Share

Five

Author: Miy
last update publish date: 2026-06-12 14:35:24

Saat Sera duduk dengan tenang sambil menikmati roti dan susu cokelatnya, Ara terlihat berjalan dari arah stand bakso menuju meja tempat Kazio dan teman-temannya berkumpul. Tangannya membawa semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. Seperti biasa, beberapa siswa memperhatikannya saat lewat. Ara memang selalu menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha. Bahkan ketika hanya berjalan biasa, ada saja orang yang menoleh atau berbisik membicarakannya. Benar-benar kehidupan tokoh utama, pikir Sera dalam hati.

Sera sendiri tidak terlalu peduli. Ia lebih sibuk mendengarkan Caroline yang terus mengoceh tentang berbagai hal daripada memperhatikan orang-orang di sekitar. Sesekali ia hanya mengangguk atau menjawab singkat. Jujur saja, pikirannya masih dipenuhi banyak hal yang lebih penting daripada urusan percintaan remaja. Sampai tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Ara dari belakang.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Mangkok di tangan Ara miring.

Kuah panas itu tumpah.

Dan sepersekian detik kemudian, punggung Sera seperti disiram api.

"Akh—!"

Tubuhnya refleks berdiri dari kursi. Rasa panas yang menyengat langsung menembus seragamnya dan mengenai kulit punggungnya. Napasnya tercekat. Tangannya mencengkeram pinggir meja kuat-kuat sambil berusaha menahan rasa perih yang menjalar hingga ke bahunya. Kursi yang tadi didudukinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara gesekan yang cukup keras. Rasanya seperti ada puluhan jarum panas yang menusuk kulitnya secara bersamaan. Bahkan untuk menarik napas pun terasa sulit.

BRAK!

Meja di depan mereka tiba-tiba bergetar saat Caroline menghantamnya dengan telapak tangan.

"WOI! BISA JALAN YANG BENER NGGAK SIH?!" teriaknya lantang.

Suara Caroline menggema ke seluruh kantin. Percakapan para siswa langsung terhenti. Puluhan pasang mata menoleh ke arah mereka. Beberapa siswa bahkan buru-buru mengeluarkan ponsel, merekam kejadian yang baru saja terjadi. Dalam hitungan detik, kantin yang tadinya ramai berubah menjadi seperti panggung pertunjukan.

Ara tampak membeku di tempat. Mangkok kosong itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring.

"A-aku..." suaranya bergetar. "Aku nggak sengaja..."

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Kazio..."

Tangisan itu terdengar pelan. Terlalu pelan.

Namun cukup untuk membuat sebagian siswa langsung menunjukkan ekspresi iba. Beberapa siswi bahkan mulai berbisik bahwa Ara pasti tidak sengaja melakukannya. Seolah-olah air mata mampu menghapus semua yang baru saja terjadi.

Sera menundukkan kepala sambil berusaha mengatur napas. Rambut merah kecokelatannya jatuh menutupi sebagian wajah. Kulit punggungnya terasa panas dan berdenyut-denyut. Bahkan kain seragam yang menempel di sana mulai terasa menyiksa. Ia bisa merasakan bagian kulitnya mulai memerah. Mungkin melepuh. Mungkin juga tidak. Ia tidak tahu.

Meski begitu, di tengah rasa sakit yang membuat kepalanya sedikit pening, pikirannya masih bekerja dengan cukup jernih.

Ah...

Jadi ini mungkin bentuk balas dendam.

Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga.

Seraphine yang asli sudah berkali-kali mengganggu hidup Ara. Kalau gadis itu memang menyimpan dendam, Sera tidak bisa benar-benar menyalahkannya.

Tapi tetap saja.

Sakit, ya sakit.

Dan dirinya yang sekarang tidak pernah melakukan apa pun kepada Ara.

"Masih bilang nggak sengaja?" Caroline melangkah maju. Wajahnya sudah merah karena marah. "Liat noh punggungnya! Merah gitu masih bilang nggak sengaja?!"

Tatapan para siswa bergantian mengarah ke Ara dan Sera. Suasana kantin berubah tegang. Tidak ada yang benar-benar berani ikut campur, tetapi tidak ada juga yang pergi. Semua memilih menonton.

Di meja yang lain, Fyrion sudah berdiri dari kursinya sejak beberapa detik lalu. Tatapannya tertuju pada bagian belakang seragam Sera yang basah oleh kuah. Bahkan dari jarak mereka duduk, ia bisa melihat wajah gadis itu yang mulai memucat.

"Kita bawa dia ke UKS dulu," ucapnya.

Namun suaranya tenggelam oleh keributan.

Sementara itu Kazio akhirnya berdiri dari kursinya. Tatapannya sempat jatuh pada Sera yang masih menahan sakit. Hanya sesaat. Sangat singkat. Setelah itu ia berjalan menuju Ara yang terlihat gemetar.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya.

Caroline langsung tertawa sinis.

"Nggak apa-apa?" ulangnya tidak percaya. "Yang kena kuah panas siapa? Yang nangis siapa?"

Namun Kazio tidak menanggapinya. Fokusnya tetap pada Ara yang kini berdiri di belakangnya.

Sera menghela napas pelan.

Jujur saja, ia terlalu lelah untuk ikut terlibat dalam drama seperti ini.

"Ayo ke UKS aja," ucapnya lirih kepada Caroline.

Caroline masih terlihat kesal, tetapi akhirnya mengangguk. Dengan hati-hati ia membantu Sera berdiri lalu membawa sahabatnya keluar dari kantin. Di belakang mereka, bisik-bisik para siswa mulai terdengar semakin ramai. Bahkan tanpa perlu menoleh, Sera sudah bisa menebak dirinya akan menjadi bahan pembicaraan satu sekolah sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai.

Sesampainya di UKS, Sera meringis kesakitan saat dokter memeriksa punggungnya. Untung saja area yang terkena kuah panas tidak terlalu luas. Hanya beberapa bagian kulit yang tampak memerah dan mulai melepuh. Meski begitu, rasa perihnya tetap membuatnya sulit bergerak dengan nyaman.

"Tunggu sebentar, saya ambil perban dulu," ucap dokter itu sebelum keluar dari ruangan.

Caroline yang sejak tadi berdiri di samping ranjang juga ikut beranjak.

"Aku beli minum dulu ya. Tenggorokannya kering gara-gara teriak-teriak di kantin.

Sera hanya mengangguk kecil.

"Jangan lama."

"Siap, bos."

Setelah keduanya keluar, suasana UKS langsung berubah sunyi. Hanya suara kipas angin yang terdengar berputar pelan di atas kepala. Sera mengembuskan napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke ranjang. Hari ini benar-benar melelahkan.

Tak lama kemudian, pintu UKS kembali terbuka.

Sera mengangkat kepalanya.

Orang yang masuk ternyata Fyrion.

Laki-laki itu membawa dua paper bag di tangannya. Langkahnya santai seperti biasa, lalu meletakkan kedua paper bag itu di atas meja dekat ranjang.

"Sakit banget?" tanyanya sambil melirik punggung Sera.

Sera mendengus pelan.

"Ya, kamu lihat sendiri lah."

"Ya juga sih."

Fyrion mengangguk seolah setuju dengan jawaban itu.

"Oh iya, aku bawain seragam ganti sama sedikit bingkisan. Biar nggak kelihatan kayak korban perang nanti pas pulang."

Sera menatap kedua paper bag itu bergantian.

"Dari Kamu?"

"Enggak."

"Lah?"

"Aku disuruh."

Jawabannya terlalu cepat.

Sera langsung menyipitkan mata.

"Disuruh siapa?"

Namun Fyrion malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Rahasia."

"Najis."

Fyrion terkekeh pelan.

"Pokoknya cepet sembuh aja."

Sera akhirnya mengambil salah satu paper bag itu.

"Ya udah. Thanks."

"Hm."

Tanpa menjelaskan apa pun lagi, Fyrion berbalik dan keluar dari ruangan. Pintu UKS kembali tertutup, meninggalkan Sera sendirian.

Alisnya mengernyit.

Aneh.

Kalau memang disuruh seseorang, kenapa orang itu tidak datang sendiri?

Penasaran, Sera membuka paper bag yang lebih kecil. Di dalamnya terdapat beberapa camilan, minuman kotak, dan sebuah kertas kecil yang terlipat rapi di bagian bawah.

"Apaan lagi ini..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir di Balik kebohongan   Six

    Sera menghabiskan sisa jam pelajaran di ruang UKS. Sendirian. Caroline sudah kembali ke kelasnya setelah memastikan keadaan Sera tidak terlalu parah.Awalnya ia berpikir bisa beristirahat dengan tenang. Namun ternyata tidak.Pintu UKS kembali terbuka dan beberapa orang masuk bersamaan. Ara berada di depan, disusul Kazio, Raka, Fyrian, Fyrion, serta seorang gadis yang tidak dikenalnya.Sera hanya melirik sekilas sebelum kembali menatap jendela."Aku baru lihat pembully handal masuk UKS," komentar Fyrian sambil menyilangkan tangan di dada.Nada suaranya terdengar mengejek."Iya tuh," sahut gadis di samping Ara. "Ratu bully juga bisa masuk UKS ternyata."Sera memperhatikan name tag yang terpasang di seragamnya.Bella Bianna.Oh.Jadi ini salah satu teman Ara."Jangan gitu..." Ara buru-buru memotong. Wajahnya terlihat sedih. "Kan Sera jadi begini gara-gara aku."Bella langsung terdiam.Ara kemudian melangkah mendekat ke arah ranjang UKS tempat Sera duduk."Em... Sera."Sera mengangkat pan

  • Takdir di Balik kebohongan   Five

    Saat Sera duduk dengan tenang sambil menikmati roti dan susu cokelatnya, Ara terlihat berjalan dari arah stand bakso menuju meja tempat Kazio dan teman-temannya berkumpul. Tangannya membawa semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. Seperti biasa, beberapa siswa memperhatikannya saat lewat. Ara memang selalu menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha. Bahkan ketika hanya berjalan biasa, ada saja orang yang menoleh atau berbisik membicarakannya. Benar-benar kehidupan tokoh utama, pikir Sera dalam hati.Sera sendiri tidak terlalu peduli. Ia lebih sibuk mendengarkan Caroline yang terus mengoceh tentang berbagai hal daripada memperhatikan orang-orang di sekitar. Sesekali ia hanya mengangguk atau menjawab singkat. Jujur saja, pikirannya masih dipenuhi banyak hal yang lebih penting daripada urusan percintaan remaja. Sampai tiba-tiba seseorang menyenggol bahu Ara dari belakang.Semuanya terjadi terlalu cepat.Mangkok di tangan Ara miring.Kuah panas itu tumpah.Dan sepersekian detik

  • Takdir di Balik kebohongan   Four

    Keesokan harinya, Sera sudah berdiri di depan gerbang SMA Ardentia dengan seragam yang dikenakan rapi. Nama sekolah itu sangat ia kenal. Dalam novel Rosé Affection, tempat ini hampir selalu muncul di setiap bab penting. Tempat Kazio bersinar sebagai pusat perhatian semua orang, sementara Seraphine Virellyn hanya menjadi bayangan yang terus mengejar cahaya itu tanpa pernah berhasil meraihnya.Begitu melangkahkan kaki ke dalam area sekolah, bisik-bisik langsung terdengar dari berbagai arah."Itu Sera.""Habis bully kemarin masih berani datang.""Tumben nggak pasang muka angkuh."Sera mendengarnya dengan jelas, tetapi tidak memberikan reaksi apa pun. Dalam alur asli novel, Seraphine pasti sudah membalas tatapan mereka dengan sinis atau sengaja membuat keributan sebelum jam pelajaran dimulai. Namun hari ini ia hanya menarik napas pelan dan tetap berjalan seperti biasa."Tenang aja," gumamnya pelan. "Nggak usah dipikirin."Saat memasuki kelas, ia kembali menjadi pusat perhatian. Tidak ada

  • Takdir di Balik kebohongan   Three

    Hari Minggu itu Sera habiskan di dalam mansion. Ia tidak keluar kamar hingga menjelang siang, sebagian karena masih bingung dengan keadaan yang menimpanya, sebagian lagi karena belum siap menghadapi orang-orang yang mengenal Seraphine jauh lebih baik daripada dirinya. Setiap kali menatap cermin, ia masih membutuhkan beberapa detik untuk mengingat bahwa wajah yang terlihat di sana bukan lagi wajah Sera Maheswari. Rasanya aneh. Bahkan setelah berulang kali menyentuh pipi dan rambutnya sendiri, kenyataan itu tetap sulit diterima.Meski begitu, ia tidak bisa terus berdiam diri. Setelah makan siang, ia mulai memberanikan diri keluar kamar dan menjelajahi mansion tempat tinggalnya sekarang. Rumah keluarga Virellyn jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan saat membaca novel. Koridor-koridornya panjang, dihiasi lukisan dan pajangan mahal yang kemungkinan berharga lebih tinggi daripada seluruh tabungannya semasa hidup dulu. Beberapa ruangan bahkan tampak jarang digunakan. Ada ruang baca yan

  • Takdir di Balik kebohongan   Two

    Rosé Affection.Novel romansa remaja yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Alurnya sederhana dan mudah ditebak. Tokoh laki-laki utamanya tampan, berbakat, berasal dari keluarga terpandang, dan selalu menjadi pusat perhatian. Sementara tokoh perempuan utamanya digambarkan polos, baik hati, dan dicintai banyak orang.Namun yang paling ia ingat bukanlah kedua tokoh utama itu.Melainkan para tokoh yang berada di sekitar mereka. Seorang antagonis laki-laki yang diam-diam menyukai sang protagonis perempuan.Dan seorang antagonis perempuan yang hampir selalu mengundang kekesalan pembaca. Gadis itu keras kepala, arogan, dan terlalu terobsesi pada cinta yang tidak pernah bisa ia miliki. Hampir setiap kemunculannya berakhir dengan pertengkaran, fitnah, atau tindakan gegabah yang membuat semua orang semakin membencinya.Seraphine Virellyn.Nama itu akhirnya terasa masuk akal sekarang.Ia bukan sekadar nama asing yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia adalah tokoh yang pernah ia baca beberapa j

  • Takdir di Balik kebohongan   One

    Sera menutup novel Rosé Affection dengan dengusan kesal. Tokoh antagonisnya, Seraphine Virellyn, memiliki segalanya- wajah cantik, keluarga kaya, dan kehidupan mewah. Tetapi justru menghabiskan hidupnya mengejar pria yang tidak mencintainya.“Kalau aku jadi dia, mending nikmatin hidup daripada ngemis cinta,” gumamnya. Dalam perjalanan pulang malam itu, nasib buruk datang beruntun. Diganggu sekelompok preman, ia berlari tanpa arah dan tertabrak mobil. Saat kesadarannya menghilang, ia hanya sempat berpikir bahwa hidupnya berakhir dengan cara yang sangat menyebalkan.Ketika membuka mata kembali, Sera tidak berada di rumah sakit. Ia terbangun dikamar mewah yang asing, dengan perasaan yang sangat aneh.Baru ketika ia menurunkan kaki dari ranjang dan mencoba berdiri, sesuatu terasa benar-benar salah. Tubuhnya terasa berbeda. Awalnya ia tidak mampu menjelaskan perbedaannya, tetapi semakin lama ia memperhatikannya semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Tangannya tampak lebih kecil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status