MasukSebuah peran kecil dalam kisah cinta orang lain. Belliza Lavender Grouss, antagonis yang hanya muncul untuk menghancurkan, lalu mati di hari pernikahan sang tokoh utama. Tapi bagaimana jika kali ini, Belliza bukan dirinya yang dulu? Maura, sang pembaca yang kini berada di tubuhnya, tak sudi menjalani akhir yang sama. Ia tahu setiap detail cerita. Ia tahu siapa yang akan tersenyum di akhir... dan siapa yang akan dikorbankan. Maura akan mengubah naskah itu, bahkan jika seluruh dunia menolaknya.
Lihat lebih banyakSinar matahari menembus masuk lewat sela-sela jendela tinggi, menyinari ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku menjulang. Aroma kayu tua dan lembaran kertas mengisi udara, terasa hangat, menenangkan, namun sekaligus asing.
Perlahan, Maura membuka mata. Pandangannya masih kabur saat ia mengangkat tubuh dan duduk tegak. Kepalanya terasa ringan, seperti baru terbangun dari mimpi yang panjang. Namun, yang membuatnya terdiam bukan rasa kantuk... melainkan tempat ini.
Perpustakaan.
Tapi bukan perpustakaan yang sama seperti semalam, bukan sudut kecil tempat ia biasa membaca novel sendirian. Ruangan ini jauh lebih luas, klasik, dan mewah. Langit-langitnya tinggi, dindingnya berhiaskan ukiran elegan, dan tirai putih menjuntai anggun di sisi jendela besar.
Jantung Maura mulai berdetak lebih cepat.
Ia mengedarkan pandangan, mengamati setiap sudut ruangan dengan tatapan curiga. Kakinya melangkah perlahan, membawa tubuhnya mendekat ke arah sebuah cermin tinggi yang berdiri di sudut ruangan. Langkahnya terhenti seketika.
Sosok dalam cermin itu... bukan dirinya.
Gadis itu mengenakan gaun berwarna mauve--ungu keabu-abuan yang lembut dan klasik, gaunnya panjang menjuntai hingga lantai, dengan aksen emas yang berkilau di bagian ujungnya. Rambut hitam panjang tergerai indah, dan kulit putih pucatnya memantulkan cahaya matahari dengan halus. Wajahnya terlalu anggun untuk menjadi milik seorang gadis biasa seperti Maura.
"Ini siapa?!"
Maura mundur selangkah, panik mulai merayap di dadanya. Tapi sebelum pikirannya sempat berkelana lebih jauh, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu.
"Lady Belliza," panggil suara lembut seorang perempuan. "Maafkan saya... apakah Anda sudah terbangun?"
Maura membeku.
Apa yang tadi ia dengar... Belliza?
Pintu terbuka pelan. Seorang pelayan muda masuk dengan langkah sopan dan kepala sedikit tertunduk.
"Maaf mengganggu waktu Anda. Saya datang untuk membantu Anda bersiap."
Maura tidak menjawab. Hanya berdiri kaku, menatap pelayan itu dalam diam.
Belliza... itu nama seorang antagonis dalam novel yang baru saja ia tamatkan semalam. Perempuan yang berambisi menjadi permaisuri di masa depan, lalu kemudian dihukum mati karena berusaha merusak pernikahan Putra Mahkota, Archduke Lenzoris dan Princess Selina.
Ia menghasut Selina, membisikkan berbagai kebohongan, bahkan memfitnah Archduke Lenzoris berselingkuh dengan Bianca, Lady Anmeria. Kata-katanya yang tajam dan terus-menerus membuat Selina tertekan hingga kondisi mentalnya terguncang.
Lenzoris murka. Ia tidak dapat menerima tuduhan itu. Saat ia mendesak Selina tentang asal mula kabar tersebut, Selina pun menyebut nama Belliza. Sejak saat itu, Lenzoris mengerahkan pasukannya menuju Autronia. Belliza ditangkap, dan keesokan harinya, tepat di hari pernikahan Lenzoris dan Selina, ia dieksekusi.
Jadi sekarang ia bertransmigrasi ke tubuh antagonis sialan itu? Astaga... ya Tuhan, cobaan apalagi ini!
Maura--mungkin lebih tepatnya Belliza, masih berdiri terdiam, berusaha mencerna semua yang telah terjadi.
Shenna, pelayan pribadinya yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya melangkah pelan mendekati.
Dengan suara lirih namun penuh perhatian, Shenna bertanya, "Lady Belliza... apa Anda baik-baik saja?"
Butuh beberapa detik sebelum Belliza menoleh. Tatapannya tajam tapi tersamar oleh keraguan, seperti seseorang yang baru kembali dari dunia lain. Ia mengerjapkan mata sekali, lalu tersenyum tipis.
"Aku hanya... teringat sesuatu," gumamnya pelan.
Shenna mengangguk mengerti.
"Hari ini ada pertemuan di istana Pusat Kekaisaran bersama para bangsawan lain. Anda dan beberapa bangsawan muda juga diperkenankan hadir. Anda... tidak lupa, kan?" tanya Shenna.
Belliza terdiam. Pertemuan di Pusat Kekaisaran? Sephanix?
Bravo! Belliza ingat alurnya. Di dalam novel asli, pertemuan ini akan menjadi awal dari ambisi seorang Belliza untuk menjadi permaisuri. Dan ini juga akan menjadi awal pertemuan antara Belliza dan Lenzoris, Male Lead dalam novel asli.
Belliza tidak ingat pasti babnya, tapi bisa jadi ini masih awal-awal kehadirannya sebagai antagonis.
"Lady...?" Shenna memanggil. "Anda melamun lagi."
Belliza langsung tersadar.
"Sepertinya Anda sedang banyak pikiran. Saya akan membuatkan teh hangat untuk membuat pikiran anda lebih rileks." ujar Shenna, lalu menunduk hormat dan keluar dari perpustakaan.
Belliza menatap kepergian Shenna.
"Please, ini tiba-tiba banget..." gumamnya. "Aku bahkan nggak tau harus gimana!"
Belliza menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. "Oke tenang... aku harus tenang. Yang bisa aku lakuin sekarang adalah menyusun strategi baru supaya aku nggak berakhir tragis di sini. Kan nggak lucu ya, kalau aku baru aja masuk, eh tiba-tiba metong!"
Belliza menjatuhkan diri ke kasur, menatap lurus langit-langit kamar. "Tapi... gimana caranya? Haruskah aku kabur dari sini terus memulai hidup baru sebagai rakyat biasa?" Ia bangkit dan duduk bersila. "Nggak, itu bukan ide yang bagus."
"Kalau aku jadi rakyat biasa, itu artinya aku nggak bakal punya banyak duit dong! Sedangkan di dunia ini, yang aku takutkan bukan hantu, tapi nggak punya duit!"
Ia kembali berbaring. "Emang sih duit bukan segalanya, tapi kan... semua hal butuh duit!"
Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh langit-langit kamar. "Aku harus tetep stay di sini. Tapi sebelum itu..." Belliza mengusap dagunya, terlihat berpikir. "Kayaknya aku harus mulai nyusun rencana."
Begitu sampai di ruang tamu, langkah Maura dan Tommy langsung terhenti.Suasana mendadak hening.Myrrathis berdiri tegak di depan televisi dengan wajah yang dipenuhi kewaspadaan. Di tangannya, sebilah pedang telah terhunus entah sejak kapan. Sedangkan di lantai, pecahan vas bunga berserakan ke segala arah.Sementara itu, televisi masih menyala, menampilkan adegan film horor. Seorang wanita berambut panjang dengan wajah pucat tiba-tiba muncul memenuhi layar, diiringi musik yang mencekam.Myrrathis sama sekali tidak berkedip. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah televisi, seolah memastikan makhluk itu tidak akan keluar lagi. Beberapa detik berlalu. Kemudian, perlahan ia menoleh ke arah Maura, wajahnya benar-benar serius."Lavender."Maura berkedip bingung."Aku berhasil mengalahkan penyihir di dalam kotak itu."Hening.Maura menatap televisi, lalu menatap pecahan vas di lantai. Kemudian menatap pedang di tangan Myrrathis. Setelah itu... ia menoleh ke ayahnya yang juga sedang menatapny
Maura kembali menarik tangan Myrrathis. Ia membawa pria itu menuju sofa di depan televisi. Setelah keduanya duduk, Maura menyerahkan remote di tangannya."Ini namanya remote."Myrrathis menerima benda itu dengan hati-hati, membolak-baliknya sambil mengamati setiap tombol yang ada."Kalau ingin menyalakan televisi, tekan yang ini." Maura menunjuk tombol berwarna merah.Myrrathis mengangguk pelan, lalu menekannya dengan hati-hati. Seketika layar televisi mati. Kedua matanya langsung membulat."Hilang..."Maura menahan tawanya. "Coba tekan lagi."Dengan ragu, Myrrathis kembali menekan tombol yang sama. Beberapa detik kemudian, televisi kembali menyala. Pria itu berkedip beberapa kali sebelum menoleh pada Maura dengan wajah yang dipenuhi rasa takjub."Luar biasa..."Melihat ekspresi itu, senyum Maura semakin lebar. Rasanya seperti sedang mengajari anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.Di tengah suasana hangat itu, suara Tommy terdengar dari lantai dua."Maura!"Maura segera men
Sore harinya, setelah dokter memastikan kondisi Maura telah benar-benar stabil, ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Berbulan-bulan yang terasa begitu panjang akhirnya berakhir. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih dan ia masih diwajibkan menjalani kontrol rutin, setidaknya kini ia tak lagi harus menghabiskan hari-harinya di balik dinding ruang rawat inap.Mobil yang dikendarai Tommy melaju membelah jalanan kota diiringi cahaya matahari sore yang mulai menghangat. Di kursi belakang, Maura duduk berdampingan dengan Myrrathis. Sesekali pria itu menoleh ke luar jendela, mengamati setiap bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berlalu lalang dengan rasa penasaran yang tak mampu ia sembunyikan.Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan yang tenang. Sebuah gerbang besi berwarna hitam perlahan terbuka ketika satpam mengenali kendaraan mereka. Mobil terus melaju hingga berhenti tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri megah di tengah hala
Myrrathis melangkah pelan menuju jendela di samping ranjang rumah sakit. Dengan gerakan tenang, ia membuka daun jendela itu. Seketika angin pagi berembus lembut, membawa aroma pepohonan dan hangatnya sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Tirai putih berkibar perlahan.Tak lama kemudian, Tommy berdiri dari kursinya."Ayah keluar sebentar."Maura mengangguk kecil.Pria paruh baya itu menatap Myrrathis sekilas, lalu tersenyum tipis sebelum melangkah keluar dan menutup pintu perlahan, memberi keduanya ruang untuk berbicara.Ruangan kembali hening.Myrrathis berdiri di dekat jendela sambil menatap Maura. Senyum tipis sedari tadi tak pernah benar-benar hilang dari wajah pria itu. Sorot matanya begitu hangat... seolah semua luka yang pernah mereka lalui kini hanyalah kenangan yang perlahan memudar.Maura berdeham pelan."Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"Myrrathis menoleh. "Aurora yang membawaku."Maura terdiam.Myrrathis berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang."Setelah
Myrrathis berdiri tegak di hadapan Belliza. Mata hitam legamnya menusuk dan dingin, namun ada sesuatu yang samar. Sekelebat kehangatan yang tak bisa Belliza tafsirkan."Selamat siang, Lady Grouss." ucap Myrrathis, suaranya terdengar tenang dan berat.Belliza menegakkan punggungnya, mencoba terlihat
Dentang lonceng istana berbunyi tiga kali, menandakan pertemuan dimulai.Kaisar Bexern Elstammer berdiri dari singgasananya. Permaisuri Beandra duduk anggun di sisi kirinya, sementara Archduke Lenzoris dan Archduchess Elena duduk di kursi kehormatan di kedua sisi."Para pemimpin wilayah, bangsawan
Ruangan kamar Belliza sama mewahnya dengan perpustakaan tadi, bahkan mungkin lebih. Langit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal yang berkilau, dinding dihiasi lukisan-lukisan bunga musim gugur, dan perabotan berukir emas yang tampak begitu mahal. Shenna berdiri di belakangnya, sedang merapik
Sinar matahari menembus masuk lewat sela-sela jendela tinggi, menyinari ruangan luas yang dipenuhi rak-rak buku menjulang. Aroma kayu tua dan lembaran kertas mengisi udara, terasa hangat, menenangkan, namun sekaligus asing.Perlahan, Maura membuka mata. Pandangannya masih kabur saat ia mengangkat t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan