Mag-log inJuno bukanlah manusia biasa; ia adalah seorang Hybrid manusia-kucing dengan kemampuan predator yang luar biasa, hasil rekayasa genetik klan kuno Lunar Guardian. Hidupnya yang liar berubah drastis saat ia bertemu dengan Arina Kirana, seorang aktris terkenal yang menjadi saksi rahasia dunianya. Demi melindungi Arina dari kejaran organisasi Syndicate, Juno membawanya melarikan diri ke hutan-hutan terdalam Indonesia. Cinta mereka diuji saat Arina sekarat akibat serangan musuh. Dalam keputusasaan, Juno membagikan darahnya melalui transfusi mistis yang menyelamatkan Arina, namun mengubah gadis itu menjadi manusia dengan kekuatan perak yang misterius. Keduanya kini terikat dalam satu nadi yang sama.
view moreLampu sorot studio foto itu terasa membakar kulit Arina Kirana. Sudah lima jam ia berpose di depan kamera dengan berbagai gaun couture yang beratnya mencapai lima kilogram. Senyumnya masih terpasang sempurna,senyum sejuta dollar yang membuatnya menjadi komoditas paling berharga di industri hiburan saat ini.
Namun, di balik binar matanya, Arina hanya ingin satu hal melepas sepatu hak tingginya dan menghilang dari muka bumi untuk sementara. "Satu gaya lagi, Arina! Tatapan lebih tajam, lebih fierce!" seru sang fotografer. Arina menurut. Ia memutar tubuh, membiarkan kain sutra gaunnya melambai indah. Di sudut ruangan, berdiri seorang pria yang tampak tidak selaras dengan kemewahan studio itu. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang pas di tubuh tegapnya, dengan earpiece melingkar di telinga dan ekspresi wajah yang lebih keras daripada beton. Itu adalah Juno. Bodyguard barunya yang baru bekerja selama tiga hari. Sejak surat ancaman yang ditulis dengan tinta merah darah itu sampai ke meja manajemen Arina, Juno resmi menjadi bayang-bayangnya. Pria itu tidak banyak bicara. Ia tidak terpesona dengan kecantikan Arina, tidak meminta tanda tangan, bahkan hampir tidak pernah berkedip. "Selesai! Great job, Arina!" Arina langsung mengembuskan napas lega. Bahunya merosot saat asisten pribadinya, Siska, datang membawakan jubah mandi untuk menutupi gaunnya. Arina melirik jam tangan perak di pergelangan tangan Siska. Pukul 17.15. Ia menatap Juno yang sedang memindai pintu keluar studio dengan waspada. "Juno," panggil Arina. Pria itu menoleh sedikit, dagunya terangkat. "Ya, Nona Arina?" "Setelah ini kita ke apartemen. Aku ada janji makan malam dengan manajer jam tujuh," kata Arina sambil berjalan menuju ruang ganti. Juno terdiam sejenak. Matanya melirik jam dinding studio dengan sorot yang hampir terlihat seperti ketakutan. "Saya akan mengantar Anda sampai pintu apartemen, Nona. Tapi setelah itu, saya harus pergi." Arina berhenti melangkah dan berbalik, alisnya bertaut. "Lagi? Ini hari ketiga kamu minta izin pulang tepat jam enam. Ancaman untukku itu serius, Juno. Agensimu bilang kamu yang terbaik karena kamu bisa siaga 24 jam." "Peraturan saya tetap sama, Nona. Pukul enam sore sampai enam pagi, saya harus berada di tempat pribadi saya. Itu ada di kontrak," jawab Juno dengan suara rendah namun tegas. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Arina mendengus kesal. "Kamu ini bodyguard atau Cinderella?" Juno tidak menjawab. Ia hanya terus mengawasi sekitar, memastikan jalan menuju mobil aman. Perjalanan menuju apartemen mewah Arina di pusat Jakarta ditempuh dalam waktu empat puluh menit karena kemacetan yang menggila. Di dalam mobil Alphard yang kedap suara itu, suasana terasa canggung. Arina sibuk dengan ponselnya, sementara Juno duduk di kursi depan di samping sopir, terus-menerus melihat arloji taktis di pergelangan tangannya. 17.50. Jantung Juno mulai berdegup kencang. Ia bisa merasakan sensasi panas yang mulai merayap di sepanjang tulang belakangnya—pertanda awal dari kutukan yang sudah mendarah daging di keluarganya selama tiga generasi. Ibunya menyebutnya "Warisan Sang Rembulan", tapi bagi Juno, ini adalah kutukan yang menghancurkan hidupnya. "Juno, kamu keringatan? AC-nya kurang dingin?" Arina bertanya dari kursi belakang, memperhatikan tengkuk Juno yang mulai basah. "Saya baik-baik saja," bohong Juno. Suaranya sedikit bergetar. Tangannya mencengkeram lutut, berusaha menahan rasa sakit saat sel-sel tubuhnya mulai menolak bentuk manusianya. 17.55. Mobil berhenti di lobi apartemen. Juno turun dengan cepat, membuka pintu untuk Arina tanpa menunggu sopir. "Masuklah, Nona. Pastikan semua kunci pintu ganda aktif. Saya akan kembali besok pagi jam enam tajam," kata Juno terengah-engah. Ia bahkan tidak menunggu balasan Arina dan langsung berlari menuju lift servis yang lebih sepi, berharap tidak ada orang di sana. Arina berdiri terpaku di lobi, menatap punggung bodyguard-nya dengan rasa penasaran yang memuncak. "Ada yang tidak beres dengan pria itu," gumamnya. Sementara itu, di dalam lift yang bergerak naik, Juno ambruk di lantai. Ia mencengkeram jas mahalnya yang mulai terasa sangat longgar. Rasa gatal yang hebat menyerang seluruh kulitnya saat bulu-bulu halus mulai tumbuh dengan cepat. Tulang-tulangnya berderak, mengecil, dan bergeser posisi. Pukul 18.00 tepat. Jas hitam, kemeja putih, dan dasi sutra itu kini tergeletak tumpuk di lantai lift yang kosong. Di tengah tumpukan kain itu, terjadi pergerakan. Seekor kucing persia dengan bulu lebat berwarna abu-abu asap muncul dari balik kerah kemeja. Matanya yang tajam berwarna kuning keemasan—sama persis dengan warna mata Juno saat menjadi manusia—menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Juno, dalam wujud kucingnya, mendesah yang terdengar seperti dengusan pelan. Ia benci menjadi kecil. Ia benci menjadi lemah. Tiba-tiba, pintu lift berdenting terbuka di lantai apartemen Arina. Sebelum Juno sempat melompat keluar untuk bersembunyi di tangga darurat, sebuah tangan lembut meraih tubuhnya. "Lho? Kucing siapa ini?" Juno membeku. Aroma parfum jasmine dan vanilla yang sangat ia kenali memenuhi indra penciumannya yang kini sepuluh kali lebih tajam. Itu Arina. Arina mengangkat kucing itu tepat di depan wajahnya. "Cantik sekali... Bulunya abu-abu seperti... seperti mata bodyguard-ku yang aneh itu." Juno ingin mengerang, tapi yang keluar justru suara "Meow" yang sangat menyedihkan. "Kamu sendirian di sini? Kamu kedinginan ya, manis? Tubuhmu gemetaran," kata Arina dengan suara yang jauh lebih lembut daripada yang pernah Juno dengar saat mereka bicara sebagai manusia. Tanpa bisa melawan, sang bodyguard tangguh itu kini didekap erat di dada Arina, dibawa masuk ke dalam apartemen mewah yang seharusnya ia jaga dari luar. Juno tahu, malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.Suasana di dalam gua Matahari Hitam mendadak menjadi sangat dingin meskipun kristal-kristal oranye masih memancarkan panas yang menyengat. Lady Elara berdiri dengan anggun di atas batuan yang menonjol, jubah peraknya berkilau terkena pantulan kolam merkuri. Di belakangnya, para pengawal elit klan yang disebut Shadow Sentinels telah mengepung setiap sudut ruangan dengan tombak energi yang bergetar. "Kebebasan adalah ilusi yang manis, Juno," ucap Elara, suaranya bergema dengan nada meremehkan. "Kau pikir sinkronisasi ini untuk dirimu sendiri? Ritual ini dirancang agar klan memiliki pemimpin yang stabil. Kau dan Arina adalah fondasi baru dari tatanan dunia yang akan kita bangun." Juno melangkah maju, menghalangi pandangan Elara dari Arina. Mata emas-oranyenya kini memancarkan tekanan gravitasi yang membuat lantai gua sedikit retak. "Ibu selalu melihat orang sebagai bidak. Tapi kau lupa satu hal. Bidak ini baru saja memakan rajanya. Kau tidak punya kuasa lagi di sini." Arina,
Suara gemuruh air terjun hitam itu terdengar seperti ribuan suara yang meratap, menciptakan suasana yang mencekam di pintu masuk gua Matahari Hitam. Kabut perak tipis mengepul dari tubuh Arina, beradu dengan aura emas Juno yang semakin redup. Sang Shaman suku Apar berdiri mematung, tangannya yang keriput terulur ke arah Arina, menanti jawaban yang akan mengubah segalanya. "Arina, jangan lakukan ini," bisik Juno, suaranya bergetar hebat. Ia mencoba melangkah maju, namun tekanan magnetik dari dalam gua seolah memaku kakinya ke bumi. "Lebih baik kita mati sebagai diri kita sendiri daripada hidup sebagai orang asing bagi satu sama lain." Arina menoleh ke arah Juno. Air mata mengalir di pipinya, namun senyum tipis yang penuh kedamaian tersungging di bibirnya. Lingkaran perak di matanya kini bersinar dengan kejernihan yang menyakitkan. "Juno," ucap Arina, suaranya terdengar begitu merdu namun penuh ketegasan. "Sejak awal, aku adalah seorang aktris. Aku menghabiskan hidupku unt
Kabut di Lembah Ujian bukan sekadar uap air, itu adalah sisa-sisa energi purba yang mampu mengupas lapisan kesadaran manusia. Juno berlutut di atas tanah yang lembap, napasnya tersengal. Di wilayah ini, di mana anomali magnetik Matahari Hitam mendominasi, energi bulan yang biasanya menjadi sumber kekuatannya seolah dihisap keluar. Tubuhnya terasa berat, seolah gravitasi di tempat ini dua kali lebih kuat bagi siapa pun yang membawa darah murni Lunar Guardian. "Juno, bertahanlah!" Arina memeluk bahu Juno, mencoba menopang tubuh pria itu. Namun, penglihatan mereka mulai terdistorsi. Dari balik kabut, muncul sosok Paman Geryon dan para tetua klan lainnya. Mereka berdiri melingkar, wajah mereka tampak busuk dan mata mereka kosong, mengeluarkan bisikan-bisikan yang merobek mental. "Kau hanyalah monster yang gagal, Juno..." bisik bayangan Geryon. "Kau membawa wanita ini menuju kematiannya hanya karena ego cintamu." Juno mengerang, mencengkeram kepalanya. "Itu tidak nyata... Arina, ja
Fajar di pesisir Jawa Tengah membawa semburat warna merah darah di ufuk timur, seolah memberi peringatan bahwa waktu istirahat telah habis. Juno berdiri di tepi dermaga kecil, menatap cakrawala dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Arina sedang menyesuaikan ransel taktisnya. Lingkaran perak di matanya kini tampak lebih stabil, tidak lagi berpendar liar, namun memberikan kesan mistis yang mendalam pada parasnya yang jelita. "Neon baru saja mengirimkan koordinat terakhir," ucap Arina, memecah kesunyian. "Pesawat kargo pribadi klan akan menjemput kita di bandara kecil dekat sini. Kita akan terbang menuju pedalaman Kalimantan Utara, lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu menyusuri Sungai Mahakam menuju wilayah yang tak terpetakan." Juno mengangguk, namun raut wajahnya tampak berat. "Aku pernah mendengar cerita tentang wilayah itu dari para tetua saat aku masih kecil. Mereka menyebutnya Tanah Para Leluhur. Tapi ada satu hal yang mereka rahasiakan ,alasan mengapa klan kita tid
Pagi harinya, apartemen Arina kembali tenang setelah sisa-sisa pesta dibersihkan oleh staf. Namun, bagi Juno, ketenangan itu adalah awal dari siksaan baru. Ia terbangun tepat pukul enam pagi di balik sofa, dengan rasa pegal di sekujur tubuhnya akibat tidur meringkuk dalam wujud kucing. Begitu beru
Hari itu, suasana di lokasi syuting iklan produk kecantikan terasa sangat tegang. Arina Kirana, yang biasanya dikenal profesional, kali ini terlihat tidak fokus. Ia berulang kali melakukan kesalahan pada dialognya yang sebenarnya sederhana. Penyebabnya hanya satu: ia masih memikirkan hilangnya "Moc
Keheningan di apartemen itu terasa lebih menyesakkan daripada suara sirine yang meraung tadi. Arina masih menatap Juno dengan mata yang menuntut penjelasan. Di sudut ruangan, Siska dan beberapa petugas keamanan gedung tampak sibuk mencatat kerusakan pada pintu, namun bagi Arina, dunia hanya terd
Dering ponsel itu terdengar seperti suara bom waktu bagi Juno. Di bawah sofa yang hanya berjarak dua meter dari kaki Arina, benda digital itu terus bergetar hebat, mengeluarkan melodi standar yang seharusnya dijawab oleh sang bodyguard. Arina menghentikan usapannya pada bulu Mochi. Dahinya berker






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu