INICIAR SESIÓNKedamaian dunia ciptaan Yggdrasil yang runtuh sejak terciptanya konsep kematian melahirkan ritual legendaris Pencarian Cawan Suci yang mempertemukan 13 Pencari Api demi menjadi Pahlawan sejati. Dante Alighieri, pemuda yang hanya ingin hidup sebagai penulis, justru terseret ke dalamnya dan dipaksa menghadapi kematian yang pernah merenggut orang yang ia cintai. Namun ketika kebenaran kelam di balik ritual itu terungkap, Dante memilih berbalik dan bertekad mengakhiri Pencarian Cawan Suci—atau begitulah seharusnya.
Ver másDi suatu kafe di Distrik Barat, Kalender Bintang – 13 Oktober 2148
[Anda terpilih sebagai Pencari Api. Selamat!]
[Sebagai langkah terakhir, silakan konfirmasi nama Anda untuk mengikuti ritual]
“Apa ... ini? Terpilih ... sebagai Pencari Api?”
Siang itu, Dante sedang berdiskusi tentang tulisannya bersama temannya. Kali ini, ia mencoba menulis sebuah antologi ‘Komedi Ilahi’ sebagai persembahan kepada tunangannya yang telah tiada, Beatrice. Namun semua berubah ketika semacam bilah notifikasi muncul di hadapan matanya.
Buagh!
“Jangan bercanda! Bagaimana bisa malah kau yang dipilih?!”
Ritual Pencarian Cawan Suci—sebuah ritual yang mempertemukan 13 individu pilihan Yggdrasil yang dipanggil dengan Nama Asli. Setiap dari mereka bersaing untuk menemukan Cawan Suci yang dapat mengabulkan segala permohonan. Individu-individu inilah yang disebut sebagai Pencari Api.
“Tapi Pencari Api macam apa kau ini—seorang yang begitu lemah dan tidak berguna?!”
Padahal Dante sendiri masih bingung dengan bilah notifikasi yang muncul di hadapannya itu. Namun tampaknya teman yang tengah membantunya diskusi, James Moriarty, tidak senang dengan notifikasi itu. Lihat saja, lelaki dengan paras yang biasanya tenang itu kini tengah memukuli Dante tanpa ampun.
“Entah itu Kesatria Meja Bundar, Shinsengumi, Argonauts, para Pandawa, atau lainnya—kau dan mereka itu bak langit dan bumi!!!” seruan James semakin keras. Matanya pun melotot penuh amarah.
Buagh!
“Tidak biasanya kau semarah itu, Profesor. Kau kehilangan ketenanganmu itu, ya,” ujar sosok lain yang menghampiri James yang tengah ditelan emosi. Sebut saja dia Sherlock Holmes.
“Diam kau, Holmes. Bisa-bisanya kau setenang itu ...?!” balas James geram. Ia telah berhenti memukuli Dante. Kabar baik, kafe siang itu masih sepi, jadi ia tidak begitu menyebabkan keributan
“Menurutmu aku tidak marah ...?” Holmes tersenyum ... mengintimidasi. Tampaknya ia pun segera sadar dengan status Dante saat ini meski baru datang.
Melihat senyum lembut teman sejawatnya itu tidak seperti biasa saja cukup membuat James menelan ludah. Setidaknya mereka merasakan hal yang sama, “Itu senyum yang mengerikan, Detektif ....”
Holmes mengangkat bahu, “Harus kuakui, nama yang kita berdua miliki bukanlah nama yang ‘kuat’ dalam sejarah—hanya tokoh dari karya fiksi, sejauh yang bisa kudalami. Tapi tidak terpilih dengan ‘Dante Alighieri’ sebagai gantinya? Aku masih bisa merasa tidak adil meski memiliki deduksi.”
“Aku sampai lupa kalau akan panjang kalau kau mengoceh,” balas James diiringi helaan napas, “Lalu, dia ini mau diapakan?” tanyanya lagi sembari menjambak rambut Dante.
“Kalau mengganggu, bukankah lebih baik dihilangkan?” tanya Holmes balik, “Pun dengan otakmu, harusnya mudah memanipulasi kronologi, lalu salah satu dari kita bisa jadi kandidat untuk ritual itu.”
“Cukup aneh mendengar usulan itu darimu yang memiliki nama Detektif Terhebat Sherlock Holmes,” balas James, “Tapi mungkin itu ide yang bagus. Mari hilangkan dia—dengan konsep kematian.”
Ah, kematian, sebuah konsep yang entah sejak kapan melekat dalam dunia yang berada di bawah naungan Pohon Dunia Yggdrasil ini. Ketika siapa pun menyadarinya, konsep itu seakan sudah menjadi bagian dari mereka, melekat sebagai akhir dari setiap kehidupan yang dinaungi sang pohon. Kekasih Dante, Beatrice, pun direnggut oleh konsep itu sejauh yang bisa diingatnya.
Ironisnya, ketika Dante menyadarinya, dirinya kini akan segera menemui konsep kematian itu.
Iya, James dan Holmes, dua sosok yang tetap menjadi teman Dante meski tahu si jangkung itu tidak berniat menjadi Pahlawan, kini malah berbalik karena iri akan terpilihnya Dante sebagai Pencari Api. Keduanya bahkan membawa Dante ke sebuah gudang terbengkalai di salah satu sudut Distrik Barat. Di tangan mereka sudah eksis senjata api dengan peluru penuh, siap ditembakkan.
“Aku sekali, kau sekali. Masing-masing di kepala. Bersamaan,” James membuka mulut dingin.
“Jangan lupa menyiapkan alibinya, loh,” balas Holmes sama dinginnya.
“Akan kubuat segudang yang bahkan kau akan sulit memecahkannya,” James mulai mengacungkan senjata apinya ke arah Dante yang tubuhnya sudah mereka ikat ke kursi.
“Sepakat,” Holmes ikut mengarahkan senjata apinya ke Dante.
Apa saya memang akan secepat ini menyusulmu, Beatrice ...?
.......
Pulau Artemis, Kalender Bintang – 14 April 2149Trang! Trang! Trang!“Ayo, ayo, ayo, ayo, Dante!! Jangan lengah!!!”“T—Tunggu, pelan-pelan, Tuan Muramasa!”Beberapa hari telah berlalu sejak kru Argonauts tiba di Pulau Artemis dan menerima tawaran Gadjah Mada untuk melatih diri demi pemulihan Francois, saat ini pun latihan intens itu terus berlanjut. Kalian saja bisa melihat Dante dibantai oleh Muramasa. Kakek itu benar-benar tidak memberi ampun.Trang!!“Tidak ada tunggu!” seru Muramasa tegas sembari sekali lagi memberi tebasan berat yang secara ajaib masih bisa ditangkis Dante, “Kalau dari cerita-cerita Dumas, kau di garis waktu satunya harusnya sudah sangat kuat hingga mendapat pengakuanku!!” serunya lagi tanpa mengendur.“Pak Dumas cerita apa saja, sih?!” keluh Dante berseru demi mendengar seruan Muramasa.Sayang mengeluh begitu pun tidak membuat Muramasa berhenti barang sejenak. Kakek tua itu terus mengayunkan katana, mengincar setiap sisi tubuh Dante yang masih kesulitan menyesua
“Rasi bintang Orion dikatakan berasal dari pemburu legendaris bernama Orion yang terbunuh secara tidak sengaja oleh Dewi Artemis dan diangkat di langit untuk diabadikan. Begitulah yang kutahu.”Demi mendengar pernyataan Gadjah Mada barusan, Dumas dibuat terbelalak. Saking terkejutnya, ia mencoba menelaah kembali Legenda Orion si Pemburu, mencari keselarasan meski nihil. Pun tidak hanya dia sebenarnya—Marie, Muramasa, dan bahkan Florence sama terkejutnya.“Tak pernah kusangka pengagum legenda macam itu akan menjadikannya motivasi untuk membantu kita,” Dumas lanjut mengeluh, menyerah mencari keselarasan Orion dengan Gadjah Mada—karena memang tidak ada, “Teman minummu, tuh, Kek,” ia menggoda Muramasa.“Kau ada benarnya,” bahkan walau sudah sempat minum bersama, Muramasa ikut mengeluh, “Tapi bukankah kau juga Pencari Api, Gaja? Apa yang coba kau katakan, sih?” ujarnya mempertanyakan.“Justru karena beta adalah Pencari Api—ah, sebutannya tidak enak diucap,” Gadjah Mada berdehem, “Beta adal
Hahahahahahahaha!!!!“Maaf, ya, sambutan beta tadi memang agak kasar!!”“Sialan memang, padahal kau, kan, sudah tahu selemah apa kru kami?!”Tawa Gadjah Mada dan Muramasa benar-benar memenuhi Pulau Artemis siang itu. Sebagai taruhan, Dumas di kapal agaknya masih bisa mendengar tawa itu, saking kerasnya. Aneh memang, meski belum lama ini mereka harusnya bertarung, keduanya malah minum-minum santai bak kawan lama.“Florence, ini ...?” Dante bahkan kehabisan kata-kata melihat keseruan Muramasa dan Gadjah Mada.Florence menggeleng, “Jangan tanya. Aku juga kehabisan kata-kata saat baru tiba di sini,” ujarnya.“Begitu, ya ....” balas Dante.“Meski begitu, bukankah sudah saatnya kita memanggil kru lain?” Florence mengembalikan fokus, “Kau yang menawarkan mereka perawatan medis, kan, Gaja?” ujarnya mempertanyakan.“Ah, benar juga!!” Gadjah Mada langsung berseru demi mendengar pengingat Florence.“Kalau begitu akan kupanggilkan mereka, ya,” sahut Muramasa sembari membuka jendela Sistem.Singka
Syuu! Syuu! Syuu! Syuu!Trang! Trang! Trang! Trang!Sejak meluncur pertama kali beberapa saat lalu, sesuatu yang Muramasa duga sebagai panah cahaya yang serupa dengan yang menghancurkan Si Janggut Biru di Pulau Dionysus, panah itu kini meluncur tak habis-habisnya—siapa pun penembaknya berusaha membombardir Argonauts.Meski begitu, Muramasa pun dengan sigap menangkis semua panah cahaya yang meluncur dengan katana miliknya, seakan tubuhnya bereaksi penuh tepat saat serangan tiba.[Kemampuan Teraktivasi – Muramasa Sengo: Zona Muasal]Ah, begitu. Ternyata Muramasa memang mengaktivasi satu Kemampuan miliknya untuk menangkis semua panah cahaya itu. Dante segera menyadarinya begitu notifikasi barusan muncul di hadapan matanya. Meski begitu, ia tak punya waktu untuk kagum.Grakk!Kapal akhirnya berlabuh di pesisir Pulau Artemis setelah Muramasa cukup lama menangkis panah-panah cahaya yang datang. Pun seakan tak menunggu posisi kapal lebih stabil, kakek tua itu segera melompat turun dari kapal


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas