebat, saling hantam tanpa ujung. Wira mempertanyakan semua keganjilan yang terjadi padanya malam ini. Mengapa jarum sihir purba itu mengamuk? Apa arti pendar merah di lehernya? Dan yang paling meresahkan, mengapa sentuhan pada luka wanita asing itu mampu menarik paksa pecahan memar masa lalunya yang telah terkunci belasan tahun? Semua pertanyaan itu berputar laksana lingkaran setan, menolak memberikan jawaban.Waktu terasa berputar dengan kejam. Jarum jam dinding berkarat di dinding kamar itu telah menunjukkan pukul sembilan pagi, waktu di mana studio tat
Kepanikan seketika merayap naik, mencengkeram dada Wira jauh lebih menyakitkan dari pada guratan tato urat nadi hitam di lehernya. Pria bertubuh tegap itu berlutut di atas lantai semen yang dingin, memandangi tubuh Senjana yang kini terbujur kaku tak berdaya. Napasnya sendiri memburu tak beraturan, menyisakan rasa bersalah yang teramat pekat di rongga dada.Dengan tangan yang gemetar hebat, Wira perlumengulurkan dua jari tangan kanannya yang kasar ke leher Senjana. Kulit wanita itu terasa sedingin es, membuat Wira sempat menahan napas karena ketakutan setengah mati. Namun, sedetik kemudian, sebuah denyutan halus namun beraturan menyapa ujung jarinya.Dug. Dug. Dug.Wira mengembuskan napas panjang yang gemetar. Detak jantungnya masih ada. Wanita ini hanya pingsan, mungkin ambruk karena syok setelah dinding kesadarannya dihantam badai trauma masa lalu yang tak sengaja dipicu oleh bentakannya.Tanpa membuang waktu, Wira menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tekukan lutut dan pungg






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.