LOGINSetelah tewas di tangan Ronan, pasangannya sendiri, Lyra mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hidupnya dan ia memilih untuk meninggalkan Ronan. Akan tetapi, ia tidak menyangka bahwa ia akan berakhir di pelukan Canen, penguasa yang ditakuti sekaligus musuh Ronan.
View MoreFajar baru saja menyentuh puncak pegunungan Stormhowl ketika bunyi terompet penjaga terdengar dari gerbang timur.Bukan tanda bahaya.Melainkan tanda kedatangan tamu.Seorang prajurit berlari memasuki ruang rapat dengan napas masih memburu.“Tuan Alpha. Utusan dari tiga pack sudah tiba.”Calen menghentikan pembicaraannya dengan para komandan.“Tiga?”“Ya. Frostfang, Ashclaw, dan Blackpine.”Ruangan mendadak sunyi.Cayden menatap kakaknya dengan kening berkerut.“Lebih cepat dari perkiraanku.”Jason yang bersandar di dekat jendela ikut meluruskan badan.“Mereka datang bersama?”“Ya.”“Itu bukan kabar baik.”Calen mengangguk pelan.Ketiga Alpha itu biasanya tidak pernah bepergian bersamaan kecuali ada sesuatu yang sangat penting.“Apa alasan kunjungan mereka?” tanya Calen.“Mereka meminta pertemuan resmi.”Prajurit itu ragu sesaat sebelum melanjutkan.“Katanya… untuk membicarakan keselamatan seluruh wilayah utara.”Tatapan Calen berubah dingin.“Persiapkan aula.”“Baik.”Begitu prajurit
Bab 61 – Jejak yang DisembunyikanMentari baru saja naik ketika lonceng jaga berbunyi tiga kali dari menara utama Stormhowl. Bunyi itu bukan tanda bahaya, melainkan panggilan bagi seluruh petugas keamanan untuk berkumpul.Serangan kawanan rouge beberapa malam sebelumnya meninggalkan bekas yang sulit diabaikan. Gerbang utara masih diperbaiki. Bau kayu hangus dan batu yang retak masih memenuhi udara.Calen berdiri di depan meja peta besar di ruang strategi.“Seluruh pintu masuk diperiksa dua kali lipat,” ucapnya tenang. “Patroli malam digandakan. Tidak ada seorang pun keluar atau masuk wilayah tanpa izin.”“Baik, Alpha.”“Pasukan pengintai diperluas hingga Hutan Barat.”Jason mengangkat tangan.“Aku sudah mengirim dua regu sejak subuh.”Calen mengangguk.“Jangan mengejar musuh terlalu jauh.”Jason tersenyum tipis.“Takut aku membuat masalah lagi?”“Aku takut kau terlalu bersemangat.”Ruangan dipenuhi tawa kecil. Bahkan Cayden ikut menggeleng sambil menandatangani beberapa dokumen.“Tern
Fajar menyingsing perlahan di atas Stormhowl. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus ketika lonceng peringatan berbunyi tiga kali. Bukan tanda bahaya, melainkan panggilan rapat darurat bagi seluruh perwira.Ruang strategi di Kediaman Alpha dipenuhi peta wilayah, laporan patroli, dan beberapa pecahan taring serigala rouge yang semalam berhasil dikumpulkan.Calen berdiri di depan meja besar.“Jumlah mereka tiga puluh dua ekor,” ucapnya tenang. “Dua puluh tujuh tewas. Lima melarikan diri.”Jason mengangguk.“Yang aneh, mereka sama sekali tidak berusaha kabur sejak awal. Mereka seperti memang dikirim untuk mengulur waktu.”“Persis.” Cayden menunjuk peta. “Jejak mereka tidak berasal dari hutan liar. Mereka bergerak berkelompok dari arah barat laut.”“Itu wilayah kosong,” gumam salah seorang kapten.“Seharusnya kosong,” koreksi Cayden.Suasana menjadi hening.Calen memandang semua orang bergantian.“Mulai hari ini, patroli dilipatgandakan.”“Tuan Alpha, bagaimana dengan war
Anak panah itu menancap kuat di batang pinus hanya beberapa langkah dari tempat Calen dan Lyra berdiri.Suara benturannya tidak keras, tetapi cukup membuat naluri Alpha Stormhowl bereaksi.Calen langsung bergerak. Dalam satu tarikan napas ia sudah berdiri di depan Lyra, sementara sebelah tangannya mencabut pedang yang tergantung di pinggang.“Jangan bergerak.”Tatapannya menyapu hutan di sekeliling bukit.Pepohonan bergoyang pelan diterpa angin. Burung-burung kecil beterbangan meninggalkan dahan. Tidak tampak satu sosok pun.Beberapa prajurit patroli segera berlari menaiki bukit.“Tuan Alpha!”“Periksa seluruh area.”“Baik!”Belasan prajurit langsung menyebar ke berbagai arah.Calen sendiri mendekati batang pohon tempat anak panah itu menancap. Ia mencabutnya perlahan, lalu menemukan gulungan perkamen kecil yang diikat dengan benang hitam.Lyra ikut mendekat.“Apakah itu ancaman?”“Lebih tepat disebut pesan.”Calen membuka gulungan tersebut. Hanya ada satu kalimat.Jangan terlalu perc
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kediaman Alpha dipenuhi kebisingan suara. Dan sebagian besar suara itu berasal dari satu orang.“BUNDAAA! Aku tidak berhalusinasi!”“Jaden, pelankan suaramu.”“Aku serius!”“Jaden.”“Paman tersenyum!”Carmen yang sedang menuangkan teh ham
Lyra tersenyum hambar. Tatapannya dingin. Tuduhan tak beralasan itu rasanya sudah tak mempan baginya, dibanding ancaman nyata barusan.“Bukan saya yang memulai kekacauan,” sahutnya datar.“Benarkah?”Pertanyaan balik dari Reva itu membuat Lyra sedikit mengerutkan keningnya.Perempuan berambut hitam
Jaden langsung berdiri dari kursinya. “Tidak!” serunya spontan. “Nona Lyra pasti akan memakai semuanya untuk menyelamatkan orang!”“Jaden.” Carmen segera menarik pelan tangan putranya.Bocah itu menggigit bibir bawahnya keras-keras, seraya duduk kembali dengan mata memerah.
Suara alarm darurat terdengar panjang mengguncang seluruh pavilliun.Tentu saja Lyra dan Calen tersentak. Air muka Sang Alpha seketika berubah. Dari wajahnya yang tenang, tatapannya kembali dingin, tajam, dan berbahaya.Lyra menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Meski tidak tahu apa yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore