Share

Three

Penulis: Miy
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 16:58:16

Hari Minggu itu Sera habiskan di dalam mansion. Ia tidak keluar kamar hingga menjelang siang, sebagian karena masih bingung dengan keadaan yang menimpanya, sebagian lagi karena belum siap menghadapi orang-orang yang mengenal Seraphine jauh lebih baik daripada dirinya. Setiap kali menatap cermin, ia masih membutuhkan beberapa detik untuk mengingat bahwa wajah yang terlihat di sana bukan lagi wajah Sera Maheswari. Rasanya aneh. Bahkan setelah berulang kali menyentuh pipi dan rambutnya sendiri, kenyataan itu tetap sulit diterima.

Meski begitu, ia tidak bisa terus berdiam diri. Setelah makan siang, ia mulai memberanikan diri keluar kamar dan menjelajahi mansion tempat tinggalnya sekarang. Rumah keluarga Virellyn jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan saat membaca novel. Koridor-koridornya panjang, dihiasi lukisan dan pajangan mahal yang kemungkinan berharga lebih tinggi daripada seluruh tabungannya semasa hidup dulu. Beberapa ruangan bahkan tampak jarang digunakan. Ada ruang baca yang dipenuhi rak buku tinggi hingga menyentuh langit-langit, ruang musik dengan piano hitam mengilap di tengah ruangan, hingga taman dalam yang dipenuhi bunga-bunga berwarna cerah.

Semakin lama berkeliling, semakin jelas perbedaan hidupnya yang dulu dengan kehidupan Seraphine.

Dulu ia tinggal di kamar kos yang bahkan tidak cukup luas untuk menaruh banyak barang. Kini, satu kamar tidur saja hampir sebesar seluruh tempat tinggalnya sebelumnya. Namun anehnya, kemewahan itu tidak membuat mansion ini terasa hangat. Rumah ini terlalu tenang. Terlalu rapi.Terlalu dingin. Para pelayan bekerja tanpa banyak bicara dan anggota keluarga nyaris tidak terlihat.

Rasanya seperti tinggal di bangunan megah yang hanya berisi orang-orang asing.

Menjelang sore, Sera menemukan sebuah balkon di lantai dua yang menghadap taman belakang. Ia menghabiskan cukup lama di sana, duduk sendirian sambil memandangi langit yang perlahan berubah warna. Angin sore berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambutnya. Untuk pertama kalinya sejak bangun di tubuh ini, pikirannya terasa sedikit lebih tenang. Ia memang kehilangan kehidupannya yang lama, kehilangan kesempatan bertemu kembali dengan kedua orang tuanya, dan kehilangan banyak hal yang tidak akan bisa kembali. Namun di sisi lain, ia masih diberi kesempatan untuk hidup. Kesempatan yang tidak dimiliki semua orang.

Malam tiba lebih cepat dari yang ia sadari. Karena sulit tidur, Sera memutuskan berjalan-jalan keluar mansion. Sejak terbangun di tubuh ini, ia belum benar-benar melihat dunia di luar kamarnya. Sebagian besar waktunya habis untuk mencerna kenyataan yang terasa terlalu aneh untuk diterima. Kini, setelah kepalanya sedikit lebih tenang, rasa penasaran mulai muncul. Ia ingin melihat seperti apa dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat deretan kata dalam sebuah novel.

Udara malam menyambutnya begitu ia melewati gerbang samping mansion. Tidak terlalu dingin, tetapi cukup sejuk untuk membuat pikirannya terasa lebih ringan. Jalanan di sekitar kawasan tempat tinggal keluarga Virellyn terlihat jauh lebih tenang dibanding siang hari. Lampu-lampu taman menyala redup di sepanjang jalan setapak, sementara suara serangga malam terdengar samar dari balik pepohonan. Tidak banyak orang berlalu-lalang. Hanya beberapa pasangan dan keluarga yang masih menikmati malam sebelum kembali ke rumah masing-masing.

Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke taman yang berada tidak jauh dari mansion. Tempat itu cukup luas dengan jalur batu yang membelah area rumput hijau dan beberapa bangku kayu yang tersebar di bawah pohon-pohon besar. Cahaya lampu taman membuat suasana terlihat hangat meskipun langit malam tampak gelap. Sera berjalan pelan sambil memperhatikan sekeliling. Sulit dipercaya bahwa beberapa hari lalu ia masih hidup sebagai orang biasa di dunia yang berbeda. Kini ia justru berdiri di dalam dunia novel yang pernah ia baca sambil menghirup udara yang sama dengan para tokohnya.

Ia akhirnya berhenti di dekat sebuah kolam kecil. Permukaan air memantulkan cahaya bulan yang menggantung tinggi di langit. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam sambil memandangi riak-riak kecil yang bergerak perlahan. Tidak ada yang perlu ia pikirkan saat ini. Tidak ada pekerjaan yang menumpuk, tidak ada tagihan yang harus dibayar, dan tidak ada suara kendaraan yang memenuhi jalanan. Semuanya terasa asing, tetapi anehnya menenangkan. Sampai sebuah suara membuatnya menoleh.

Suara langkah kaki.

Awalnya pelan. Hampir tidak terdengar.

Namun semakin lama semakin jelas.

Seseorang sedang berjalan ke arahnya.

Sera mengangkat kepala dan melihat sosok tinggi yang muncul dari jalur setapak di sisi lain taman.

Karena jaraknya masih cukup jauh dan sebagian wajahnya tertutup bayangan, ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu. Yang ia tahu, pria itu mengenakan pakaian serba gelap dan berjalan dengan santai, seolah taman ini memang tempat yang biasa ia datangi.

Ia tidak terlalu memikirkannya dan berniat kembali menatap kolam. Namun tepat sebelum mengalihkan pandangan, langkah pria itu mendadak berhenti.

Seolah menyadari keberadaannya.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak.

Lalu pria itu menoleh ke arahnya. Dan entah kenapa, perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di dalam dada Sera.

Perasaan yang sama seperti saat seseorang tanpa sengaja membuka halaman yang seharusnya belum ia baca.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Takdir di Balik kebohongan   Nine

    Mobil hitam itu melesat membelah jalanan kota yang dipenuhi deretan pohon palem di sepanjang trotoar. Pantulan cahaya lampu kota menari di kaca mobil yang gelap, menciptakan suasana sunyi di dalamnya.Dua manusia dengan perbedaan usia dan gender duduk dalam diam. Tidak ada percakapan, tidak ada sapaan. Hanya suara mesin mobil yang menjadi pengisi ruang kosong di antara mereka.Marcell hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. Kedua tangannya sibuk mengendalikan kemudi, seolah pikirannya jauh lebih sibuk dibandingkan jalanan yang ia lewati.Sementara itu, Sera memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Matanya mengikuti setiap pemandangan yang berlalu dengan cepat. Entah kenapa, perjalanan singkat itu terasa lebih panjang dari biasanya.Tak lama kemudian, sebuah gerbang besar berwarna hitam terbuka perlahan. Mobil itu memasuki area mansion yang luas dan megah sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama.Tanpa mengatakan apapun, Sera turun dari mobil.Langkahny

  • Takdir di Balik kebohongan   Eight

    "Maaf, Sera. Aku nggak sengaja."Ara menundukkan kepalanya. Nada suaranya terdengar pelan dan sedih seperti biasa."Bisa nggak sih kamu berhenti ganggu Ara?" ucap Kazio sambil berdiri di samping gadis itu.Sera menatap mereka bergantian, lalu tertawa kecil tanpa humor."What? Seriously? Aku ganggu Ara?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Cih. Buang-buang waktu banget. Lain kali jalan yang benar dan lihat ke depan."Beberapa tamu yang berada di sekitar mereka mulai melirik. Ada yang memperhatikan terang-terangan, ada pula yang hanya sekilas sebelum kembali melanjutkan obrolannya.Namun ibu-ibu yang berdiri tidak jauh dari sana tampaknya jauh lebih tertarik pada keributan kecil itu.Sera bahkan bisa melihat mereka saling berbisik sambil sesekali melirik ke arahnya.Hebat.Baru beberapa menit datang, sudah jadi bahan gosip.Dari kejauhan, Marcell juga melihat kejadian itu. Namun pria itu tidak bergerak sedikit pun. Ekspresinya datar seolah sudah terlalu sering menyaksikan tingkah putrinya hin

  • Takdir di Balik kebohongan   Seven

    Padahal ia baru saja menjalani kehidupan asing yang bukan miliknya, tetapi musibah sudah datang silih berganti. Baru masuk sekolah, langsung berakhir di UKS karena terkena kuah bakso panas. Nasib pemilik tubuh pembuat onar memang tidak mudah.Jika dipikir-pikir lagi, kenapa harus dirinya?Kenapa dari sekian banyak orang, justru ia yang menjadi pilihan untuk menjalani kehidupan Seraphine Virellyn?Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban."Shh... sakit banget lagi nih punggung."Sera meringis pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Tangannya bergerak ke belakang, seolah ingin menyentuh bagian yang terluka. Meski tidak benar-benar menyentuh kulitnya, setidaknya gerakan itu sedikit mengurangi rasa tidak nyaman yang sejak siang terus mengganggunya.Tok.Tok.Tok.Pintu kamarnya diketuk pelan."Masuk aja," ucap Sera.Pintu terbuka dan Bi Asih masuk dengan langkah hati-hati. Seperti biasa, wanita paruh baya itu membungkukkan badan sedikit sebelum berbicara."Non

  • Takdir di Balik kebohongan   Six

    Sera menghabiskan sisa jam pelajaran di ruang UKS. Sendirian. Caroline sudah kembali ke kelasnya setelah memastikan keadaan Sera tidak terlalu parah.Awalnya ia berpikir bisa beristirahat dengan tenang. Namun ternyata tidak.Pintu UKS kembali terbuka dan beberapa orang masuk bersamaan. Ara berada di depan, disusul Kazio, Raka, Fyrian, Fyrion, serta seorang gadis yang tidak dikenalnya.Sera hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap jendela."Aku baru lihat pembully handal masuk UKS," komentar Fyrian sambil menyilangkan tangan di dada.Nada suaranya terdengar mengejek."Iya tuh," sahut gadis di samping Ara. "Ratu bully juga bisa masuk UKS ternyata."Sera memperhatikan name tag yang terpasang di seragamnya.Bella Bianna.Oh.Jadi ini salah satu teman Ara."Jangan gitu..." Ara buru-buru memotong. Wajahnya terlihat sedih. "Kan Sera jadi begini gara-gara aku."Bella langsung terdiam.Ara kemudian melangkah mendekat ke arah ranjang UKS tempat Sera duduk."Em... Sera."Sera mengangkat pan

  • Takdir di Balik kebohongan   Five

    Saat Sera duduk dengan tenang sambil menikmati roti dan susu cokelatnya, Ara terlihat berjalan dari arah stand bakso menuju meja tempat Kazio dan teman-temannya berkumpul. Tangannya membawa semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. Seperti biasa, beberapa siswa memperhatikannya saat lewat. Ara memang selalu menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha. Bahkan ketika hanya berjalan biasa, ada saja orang yang menoleh atau berbisik membicarakannya. Benar-benar kehidupan tokoh utama, pikir Sera dalam hati.Sera sendiri tidak terlalu peduli. Ia lebih sibuk mendengarkan Caroline yang terus mengoceh tentang berbagai hal daripada memperhatikan orang-orang di sekitar. Sesekali ia hanya mengangguk atau menjawab singkat. Jujur saja, pikirannya masih dipenuhi banyak hal yang lebih penting daripada urusan percintaan remaja. Sampai tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Ara dari belakang.Semuanya terjadi terlalu cepat.Mangkok di tangan Ara miring.Kuah panas itu tumpah.Dan sepersekian detik

  • Takdir di Balik kebohongan   Four

    Keesokan harinya, Sera sudah berdiri di depan gerbang SMA Ardentia dengan seragam yang dikenakan rapi. Nama sekolah itu sangat ia kenal. Dalam novel Rosé Affection, tempat ini hampir selalu muncul di setiap bab penting. Tempat Kazio bersinar sebagai pusat perhatian semua orang, sementara Seraphine Virellyn hanya menjadi bayangan yang terus mengejar cahaya itu tanpa pernah berhasil meraihnya.Begitu melangkahkan kaki ke dalam area sekolah, bisik-bisik langsung terdengar dari berbagai arah."Itu Sera.""Habis bully kemarin masih berani datang.""Tumben nggak pasang muka angkuh."Sera mendengarnya dengan jelas, tetapi tidak memberikan reaksi apa pun. Dalam alur asli novel, Seraphine pasti sudah membalas tatapan mereka dengan sinis atau sengaja membuat keributan sebelum jam pelajaran dimulai. Namun hari ini ia hanya menarik napas pelan dan tetap berjalan seperti biasa."Tenang aja," gumamnya pelan. "Nggak usah dipikirin."Saat memasuki kelas, ia kembali menjadi pusat perhatian. Tidak ada y

  • Takdir di Balik kebohongan   One

    Sera menutup novel Rosé Affection dengan dengusan kesal. Tokoh antagonisnya, Seraphine Virellyn, memiliki segalanya- wajah cantik, keluarga kaya, dan kehidupan mewah. Tetapi justru menghabiskan hidupnya mengejar pria yang tidak mencintainya.“Kalau aku jadi dia, mending nikmatin hidup daripada ngem

  • Takdir di Balik kebohongan   Two

    Rosé Affection.Novel romansa remaja yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Alurnya sederhana dan mudah ditebak. Tokoh laki-laki utamanya tampan, berbakat, berasal dari keluarga terpandang, dan selalu menjadi pusat perhatian. Sementara tokoh perempuan utamanya digambarkan polos, baik hati, dan dic

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status