LOGINIa mati setelah hari yang melelahkan. Namun, ketika ia membuka matanya bukanlah di rumah sakit. Melainkan di tubuh Seraphine Virellyn, antagonis yang bernasib tragis dalam novel yang baru saja ia baca. Karena sudah mengetahui akhir ceritanya, ia memilih mengikuti alur yang ada. Ingin hidup tenang, tidak mencari masalah dengan protagonis di dalam novel apalagi mengejarnya. Dan tentu saja tidak akan mengulangi nasib buruk Seraphine di cerita asli. Apakah akan berjalan sesuai rencananya?
View MoreSera menutup novel Rosé Affection dengan dengusan kesal. Tokoh antagonisnya, Seraphine Virellyn, memiliki segalanya- wajah cantik, keluarga kaya, dan kehidupan mewah. Tetapi justru menghabiskan hidupnya mengejar pria yang tidak mencintainya.
“Kalau aku jadi dia, mending nikmatin hidup daripada ngemis cinta,” gumamnya. Dalam perjalanan pulang malam itu, nasib buruk datang beruntun. Diganggu sekelompok preman, ia berlari tanpa arah dan tertabrak mobil. Saat kesadarannya menghilang, ia hanya sempat berpikir bahwa hidupnya berakhir dengan cara yang sangat menyebalkan.
Ketika membuka mata kembali, Sera tidak berada di rumah sakit. Ia terbangun dikamar mewah yang asing, dengan perasaan yang sangat aneh.
Baru ketika ia menurunkan kaki dari ranjang dan mencoba berdiri, sesuatu terasa benar-benar salah. Tubuhnya terasa berbeda. Awalnya ia tidak mampu menjelaskan perbedaannya, tetapi semakin lama ia memperhatikannya semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Tangannya tampak lebih kecil dan ramping. Kulitnya jauh lebih halus dibanding yang ia ingat. Tidak ada bekas luka kecil di punggung tangan kirinya yang pernah ia dapatkan saat masih sekolah, tidak ada tanda-tanda yang selama ini begitu familiar baginya. Ia membolak-balik kedua tangannya dengan tatapan kosong sebelum rasa dingin perlahan menjalar di sepanjang punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ketakutan mulai mengambil alih pikirannya.
"Ini... siapa?" bisiknya lirih.
Tidak ada jawaban yang terdengar. Tidak ada suara misterius, tidak ada sosok yang muncul dari balik cermin. Namun sesaat setelah kata-kata itu keluar dari bibirnya, kepalanya mendadak terasa berat. Potongan-potongan ingatan yang bukan miliknya bermunculan tanpa peringatan, memenuhi pikirannya dengan nama, wajah, dan perasaan yang asing. Ia melihat tatapan penuh ketakutan yang ditujukan pada perempuan di dalam cermin itu, mendengar bisikan-bisikan sinis yang selalu muncul saat sosok tersebut lewat, serta merasakan kebencian yang begitu nyata hingga membuat dadanya sesak. Di tengah semua kekacauan itu, hanya satu nama yang muncul paling jelas, seolah dipaksa terukir ke dalam benaknya. Seraphine Virellyn. Nama itu terasa asing, tetapi pada saat yang sama terlalu berat untuk diabaikan. Napasnya tercekat. Ia mundur beberapa langkah hingga pinggangnya membenturmeja kecil di samping ranjang. Jantungnya berdetak tidak beraturan sementara kepalanya berusaha menyusun semua kepingan yang baru saja diterimanya. Sedikit demi sedikit, kesadaran yang selama ini ia hindari mulai terbentuk. Ia tidak sedang bermimpi. Ia juga tidak sedang mengalami halusinasi. Ia memang masih hidup, tetapi bukan sebagai dirinya sendiri. Entah bagaimana, ia telah terbangun di tubuh seorang perempuan lain. Lebih buruk lagi, perempuan itu bukan tokoh biasa.
Ia mengenal nama itu.
Seraphine Virellyn adalah antagonis dalam novel yang terakhir kali ia baca sebelum kematiannya. Seorang perempuan cantik dengan reputasi buruk, dipenuhi kesombongan, kebencian, dan berbagai tindakan yang membuat hampir semua orang menjauhinya. Sepanjang cerita, nama Seraphine selalu hadir sebagai penghalang bagi tokoh utama. Ia menindas, memfitnah, dan menyakiti banyak orang tanpa pernah memikirkan akibatnya. Dan pada akhir cerita, tidak ada seorang pun yang berdiri di sisinya. Tidak ada yang membela. Tidak ada yang menyesal ketika iajatuh. Nasib tragis yang diterimanya terasa pantas bagi semua orang yang mengenal kisah itu. Termasuk dirinya.
Ia memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan kepanikan yang perlahan merayapi pikirannya. Berteriak tidak akan mengubah keadaan. Menyangkal kenyataan juga tidak akan membawanya kembali ke kehidupannya yang lama. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, ia kembali membuka mata dan menatap sosok perempuan di dalam cermin. Wajah itu tetap asing, tetapi mulai saat ini ia tidak punya pilihan selain menerimanya.
"Apa pun yang sudah kau lakukan," gumamnya pelan sambil menatap pantulannya sendiri, "Aku juga yang harus menanggung akibatnya sekarang."
Ingatan terakhir pemilik tubuh ini muncul di benaknya. Saat itu ia berada di sekolah, tepatnya di toilet perempuan. Membully dan menindas anak-anak yang dianggap lemah, culun, atau tidak memiliki siapa pun untuk membela mereka.
"Kamu didiemin malah makin ngelunjak, ya? Aku udah bilang jangan deketin Kazio. Paham?!" gertaknya kepada perempuan di hadapannya.
Namun tidak ada jawaban.
Tubuh ini langsung menarik rambut perempuan itu dengan kasar hingga wajahnya terangkat paksa.
"Gatel banget jadi cewek, ya? Nih, Aku garukin."
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri perempuan itu, disusul tamparan lainnya dipipi kanan. Setelah itu, tubuh ini mendorongnya hingga terjatuh di dekat closet sebelum menyiramkan air dingin ke tubuhnya tanpa rasa bersalah.
"Bajingan!."
BRAK!
Seseorang memasuki toilet perempuan dengan kasar. Tatapannya langsung tertuju pada Sera, penuh amarah dan ketidaksukaan.
Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu bergegas menghampiri perempuan yang sudah pingsan di lantai. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya, bak seorang pahlawan yang datang di saat yang tepat.
Tatapan tajam yang ia berikan kepada Sera terasa lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Lalu suara-suara mulai bermunculan.
Cacian.
Makian.
Bisikan penuh hinaan.
Mereka menyebutnya pembully, monster, perempuan gila, dan berbagai sebutan lainnya. Semua suara itu bercampur menjadi satu hingga memenuhi kepalanya.
"ARGHHH!"
Ingatan itu datang terlalu mendadak.
Kepalanya terasa seperti akan pecah. Pandangannya menggelap, tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan dalam kesunyian kamarnya, Sera kembali jatuh pingsan.
Mobil hitam itu melesat membelah jalanan kota yang dipenuhi deretan pohon palem di sepanjang trotoar. Pantulan cahaya lampu kota menari di kaca mobil yang gelap, menciptakan suasana sunyi di dalamnya.Dua manusia dengan perbedaan usia dan gender duduk dalam diam. Tidak ada percakapan, tidak ada sapaan. Hanya suara mesin mobil yang menjadi pengisi ruang kosong di antara mereka.Marcell hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. Kedua tangannya sibuk mengendalikan kemudi, seolah pikirannya jauh lebih sibuk dibandingkan jalanan yang ia lewati.Sementara itu, Sera memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mengikuti setiap pemandangan yang berlalu dengan cepat. Entah kenapa, perjalanan singkat itu terasa lebih panjang dari biasanya.Tak lama kemudian, sebuah gerbang besar berwarna hitam terbuka perlahan. Mobil itu memasuki area mansion yang luas dan megah sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama.Tanpa mengatakan apapun, Sera turun dari mobil.Langkahny
"Maaf, Sera. Aku nggak sengaja."Ara menundukkan kepalanya. Nada suaranya terdengar pelan dan sedih seperti biasa."Bisa nggak sih kamu berhenti ganggu Ara?" ucap Kazio sambil berdiri di samping gadis itu.Sera menatap mereka bergantian, lalu tertawa kecil tanpa humor."What? Seriously? Aku ganggu Ara?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Cih. Buang-buang waktu banget. Lain kali jalan yang benar dan lihat ke depan."Beberapa tamu yang berada di sekitar mereka mulai melirik. Ada yang memperhatikan terang-terangan, ada pula yang hanya sekilas sebelum kembali melanjutkan obrolannya.Namun ibu-ibu yang berdiri tidak jauh dari sana tampaknya jauh lebih tertarik pada keributan kecil itu.Sera bahkan bisa melihat mereka saling berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya.Hebat.Baru beberapa menit datang, sudah jadi bahan gosip.Dari kejauhan, Marcell juga melihat kejadian itu. Namun pria itu tidak bergerak sedikit pun. Ekspresinya datar seolah sudah terlalu sering menyaksikan tingkah putrinya hin
Padahal ia baru saja menjalani kehidupan asing yang bukan miliknya, tetapi musibah sudah datang silih berganti. Baru masuk sekolah, langsung berakhir di UKS karena terkena kuah bakso panas. Nasib pemilik tubuh pembuat onar memang tidak mudah.Jika dipikir-pikir lagi, kenapa harus dirinya?Kenapa dari sekian banyak orang, justru ia yang menjadi pilihan untuk menjalani kehidupan Seraphine Virellyn?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban."Shh... sakit banget lagi nih punggung."Sera meringis pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Tangannya bergerak ke belakang, seolah ingin menyentuh bagian yang terluka. Meski tidak benar-benar menyentuh kulitnya, setidaknya gerakan itu sedikit mengurangi rasa tidak nyaman yang sejak siang terus mengganggunya.Tok.Tok.Tok.Pintu kamarnya diketuk pelan."Masuk aja," ucap Sera.Pintu terbuka dan Bi Asih masuk dengan langkah hati-hati. Seperti biasa, wanita paruh baya itu membungkukkan badan sedikit sebelum berbicara."Non
Sera menghabiskan sisa jam pelajaran di ruang UKS. Sendirian. Caroline sudah kembali ke kelasnya setelah memastikan keadaan Sera tidak terlalu parah.Awalnya ia berpikir bisa beristirahat dengan tenang. Namun ternyata tidak.Pintu UKS kembali terbuka dan beberapa orang masuk bersamaan. Ara berada di depan, disusul Kazio, Raka, Fyrian, Fyrion, serta seorang gadis yang tidak dikenalnya.Sera hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap jendela."Aku baru lihat pembully handal masuk UKS," komentar Fyrian sambil menyilangkan tangan di dada.Nada suaranya terdengar mengejek."Iya tuh," sahut gadis di samping Ara. "Ratu bully juga bisa masuk UKS ternyata."Sera memperhatikan name tag yang terpasang di seragamnya.Bella Bianna.Oh.Jadi ini salah satu teman Ara."Jangan gitu..." Ara buru-buru memotong. Wajahnya terlihat sedih. "Kan Sera jadi begini gara-gara aku."Bella langsung terdiam.Ara kemudian melangkah mendekat ke arah ranjang UKS tempat Sera duduk."Em... Sera."Sera mengangkat pan
Saat Sera duduk dengan tenang sambil menikmati roti dan susu cokelatnya, Ara terlihat berjalan dari arah stand bakso menuju meja tempat Kazio dan teman-temannya berkumpul. Tangannya membawa semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. Seperti biasa, beberapa siswa memperhatikannya saat lewat.
Keesokan harinya, Sera sudah berdiri di depan gerbang SMA Ardentia dengan seragam yang dikenakan rapi. Nama sekolah itu sangat ia kenal. Dalam novel Rosé Affection, tempat ini hampir selalu muncul di setiap bab penting. Tempat Kazio bersinar sebagai pusat perhatian semua orang, sementara Seraphine V
Hari Minggu itu Sera habiskan di dalam mansion. Ia tidak keluar kamar hingga menjelang siang, sebagian karena masih bingung dengan keadaan yang menimpanya, sebagian lagi karena belum siap menghadapi orang-orang yang mengenal Seraphine jauh lebih baik daripada dirinya. Setiap kali menatap cermin, ia
Rosé Affection.Novel romansa remaja yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Alurnya sederhana dan mudah ditebak. Tokoh laki-laki utamanya tampan, berbakat, berasal dari keluarga terpandang, dan selalu menjadi pusat perhatian. Sementara tokoh perempuan utamanya digambarkan polos, baik hati, dan dic






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.