مشاركة

Two

مؤلف: Miy
last update تاريخ النشر: 2026-06-09 17:27:37

Rosé Affection.

Novel romansa remaja yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Alurnya sederhana dan mudah ditebak. Tokoh laki-laki utamanya tampan, berbakat, berasal dari keluarga terpandang, dan selalu menjadi pusat perhatian. Sementara tokoh perempuan utamanya digambarkan polos, baik hati, dan dicintai banyak orang.

Namun yang paling ia ingat bukanlah kedua tokoh utama itu.

Melainkan para tokoh yang berada di sekitar mereka. Seorang antagonis laki-laki yang diam-diam menyukai sang protagonis perempuan.

Dan seorang antagonis perempuan yang hampir selalu mengundang kekesalan pembaca. Gadis itu keras kepala, arogan, dan terlalu terobsesi pada cinta yang tidak pernah bisa ia miliki. Hampir setiap kemunculannya berakhir dengan pertengkaran, fitnah, atau tindakan gegabah yang membuat semua orang semakin membencinya.

Seraphine Virellyn.

Nama itu akhirnya terasa masuk akal sekarang.

Ia bukan sekadar nama asing yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia adalah tokoh yang pernah ia baca beberapa jam sebelum kematiannya. Tokoh yang terus mengejar seseorang yang tidak pernah mencintainya. Tokoh yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian, tetapi justru kehilangan segalanya sedikit demi sedikit.

Dan Sera juga mengingat bagaimana kisah Seraphine berakhir.

Tidak ada akhir bahagia. Setelah berbagai konflik yang ia ciptakan sendiri, Seraphine kehilangan semua orang yang pernah berada di sisinya. Reputasinya hancur, keluarganya menjauh, dan orang yang selama ini ia cintai menjadi orang terakhir yang mengakhiri hidupnya.

Pikiran itu membuat tengkuk Sera terasa dingin.

Karena sekarang ia berada di tubuh perempuan itu.

Dulu ia adalah Sera Maheswari, perempuan berusia dua puluh enam tahun dengan kehidupan yang tidak pernah benar-benar istimewa. Ia bekerja, pulang dalam keadaan lelah, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Tidak kaya, tidak berpengaruh, dan tidak memiliki kehidupan yang layak dijadikan cerita.

Namun setidaknya hidup itu adalah miliknya sendiri.

Sedangkan sekarang, ia berada di tubuh seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang memiliki segalanya sekaligus tidak memiliki apa-apa. Cantik, kaya, dan tumbuh di lingkungan yang bergelimang harta sejak kecil. Namun di balik semua itu, Seraphine dikenal sebagai sosok yang arogan, egois, dan gemar merendahkan orang lain.

"Nona."

Suara seorang perempuan dari balik pintu membuyarkan lamunannya.

"Sarapan sudah disiapkan."

"Ya."

Sera mengembuskan napas pelan sebelum keluar dari kamar.

Koridor luas membentang di hadapannya. Lantai marmer mengilap, lukisan mahal menghiasi dinding, dan cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela tinggi. Semua terlihat sempurna dan mewah.

Namun suasana rumah itu terasa dingin. Tidak ada suara percakapan, tidak ada tawa, bahkan langkah para pelayan terdengar nyaris tanpa suara. Saat berjalan menuju ruang makan, ia menyadari sesuatu. Para pelayan terlihat gugup setiap kali berpapasan dengannya. Tidak ada yang berani menatap terlalu lama, dan beberapa langsung menyingkir dari jalurnya. Jelas sekali, Seraphine bukan seseorang yang disukai di rumah ini. Rasa hormat yang mereka tunjukkan bukan lahir dari kedekatan atau kasih sayang, melainkan dari rasa takut.

Ruang makan berada di ujung koridor. Begitu memasuki ruangan itu, langkahnya melambat sesaat. Sebuah meja makan panjang membentang di tengah ruangan, tetapi hanya ada satu orang yang duduk di sana. Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi sedang membaca koran sambil menikmati kopi.

Pria itu mengangkat kepala saat melihatnya. "Sera."

"Ya, Ayah."

Nama pria itu langsung muncul di kepalanya. Marcell Virellyn, kepala keluarga Virellyn sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh dalam novel. Sosok yangdikenal tegas dan disiplin. Bahkan dalam ingatan Seraphine, ia lebih sering terlihat sebagai seseorang yang harus dipatuhi daripada seorang ayah yang bisa dijadikan tempat bergantung.

Sera menarik kursi lalu duduk di hadapannya. Seorang pelayan datang membawa sarapan, tetapi yang menarik perhatiannya justru tangan perempuan itu yang tampak sedikit gemetar sebelum buru-buru mundur. Seberapa buruk sebenarnya reputasi Seraphine sampai para pelayan pun setegang ini?

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tidak nyaman. Akhirnya Marcell meletakkan korannya dan menatapnya kembali.

"Kau terlambat bangun hari ini. Tidak seperti biasanya."

"Kurang enak badan."

Marcell memandangnya cukup lama hingga Sera merasa seolah sedang diperiksa.

Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya bersandar.

"Jangan buat masalah lagi di sekolah. Ayah menerima telepon dari pihak sekolah karena ulahmu."

Kalimat itu membuat potongan-potongan ingatan asing kembali muncul. Toilet sekolah. Seorang gadis yang menangis. Dan Seraphine yang berdiri di depannya.

Sera langsung mengerti bahwa sebelum ia mengambil alih tubuh ini, Seraphine baru saja membuat masalah. Ia menundukkan pandangan ke piring di hadapannya. "Baik."

Tidak ada bantahan. Tidak ada alasan. Dan justru karena itulah Marcell mengernyit tipis. Tatapannya meneliti wajah putrinya selama beberapa detik, seolah baru menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Seraphine pagi ini. Namun pada akhirnya ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sera menahan napas pelan. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, ia benar-benar memahami situasinya. Ia bukan hanya mengetahui akhir tragis yang menunggu Seraphine Virellyn. Mulai hari ini, ia juga harus menjalani kehidupan seseorang yang sangat berbeda darinya tanpa membuat siapa pun menyadari bahwa Seraphine yang mereka kenal sudah tidak ada lagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Takdir di Balik kebohongan   Nine

    Mobil hitam itu melesat membelah jalanan kota yang dipenuhi deretan pohon palem di sepanjang trotoar. Pantulan cahaya lampu kota menari di kaca mobil yang gelap, menciptakan suasana sunyi di dalamnya.Dua manusia dengan perbedaan usia dan gender duduk dalam diam. Tidak ada percakapan, tidak ada sapaan. Hanya suara mesin mobil yang menjadi pengisi ruang kosong di antara mereka.Marcell hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. Kedua tangannya sibuk mengendalikan kemudi, seolah pikirannya jauh lebih sibuk dibandingkan jalanan yang ia lewati.Sementara itu, Sera memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mengikuti setiap pemandangan yang berlalu dengan cepat. Entah kenapa, perjalanan singkat itu terasa lebih panjang dari biasanya.Tak lama kemudian, sebuah gerbang besar berwarna hitam terbuka perlahan. Mobil itu memasuki area mansion yang luas dan megah sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama.Tanpa mengatakan apapun, Sera turun dari mobil.Langkahny

  • Takdir di Balik kebohongan   Eight

    "Maaf, Sera. Aku nggak sengaja."Ara menundukkan kepalanya. Nada suaranya terdengar pelan dan sedih seperti biasa."Bisa nggak sih kamu berhenti ganggu Ara?" ucap Kazio sambil berdiri di samping gadis itu.Sera menatap mereka bergantian, lalu tertawa kecil tanpa humor."What? Seriously? Aku ganggu Ara?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Cih. Buang-buang waktu banget. Lain kali jalan yang benar dan lihat ke depan."Beberapa tamu yang berada di sekitar mereka mulai melirik. Ada yang memperhatikan terang-terangan, ada pula yang hanya sekilas sebelum kembali melanjutkan obrolannya.Namun ibu-ibu yang berdiri tidak jauh dari sana tampaknya jauh lebih tertarik pada keributan kecil itu.Sera bahkan bisa melihat mereka saling berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya.Hebat.Baru beberapa menit datang, sudah jadi bahan gosip.Dari kejauhan, Marcell juga melihat kejadian itu. Namun pria itu tidak bergerak sedikit pun. Ekspresinya datar seolah sudah terlalu sering menyaksikan tingkah putrinya hin

  • Takdir di Balik kebohongan   Seven

    Padahal ia baru saja menjalani kehidupan asing yang bukan miliknya, tetapi musibah sudah datang silih berganti. Baru masuk sekolah, langsung berakhir di UKS karena terkena kuah bakso panas. Nasib pemilik tubuh pembuat onar memang tidak mudah.Jika dipikir-pikir lagi, kenapa harus dirinya?Kenapa dari sekian banyak orang, justru ia yang menjadi pilihan untuk menjalani kehidupan Seraphine Virellyn?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban."Shh... sakit banget lagi nih punggung."Sera meringis pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Tangannya bergerak ke belakang, seolah ingin menyentuh bagian yang terluka. Meski tidak benar-benar menyentuh kulitnya, setidaknya gerakan itu sedikit mengurangi rasa tidak nyaman yang sejak siang terus mengganggunya.Tok.Tok.Tok.Pintu kamarnya diketuk pelan."Masuk aja," ucap Sera.Pintu terbuka dan Bi Asih masuk dengan langkah hati-hati. Seperti biasa, wanita paruh baya itu membungkukkan badan sedikit sebelum berbicara."Non

  • Takdir di Balik kebohongan   Six

    Sera menghabiskan sisa jam pelajaran di ruang UKS. Sendirian. Caroline sudah kembali ke kelasnya setelah memastikan keadaan Sera tidak terlalu parah.Awalnya ia berpikir bisa beristirahat dengan tenang. Namun ternyata tidak.Pintu UKS kembali terbuka dan beberapa orang masuk bersamaan. Ara berada di depan, disusul Kazio, Raka, Fyrian, Fyrion, serta seorang gadis yang tidak dikenalnya.Sera hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap jendela."Aku baru lihat pembully handal masuk UKS," komentar Fyrian sambil menyilangkan tangan di dada.Nada suaranya terdengar mengejek."Iya tuh," sahut gadis di samping Ara. "Ratu bully juga bisa masuk UKS ternyata."Sera memperhatikan name tag yang terpasang di seragamnya.Bella Bianna.Oh.Jadi ini salah satu teman Ara."Jangan gitu..." Ara buru-buru memotong. Wajahnya terlihat sedih. "Kan Sera jadi begini gara-gara aku."Bella langsung terdiam.Ara kemudian melangkah mendekat ke arah ranjang UKS tempat Sera duduk."Em... Sera."Sera mengangkat pan

  • Takdir di Balik kebohongan   Five

    Saat Sera duduk dengan tenang sambil menikmati roti dan susu cokelatnya, Ara terlihat berjalan dari arah stand bakso menuju meja tempat Kazio dan teman-temannya berkumpul. Tangannya membawa semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. Seperti biasa, beberapa siswa memperhatikannya saat lewat. Ara memang selalu menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha. Bahkan ketika hanya berjalan biasa, ada saja orang yang menoleh atau berbisik membicarakannya. Benar-benar kehidupan tokoh utama, pikir Sera dalam hati.Sera sendiri tidak terlalu peduli. Ia lebih sibuk mendengarkan Caroline yang terus mengoceh tentang berbagai hal daripada memperhatikan orang-orang di sekitar. Sesekali ia hanya mengangguk atau menjawab singkat. Jujur saja, pikirannya masih dipenuhi banyak hal yang lebih penting daripada urusan percintaan remaja. Sampai tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Ara dari belakang.Semuanya terjadi terlalu cepat.Mangkok di tangan Ara miring.Kuah panas itu tumpah.Dan sepersekian detik

  • Takdir di Balik kebohongan   Four

    Keesokan harinya, Sera sudah berdiri di depan gerbang SMA Ardentia dengan seragam yang dikenakan rapi. Nama sekolah itu sangat ia kenal. Dalam novel Rosé Affection, tempat ini hampir selalu muncul di setiap bab penting. Tempat Kazio bersinar sebagai pusat perhatian semua orang, sementara Seraphine Virellyn hanya menjadi bayangan yang terus mengejar cahaya itu tanpa pernah berhasil meraihnya.Begitu melangkahkan kaki ke dalam area sekolah, bisik-bisik langsung terdengar dari berbagai arah."Itu Sera.""Habis bully kemarin masih berani datang.""Tumben nggak pasang muka angkuh."Sera mendengarnya dengan jelas, tetapi tidak memberikan reaksi apa pun. Dalam alur asli novel, Seraphine pasti sudah membalas tatapan mereka dengan sinis atau sengaja membuat keributan sebelum jam pelajaran dimulai. Namun hari ini ia hanya menarik napas pelan dan tetap berjalan seperti biasa."Tenang aja," gumamnya pelan. "Nggak usah dipikirin."Saat memasuki kelas, ia kembali menjadi pusat perhatian. Tidak ada y

  • Takdir di Balik kebohongan   Three

    Hari Minggu itu Sera habiskan di dalam mansion. Ia tidak keluar kamar hingga menjelang siang, sebagian karena masih bingung dengan keadaan yang menimpanya, sebagian lagi karena belum siap menghadapi orang-orang yang mengenal Seraphine jauh lebih baik daripada dirinya. Setiap kali menatap cermin, ia

  • Takdir di Balik kebohongan   One

    Sera menutup novel Rosé Affection dengan dengusan kesal. Tokoh antagonisnya, Seraphine Virellyn, memiliki segalanya- wajah cantik, keluarga kaya, dan kehidupan mewah. Tetapi justru menghabiskan hidupnya mengejar pria yang tidak mencintainya.“Kalau aku jadi dia, mending nikmatin hidup daripada ngem

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status