Mag-log inArjuna Dewangga atau Juna adalah adalah pemuda yang hidup serba kekurangan, sering di-bully karena miskin, dan harus banting tulang membantu biaya pengobatan ibunya yang stroke sejak dia masuk SMA, dengan cara berjualan jamu. Namun, sebuah insiden di toilet wanita mengubah total garis takdir hidupnya. Juna tidak sengaja memergoki Ibu Arini, guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun, sedang meluapkan gairahnya sendiri akibat sebuah penyakit kutukan langka. Ternyata, Juna adalah keturunan tabib sakti mandraguna pemilik ilmu kultivasi pengasihan tingkat tinggi. Pengorbanan sang ibu yang menderita lumpuh demi memicu kekuatannya, membuat tubuh Juna kini mengalirkan energi panas penyembuh. Seiring berjalannya waktu, daya pikat magnetis ML membuat gadis-gadis tercantik, mulai dari bintang sekolah, ketua OSIS, ketua tim basket, hingga adik tingkat yang jadi primadona kelas, mulai berebut perhatiannya. Itu semua belum termasuk janda seberang rumah, bos tengkulak cantik, dan dokter cantik yang menangani ibu Juna.
view moreSore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.
Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.
Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan menguras tenaga.
Untungnya, sinom dan beras kencur buatan Ibu Lastri selalu ludes diborong teman-teman sekolah yang kehausan setelah jam pelajaran selesai.
“Alhamdulillah, kalau laris begini terus, uang obat Ibu buat bulan depan aman,” batin Juna sambil tersenyum kecut mengingat kondisi Ibunya di rumah.
Langkah kaki Juna menggema di koridor lantai dua, melewati deretan kelas yang sudah terkunci rapat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak saat mendekati lorong toilet guru wanita di ujung selasar.
Lorong itu terkenal sunyi, apalagi lampu neonnya sering berkedip-kedip seperti di film horor murahan..
Satu botol kaca jamu mendadak tergelincir dari tumpukan di keranjang plastik Juna karena pegangannya yang sudah agak longgar.
Duggg….Duggg..Duggg...Klontang…!
Benda itu menghantam lantai, namun tidak pecah, melainkan menggelinding dengan kecepatan penuh ke arah toilet wanita.
"Waduh, mampus! Botol modal ituh…!" umpat Juna dengan suara tertahan.
Dia segera berlari kecil mengejar botol itu yang seolah punya nyawa sendiri.
Celakanya, botol itu menggelinding masuk ke celah pintu bilik paling ujung yang sedikit terbuka.
Juna berhenti tepat di depan pintu toilet guru yang biasanya dilarang dimasuki siswa pria mana pun.
“Aduh, gimana inih? Kalau ketahuan Pak Broto, habis aku dikuliti hidup-hidup,” batin Juna sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada.
Rasa takut akan hukuman kalah telak oleh rasa sayang Juna pada barang dagangannya.
Juna menarik napas panjang, lalu menyelinap masuk ke dalam area toilet guru yang beraroma wangi mawar itu.
Dia membungkuk rendah, berusaha meraih botol jamu yang bersembunyi di balik bayangan pintu bilik.
Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh botol, Juna mendengar suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari tenggorokan.
"Ahhh... essshhh... sedikit lagihhh...!"
Suara desahan itu terdengar sangat berat, basah, dan penuh tekanan.
Juna membeku di posisi membungkuk, kepalanya tanpa sengaja melewati celah pintu yang terbuka sekitar sepuluh sentimeter.
Di dalam sana, di atas kloset duduk, Ibu Arini Kusuma sedang berada dalam kondisi yang menghancurkan seluruh logika Juna sebagai siswa teladan.
Guru Bahasa Indonesia yang terkenal anggun dan selalu rapi itu kini tampak berantakan.
Rok span hitam ketat miliknya sudah tersingkap sangat tinggi, bahkan melewati batas paha atasnya yang putih mulus.
“Be-Beneran mulusss... lebih mulus dari porselen di toko bangunan!” batin Juna dengan mata melotot liar.
Jari tangan kanan Ibu Arini bergerak ritmis di balik kain tipis yang menutupi area ‘apem tembem’ miliknya.
Wajah Ibu Arini memerah padam, keringat sebesar biji jagung membasahi leher jenjangnya.
Napasnya memburu, menciptakan uap hangat yang terasa memenuhi bilik sempit tersebut.
Juna merasakan suhu tubuhnya mendadak naik drastis seolah dia baru saja menenggak satu galon jamu penguat stamina.
“Gustiii... Ibu Arini lagi mainin anunya sendiri? Di toilet sekolah?” batin Juna sambil menelan ludah dengan susah payah.
Rasanya ada sesuatu yang mengeras di balik celana seragam Juna yang sudah mulai kerasa kekecilan itu.
‘Batangan nakal’ miliknya mendadak bereaksi, menegang kaku seolah mendapatkan sinyal magnetis dari pemandangan di depannya.
Juna yang panik mencoba menarik kembali kepalanya, namun sialnya, kakinya justru tersandung botol kaca tadi.
Takkk…!
Bunyi botol yang membentur keramik terdengar begitu nyaring di ruangan yang sunyi itu.
Ibu Arini tersentak, matanya yang tadi terpejam sayu langsung membelalak lebar.
Dia menunduk dan langsung beradu pandang dengan wajah Juna yang masih membeku di bawah sana.
"Ju-Juna?!" pekik Ibu Arini dengan suara yang pecah karena kaget sekaligus malu.
Juna refleks menutup kedua matanya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya.
"A-A-Anu, Bu! S-Sumpah, Juna cuma mau ambil botol yang gelinding!" seru Juna dengan suara bergetar sehebat gempa bumi.
Dia merasa wajahnya terbakar, apalagi dia tahu posisi Ibu Arini masih sangat terbuka di depannya.
“Mampus aku! Habis ini pasti dikeluarkan dari sekolah! Mana beasiswa lagih…!” batin Juna meratap histeris.
Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi tangannya yang masih menutupi mata.
"Junaaa... kamuuu... kamu lihat apa saja tadi?" tanya Ibu Arini dengan nada yang aneh, antara marah dan memohon.
"E-Enggak lihat apa-apa, Bu! Gelap semua! Sumpah, mata Juna minusnya nambah mendadak!" bohong Juna sambil gemetaran.
Dia mencoba membalikkan badan, berniat lari sekencang mungkin tanpa mempedulikan botol jamunya lagi.
Namun, sebelum Juna sempat melangkah keluar dari bilik, sebuah tangan yang terasa sangat panas mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu begitu kuat, seolah-olah ditarik oleh seorang atlet angkat besi, bukan seorang guru wanita.
Srettt…!
"Masuk ke sini!" perintah Ibu Arini dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Juna terseret mundur masuk ke dalam bilik yang hanya berukuran satu kali satu meter itu.
Brakkkk!
Pintu bilik ditendang tutup oleh kaki Ibu Arini yang masih belum menurunkan rok spannya secara sempurna.
Klik!
Suara kunci pintu yang diputar terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Juna.
Punggung Juna menghantam dinding keramik yang dingin, namun dadanya justru bersentuhan dengan bahu Ibu Arini yang panas.
Aroma parfum mawar bercampur dengan bau keringat yang sangat tajam dan menggairahkan langsung menyerang hidung Juna.
Ibu Arini menyandarkan kepalanya di dada Juna, bahunya naik turun seiring dengan napasnya yang belum teratur.
"B-Bu... i-iniii… salah paham, Bu. Juna janji nggak akan bilang siapa-siapa kalau Ibu lagiii... anu..." ucap Juna dengan suara mencicit.
Ibu Arini mendongak, menatap Juna dengan mata yang tampak sangat sayu dan dipenuhi gairah yang belum tuntas.
"Saya menderita penyakit langka, Juna. Sesuatu yang hanya muncul jika saya terlalu lama menahannya," gumam Ibu Arini lirih.
Juna semakin bingung, otaknya yang sudah mesum makin sulit diajak bekerja sama.
"Pee…Penyakit apa, Bu? Butuh jamu kunyit asam saya?" tanya Juna dengan polosnya.
Ibu Arini menggeleng, lalu menarik tangan Juna menuju ke arah pinggangnya yang ramping.
"Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan jamu murahmu itu, Juna."
Wajah Ibu Arini mendekat ke arah telinga Juna, membisikkan sesuatu yang membuat seluruh saraf Juna menegang.
"Tubuh saya mendadak terasa dingin seperti es jika tidak ada yang menyentuhnya... dan kamu, Juna, tubuhmu terasa sangat panas."
Tangan Ibu Arini kini mulai meraba dada bidang Juna, mencari detak jantung pemuda itu yang berpacu gila.
"A-A-Anu... Bu... J-Juna harus pulang," ucap Juna terbata-bata sambil mencoba melepaskan diri.
Namun, Ibu Arini justru semakin merapatkan tubuhnya, membuat Juna bisa merasakan kenyalnya "melon" besar milik gurunya itu menekan dadanya.
Deggg...
Juna merasa dunianya seolah berhenti berputar detik itu juga.
Ibu Arini menatap lurus ke mata Juna, lalu berkata dengan suara yang sangat serius.
"Saya ingin kamu menjadi 'obat' pribadi saya mulai sore ini, Juna."
"Aa... apanya yang diobati, Bu?" tanya Juna dengan keringat dingin yang semakin deras.
Ibu Arini menarik tangan Juna lebih rendah lagi, menuju ke arah kakinya yang masih terbuka lebar.
"Semuanya. Dan jika kamu menolak, saya pastikan beasiswamu dicabut besok pagi."
Juna tertegun, ancaman itu menghantamnya tepat di ulu hati.
Di satu sisi dia ketakutan, tapi di sisi lain, batin mesumnya justru mulai menikmati aroma dan kehangatan tubuh Ibu Arini.
“Sialan... kenapa ini malah jadi kontrak ranjang?!” batin Juna menjerit dalam dilema.
Pintu toilet mendadak terdengar diketuk dari luar dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Arini? Kamu di dalam?" suara berat Pak Broto terdengar di balik pintu toilet luar.
Juna dan Ibu Arini seketika membeku, saling menatap dengan napas tertahan.
"Mampus... Pak Broto!" bisik Juna dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
Ibu Arini segera membungkam mulut Juna dengan telapak tangannya yang harum.
Dia memberi isyarat agar Juna tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Masalahnya, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja, dan tangan Juna masih tertahan di atas paha mulus gurunya itu.
Ibu Arini menatap pintu bilik dengan tajam, sementara tangan lainnya mulai meraih kunci pintu seolah siap melakukan sesuatu yang nekat.
Pintu kayu ruang ganti pria itu hancur berantakan setelah dihantam martil besi, memperlihatkan sosok Ibu Sarah yang berdiri menjulang di ambang pintu. Pandangan mata guru olahraga berpostur atletis itu langsung terkunci rapat pada posisi intim Juna dan Siska yang sedang bergulat di atas matras senam.Juna kelabakan memegangi celana abu-abunya yang melorot setengah pinggang, mencoba menarik kain yang masih tersangkut di ujung "batangan nakal" miliknya. Keringat dingin mengucur deras di sekujur punggung Juna, sementara wajahnya berubah menjadi pucat pasi menahan malu luar biasa."B-Bu Sarah! Aa... anu, s-su-sumpah ini murni kecelakaan kerja, Juna gak ngapa-ngapain sama Siska!" seru Juna gagap setengah mati dengan suara melengking panik."Jangan bohong kamu, Arjuna! Celana sudah terbuka setengah begitu masih mau mengelak di depan guru olahraga?!" bentak Ibu Sarah sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.Siska Anastasya merapikan seragamnya yang berantakan, m
Gedoran brutal dari luar pintu ruang ganti pria bener-bener membuat Siska tersentak kaget setengah mati di atas tubuh Juna.Bukannya mundur ketakutan karena mendengar ancaman hukuman dan martil besi dari Ibu Sarah, gadis adik kelas yang manja itu justru bertindak semakin nekat dan beringas.Siska menarik paksa kedua lengan tegap Juna dengan cengkeraman tangannya yang mungil, menyeret tubuh pemuda melarat itu menjauh dari area pintu utama.Dia menggiring Juna menuju tumpukan matras senam yang terletak di sudut ruang peralatan olahraga yang kondisinya agak gelap dan remang-remang."S-Siska! Jangan, Juna masih perjaka beneran! S-Su-Sumpah itu Bu Sarah sudah siap-siap mau menghancurkan pintu ganti kita!" seru Juna gagap setengah mati dengan wajah pucat pasi menahan panik."Siska tidak peduli dengan Bu Sarah, Kak! Pokoknya Kak Juna harus buktikan kejantanan Kakak sama Siska sekarang juga sebelum kita tertangkap basah!" jawab Siska sambil mendorong punda
Keesokan harinya, matahari pagi bersinar terik menyinari lapangan olahraga utama SMA yang mendadak diselimuti atmosfer sangat menegangkan. Pak Broto terlihat mondar-mandir di dekat ruang guru bersama beberapa petugas keamanan yayasan, bersiap melakukan razia besar-besaran seperti sumpahnya kemarin sore.Juna berjalan tergesa-gesa memisahkan diri dari barisan kelas, melangkah menuju ruang ganti pria di pojok lorong untuk segera berganti kaos olahraga. Sialnya, baru saja pemuda melarat itu hendak mendorong pintu kayu yang sedikit kusam, langkah kakinya mendadak dihadang oleh sosok Siska Anastasya.Gadis adik kelas yang agresif dan manja itu berdiri berkacak pinggang, menatap Juna dengan sepasang mata yang menyala penuh kecemburuan mendalam. Siska melangkah maju satu tapak dinamis, memotong jalur kabur Juna dengan sebuah bola basket yang didekapnya erat-erat di depan dada."Kak Juna! Sumpah, mendingan Kakak jujur sekarang juga sama Siska daripada Siska teriak!" sem
Pak Broto memicingkan matanya yang kecil dan licik, menatap lekat ke arah celah gelap di bawah meja partisi kayu ruang Kepala Sekolah. Sepatu pantofel hitamnya yang berdebu bergeser satu sentimeter, membuat jantung Juna di dalam kolong meja serasa mau copot melewati tenggorokan.'Gusti... ampun! Si kumis beracun ini bener-bener punya insting anjing pelacak, dikit lagi hidungnya bisa menyenggol pantat hamba!' batin Juna overthinking setengah mati sambil menahan napasnya rapat-rapat.Melihat bahaya yang sudah di depan mata, Clarissa Wijaya langsung mengambil tindakan nekat yang sangat dinamis. Dia melangkah keluar dari ruangan tengah dengan wajah datar sedingin es batu, langsung menghadang tubuh tambun Pak Broto secara frontal.Brakkkk!Clarissa sengaja menghentakkan buku catatan OSIS miliknya ke atas permukaan meja kerja, menciptakan suara dentuman yang berhasil mengejutkan fokus Pak Broto. "Pak Broto! Tolong jaga kelancangan Anda, ini adalah area
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng
"Arini! Saya tahu kamu di dalam! Buka pintunya!" teriak Pak Broto dari luar toilet dengan nada mengancam.Juna membeku di tempat, tangannya gemetaran hebat hingga botol jamu di keranjangnya beradu menimbulkan bunyi denting yang berisik.“Mampus... mampus... kalau Pak Broto lihat aku di sini sama Bu
Sore itu sekolah sudah mulai sepi, menyisakan koridor panjang yang terasa sedikit angker.Arjuna Dewangga alias Juna, menyeka keringat yang bercucuran deras di dahi menggunakan punggung tangannya yang kasar.Dia memanggul keranjang plastik berisi sisa botol jamu dagangannya yang beratnya lumayan me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu