MasukSetelah tewas di tangan Ronan, pasangannya sendiri, Lyra mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hidupnya dan ia memilih untuk meninggalkan Ronan. Akan tetapi, ia tidak menyangka bahwa ia akan berakhir di pelukan Canen, penguasa yang ditakuti sekaligus musuh Ronan.
Lihat lebih banyak“Aaah… Lyraaa…”
Desahan itu terdengar lagi dan kali ini lebih parau dan panjang dari sebelumnya, membuat Lyra menelan ludah. Dia bisa saja bersumpah bahwa dirinya tidak menginginkan hubungan badan dengan pasangannya, tapi tubuhnya akan mengatakan yang sebaliknya. Sejatinya, memang sangat sulit bagi pasangan mana pun untuk mengabaikan kebutuhan satu sama lain. Namun, di kesempatan ini, Lyra tidak ingin menyerahkan dirinya pada pria itu. “Tenanglah…” desisnya sambil menggenggam erat kedua sisi baju tidurnya itu, sembari perlahan memaksakan dirinya untuk melangkah pergi dari sana. Di saat yang sama, Lyra bisa mendengar suara benda-benda jatuh dan diselingi luapan amarah yang menandakan bahwa Ronan telah kehilangan kendalinya. Akan tetapi, Lyra tetap berlalu pergi. Jika ini terjadi pada Lyra yang dulu, ia pasti sudah menghambur ke dalam kamar tanpa ragu. Ia akan memastikan kemampuannya memenuhi kebutuhan sang Alpha. Bukan karena ia menuruti hasratnya sendiri, melainkan melayani Ronan adalah sebuah kehormatan baginya. Sebagai seorang anak yang asal-usulnya tidak jelas lalu dirawat oleh keluarga Ronan, Lyra awalnya sangat bahagia ketika pria tersebut menunjukkan ketertarikan padanya. Bahkan ketika Sang Dewi menganugerahkan Ronan sebagai pasangan takdirnya. Lyra sama sekali tidak menyangka kalau dirinya yang tidak punya apa-apa itu akan mendapatkan seorang pemimpin sebagai pasangannya. Di masa lalu, Lyra sangat bersyukur dan rela melakukan apa pun untuk mendukung Ronan. Namun, semua itu terjadi sebelum pria itu menghabisinya. Mengirimnya pada kematian. Ya, ini adalah kehidupan kedua Lyra. Lyra mengusap bagian perut bawahnya, datar. Setelah melahirkan keturunan Ronan di masa lalu, pria itu tidak memberikan Lyra kesempatan untuk melihat buah hatinya. “Tugasmu sebagai pasanganku sudah selesai, Lyra,” ucap Ronan kala itu sembari mengeluarkan belati yang sudah dilumuri racun. “Terima kasih sudah melahirkan keturunan untukku. Tapi mulai dari sini, aku lebih membutuhkan wanita yang bisa menopang posisiku sebagai pemimpin pack. Dan orang itu bukan dirimu.” Lyra pernah dengar bahwa keturunan yang dihasilkan dari pasangan yang dipilih oleh Sang Dewi akan memiliki karakteristik unggulan. Mungkin karena itu, Ronan bertahan dengan dirinya, bersabar hingga Lyra melahirkan seorang pewaris untuknya. “Kenapa kau di sini?” Lamunan Lyra buyar saat mendengar suara langkah seseorang dari ujung seberang koridor. Seraphine Calder, yang tak lain dan tak bukan adalah asisten Ronan sekaligus teman masa kecil pria itu. Seraphine adalah putri mantan asisten orang tua Ronan, otomatis membuat kedudukannya masuk ke jajaran wanita terpandang. Namun, bukan itu yang membuat Lyra terdiam. Di malam kematiannya, Seraphine ada di sisi Ronan. Sebelum meregang nyawa, Lyra berpikir bahwa Seraphine di sana untuk membantu persalinannya. Namun, rupanya wanita itu ingin mengukuhkan posisinya di sisi Ronan. “Terima kasih, Lyra. Posisimu sebagai pasangan Ronan akan kujaga dengan baik,” tutur Seraphine malam itu. “Lagipula, kau harus sadar diri. Ronan butuh pendamping yang setara dengannya, yang bisa membantunya memperkuat kelompok kita. Perempuan rendahan sepertimu jelas tidak bisa melakukan itu.” Tanpa sadar, tubuh Lyra berkeringat dingin dan gemetaran saat mengingat kejadian itu lagi. Terlebih, ia baru bertahan dari tekanan hasratnya untuk memenuhi perintah Ronan. “Kau tuli, ya?” Seraphine bertanya ketus. “Kenapa kau di sini? Oh, aku tahu. Akhirnya Ronan menyadari kesalahannya dan mengusirmu? Hahaha.” Lyra memandang Seraphine dengan pandangan kosong. Ia dapat menangkap nada harap yang terselip dalam suara Seraphine saat mengatakan hal itu. Sama seperti kehidupan lalu, Seraphine pasti masih menginginkan posisi Lyra sebagai pendamping Ronan. Kalau memang seperti itu, Lyra berikan saja apa yang diinginkannya sejak awal. “Ia memang membutuhkanmu,” ucap Lyra kemudian. “Pergilah ke ruangannya dan puaskan dia.” Lyra tidak menunggu respons Seraphine dan langsung beranjak dari sana. Namun, ia sempat melihat keterkejutan di mata wanita itu, sebelum digantikan dengan binar penuh pengharapan. *** Keesokan paginya, Lyra baru saja meregangkan badannya di ranjang, saat pintu kamarnya diketuk keras. “Anda diutus ke kamar Alpha Ronan!” ucap seorang pelayan pada Lyra. Nada suaranya ketus dan tidak memberikan ruang pada Lyra untuk membantah. Meskipun merupakan pasangan Ronan dan calon Luna, baik di kehidupan sekarang maupun sebelumnya, orang-orang di kelompok ini jarang ada yang menghormatinya. Mereka bahkan kerap kali merundungnya. Sebelumnya, Lyra bertahan karena Ronan. Namun, sekarang, keputusan Lyra sendiri sudah bulat. Ia akan meninggalkan kelompok ini demi bertahan hidup. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Lyra mengetuk pintu dan masuk ke kamar Alpha setelah dipersilakan dari dalam. Ia melihat punggung Ronan yang sedang berdiri membelakangi pintu, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Banyak barang-barang berserakan dan belum dibereskan, termasuk beberapa pakaian yang tercecer di lantai. Sprei tempat tidur Ronan sendiri tampak kusut dan lusuh, jelas merupakan jejak pergulatan semalam. Dan di atas tempat tidur Ronan itu, Seraphine sedang duduk bersandar. Menatap Lyra dengan ekspresi penuh kemenangan, sebelum kemudian disembunyikan di balik wajah polosnya. “Lyra, maaf memanggilmu pagi-pagi,” ucap Seraphine lembut. Tangannya menyentuh bekas ciuman di lehernya dengan ringan. “Aku merasa tidak enak badan. Apakah kau bisa memeriksaku sebentar? Kudengar kau adalah seorang penyembuh yang paling rajin di pack ini.” Lyra menoleh ke arah Ronan yang tidak mengatakan apa pun, baik itu melarang atau mengiyakan. Jadi, ia pun melangkah ke arah Seraphine. “Tolong mendekat ke arahku,” ucap Lyra pada Seraphine. Meskipun mereka berdua pasti tahu bahwa kondisi Seraphine baik-baik saja, Lyra tetap memeriksanya. Namun wajah Lyra yang datar, membuat Seraphine jengah. “Ah!” pekik Seraphine tiba-tiba, seakan Lyra menyakitinya. “Lyra … tolong pelankan...” “Apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba Ronan sudah berbalik. Sepasang matanya memandang Lyra dengan tatapan menyalahkan. “Perlakukan dia dengan baik!” Sementara Lyra menghentikan tangannya di udara, membalas tatapan Ronan dengan dinginnya.Fajar baru saja menyentuh puncak pegunungan Stormhowl ketika bunyi terompet penjaga terdengar dari gerbang timur.Bukan tanda bahaya.Melainkan tanda kedatangan tamu.Seorang prajurit berlari memasuki ruang rapat dengan napas masih memburu.“Tuan Alpha. Utusan dari tiga pack sudah tiba.”Calen menghentikan pembicaraannya dengan para komandan.“Tiga?”“Ya. Frostfang, Ashclaw, dan Blackpine.”Ruangan mendadak sunyi.Cayden menatap kakaknya dengan kening berkerut.“Lebih cepat dari perkiraanku.”Jason yang bersandar di dekat jendela ikut meluruskan badan.“Mereka datang bersama?”“Ya.”“Itu bukan kabar baik.”Calen mengangguk pelan.Ketiga Alpha itu biasanya tidak pernah bepergian bersamaan kecuali ada sesuatu yang sangat penting.“Apa alasan kunjungan mereka?” tanya Calen.“Mereka meminta pertemuan resmi.”Prajurit itu ragu sesaat sebelum melanjutkan.“Katanya… untuk membicarakan keselamatan seluruh wilayah utara.”Tatapan Calen berubah dingin.“Persiapkan aula.”“Baik.”Begitu prajurit
Bab 61 – Jejak yang DisembunyikanMentari baru saja naik ketika lonceng jaga berbunyi tiga kali dari menara utama Stormhowl. Bunyi itu bukan tanda bahaya, melainkan panggilan bagi seluruh petugas keamanan untuk berkumpul.Serangan kawanan rouge beberapa malam sebelumnya meninggalkan bekas yang sulit diabaikan. Gerbang utara masih diperbaiki. Bau kayu hangus dan batu yang retak masih memenuhi udara.Calen berdiri di depan meja peta besar di ruang strategi.“Seluruh pintu masuk diperiksa dua kali lipat,” ucapnya tenang. “Patroli malam digandakan. Tidak ada seorang pun keluar atau masuk wilayah tanpa izin.”“Baik, Alpha.”“Pasukan pengintai diperluas hingga Hutan Barat.”Jason mengangkat tangan.“Aku sudah mengirim dua regu sejak subuh.”Calen mengangguk.“Jangan mengejar musuh terlalu jauh.”Jason tersenyum tipis.“Takut aku membuat masalah lagi?”“Aku takut kau terlalu bersemangat.”Ruangan dipenuhi tawa kecil. Bahkan Cayden ikut menggeleng sambil menandatangani beberapa dokumen.“Tern
Fajar menyingsing perlahan di atas Stormhowl. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan pinus ketika lonceng peringatan berbunyi tiga kali. Bukan tanda bahaya, melainkan panggilan rapat darurat bagi seluruh perwira.Ruang strategi di Kediaman Alpha dipenuhi peta wilayah, laporan patroli, dan beberapa pecahan taring serigala rouge yang semalam berhasil dikumpulkan.Calen berdiri di depan meja besar.“Jumlah mereka tiga puluh dua ekor,” ucapnya tenang. “Dua puluh tujuh tewas. Lima melarikan diri.”Jason mengangguk.“Yang aneh, mereka sama sekali tidak berusaha kabur sejak awal. Mereka seperti memang dikirim untuk mengulur waktu.”“Persis.” Cayden menunjuk peta. “Jejak mereka tidak berasal dari hutan liar. Mereka bergerak berkelompok dari arah barat laut.”“Itu wilayah kosong,” gumam salah seorang kapten.“Seharusnya kosong,” koreksi Cayden.Suasana menjadi hening.Calen memandang semua orang bergantian.“Mulai hari ini, patroli dilipatgandakan.”“Tuan Alpha, bagaimana dengan war
Anak panah itu menancap kuat di batang pinus hanya beberapa langkah dari tempat Calen dan Lyra berdiri.Suara benturannya tidak keras, tetapi cukup membuat naluri Alpha Stormhowl bereaksi.Calen langsung bergerak. Dalam satu tarikan napas ia sudah berdiri di depan Lyra, sementara sebelah tangannya mencabut pedang yang tergantung di pinggang.“Jangan bergerak.”Tatapannya menyapu hutan di sekeliling bukit.Pepohonan bergoyang pelan diterpa angin. Burung-burung kecil beterbangan meninggalkan dahan. Tidak tampak satu sosok pun.Beberapa prajurit patroli segera berlari menaiki bukit.“Tuan Alpha!”“Periksa seluruh area.”“Baik!”Belasan prajurit langsung menyebar ke berbagai arah.Calen sendiri mendekati batang pohon tempat anak panah itu menancap. Ia mencabutnya perlahan, lalu menemukan gulungan perkamen kecil yang diikat dengan benang hitam.Lyra ikut mendekat.“Apakah itu ancaman?”“Lebih tepat disebut pesan.”Calen membuka gulungan tersebut. Hanya ada satu kalimat.Jangan terlalu perc
Sunyi. Beberapa pasang mata prajurit yang tersisa, saling pandang. Lyra sendiri hanya bisa menangkap suara itu, karena tubuhnya tak kuasa untuk bereaksi. Masih hening beberapa saat, hingga kesunyian itu terpecah dari mulut ketua regu prajurit penjaga, “Tidak kembali ke bangsal, Tuan? Lalu, Non
Darah Lyra berdesir. Tengkuknya meremang. Dia pun menajamkan telinga, waspada. Tak berapa lama kemudian, teriakan itu terdengar lagi. Justru semakin cepat ritmenya, “Aaaa… aaaa!” Insting Lyra sebagai serigala yang kesakitan, menuntutnya untuk segera pergi berlindung. Lyra pun merunduk, membuat tub
“Ah, tentu saja banyak tamu yang hadir. Upacara malam ini adalah acara paling penting bagi Bloodcrest,” kata Lyra sambil angkat bahu. Dia sudah tidak lagi menganggap kesibukan Ronan sebagai sesuatu yang penting baginya. Kini hanya ada satu hal yang harus ia fokuskan, kebebasan. Biarpun merasakan k
Tak perlu memperpanjang perdebatannya lagi, Ronan sudah angkat kaki atas kemauannya sendiri. Setelah Ronan pergi dari situ, barulah Lyra menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya dengan lega. Pria itu benar-benar sombong luar biasa. Lihat saja, apa yang bisa mencegahnya untuk keluar dari sini






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak