LOGINDi dunia tempat jalinan Mana menentukan kasta dan kekuatan, Dorin adalah sebuah anomali—pemuda tanpa energi sihir yang menyembunyikan eksistensi aslinya di balik kedok pengawal malas. Namun, saat sekte misterius melancarkan teror dengan senjata "pemakan sihir" yang mengancam Kekaisaran Lycos, dia terpaksa turun tangan demi melindungi target utama mereka, Putri Sena. Menyusup sebagai siswa transfer di Akademi Fairy Night, tugas Dorin sangat sederhana: menjadi bayangan sang Putri jenius tanpa membiarkan kedoknya sendiri terbongkar. Di tengah kepungan musuh dunia bawah dan konspirasi pengkhianat istana, mampukah Dorin menjaga rahasia kekuatannya tetap terkunci?
View MoreKekaisaran Lycos—sebuah negeri agung yang berdiri kokoh di belahan tengah benua, terlindung di balik dekapan dua pegunungan raksasa. Selama ribuan tahun, negeri itu menikmati kedamaian. Asap tipis selalu mengepul dari cerobong rumah-rumah penduduk, pasar tak pernah sepi oleh tawa, dan senyum ramah menjadi pemandangan yang lumrah di setiap sudut kota.
Namun, fajar ketenangan itu mendadak padam. Dari cakrawala utara, genderang kematian menggema. Tanah Lycos bergetar. Debu membubung tinggi ketika gerombolan monster mengalir dari perbatasan, memenuhi daratan bak lautan hitam yang tak bertepi. Goblin-goblin kurus berlari paling depan sambil mengacungkan senjata berlumuran darah. Di belakang mereka, Cyclops bertubuh raksasa melangkah perlahan. Setiap pijakannya meremukkan pepohonan hingga tumbang satu demi satu. Saat mendongak, langit yang biasanya cerah tak lagi terlihat. Ribuan Wyvern bersama monster predator terbang lainnya mengepakkan sayap, menutupi cahaya matahari. Bayangan mereka menyelimuti seluruh wilayah kekaisaran. Pemandangan semacam ini hanya pernah tercatat pada masa Perang Besar ratusan tahun silam. Ini bukan sekadar penyerangan. Ini adalah invasi Pasukan Kegelapan. Bel darurat berdentang bertalu-talu. Warga berhamburan keluar rumah sambil menggendong anak-anak mereka. Di pelabuhan, ratusan kapal bergoyang hebat karena dipenuhi pengungsi yang saling berebut tempat. Teriakan, tangisan, dan aba-aba para prajurit bercampur menjadi satu. Tak seorang pun mengetahui nasib ribuan pasukan garda depan yang dikirim beberapa jam sebelumnya. Di atas singgasananya, Kaisar Juno duduk terpaku. Kerutan di dahinya semakin dalam. Ia adalah Penyihir Tingkat Benua. Para jenderal yang berdiri di belakangnya pun memiliki tingkatan yang sama. Nama mereka selama ini cukup untuk membuat kerajaan lain berpikir dua kali sebelum mengangkat senjata. Namun, di hadapan lautan monster yang tak berujung... Kekuatan itu terasa begitu kecil. Apakah ini akhirnya? Apakah kekaisaran yang dijaga leluhur selama ribuan tahun harus runtuh di tanganku? "Yang Mulia Kaisar, Anda tidak bisa terus berada di sini. Sebentar lagi gerbang depan akan jebol," ujar sang Perdana Menteri. "Walau kita gagal mempertahankan tanah ini, setidaknya selamatkanlah garis keturunan takhta Lycos." Kaisar Juno mengembuskan napas panjang sebelum bangkit dari singgasananya. "Apa arti seorang Kaisar jika melarikan diri saat negerinya hancur?" ujarnya. "Mau kutaruh di mana mukaku ini saat berhadapan dengan para leluhur di keabadian nanti jika aku memilih menjadi pengecut?" "Yang Mulia..." Dengungan memenuhi ruang takhta. Partikel-partikel cahaya keemasan bermunculan di sekitar tubuh sang Kaisar, berputar mengelilinginya sebelum berkumpul di telapak tangan. Cahaya itu memadat, memanjang, lalu menjelma menjadi sebilah pedang raksasa yang memancarkan aura suci. "Pedang Suci Pahlawan..." gumam sang Perdana Menteri. "Senjata yang mampu memusnahkan inti kegelapan..." Cahaya lain menyelimuti tubuh Kaisar Juno, membentuk zirah putih berlapis emas. Jubah kebesarannya berkibar pelan meski tak ada embusan angin. "Ayo, para pejuang Lycos!" Pedang sucinya terangkat tinggi. "Hari ini kita pertahankan tanah kelahiran kita! Jangan biarkan sejengkal pun tanah ini jatuh ke tangan kegelapan! Tunjukkan bahwa anak-anak Lycos akan bertarung sampai napas terakhir!" "Ayah!" Sebuah teriakan mendadak memotong pidato megah sang Kaisar. Seluruh atensi di ruang takhta langsung teralih ke arah pintu besar. Mata sang Kaisar yang semula dipenuhi kobaran api perang seketika melunak saat menatap kedua anaknya yang berlari mendekat. Wajah mereka dipenuhi kecemasan yang sangat. Terutama sang Putri, matanya sudah sembab dan berkaca-kaca seolah berusaha menahan tangis. "Anak-anakku... mengapa kalian ke sini? Pergilah bersama ibu kalian menuju kapal evakuasi." "Tidak!" seru sang Pangeran. "Aku akan bertarung di sisi Ayah!" "I-iya, Ayah..." sahut sang Putri dengan suara bergetar. "Bukankah Ayah sendiri sudah melihat kemampuan sihir kami? Jika kita bertarung bersama, kita masih punya kesempatan." Kaisar Juno berjalan turun dari altar takhta. Dia mendekati kedua buah hatinya, lalu meletakkan kedua tangannya di pundak mereka masing-masing. "Justru karena kalian kuat... Ayah ingin kalian hidup." Tatapannya bergantian menatap kedua anaknya. "Masa depan Lycos tidak lagi berada di tanah yang akan hancur ini. Masa depan itu ada di tangan kalian. Jika kalian mati di sini... nama Lycos benar-benar hanya akan tersisa dalam sejarah." Air mata sang Putri akhirnya jatuh. "T-tapi, Ayah..." "Temani ibu kalian. Lindungi rakyat kita." Senyum tipis terukir di wajah Kaisar Juno. "Selama kalian masih bernapas... Lycos belum berakhir." Sang Pangeran menggenggam tangan adiknya, lalu menariknya menjauh. Teriakan sang Putri memanggil ayahnya terus terdengar hingga menghilang di balik koridor. "Yang Mulia..." bisik sang Perdana Menteri. Kaisar Juno menarik napas panjang. "Aku tidak apa-apa." Ia menggenggam pedang sucinya lebih erat. "Ayo. Maju." Sang Kaisar melangkah memimpin di garda terdepan, diikuti oleh sisa prajuritnya yang paling setia. Setidaknya, jika takdir mengharuskan mereka gugur di tanah ini, pertempuran terakhir mereka harus bisa mengulur waktu sampai seluruh kapal evakuasi berlayar dengan aman. Namun, tepat sebelum pasukan kekaisaran mencapai garis depan... sesuatu terjadi. Sesuatu yang seharusnya mustahil menurut hukum sihir.Sena melangkah anggun menyusuri koridor dengan tumpukan buku dan dokumen tebal yang didekap erat di dadanya.Suara ketukan sepatu hak tingginya bergema ritmis di sepanjang lorong akademi, tepat sesaat sebelum bel pertama berbunyi.Dia bernapas lega.Syukurlah tadi Amy tidak mendadak hobi mengobrol panjang lebar, sehingga kali ini dia bisa tiba di kelas tepat waktu.Namun, ada satu hal mengganjal yang terus berputar di kepalanya: tatapan Amy di ruangan kepala akademi tadi.Dari gurat wajahnya, Sena menduga kuat bahwa Elf tua itu berniat untuk segera menemui ayahnya, Kaisar Juno.Entah apa yang akan mereka bicarakan, tetapi kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan Dorin—pria misterius yang sukses membuat Amy berpikir keras seharian ini.Lamunan Sena buyar.Sepasang mata emasnya seketika melebar saat mendapati Profesor Tiana tengah berjalan dari arah berlawanan.Baru saja Sena hendak membuka mulut
Dorin berjalan menyusuri lorong asrama sembari mengedarkan pandangan ke deretan pintu kamar di sepanjang koridor.Sesekali, dia melirik gantungan kunci di tangannya yang bertuliskan angka 356, mencoba mencocokkan nomor tersebut dengan setiap pintu yang dia lewati.Rasanya dia ingin berteriak frustrasi.Sudah dua puluh menit penuh dia hanya berputar-putar di lorong labirin yang seolah tidak ada habisnya ini. Bertanya pada orang-orang di sekitar juga sama sekali tidak berguna. Setiap kali ada murid yang didekati, mereka langsung mengambil langkah seribu untuk menghindar.Namun, yang paling membuat Dorin jengkel adalah tatapan merendahkan yang mereka lemparkan. Jika bukan demi reputasi pekerjaan, dia sudah melenyapkan asrama ini dari peta sejak tadi.“Apa karena pakaianku, ya? Cih, dasar anak-anak kaya yang manja. Taruhan deh, mereka pasti bakal menangis histeris kalau tempat ini mendadak diserang musuh,” gerutu Dorin sinis.S
Suara teh yang dituang ke dalam cangkir menjadi musik tersendiri di dalam ruangan yang kini senyap itu.Amy memutar telunjuknya sekilas, dan seketika teko porselen itu menghilang ke dalam dimensi sihir sesaat setelah mengisi penuh kedua cangkir antik di atas meja."Aku tidak menyangka ayahmu sampai melangkah sejauh ini dengan menyewa seorang pengawal pribadi," Amy menyeruput tehnya dalam-dalam, menikmati aroma herbal yang menguar."Maksudku, kenapa harus repot-repot? Dia hanya perlu memintaku untuk menjagamu selama di akademi. Apa kaisar tua itu sedang meremehkan kekuatanku?"Sena menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku pun tidak mengerti. Ketakutan Ayah belakangan ini rasanya sangat berlebihan. Ayah bilang... ia melihat sebuah visi, atau semacamnya.""Jika ia sampai melihat sebuah visi, maka kemungkinan besar hal itu akan menjadi kenyataan. Apalagi, saat terakhir kali bertemu denganku, ia keli
“Sudah kubilang, jangan panggil aku ‘Dek’! Aku ini jauh lebih tua darimu, bocah sialan!” Amy meradang, urat-urat kekesalan tampak menyembul di dahi mungilnya.“B-baik, Dek—eh, maksudku Nyonya Amy,” ralat Dorin cepat dengan wajah polos.Sang Kepala Akademi mendengus kencang, lalu mengembuskan napas panjang untuk menenangkan diri."Kali ini..." Amy melipat kedua tangan di depan dada. "...kuampuni kelancanganmu."Dia menghela napas panjang, membuat telinga panjangnya sedikit terkulai ke bawah."Terutama karena kau sudah menyelamatkan Sena dari serangan teror semalam."Langkah kaki kecilnya bergema di ruang kerja yang sunyi. Dia melompat ke atas kursi kebesarannya yang terlalu besar, lalu menopang dagu sambil menatapku lurus."Tapi ingat ini baik-baik, anak muda."Aura sihir yang luar biasa pekat mendadak menekan seisi ruangan. Atmosfer di sekitar ruangan seketika menjadi sangat berat, membuktikan eksistensiny












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.