Masuk“Kalau kau ingin tetap hidup, rawatlah lima suami buas itu dengan cinta dan kasih sayang!” Vania terbangun di penjara bawah tanah—diracun, dicekik, dan hampir dibunuh oleh tunangannya sendiri. Lebih buruknya lagi, ia terjebak dalam tubuh Violetta, villainess kejam yang terkenal karena menyiksa lima Abyss. Untuk bertahan hidup, Vania harus membuat kelima suami buasnya itu mempercayainya, melindunginya, dan tidak membunuhnya lebih dulu.
Lihat lebih banyak“Ugh! Susah sekali masuknya!”
Suara itu terdengar jauh dan samar, seolah bergema dari ujung lorong panjang yang gelap. “Dorong terus, paksa!” seru suara itu lagi. Kepala Vania terasa seperti baru saja dihantam benda tumpul berkali-kali, berat dan denyutnya menjalar hingga ke pelipis. Kesadarannya masih sangat kabur. Terakhir yang ia ingat, ia masih berada di ruang operasi. Dan setelah itu, semuanya terasa gelap. Iya… pasti ia pingsan. Dan orang-orang di sekitarnya sedang mencoba untuk menolongnya. Namun entah mengapa… rasanya ada yang janggal. Kenapa tidak ada bau alkohol atau antiseptik? Yang menyapa penciuman Vania justru aroma tanah basah, batu lembap, dan karat besi. Dan ... ada satu aroma lagi yang sangat Vania kenali. Bau anyir darah segar. Deg! Jantung Vania seketika mencolos. “Cepat masukkan! Sebelum dia sadar!” Tiba-tiba, sesuatu yang keras, dingin, dan licin menekan bibirnya dengan kasar. Sebuah benda bulat didorong paksa masuk ke dalam mulutnya, menembus hingga nyaris menyentuh tenggorokan. “Mmgh—!” Vania tersedak hebat. Perutnya berkontraksi menahan refleks muntah yang menyerang begitu keras sampai matanya berair. Ini sama sekali bukan tata cara medis. Tidak ada tenaga kesehatan yang memasukkan alat atau obat dengan cara sekasar ini. Dengan sisa tenaga, Vania memaksa kedua matanya terbuka. Pandangan itu buram, tapi sukses membuat napas Vania tercekat. Ini bukan langit-langit putih rumah sakit. Di atasnya hanya ada batu hitam yang retak, dengan lumut di sela-selanya. Cahaya obor kecil di sudut ruangan membuat tempat itu remang, dingin, lembap, dan pengap. Tempat ini adalah sebuah penjara bawah tanah. Vania membelalak panik. Kenapa dirinya harus berada di tempat ini? Apakah ia baru saja melakukan sesuatu kesalahan yang fatal?! Di sela-sela kepanikan dan kebingungan itu, ujung mata Vania tak sengaja menangkap sesuatu di sudut ruangan. Di balik jeruji besi berkarat, ada beberapa sosok bayangan yang tengah dirantai. Salah satu yang bisa Vania lihat, dia memiliki bahu bidang. Di atas kepalanya, sepasang telinga runcing bergerak-gerak. Sisanya, mereka berdiri lebih jauh, tersamarkan oleh kegelapan. Belum sempat otak Vania memproses, sepasang tangan besar tiba-tiba menyambar lehernya. “Ugh!” Cekikan itu begitu kuat dan tiba-tiba, memutus paksa aliran udara ke paru-paru Vania. “Dia membuka mata!” seru seorang pria. Vania menatap kabur ke depan. Seorang pria berambut pirang kini berjongkok di hadapannya. Wajah pria itu tampan, nyaris sempurna bak pahatan patung, tetapi sepasang matanya menatap Vania dengan sorot kosong yang dingin. Tidak ada belas kasihan di sana. Hanya ada kekejaman. “Apa? Bagaimana bisa dia hidup lagi?!” Kali ini suara seorang perempuan terdengar melengking dari arah belakang. “Dicoba lagi!” Dengan susah payah, Vania menggerakkan bola matanya. Seorang wanita berambut hitam panjang berdiri di dekat pintu besi Gaun wanita itu mewah dan terlalu elegan untuk tempat sekotor ini. Wajahnya cantik rupawan, tetapi sorot matanya dipenuhi kebencian. “Telan ini, Violetta!” bentak si pria pirang. Siapa Violetta…? Dalam keadaan tercekik dan kesulitan bernapas, Vania masih sempat kebingungan. Rasanya ia ingin berteriak bahwa ia bukan Violetta dan mereka telah salah orang. Tapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Tangan pria itu justru semakin kuat mencekik lehernya, sementara tangan satunya lagi memaksa sebuah kapsul masuk lebih dalam ke mulut Vania yang entah sudah keberapa. “Ayolah, Violetta. Jangan mempersulitku. Aku hanya ingin menolongmu.” “Iya, Kak, jangan melawan, Kakak,” ujar Ophelia. “Ini demi kebaikanmu sendiri.” Tepat pada detik itu, kapsul di mulut Vania terdorong masuk menembus kerongkongan. “Uhhh!” Rasa panas seketika menjalar liar dari tenggorokan hingga ke dadanya. Tubuh Vania menegang kaku. Aroma dan rasa yang menempel di lidah langsung membuatnya tahu betul itu apa. Rasa pahit, tajam, dan khas almond pahit. Sianida. Mereka bukan sedang berusaha menolongnya, lebih tepatnya, mereka ingin membunuh Vania! Kepanikan merayap, jantung Vania berdetak kacau. Tapi tubuhnya tidak mampu merespons. Tangannya hanya bergetar di atas lantai batu. Jemarinya mencoba mencakar, tapi tak bertenaga. “Lepas…!” “Diam!” bentak Rayner, justru mempererat cekikannya. Pandangan Vania mulai berkunang-kunang, dunia terasa berputar. Tubuhnya semakin melemah hingga ia tidak mampu lagi sekadar mengangkat tangannya sendiri. Tangan Vania pun jatuh lunglai ke lantai batu. “Ugh… tolong…” Rintih Vania pelan. Tak ada jawaban. Hanya tekanan di leher yang semakin kuat. Lalu Vania teringat. Tadi, sebelum dicekik, ia sempat melihat sesuatu di sudut ruangan. Dengan sisa tenaga, Vania memalingkan kepalanya ke samping. Lehernya nyaris tak bisa bergerak, tapi cukup untuk membuat matanya kembali menangkap sudut itu. Mereka masih di sana. Lycan, pria bertelinga serigala itu menatapnya. Sorot mata Lycan begitu dingin. Penuh kebencian yang begitu kentara. Apakah tidak ada satu pun yang berniat menolongnya…? Apakah yang sebenarnya sudah ia lakukan sehingga mereka sangat ingin membunuhnya? Vania ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya napas patah yang menyakitkan. Jadi beginikah akhirnya? Mati di penjara bawah tanah yang asing, diracun oleh orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Kegelapan perlahan menelan kesadaran Vania. Pelan, namun pasti. Dan, tepat di detik Vania memutuskan untuk menyerah… Ting! Suara nyaring berdenting. Memecah keheningan. Cahaya merah muda berpendar dari udara kosong. Lalu sesosok makhluk kecil melayang turun tepat di depan wajah Vania. Mahkluk itu memiliki sepasang tanduk mungil dan sepasang sayap kelelawar mini. Senyum mahluk itu terlalu ceria untuk situasi seperti ini. [Halo, Tuan Rumah!] Suara itu langsung masuk ke dalam kepala Vania, bukan lewat telinga. Vania membeku. [Perkenalkan, namaku Sistem Eros Yang Agung!] Makhluk itu berputar riang. [Melihat nyawa Tuan Rumah terancam, Sistem memberikan misi pertama: tampar Rayner, pria menyebalkan itu. Hadiah: satu nyawa tambahan!] Vania menatap makhluk kecil itu. Menatap Rayner yang masih mencekiknya. Menatap makhluk itu lagi. Otak Vania yang nyaris mati tersentak kembali. Hah?! Misi?! Jangan katakan ... ia masuk ke dunia game?!WUSHHH!Angin fajar yang dingin menyapu sisa-sisa debu vulkanik di Kawah Draconis. Sinar matahari pagi mulai mengintip dari ufuk timur, memantulkan cahaya pada kubah perak raksasa yang masih berdiri kokoh di tengah kawah yang mengering.Di dalam kubah tersebut, pendaran magis perlahan memudar."Akhirnya pagi tiba," suara serak dan berat milik Orion memecah keheningan. Ia menyeringai puas, menatap Vania yang terbaring dengan napas teratur di lengannya. "Bagaimana rasanya menaklukkan naga purba, Panglima?""Tutup mulutmu dan singkirkan tangan besarmu dari pinggangku, Kadal," gerutu Vania. Tubuhnya terasa remuk, namun anehnya, aliran mana di dalam pembuluh darahnya terasa luar biasa jernih dan kuat."Kau merendahkan suamimu sendiri setelah malam yang begitu panjang?" Orion terkekeh. Ia menjentikkan jari kanannya ke udara.TRING!Seketika, serpihan cahaya perak berkumpul, menenun dirinya sendiri menjadi sebuah gaun sutra berwarna hitam elegan yang langsung membalut tubuh Vania dengan semp
TET... TET... TET!Layar Administrator terus menjerit brutal. Angka hitungan mundur berwarna merah darah memantul dengan jelas di sepasang mata menyala milik Orion.[Waktu tersisa: 90 Detik!]"Lepaskan pinggangku, Kadal Sombong!" desis Vania tajam.Tangannya memukul dada bidang Orion yang kini terasa sepanas besi tempa. Namun, pukulan itu sama sekali tidak menggeser posisi sang Kaisar."Kau memukulku, Istriku? Di saat kau tahu nyawamu dan nyawa seluruh benua ini bergantung sepenuhnya pada milikku?" Orion menyeringai liar. Hawa panas dari tubuh polosnya yang keras dan padat semakin membakar udara di sekitar mereka."Waktu kita hanya sebentar, Sayang. Kau mau mati menjadi tumpukan debu bersamaku, atau mendesah di bawahku dan membiarkan naga ini menaklukkanmu?" tantang Orion."Jangan mimpi! Kalaupun kita harus melakukan ritual konyol ini, aku yang akan memegang kendali!" Vania membalas tak kalah angkuh, matanya berkilat ungu menantang."VIOLETTA! JANGAN LAKUKAN!" raung Lycan dari luar ba
"Kita harus ke kawah! Sebelum telur ini gagal menetas!" seru Aegir. Trisula di tangannya bergetar hebat saat hawa dingin yang tak wajar mulai merembes dari cangkang obsidian tersebut.TING![Peringatan Kritis! Penurunan suhu drastis pada wadah Kaisar!][Jantung naga akan membeku dalam waktu 60 detik jika tidak direndam dalam Api Hitam!]Layar Administrator berkedip merah darah di depan wajah Vania."Gargantua! Abaikan armada lalat besi itu! Menukik lurus ke arah kawah sekarang juga!" perintah Vania mutlak, suaranya sedingin es membelah deru badai."Pegangan yang kuat, Istriku!" raung Gargantua.WUSHHH!Raksasa chimera itu melipat sayap magmanya dan terjun bebas layaknya meteor, membelah lautan awan Kimerik menuju gunung berapi raksasa di daratan bawah."Semua unit balista! Bidik telurnya! Hancurkan sebelum mereka mencapai kawah!" teriak Jenderal Darius dari anjungan kapal Kekaisaran.TRATATATATA!Puluhan tombak baja melesat membelah udara. Namun, sebelum Zephyr atau Lycan sempat mena
Angin di ketinggian mendadak berhenti berembus. Gargantua berhenti mengepakkan sayap magmanya. Tubuh raksasa itu melayang kaku di udara, matanya membelalak menatap bayangan raksasa di hadapan mereka. Bayangan itu tidak bergerak sedikit pun. Namun... anehnya, seluruh awan merah di sekelilingnya terus berputar dan beriak. "Tunggu dulu," gumam Vania, matanya menyipit menembus debu Kimerik yang tersisa. "Itu bukan awan.""Apa maksudmu, Istriku?" tanya Zephyr, nada suaranya kehilangan unsur bercanda. "Jelas-jelas itu awan badai...""Bukan," potong Lycan dengan suara serak. Bulu peraknya berdiri tegak. "Awan itu tidak bergerak mengelilinginya. Awan itu... adalah sayapnya."Seketika, kengerian murni menyelimuti mereka. Makhluk itu begitu masif hingga kepakan sayapnya menciptakan ilusi cuaca di langit Kimerik. TING!Layar Administrator yang biasanya langsung memberikan informasi dengan nada sok tahu, kali ini berkedip-kedip tak menentu. Warnanya berubah dari emas, merah, hingga abu-abu st
“Panas… Tolong hentikan air panas ini!” Lolong keputusasaan itu merobek malam. Tubuh Aegir yang terendam di tepian danau bergolak liar. Sisik-sisiknya rontok seolah tersiram air mendidih, meninggalkan daging kemerahan yang mengepulkan asap. “Keluar dari air itu, Aegir!” Vania menerjang maju, men
Vania menatap telur hitam berukuran masif di hadapannya. Serat merah di cangkangnya berdenyut. Ini bukan sekadar barang sitaan. Vania tidak peduli seberapa bahayanya telur yang dikatakan oleh sistem. Yang ia pikirkan saat ini hanya ingin pergi dari tempat ini. Membawa serta ke empat pria yang ma
"Kau pikir aku akan percaya dengan kata-katamu hanya karena kau berlagak baik, hmm? Aku tidak akan menurut dengan manusia kejam sepertimu!" ujar Lycan. “Kalau kau mati karena gengsimu itu,” balas Vania datar, “siapa yang akan melindungi mereka?” Tatapan Lycan berubah. Vania melirik ke arah A
“Merawat mereka dengan cinta dan kasih sayang?” Suara Vania naik setengah oktaf. Ia menatap gumpalan merah muda di depannya dengan tatapan tidak percaya. “Aku baru saja dicekik, diracun, lalu hampir mati dua kali. Dan sekarang kau menyuruhku menjadi perawat berhati malaikat untuk monster yang jel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan