LOGINArcellia Solmire seorang bangsawan dari Kekasiaran Lunareth, terbiasa hidup megah dan kemewahan. Namun sebuah musibah datang saat ia mengikuti sebuah kontes berburu, ia menghilang di kedalaman hutan karena serangan hewan buas. Di ambang keaadaran ia diselamatkan oleh seorang pria, Kael Moonveil. Pria yang ia kira seorang manusia biasa ternyata seorang manusia serigala. Lebih aneh lagi, Kael menagih sebuah janji padanya, janji yang tentunya tak pernah ia buat. Tak punya pilihan, Arcellia berjanji akan membalas budi selama 2 tahun, ia akan melakukan apa saja yang diinginkan oleh Kael asal Kael juga menjamin nyawanya. Namun kehidupan di tengah kawanan manusia serigala bukanlah hal mudah. Di antara janji, bahaya, rahasia dan perasaan yang rumit yang tumbuh, akankah semua berjalan mulus lalu ia bisa kembali ? Mengingat tak ada janji yang benar-benar sederhana.
View MoreCahaya pagi masuk masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcel bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang denganmembawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael.
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Juli menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening.
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya.
“Cinta..” Raja memandangi Kael cukup lama, terus menerus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigal
Arcellia berdiri di lorong, lagi-lagi ia sendirian, semalam sebelum kehilangan kesadaran Kael mengatakan akan pergi untuk mengurus sesuatu, namun waktu itu ia tak bisa menjawab. Sebenarnya semalam Kael kembali mengobatinya dengan darah manusia serigala, kini luka di seluruh tubuhnya sudah sembuh,
Arcellia tak pernah menyangka, bantuan yang diminta oleh Kael ternyata adalah memasak untuk dirinya sendiri. Arcellia mengiyakan, toh makanan itu juga untuk dirinya sendiri, sebenarnya ia tak bisa memasak makanan yang rumit, jadi ia hanya membuat sup sederhana menyesuaikan bahan yang Kael bawakan.
Untuk pertama kalinya, Arcellia terbangun dengan tubuh yang lebih ringan. Ia membuka selimut dan mendapati luka di kakinya sembuh, ia berpikir pasti Kael yang mengobatinya saat ia tertidur. “Lukaku jauh lebih membaik dari sebelumnya, benarkah itu darah manusia serigala ?” Gumamnya seorang diri.
Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa. “Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.