INICIAR SESIÓNRyan Juliar, seorang karyawan biasa yang dipecat lewat efisiensi perusahaan lalu beralih jadi pengemudi ojek online, meninggal tertabrak truk di persimpangan licin pada malam hujan. Ia membuka mata di tubuh lain yang kebetulan bernama sama, seorang guru bantu di Akademi Bela Diri Bayasura, Negara Redwhite, yang sedang berada di ujung tanduk karirnya. Tubuh yang ia huni telah mewarisi masalah besar. Kelas binaan di peringkat terakhir angkatan, reputasi yang sudah hancur di mata staf akademi, dan satu-satunya pelindungnya adalah ikatan perjodohan di atas kertas dengan Naura Elvandari, Kepala Guru angkatan pertama yang justru punya kuasa penuh untuk memecatnya. Di tengah situasi pelik ini, sebuah sistem muncul di benak Ryan. Berbekal sistem tersebut, Ryan selangkah demi selangkah menjadi Guru Terhebat di dunia!
Ver másHal pertama yang Ryan Juliar sadari saat kesadarannya kembali adalah suara seseorang yang sedang berteriak.
"Kalian masuk akademi bela diri tapi yang dibaca Matematika Lanjut dan Aljabar Linear?! Uang orang tua kalian dipakai untuk bayar biaya di sini, bukan untuk menonton kalian jadi kutu buku!!"
Ryan mengedipkan mata.
Ada perempuan berkacamata di depan kelas, tepatnya di sisi lain podium tempat ia berdiri. Berdiri dengan punggung tegak, ekspresi yang terasa seperti jaksa yang sudah kehabisan toleransi, dan suara yang memenuhi ruangan tanpa perlu pengeras.
Memori asing mulai mengalir masuk. Ruang kelas. Kelas X-2. Akademi Bela Diri Bayasura. Ia guru di sini.
Dan perempuan berkacamata yang sedang berteriak itu adalah Naura Elvandari, Kepala Guru angkatan pertama.
"Peringkat terakhir untuk progres kultivasi! Peringkat terakhir untuk tempur beregu! Peringkat terakhir untuk duel individu!" Naura mengangkat laporan penilaian setengah semester lalu membantingnya ke podium dalam satu gerakan. Suaranya keras sampai beberapa siswa kontan menarik napas. Yang lebih mengejutkan, podium kayu solid itu retak. "Ini 'prestasi' yang berhasil diraih Kelas X-2. Luar biasa sekali!"
Tidak ada satu siswa pun yang berani bergerak.
Ryan yang baru setengah sadar mencoba meredakan keadaan dengan refleks.
"Sudah, Naura. Tidak perlu terlalu keras sama anak-anak..."
"Berapa kali harus kukatakan." Naura memutar kepala ke arahnya. Di balik kacamatanya, tatapannya berhenti tepat di wajah Ryan dengan cara yang tidak terasa seperti melihat, lebih ke cara mengukur. "Pakai titel saat jam kerja."
Ryan menutup mulut.
Naura menghela napas pendek, mengalihkan pandangan dari kelas yang masih membeku, lalu melangkah mendekat ke Ryan. Nada suaranya turun beberapa oktaf, tidak lagi berteriak, tapi terasa justru lebih berat dari sebelumnya.
"Ryan. Sebagai wali kelas sementara Kelas X-2, kondisi ini sebagian ada di tanggung jawabmu." Ia berhenti sebentar. "Dewan Sekolah sudah bicara padaku hari ini. Kalau tidak ada perubahan di semester depan, aku tidak bisa berbuat apa pun untukmu."
Satu jeda lagi.
"Nasibmu ada di tanganmu sendiri."
Setelah itu ia berbalik dan melangkah keluar. Langkahnya terukur, rok profesionalnya bergerak mengikuti, siluetnya menghilang di balik pintu tanpa sekali pun menoleh.
Ryan memandanginya sampai pintu tertutup.
'Untuk seseorang yang baru saja menyerahkan nasibku pada diriku sendiri,' ia mengusap pangkal hidung, 'posturnya terlalu bagus untuk diabaikan.'
Lalu ia menarik napas dalam dan memutuskan untuk tidak memperpanjang pikiran itu.
**
Di kehidupan sebelumnya, ia juga bernama Ryan Juliar.
Karyawan biasa di perusahaan distribusi. Suatu pagi dipanggil ke ruangan HR yang entah kenapa penuh tanaman hias, pulang dengan status baru sebagai korban efisiensi. Tidak ada drama, ia tanda tangan dan pergi.
Dua minggu kemudian sudah pakai helm hijau, terima order ojek online dari pagi sampai malam. Bukan pilihan ideal tapi perut tidak protes, dan jalanan selalu lebih jujur dari kantor.
Sampai persimpangan licin malam itu. Hujan baru berhenti. Lampu truk dari arah yang salah.
Gelap.
Lalu ia buka mata di dunia ini, di tubuh yang, dengan kebetulan yang tidak ia mengerti sepenuhnya, juga bernama Ryan Juliar.
'Setidaknya tidak perlu hafal nama baru,' ia pikir.
**
Gambaran besarnya perlahan terbentuk dari memori tubuh ini yang terus meresap masuk.
Dunia bela diri tinggi.
Manusia bisa membangkitkan kemampuan supranatural dan mengolah kekuatan tubuh jauh di atas batas normal.
Kemampuan supranatural punya tingkatan dimulai dari F, E, D, C, B, A, S, SS, SSS sampai X.
Kekuatan fisik punya tujuh tahap dari paling rendah ke paling tinggi, yaitu Batu, Baja, Perak, Emas, Zamrud, Safir, dan Intan.
Di atas Intan ada golongan yang disebut Pendekar Adikuasa, yang sudah tidak relevan diukur dengan standar biasa. Satu orang dari golongan itu mampu meratakan satu kota jika mereka mau.
Naura ada di Zamrud. Tingkat lima.
Ryan ada di Perak. Tingkat tiga. Setelah semua sumber daya Keluarga Juliar dikerahkan.
'Pantas perjodohan itu tidak pernah dipertegas.'
Ya, perjodohan. Keluarga Juliar dan Keluarga Elvandari, dua keluarga besar di Negara Redwhite, pernah mengikat kesepakatan lama antar anak mereka. Tapi jarak bakat keduanya terlalu mencolok untuk dipaksakan jadi sesuatu yang resmi. Ikatan itu dibiarkan menggantung.
Di atas kertas, Naura masih terhubung dengannya. Konsekuensi praktisnya sederhana saja. kalau siapapun di akademi ini pecat Ryan, Keluarga Juliar turun tangan. Tapi kalau yang pecat adalah Naura sendiri, keluarganya paling banter cuma angkat bahu sebelum balik menyalahkan Ryan karena tidak becus jaga posisi.
'Satu-satunya orang yang tidak bisa kutentang,' ia menatap langit-langit sebentar, 'justru yang punya kendali penuh atas pekerjaanku. Luar biasa.'
Pemilik asli tubuh ini sudah menanam masalah ini jauh sebelum Ryan tiba. T
erlalu yakin nama keluarga adalah tameng abadi, tidak pernah sungguh-sungguh bekerja, dan perlahan terdegradasi dari guru tetap jadi guru bantu.
Kalau tidak ada yang berubah, Ryan akan jadi guru pertama yang dipecat dari Akademi Bela Diri Bayasura dalam sejarahnya.
Ia menahan sesuatu yang ingin sekali ia sebut sebagai keluhan.
**
Ryan menegakkan bahu, memasang senyum profesional seadanya, dan berbalik ke kelas.
"Baik, kalian semua..."
Tidak ada yang mendongak.
Para siswa yang tadi membeku ketakutan di bawah amarah Naura kini sudah kembali ke aktivitas masing-masing seolah tidak terjadi apa-apa. Buku "Aljabar Linear" terbuka lagi.
Soal latihan dikerjakan lagi dengan kecepatan yang cukup memusingkan. Di barisan belakang ada kepala yang perlahan menunduk ke arah lengan sendiri.
Ryan menatap pemandangan itu diam-diam.
'Kayu seperti ini, jangankan dipahat, dipegang pun bisa langsung hancur.'
Masuk akal juga. Pemilik asli tubuh ini sudah lama menjadikan kelas ini tempat menghabiskan jam kerja tanpa benar-benar hadir. Para siswa hanya melanjutkan kebiasaan yang sudah terbentuk lama sebelum Ryan datang. Mau marah pun rasanya aneh, ini bukan salah mereka sepenuhnya.
Untuk sesaat ia mempertimbangkan apakah lebih baik mulai memikirkan cara membalik situasi ini... atau menyusun surat ke sang Ayah lebih dulu agar penyambutan pulang nanti tidak terlalu melukai harga diri.
'Kepada Ayah yang terhormat, putramu sedang menghadapi situasi yang butuh beberapa paragraf untuk dijelaskan secara layak...'
Baru sampai situ, sesuatu tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
Bukan suara dari kelas, bukan dari luar jendela. Lebih seperti notifikasi yang melewati telinga dan langsung ada di belakang kesadaran.
[Ting! Sistem Guru Terhebat telah aktif. Apakah kamu bersedia menerima?]
"Kalau begitu, aku pergi mengambil dagingnya sekarang, Pak Ryan."Nada Bagas terdengar setenang orang yang hendak berjalan ke kantin. Tidak ada ragu, tidak ada pertanyaan tambahan, apalagi usaha menawar jumlahnya.Ryan menatapnya beberapa saat."Kamu tidak khawatir sama sekali?"Bagas mengerutkan kening. "Khawatir kenapa, Pak?""Daging mentah binatang iblis," Ryan memperjelas. "Kalau dimakan, energinya bisa mengacaukan pikiran. Dalam jumlah besar, akibatnya bisa lebih buruk."Bagas mengangguk sungguh-sungguh."Aku tahu, Pak Ryan. Waktu aku kecil, ada orang di kampung yang tidak sengaja makan daging binatang iblis mentah."Ryan menunggu kelanjutannya.Bagas berkata dengan wajah polos, "Sekarang rumput di kuburannya sudah setinggi dua meter."Ryan terdiam.Ia menatap Bagas sekali lagi, memastikan muridnya tidak sedang bercanda. Namun, tidak ada sedikit pun kelucuan di wajah anak itu."Kamu tahu risikonya, tapi masih langsung setuju?"Bagas menggaruk belakang kepalanya."Lha, itu kan yan
"Kebangkitan Kedua..."Dua kata itu langsung menghapus semua bayangan indah di kepala Bagas.Ia menatap Ryan tanpa berkedip, menunggu gurunya tertawa atau mengatakan bahwa itu hanya lelucon. Namun, wajah Ryan tetap datar.Tidak ada lelucon.Kebangkitan Kedua bukan sesuatu yang pantas disebut sederhana. Kebangkitan pertama saja sudah membutuhkan kondisi khusus, bakat tinggi, dan sumber daya yang tidak sedikit.Kebangkitan Kedua berada di tingkat yang berbeda.Bahkan Federasi Pengguna Kemampuan Khusus, salah satu organisasi terkuat di Negara Redwhite, tidak pernah melakukannya sembarangan.Kasus terbaru yang diketahui publik adalah Andrew, Raja Muda Federasi Pengguna Kemampuan Khusus. Ia termasuk Pendekar Adikuasa termuda dan terkuat di generasinya.Demi mendukung Kebangkitan Kedua Andrew, Federasi mengerahkan operasi besar untuk menyerang wilayah kekuasaan makhluk tingkat dewa.Operasi itu memang berhasil.Namun, harga yang harus dibayar membuat seluruh dunia bela diri terdiam.Tiga a
Semangat Bagas yang sempat jatuh perlahan terangkat kembali.Ia menatap Ryan dengan mata setengah tidak percaya. Angka 1010 masih terpampang jelas di layar pengukur, menjadi bukti bahwa semua yang terjadi barusan bukan khayalan."Pak Ryan..." Bagas menarik napas. "Pak Ryan benar-benar punya cara untuk memperbaiki kemampuanku?"Ryan tidak langsung menjelaskan."Kamu percaya kepada gurumu atau tidak?"Pertanyaannya sederhana, tetapi Bagas tidak bisa menjawab sembarangan.Beberapa jam lalu, ia mungkin akan tertawa canggung atau menganggap Ryan sedang mencari cara untuk menghiburnya. Namun, terlalu banyak hal telah berubah sejak mereka memasuki ruang latihan ini.Teknik kultivasi yang selama ini dianggap sempurna ternyata tidak sesuai dengan meridiannya.Rasa sakit pada lengan kanannya ternyata berasal dari luka yang dapat menjadi permanen.Yang paling sulit dipercaya, tangan kirinya yang hampir tidak pernah dilatih mampu menghasilkan kekuatan dua kali lipat dari tangan kanan.Semua yan
Tidak ada suara. Tidak ada cahaya yang menyilaukan.Hanya sebuah getaran yang sangat halus, seperti denyut yang tidak punya sumber, mengalir masuk ke dalam tubuh Ryan dari segala arah sekaligus. Menembus kulit, meresap ke otot, mengisi setiap rongga kecil di tulangnya.Tubuhnya berdenyar samar dalam sepersekian detik, lalu denyaran itu menghilang begitu saja.Ryan berdiri diam.Yang ia rasakan setelahnya bukan ledakan kekuatan yang dramatis. Lebih seperti seseorang yang selama ini tanpa sadar membawa beban di punggungnya, dan sekarang beban itu diambil. Tubuhnya terasa ringan. Padat. Seperti setiap serabut ototnya sudah berada tepat di tempat yang seharusnya.Pendengarannya tajam secara mengejutkan. Ia bisa menangkap suara langkah seseorang di koridor luar ruang latihan, bahkan irama napasnya yang teratur. Lebih dari itu, ia bisa merasakan getaran udara di sekitar Bagas yang berdiri beberapa meter darinya.Irama Semesta. Mungkin itu nama yang tepat untuk apa yang mengalir di bawah per






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas