Takdir di Balik kebohongan

Takdir di Balik kebohongan

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-06-12
Oleh:  MiyBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
13Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ia mati setelah hari yang melelahkan. Namun, ketika ia membuka matanya bukanlah di rumah sakit. Melainkan di tubuh Seraphine Virellyn, antagonis yang bernasib tragis dalam novel yang baru saja ia baca. Karena sudah mengetahui akhir ceritanya, ia memilih mengikuti alur yang ada. Ingin hidup tenang, tidak mencari masalah dengan protagonis di dalam novel apalagi mengejarnya. Dan tentu saja tidak akan mengulangi nasib buruk Seraphine di cerita asli. Apakah akan berjalan sesuai rencananya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

One

Sera menutup novel Rosé Affection dengan dengusan kesal. Tokoh antagonisnya, Seraphine Virellyn, memiliki segalanya- wajah cantik, keluarga kaya, dan kehidupan mewah. Tetapi justru menghabiskan hidupnya mengejar pria yang tidak mencintainya.

“Kalau aku jadi dia, mending nikmatin hidup daripada ngemis cinta,” gumamnya. Dalam perjalanan pulang malam itu, nasib buruk datang beruntun. Diganggu sekelompok preman, ia berlari tanpa arah dan tertabrak mobil. Saat kesadarannya menghilang, ia hanya sempat berpikir bahwa hidupnya berakhir dengan cara yang sangat menyebalkan.

Ketika membuka mata kembali, Sera tidak berada di rumah sakit. Ia terbangun dikamar mewah yang asing, dengan perasaan yang sangat aneh.

Baru ketika ia menurunkan kaki dari ranjang dan mencoba berdiri, sesuatu terasa benar-benar salah. Tubuhnya terasa berbeda. Awalnya ia tidak mampu menjelaskan perbedaannya, tetapi semakin lama ia memperhatikannya semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Tangannya tampak lebih kecil dan ramping. Kulitnya jauh lebih halus dibanding yang ia ingat. Tidak ada bekas luka kecil di punggung tangan kirinya yang pernah ia dapatkan saat masih sekolah, tidak ada tanda-tanda yang selama ini begitu familiar baginya. Ia membolak-balik kedua tangannya dengan tatapan kosong sebelum rasa dingin perlahan menjalar di sepanjang punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ketakutan mulai mengambil alih pikirannya.

"Ini... siapa?" bisiknya lirih.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Tidak ada suara misterius, tidak ada sosok yang muncul dari balik cermin. Namun sesaat setelah kata-kata itu keluar dari bibirnya, kepalanya mendadak terasa berat. Potongan-potongan ingatan yang bukan miliknya bermunculan tanpa peringatan, memenuhi pikirannya dengan nama, wajah, dan perasaan yang asing. Ia melihat tatapan penuh ketakutan yang ditujukan pada perempuan di dalam cermin itu, mendengar bisikan-bisikan sinis yang selalu muncul saat sosok tersebut lewat, serta merasakan kebencian yang begitu nyata hingga membuat dadanya sesak. Di tengah semua kekacauan itu, hanya satu nama yang muncul paling jelas, seolah dipaksa terukir ke dalam benaknya. Seraphine Virellyn. Nama itu terasa asing, tetapi pada saat yang sama terlalu berat untuk diabaikan. Napasnya tercekat. Ia mundur beberapa langkah hingga pinggangnya membenturmeja kecil di samping ranjang. Jantungnya berdetak tidak beraturan sementara kepalanya berusaha menyusun semua kepingan yang baru saja diterimanya. Sedikit demi sedikit, kesadaran yang selama ini ia hindari mulai terbentuk. Ia tidak sedang bermimpi. Ia juga tidak sedang mengalami halusinasi. Ia memang masih hidup, tetapi bukan sebagai dirinya sendiri. Entah bagaimana, ia telah terbangun di tubuh seorang perempuan lain. Lebih buruk lagi, perempuan itu bukan tokoh biasa.

Ia mengenal nama itu.

Seraphine Virellyn adalah antagonis dalam novel yang terakhir kali ia baca sebelum kematiannya. Seorang perempuan cantik dengan reputasi buruk, dipenuhi kesombongan, kebencian, dan berbagai tindakan yang membuat hampir semua orang menjauhinya. Sepanjang cerita, nama Seraphine selalu hadir sebagai penghalang bagi tokoh utama. Ia menindas, memfitnah, dan menyakiti banyak orang tanpa pernah memikirkan akibatnya. Dan pada akhir cerita, tidak ada seorang pun yang berdiri di sisinya. Tidak ada yang membela. Tidak ada yang menyesal ketika iajatuh. Nasib tragis yang diterimanya terasa pantas bagi semua orang yang mengenal kisah itu. Termasuk dirinya.

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan kepanikan yang perlahan merayapi pikirannya. Berteriak tidak akan mengubah keadaan. Menyangkal kenyataan juga tidak akan membawanya kembali ke kehidupannya yang lama. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, ia kembali membuka mata dan menatap sosok perempuan di dalam cermin. Wajah itu tetap asing, tetapi mulai saat ini ia tidak punya pilihan selain menerimanya.

"Apa pun yang sudah kau lakukan," gumamnya pelan sambil menatap pantulannya sendiri, "Aku juga yang harus menanggung akibatnya sekarang."

Ingatan terakhir pemilik tubuh ini muncul di benaknya. Saat itu ia berada di sekolah, tepatnya di toilet perempuan. Membully dan menindas anak-anak yang dianggap lemah, culun, atau tidak memiliki siapa pun untuk membela mereka.

"Kamu didiemin malah makin ngelunjak, ya? Aku udah bilang jangan deketin Kazio. Paham?!" gertaknya kepada perempuan di hadapannya.

Namun tidak ada jawaban.

Tubuh ini langsung menarik rambut perempuan itu dengan kasar hingga wajahnya terangkat paksa.

"Gatel banget jadi cewek, ya? Nih, Aku garukin."

Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri perempuan itu, disusul tamparan lainnya dipipi kanan. Setelah itu, tubuh ini mendorongnya hingga terjatuh di dekat closet sebelum menyiramkan air dingin ke tubuhnya tanpa rasa bersalah.

"Bajingan!."

BRAK!

Seseorang memasuki toilet perempuan dengan kasar. Tatapannya langsung tertuju pada Sera, penuh amarah dan ketidaksukaan.

Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu bergegas menghampiri perempuan yang sudah pingsan di lantai. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya, bak seorang pahlawan yang datang di saat yang tepat.

Tatapan tajam yang ia berikan kepada Sera terasa lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Lalu suara-suara mulai bermunculan.

Cacian.

Makian.

Bisikan penuh hinaan.

Mereka menyebutnya pembully, monster, perempuan gila, dan berbagai sebutan lainnya. Semua suara itu bercampur menjadi satu hingga memenuhi kepalanya.

"ARGHHH!"

Ingatan itu datang terlalu mendadak.

Kepalanya terasa seperti akan pecah. Pandangannya menggelap, tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan dalam kesunyian kamarnya, Sera kembali jatuh pingsan.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
6 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status