LOGINRyder seorang anak yang terlahir tanpa kekuatan sihir. Di saat semua penduduk selatan memiliki kekuatan sihir, hanya Ryder yang tidak memiliki kekuatan sihir. Nasib Ryder yang begitu sulit, membuatnya terpuruk tapi berkat didikan sang kakek Alexiuz semua kebutuhan dan pelatihan Ryder terkendali dengan baik. Hingga suatu hari sang kakek Alexiuz meninggal dunia, membuat Ryder putus asa. Orang tua Ryder sendiri pun tidak mampu membantu banyak karena Ryder menutup dirinya dan hanya berkeluh kesah pada sang kakek. Ryder yang sedang dalam keputusasaannya itu bertemu dengan Zane dan Natalia. Berkat dua orang itu, hidup Ryder mendapat banyak masalah dan hidupnya berubah drastis. Ryder tak mempercayai orang lain lagi sejak saat itu, membuat hatinya keras dan tidak berbelas kasih pada orang lain selain keluarganya. Ingin tahu bagaimana nasib Ryder kedepannya? Apakah Ryder mampu menghadapi takdir sebagai pemuda tanpa kekuatan sihir dari selatan? Yuk baca kelanjutannya di Sang Penguasa Selatan : Ahli Pedang Ganda
View More"Sayang, ayo kita pulang."
Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora. Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya. Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud. Namun, ia hanya terdiam. Tatapannya perlahan beralih ke wanita tua yang berdiri di depan pintu. Selama dua belas tahun, Bibi Nina-lah yang merawatnya. Dua belas tahun yang lalu, saat Liora masih berusia lima tahun, ia tidak sengaja melakukan kesalahan terhadap kakaknya. Seluruh anggota keluarga marah dan berniat mengirimnya ke panti asuhan. Namun, Bibi Nina menjadi satu-satunya orang yang membelanya. Wanita yang telah merawat Liora sejak bayi itu memohon agar ia tidak dibuang. Ia bersedia membawa Liora ke desanya dan mendidiknya sendiri. Dan benar saja, Bibi Nina berhasil. Liora tumbuh menjadi siswa berprestasi. Ia telah lulus ujian sekolah dengan nilai tertinggi di negara itu, dan kini hanya tinggal menunggu pengumuman masuk universitas melalui jalur prestasi. Wajah wanita tua itu kini tampak sangat sedih. Isak tangisnya terdengar jelas, tak tertahan. Liora menatap ibunya, Nyonya Lely. "Aku tidak mau pulang. Aku mau tetap di sini bersama Bibi Nina." "Sayang, Bibi Nina juga ikut. Nanti beliau akan dijemput oleh sopir keluarga. Jadi kamu tidak perlu cemas. Semua barangmu juga akan dibawa," ujar Lely lembut, seraya mengusap rambut hitam Liora. Liora tersenyum dan mengangguk. Ia mempercayai sepenuhnya kata-kata wanita yang telah melahirkannya. Saat berpamitan, Bibi Nina tampak tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk Liora erat, seolah tak ingin melepaskannya. Liora tersenyum sambil mengusap air mata di wajah keriput itu. "Akhirnya kita bisa hidup enak, Bi. Nanti setelah kuliah, aku akan cari kerja paruh waktu. Di kota banyak pekerjaan, tidak seperti di desa. Aku ingin membiayai hidup Bibi." Tangis Bibi Nina semakin pecah. "Bibi tidak mau..." "Bibi sudah tua, tidak boleh bekerja terlalu keras lagi. Aku pulang dulu, ya. Nanti sopir Mami akan menjemput Bibi." Itulah kenangan terakhir Liora bersama Bibi Nina. Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan wanita yang telah merawatnya dengan penuh kasih. Padahal, mereka pernah berjanji akan membuat hidup Bibi Nina bahagia—memberinya kehidupan yang layak, tempat tinggal yang nyaman, dan hari tua yang tenang. Dua tahun berlalu . Liora berada di dalam tahanan. Tempat yang seharusnya mampu menghancurkan seseorang. Namun Liora… masih tetap bertahan di sana. Duduk di sudut sel sempit, bersandar pada dinding dingin yang kasar, dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Tangannya bergerak pelan. Menulis. Buku-buku dan peralatan tulis ini dikirim oleh bibi Nina. Wanita itu tahu bahwa Liora sangat suka menulis dan membaca. Coretan demi coretan memenuhi halaman itu—rumus, skema, angka, dan simbol yang tampak rumit. Tidak semua orang akan mengerti apa yang ia tulis. Liora berhenti. Menatap hasilnya beberapa detik. Lalu menutup buku itu perlahan. Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat. Teratur. Namun Liora tidak menoleh. Seolah suara itu tidak ada hubungan dengan dirinya. Sampai akhirnya, pintu besi di depannya terbuka dengan bunyi gesekan yang nyaring. “Kau bebas.” Suara sipir terdengar datar. Tanpa emosi. Liora diam memandang wanita bertubuh tegap tersebut. Namun tubuhnya tidak bergerak. “Keluargamu sudah menunggu di luar.” Keluarga? Keluarga yang mana? Liora bahkan sampai lupa, jika masih memiliki keluarga. “Aku masih punya lima tahun lagi untuk tetap di sini,” ucapnya datar. “Hukumanku tujuh tahun.” Sipir itu mendengus pelan. Ketika melihat Liora yang tidak menunjukkan reaksi apa pun. Bukankah kebebasan, menjadi impian semua narapidana? “Kau berperilaku baik selama di dalam tahanan. Keluarga korban juga mencabut tuntutan.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan— “Dan keluargamu… mengurus sisanya.” Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Liora. Liora tersenyum samar. Jika mereka bisa membebaskannya dengan uang, mengapa tidak melakukannya sejak dua tahun lalu? Mengapa membiarkannya menderita di tempat ini? Jika bukan karena ancaman itu, ia tidak akan pernah berakhir di balik jeruji besi. Tak banyak barang yang ia bawa. Hanya beberapa buku-buku hasil karyanya selama berada di dalam tahanan. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju baru yang dikirim Bibi Nina dari desa. Dalam suratnya, Bibi Nina menulis bahwa ia sengaja mengirimkan pakaian itu, meskipun tidak tahu kapan Liora bisa memakainya. Ia juga menyelipkan makanan sederhana yang dulu sering Liora santap di desa… serta sejumlah uang yang tak seberapa. Liora menahan napas saat mengenakan pakaian itu. Baju murah, namun pas di tubuhnya yang kini jauh lebih kurus. Dadanya berdenyut nyeri. Setelah selesai, ia melangkah keluar dari sel. Langkahnya tenang. Terlalu tenang… untuk seseorang yang baru saja mendapatkan kebebasan. Lorong panjang itu sunyi. Hanya gema langkah kakinya yang terdengar. Pintu utama terbuka. Cahaya dari luar menyilaukan. Liora menyipitkan mata. Dan di sana— seseorang telah menunggu. Seorang pria bersandar santai di dekat mobil hitam mengilap. Dion. Kakak kandungnya. Ia tak banyak berubah. Masih rapi, tenang… dan terasa begitu jauh. Tatapannya jatuh pada Liora. Dion menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Bagaimana hari-harimu, apa sudah puas bermain-main?" "Apa menurut mu, didalam itu arena bermain?" Liora berkata sambil memandang Dion. Dion tidak menyangka Liora akan menjawab seperti ini. "Jika di dalam, tempat bermain, lalu kenapa kalian tidak membiarkan Cintya untuk masuk kedalam? Bahkan kalian sangat takut jika adik kesayangan mu yang lemah itu bisa mati di dalam sini." Wajah Dion merah padam mendengar ucapan Liora. "Kau!!" Liora kemudian tersenyum. “Lebih tenang di sana,” jawabnya pelan. “Tidak ada orang munafik, tidak ada orang tua berhati iblis dan saudara menjijikkan seperti kau.” Wajah Dion benar-benar menegang dan memerah. Namun ia tidak membalas. Ia hanya berkata satu kalimat, namun adiknya itu menjawab dengan sangat panjang. “Masuk,” katanya singkat, membuka pintu mobil. Liora tidak langsung bergerak. Tatapannya masih tertuju pada pria itu. “Kenapa sekarang?” tanyanya. Sederhana. Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa lebih berat. Dion menghela napas pendek. “Papi dan Mami menunggumu.” Liora tertawa pelan. Suara itu rendah. Nyaris tidak terdengar. “Lucu.” Ia melangkah mendekat. “Dua tahun,” ucapnya. “Tidak ada kabar. Tidak ada kunjungan.” Ia berhenti tepat di depan Dion. Menatapnya lurus. “Aku pikir, keluarga ku sudah mati semua. Namun sekarang… tiba-tiba kalian muncul kembali dan menungguku?” Dion tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat sedang berusaha untuk bersabar. Melihat diamnya… sudah cukup. Liora mengangguk pelan. Seolah mengerti. “Atau…” lanjutnya, suaranya tetap tenang, “kalian butuh sesuatu dariku lagi?”"Nino, bukankah itu sangat lucu?" ucap Ryder."Tidak sayang, nama itu terlalu kuno untuk bayi kita. Pilihlah nama yang keren dan jarang ditemukan dimanapun," terang Freya.Ryder memelas tak bersemangat, sudah seribu kali mereka menyebutkan nama dan tidak ada satupun diantara nama itu yang pas. Billy membawakan secangkir teh, sambil membawa beberapa berkas pada Ryder."Tuan, sebentar lagi wakil dari wilayah utara akan datang untuk membawa kontrak penyediaan batu sihir," ucap Ryder.Ryder hanya diam, tak bergeming sama sekali. "Tuan, jadwal anda besok menjenguk nona-""Benar, aku harus pergi bertemu Layla dan Lilian agar mereka mau membujuk Freya," seru Ryder tiba-tiba."Tuan, kumohon fokuslah pada pekerjaan dulu," keluh Billy.Ryder mengangguk dan menyusun laporan, tanpa peduli pada Billy sedikitpun. "Kalau begitu, saya permisi tuan," pamit Billy.Ryder keluar dari ruangannya tergesa-gesa, tapi menabrak Daren yang ternyata datang sebagai perw
Daren menarik Billy dengan paksa, menyeretnya agar berani menjelaskan apa yang terjadi padanya saat mendengar ucapan Freya kemarin. Ryder dan Freya yang sedang sarapan, melihat Billy yang tiba-tiba muncul membuat Freya terkejut, sedangkan Ryder hanya menatap pria itu dingin."Bicaralah kawan, katakan maksud dan tujuanmu datang kemari," ucap Daren."Daren, sepertinya dia merasa tidak enak badan. Wajahnya begitu pucat," tutur Freya khawatir."Dia terlalu takut, sampai tidak bisa tidur semalaman hahahaha. Tunjukkan. Keberanianmu kawan," sela Daren.Ryder yang menggendong bayi kecil, tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Billy maju ke depan Freya, walaupun pria itu tidak bisa mengucapkan isi kepalanya pada semua orang tapi Billy sangat ingin berbaikan dengan Freya dan Ryder."Billy, tenanglah dan jangan takut. Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang terjadi kemarin," tutur Freya mencoba menenangkan Billy yang sedang gemetar."Freya. Jangan terlalu baik pada seoran
"Apa nona tidak tahu? Selama ini Tuan Ryder menjaga kekuatannya untuk membantu siapapun, bahkan dia sangat senang dengan kekuatannya. Lantas kenapa anda tidak membantunya untuk memilih cara lain!!" teriak Billy."Itu tidak seperti yang kamu dengar Billy, aku juga ti-""Bukankah nona ingin Tuan Ryder bahagia?!" seru Billy.Daren yang baru masuk menahan Billy mundur bersama Ryder, karena Billy tampak begitu kesal pada Freya. Layla yang melihat Freya menahan air matanya, melenggang masuk dan menampar Billy dengan keras."Jangan pernah melukai perasaan Freya, ingat itu bajingan!!" teriak Layla kesal."Daren bawa Billy keluar, aku akan menjaga Freya," ucap Ryder.Daren menarik lengan Billy paksa, menyeretnya keluar dari ruang tersebut. Ryder memeluk Freya pelan, tangis perempuan itu pecah dan membuat semua orang ikut khawatir. Bayi kecil yang mendengar teriakan itu, menangis begitu keras hingga Lilian segera membawanya ke ruangan lain untuk menenangkannya."Lepaskan aku, dasar brengsek jan
"Freya, bukankah hari ini kita akan pergi ke wilayah utara menghadiri upacara pembukaan aula akademi baru," ujar Layla sambil merengek."Aku akan mendiskusikan ini dengan Ryder, jangan memasang wajah lugu itu," cibir Freya."Baiklah, kalau begitu ayo kita ke tempat Ryder sekarang!!" seru Layla semangat."Ryder sedang rapat bersama para tetua, itu akan memakan banyak waktu. Lebih baik kita menunggunya selesai," sela Freya."Huuuhh... Ryder menyebalkan sekali, aku akan mengatakannya pada Billy," ucap Layla spontan.Freya menghela nafas panjang, kegigihan Layla untuk membawanya berjalan-jalan di wilayah utara sangat sulit di bantah."Pergilah mandi dan bersiap bersama bayi kecil, aku akan segera kembali dengan izin Ryder!!" teriak Layla lalu pergi dari rumah menuju kantor wilayah tempat Ryder."Baiklah, aku akan menunggumu," ucap Freya.Ryder menumpuk beberapa kertas, sambil menuliskan setiap kekurangan dari laporan tersebut. Dia mengambil banyak pekerjaan sebelum akhir pekan, karena ing
Hana memberi hormat pada Freya, lalu mundur beberapa langkah. Freya melepaskan sepatunya, menarik pedang dari sabuk lalu menghunuskannya ke arah Hana. Kedua perempuan itu telah siap, demi mempertaruhkan harga diri masing-masing dan menjadi penerus sang ayah. Freya sebenarnya tak ingin sampai melu
Damian pergi ke tengah lapangan dan mengajarkan beberapa teknik dasar berpedang seorang ksatria sihir. Sedangkan Zack, membaca buku tentang mantra sihir yang diberikan oleh Jafar kepala akademi. Ryder yang begitu bersemangat tidak sadar jika darah terus menetes di lengannya. Sontak para murid ber
Ryder melihat sekelilingnya dengan kagum, bangunan besar dengan desain dan interior yang mewah begitu memanjakan mata. Ruangan kepala akademi dijaga begitu ketat, hanya orang-orang yang memiliki akses bisa memasuki area kepala akademi.Pria tua itu mempersilahkan Ryder duduk, selagi menyeduhkan sec
Freya memikirkan segala hal yang bisa menguntungkan dan merugikan untuknya, namun, untuk urusan pengobatan pasti Tetua Jura sangat bisa membantunya. Tanpa pikir panjang, Freya memerintahkan Tetua Jura untuk tunduk diatas perintahnya dan menyembuhkan semua orang yang membutuhkan pengobatan di wila






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore