INICIAR SESIÓNHelena, wanita berusia 20 tahun, pemilik pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia. Kalian mau mencari apa? makanan?, minuman?,camilan?, pakaian?, dekorasi rumah?, perabotan? Atau kendaraan?. Semuanya tersedia lengkap di toko milik Helena. Dibalik kesuksesan yang ia miliki, akan ada orang yang berusaha untuk menghancurkannya. Suatu ketika, Helena datang ke toko miliknya karena pegawainya yang tidak datang. Namun, tak disangka ia malah mati terbunuh di tangan sang pencuri. Bukannya masuk surga atau neraka, ia malah masuk ke tubuh seorang wanita miskin yang hidup di pinggir desa. Dengan ditemani sistem yang perhatian, pelan pelan Helena berhasil mendapatkan kehidupan yang layak. Namun, sistem memberikan misi utama yang sangat mustahil-Menjadi permaisuri kerajaan. Ada banyak rahasia yang harus Helena bongkar untuk mendapatkan imbalan yang besar. Seperti apa perjalanan Helena di dunia barunya? Simak kelanjutan ceritanya di sini.
Ver másLangit Jakarta dipenuhi awan hitam kelabu sejak pagi. Hujan besar seolah tinggal menunggu waktu untuk turun dan menelan seluruh kota.
Namun dibanding memikirkan cuaca, Helena justru lebih kesal melihat kondisi pusat perbelanjaannya sendiri. Toko itu benar-benar kacau. Pelanggan memadati setiap sudut ruangan, sementara suara mesin pembayaran dan keluhan pelanggan bercampur menjadi hiruk-pikuk yang memekakkan telinga. “Helena! Akhirnya datang juga!” Riska berlari menghampirinya dengan wajah frustrasi. “Pegawai hari ini gak ada yang masuk sama sekali!” “Nanti saja jelasinnya. Layani pelanggan dulu.”Helena langsung membantu di kasir tanpa banyak bicara. Meski penampilannya elegan dan terkenal sebagai pemilik pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, ia tetap bekerja dengan gesit. Tak seperti pemilik pada umumnya, ia tak keberatan mengerjakan tugas seperti ini. Satu jam kemudian, toko akhirnya mulai sepi. Riska menghela napas lega sebelum berjalan ke gudang mengecek stok barang. Sementara itu, Helena duduk santai di dekat meja kasir sambil memainkan.ponselnya. Tiba-tiba sebuah situs asing muncul di layar. [Apakah Anda percaya adanya dunia lain?] Helena mengernyit bingung. “Aneh.” Karena bosan dan iseng, ia menekan tombol “Ya”. Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan. Helena menjawab semuanya asal-asalan sambil sesekali tertawa kecil. Namun setelah pertanyaan terakhir selesai… layar itu berubah. [Sistem sedang menganalisis data…] Firasat aneh langsung muncul di dalam dada Helena. Dan tepat saat itu— Kreeet… Suara langkah pelan menyeret di lantai keramik, bergema di antara lorong rak yang remang. Helena langsung menoleh, napasnya tertahan. “Siapa di sana?” Hening. Hanya dengung lampu yang berkedip di atasnya. Detik berikutnya, Seorang pria bermasker hitam muncul dari balik tumpukan mi instan. Tangan kanannya menggenggam pisau dapur bergerigi, dengan karat bewarna coklat di ujungnya. “Jangan teriak atau kau tau akibatnya,” bisiknya seraya mengacungkan pisau di depan wajah Helena. “Serahkan uangnya sekarang!.” Helena mundur selangkah, dan menatap pria itu tajam. “Pergi.” Pria itu menyeringai di balik masker. Tanpa peringatan, dia menerjang menyerang Helena. BRAK!! Punggung Helena menghantam rak kayu di sampingnya. Kaleng-kaleng berjatuhan, menghujani lantai dengan dentang denting yang berisik. Helena mencoba menyerang pria itu dengan sikunya. Belum menyentuh rahang, pria itu mencengkram tangan Helena dan mematahkannya. "Argh!! Bajingan!," Rintih Helena. Gerakan pria itu tampak gesit dan terlatih. Helena meronta, kemudian mengarahkan kakinya menghantam selangkangan si pria. Pria itu mengerang kesakitan, bukannya melepaskan Helena, pria itu membalasnya dengan kepalanya. DUK! Dunia Helena berputar saat dahinya bertemu dengan dahi pria itu. Darah langsung mengucur perlahan, mengalir menuju hidung dan bibirnya. “Kau mau mati, jalang?!” CRASSSHH!! Sesuatu yang dingin langsung menusuk kulit Helena, ralat-menusuk daging Helena dengan sangat dalam. Waktu melambat. Helena menunduk. Gagang plastik hitam pisau itu menonjol dari perutnya, persis di bawah tulang rusuk. Bajunya langsung berubah merah, basah, dan lengket. Rasa panas menyebar, dan diikuti rasa sakit yang tak tertahankan "Dasar keparat!. Jika aku mati, aku akan menghantui mu setiap malam. Jika aku hidup, akan aku pastikan, kau akan mendekam di penjara!," Helena menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah. Pria itu membelalak. Napasnya tercekat. Udara mendadak terlalu tebal untuk dihirup. Dengan panik, ia langsung menarik pisaunya keluar. SRRRT—CRASSH!! "Ahhkk, sialan!," Darah menyembur deras, mengotori semua yang ada di dekatnya. Pandangan Helena mulai berkunang-kunang. Helena memegang rak di belakangnya agar bisa berdiri. Namun, rak itu juga tak kuat menopang tubuhnya hingga kemudian jatuh menimpa sebagian tubuhnya. Melihat Helena yang terluka parah, pria itu bergegas meninggalkan TKP tanpa meninggalkan bukti apapun. Lantai toko yang sebelumnya putih kini dipenuhi dengan genangan merah yang terus menyebar dari tubuh Helena yang tergeletak tak berdaya. Tangannya yang gemetar masih menggenggam ponsel. Dan layar itu kembali menyala. [Analisis selesai…] [Proses pemindahan dimulai…] “R-riska…” Suara Helena nyaris tak terdengar. Kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan. Dan di saat yang sama—badai besar di luar akhirnya pecah sepenuhnya. *** Gelap. Sangat gelap. Helena perlahan membuka mata sambil mencoba mengatur napas. Kepalanya terasa berat, sementara tubuhnya sangat sulit digerakkan. Ia mencoba menyentuh sekelilingnya. Sempit. Keras. Dan dingin. Jantung Helena langsung berdetak kencang. “…Jangan bilang.” Tangannya menyentuh permukaan kayu tepat di atas kepalanya. Peti mati. Napas Helena mulai memburu saat aroma busuk menyengat menyerang hidungnya. Dan tepat ketika kepanikan mulai menguasai pikirannya— DING. Suara itu datang tanpa peringatan, menembus kepalanya langsung. Bukan suara dari luar. Tetapi, berasal dari kepalanya sendiri. [Unit kesadaran terdeteksi.] [Sinkronisasi berhasil.] [Selamat datang, di kehidupan kedua, nona Helena.][DING!] Suara notifikasi sistem berhasil membangunkan Helena dari mimpi indahnya. MISI HARIAN SPESIAL Kenakan panci sebagai topi selama satu jam penuh sambil berkeliling Desa Arva. Tambahan: Host wajib berkotek seperti ayam setiap lima menit. Hadiah: 1.000 XP Kegagalan: Gatal di telapak kaki selama 24 jam. Level: Tidak bisa digaruk, tidak bisa tidur. Helena menatap rentetan huruf di depannya, mengucek matanya kemudian menoleh ke kiri, ke kanan, lalu kembali ke depan. Tulisannya masih ada, ini bukan mimpi. "Ryo." [Ya, Tuan.] "Aku ingin bertanya." [Silakan, Saya siap menjawab 1.200 pertanyaan.] "Apakah kau membenciku?" [Tidak.] "Misinya nanti aja ya..." [Sistem mendeteksi penundaan. Mengaktifkan hitung mundur gatal. 10... 9...] "HEH?!" Pagi ini, Desa Arva mempunyai cerita untuk diceritakan ke keluarga. Di jalan utama Desa tampak seorang perempuan cantik berambut coklat tengah berjalan dengan panci besar di kepalanya. Ia berjalan tegak seperti militer,
Malam telah turun sepenuhnya di Istana Asteria. Malam ini ditemani hujan tipis yang mengetuk kaca jendela, membuat cahaya keemasan dari lampu kristal bergoyang lembut di atas taplak meja sutra biru. Aroma daging memenuhi ruangan itu.Raja Alistair duduk tegap di ujung meja. Di kanannya, Ratu Elara, anggun dengan gaun warna lavender. Anak pertama—Valerian bersandar santai, memainkan pisau buah di tangannya. Di hadapannya, Kael duduk tegak, memotong dagingnya dengan simetris. Dan di ujung lain, Aurelia, matanya lebih sibuk mengamati kakak-kakaknya daripada makanannya.Untuk sepuluh menit pertama, hanya ada denting sendok dan suara hujan. Damai.Hingga akhirnya Ratu meletakkan cangkir teh porselennya."Kael."Sendok Kael berhenti satu senti di atas piring. Dia mengangkat pandangannya.Ratu tersenyum tipis, "Beberapa malam terakhir kau jarang terlihat di istana. Bahkan Sir Darius bilang kau melewatkan tiga latihan pagi berturut-turut."Aurelia yang sedang menyeruput sup langsung menajam
Setelah semua yang terjadi kemarin, Helena kembali beraktivitas seperti biasanya. Memasak untuk perut pelanggannya yang lapar.Helena mengikat rambutnya tinggi-tinggi, lengan baju digulung sampai siku. Celemek sederhana melingkar di pinggang. Tidak ada gaun biru gelap, tidak ada surat izin berbingkai emas. Hanya dia, kompor, dan tumpukan bahan yang menunggu untuk diolah."Ryo, status hari ini."[ STATUS WARUNG ]────────────────────────────Stok: AmanPoin: 87Izin Dagang: AktifReputasi: Diakui KerajaanAntrean: 0 — Warung belum buka————————————————————"Baiklah, kita mulai!," Seru Helena semangat.Ia mulai dengan rendang. Daging sapi dari toko sistem sudah ia rebus sejak matahari baru terbit. Tok... tok... tok... Lesung kembali beradu. Cabai, bawang, jahe, kunyit, kayu manis. Ya, kayu manis. Sekarang legal."Ehmm, capek.. tapi aromanya lebih keluar," Ucap Helena seraya mengusap pelipisnya yang mengeluarkan keringat.[Tentu, metode tradisional dapat meningkatkan rasa dan aroma.]H
"Produksi lokal dengan sentuhan impor," jawab Helena sambil menyalakan kompor. "Mau kopinya pahit, atau pakai susu dan gula? Oh, gula juga impor. Manisnya beda." Ding. [Progres Misi Jaringan Kerajaan: 15% → 30%] [Anda telah membuat kontak pertama dengan agen kerajaan dan berhasil menahan penangkapan] [Lanjutkan negosiasi untuk membuka jalur bangsawan. Risiko: Menengah] Helena menuang air panas ke bubuk kopi yang baru digiling. Aroma itu meledak, memenuhi seluruh rumah. Dorian yang sedari tadi tegang, tanpa sadar menelan ludah. Babak baru bukan dimulai dengan mesin cuci. Tapi dengan ancaman, semangkuk soto, dan secangkir kopi yang harganya bisa beli satu desa. Dan 2 mesin di gudang? Helena melirik ke sana sambil menyodorkan cangkir tanah liat ke Dorian. "Itu untuk pemenang lelang yang saya adakan nanti. Di ibu kota. Dengan izin Anda, tentu saja, Inspektur."Dorian Veylan duduk kaku di kursi kayu Helena. Cangkir tanah liat di tangannya masih mengepul. Aroma kopi hitam itu asing,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.