LOGINEnam bulan setelah terbangun dari koma misterius, Sandy memulai kehidupan barunya sebagai siswi SMA. Ia tidak mengira bahwa hari pertama MPLS langsung menjungkirbalikkan dunianya saat berhadapan dengan Natha, sang Ketua OSIS. Pemuda itu adalah sosok yang persis sama dengan laki-laki yang menghantui mimpi-mimpinya setiap malam selama enam bulan terakhir. Anehnya, Natha sengaja terus mendekat, seolah ia telah mengenali Sandy sejak lama. Ketika satu demi satu kejadian dari mimpi mulai terwujud di dunia nyata, hati Sandy perlahan mulai terusik. Yang Sandy tidak tahu, Natha bukan sekadar kakak kelas yang menyebalkan, dan mimpi-mimpinya bukanlah bunga tidur biasa. Ada rahasia besar yang tersembunyi di balik tatapan mata pemuda itu. Saat semua rahasia terbongkar, sanggupkah Sandy menerima bahwa hidupnya tidak sesederhana yang ia kira? Bahwa ia adalah seseorang yang punya kekuatan istimewa?
View More"San, Sandy!!"
Sandy tersentak saat sebuah tepukan mendarat di bahunya. Suasana lapangan upacara pagi itu terasa sangat terik dan gerah, membuatnya sempat kehilangan fokus.
Sepertinya Kota Malang yang terkenal dengan hawa sejuknya sudah menghilang karena pemanasan global. Baru pukul setengah delapan, tapi panasnya sudah terik.
"Eh, iya? Kenapa, Bi?" tanya Sandy sambil menyeka keringat yang mulai muncul di dahinya.
"Malah melamun! Lihat tuh Ketua OSIS kita di atas panggung. Cakep banget!" Bianca menyenggol lengan Sandy dengan heboh sambil menunjuk ke arah podium upacara.
Sandy tidak langsung mengangkat wajahnya, dia malah sibuk merapikan sabuk seragamnya yang melonggar. Dia tidak terlalu tertarik melihat senior tampan seperti yang sering dilakukan Bianca.
Pagi ini adalah hari pertama Sandy masuk SMA. Sejak pagi, halaman sekolah sudah penuh dengan siswa baru yang sibuk mengikuti MPLS.
Di dekat gerbang dan sekitar lapangan, para panitia OSIS tampak sibuk mengarahkan murid-murid menuju barisan upacara sambil sesekali berteriak menggunakan pengeras suara.
Namun, perhatian semua orang mendadak tersedot pada sosok cowok yang baru saja melangkah naik ke atas podium. Semua mata, terutama kaum hawa, langsung tertuju ke arahnya.
Seorang siswa bertubuh tinggi tegap berdiri di sana dengan ban Ketua OSIS melingkar di lengan kanannya. Rambut hitam pendeknya ditata rapi, membingkai rahang tegas dan hidung mancungnya yang mencolok.
“Sandy! Kamu dengar aku ngomong nggak sih?” Bianca merasa kesal karena tidak dihiraukan.
“Ya, ya. Yang mana, sih?” tanya Sandy malas-malasa
"Itu lho! Yang berdiri di atas podium. Yang pakai ban merah Ketua OSIS di lengan kanannya!” Keira ikut menyahuti.
Pandangan Sandy mengikuti arah telunjuk sahabatnya. Begitu pandangan Sandy menemukan sosok di atas panggung itu, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Deg!
"Nggak mungkin..." gumam Sandy.
Dia sangat mengenali wajah rupawan itu. Bukan karena pernah bertemu sebelumnya, tapi karena sudah enam bulan wajah itu terus hadir di mimpinya setiap malam sejak dia bangun dari koma misterius.
"Kamu kenapa, San? Terpesona juga ya? Tumben sampai nggak kedip," goda Bianca yang menyadari tatapan lekat sahabatnya.
Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP, tapi Bianca belum pernah melihat Sandy menatap cowok selama itu.
Sandy tidak menyahut. Fokusnya terkunci pada cowok itu.
Saat itu Sandy kembali teringat mimpinya tadi malam. Di dalam mimpi yang terasa begitu nyata, dia dan cowok yang mirip Ketua OSIS itu berada di sebuah ruangan sepi.
Kemudian cowok itu melangkah perlahan. Begitu jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah, dia mengulurkan tangan.
"Halo. Aku Natha. Maaf kalau membuatmu takut. Akhirnya kita bisa berbicara berdua. Aku sudah cukup lama mencarimu."
Sandy menatap dengan dahi berkerut.
"Kita kenal?"
"Belum."
Jawaban singkat itu justru membuat rasa penasaran Sandy semakin besar.
"Kalau begitu kenapa mencariku?"
Cowok itu tersenyum seolah ingin menjawab. Namun sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya, Sandy keburu terbangun.
Lamunan Sandy buyar saat sebuah cubitan mendarat di lengannya diikuti pekikan Bianca.
"Ya, ampun! Kakak gantengnya ngelihatin ke arah kita nggak sih? Eh, dia mulai jalan turun dari podium!" seru Bianca histeris.
Sandy segera tersadar dari lamunan karena tiba-tiba keadaan di sekitarnya menjadi riuh. Pekikan gemas dari barisan siswi saling bersahutan.
"Eh, Kakak gantengnya jalan ke sini!" Suara itu datang dari seorang siswi baru yang berdiri tak jauh di belakang mereka.
Saat itu Sandy baru menyadari sesuatu. Cowok itu sedang berjalan lurus membelah barisan, menuju ke arahnya.
Dengan jarak yang semakin dekat, Sandy bisa membaca papan nama kecil yang tersemat di dada seragam Ketua OSIS tersebut.
Natha Praditya.
Tubuh Sandy tiba-tiba merinding. Bulu kuduknya meremang. Nama itu sama persis seperti di mimpinya.
“Tidak mungkin. Pasti ini hanya kebetulan. Mana mungkin seseorang dari mimpiku benar-benar ada di dunia nyata?” batin Sandy bergejolak.
Riuh di kepalanya kontras dengan suasana di sekitar yang tiba-tiba hening saat Natha berhenti tepat di hadapan Sandy. Sepertinya semua orang penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya.
Cowok itu sempat melirik sejenak ke arah papan nama MPLS yang tergantung di dada Sandy, membaca deretan huruf di sana dengan cepat.
“Sandy Senara?” Sang Ketua OSIS tiba-tiba memecah keheningan.
Sandy gemetar. Dia menunduk. Tidak berani menatap wajah kakak kelasnya itu.
“Kenapa dia di sini? Apa aku bikin salah?” Sandy bertanya dalam hati.
Namun ternyata tidak terjadi apa-apa. Setelah mengamati Sandy beberapa saat dengan tatapan dalam, Natha berbalik kembali menuju podium untuk memulai upacara pembukaan MPLS.
Sandy mendongak, melihat punggung Natha yang berjalan menjauh. Akhirnya dia bisa bernapas lega.
“Kamu kenal dia, San?” tanya Keira.
Sandy hanya menggeleng. Dia masih tidak tahu harus menjawab apa.
“Tapi tadi ngapain dia nyamperin kamu? Aku sampai kaget dia tiba-tiba berdiri di depanmu dan menyebut namamu.” Bianca tak kalah penasaran.
Sandy hanya diam. Rasa tidak nyaman sekaligus bingung berbaur menjadi satu di dalam dadanya. Dari sekian banyak murid baru di lapangan itu, kenapa Natha hanya menghampirinya?
Semua pertanyaan di kepala Sandy mendadak buyar ketika belasan anak baru mulai berdatangan mengisi ruangan.Raka segera menyapa mereka dengan gaya santainya yang khas. Setelah pertemuan dibuka, dia membagikan kertas sketsa dan pensil untuk latihan dasar.“Siang ini, aku mau lihat kemampuan kalian dalam membuat sketsa. Nggak ada tema. Kalian bebas menggambar apa aja yang kalian suka.”Begitu Raka selesai memberikan penjelasan, para siswa mulai sibuk membuat sketsa masing-masing.Sandy menarik napas, berusaha mengusir bayangan lukisan taman yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Namun, sia-sia.Pikirannya terus kembali pada lukisan anonim yang tergantung di dinding sanggar.Sambil melamun, Sandy tetap menggoreskan pensil di atas kertas sketsanya. Sesekali dia menambahkan beberapa garis tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang digambarnya.Beberapa menit kemudian, Raka menghampiri Sandy sambil mengamati hasil gambarnya."Lho… Bukannya ini taman di lukisan yang tadi kamu liha
Dengan ragu, Sandy menarik kursi dari meja besar dan duduk di depan Natha. “Mau nanya apa, Kak? Kok serius amat. Jadi deg-degan nih,” tanya Sandy sambil tersenyum canggung, berusaha mengurangi debar di dadanya. Natha melepaskan jemarinya dari atas keyboard. Dia bersedekap, menyandarkan punggungnya, dan menatap Sandy dengan tatapan serius. “Siapa yang mengantarkan kolak itu?” tanya Natha tanpa basa-basi. “Mama tidak cerita apa-apa soal mengirim makanan ke rumahmu.” Sandy mengerjapkan mata, agak terkejut mendengar pertanyaan itu. “Emm… Seingatku yang mengirim seorang bapak-bapak, Kak. Dia memakai jas hujan dan basah kuyup,” jawab Sandy jujur. “Dia tahu namaku, dan dia bilang kalau paket itu dari kediaman Tuan Natha.” Natha tampak berpikir. Begitu pula dengan Sandy. Otaknya memutar kembali memori tentang helm kurir yang sama dengan helm di foto profil aplikasi pesan milik Natha. Sandy menimbang apakah dia perlu menyampaikan masalah helm itu kepada Natha. Namun, akhirnya dia memilih
“Itu Kak Natha, kan? Dia yang kirim pesan ke kamu?” tanya Keira penasaran, membuyarkan lamunan Sandy yang masih terpaku menatap detail helm di layar ponselnya.“Iya,” jawab Sandy.“Kirim pesan apaan? Sini lihat!” Bianca merebut ponsel Sandy saking penasarannya.Setelah membaca pesan itu, Bianca mengembalikan ponselnya.“Buruan bales! Aku penasaran ngapain dia nanya kamu lagi di mana?”“Nggak, ah, males. Biarin aja,” jawab Sandy.“Eh, kok gitu sih… Kasihan tahu kalau dicuekin,” timpal Bianca."Lagian dia tahu nomorku dari mana, ya?" gumam Sandy."Dia kan Ketua OSIS, San. Mau nyari nomor ponselmu tinggal buka data anak baru," sahut Keira santai.Sandy cuma manggut-manggut."Udah, bales dulu! Kasihan itu cowok ganteng nungguin," desak Bianca.Karena terus didesak Bianca, Sandy pun mengetik di ponselnya dengan jari sedikit gemetar. Setelah berdebat dengan Keira tentang isi pesannya, Sandy akhirnya mengirim balasan singkat.Sandy: Di rumah Bianca, Kak. Ada apa, ya?Beberapa detik kemudian,
"Aduh, gimana ini? Turun nggak, ya? Mana belnya bunyi terus," gerutu Sandy dari balik selimut. Dia beranjak duduk, lalu meraih ponselnya di atas nakas. Saat hendak menelepon Mamanya, tiba-tiba Sandy teringat sesuatu. “Ya, ampun, saking paniknya aku sampai lupa kalau rumah ini kan ada video intercom-nya.” Dengan langkah perlahan dan jantung yang masih sedikit berdebar, dia turun ke lantai satu lalu menyalakan layar video intercom di dekat pintu masuk. Layar menampilkan sorotan kamera dari gerbang depan. Ternyata, di depan pagar berdiri seorang pria dengan jas hujan yang basah kuyup karena guyuran air hujan. "Malam, Pak, cari siapa, ya?" Mendengar suara yang tiba-tiba muncul, pria berjas hujan itu tampak tersentak kaget. Dia refleks celingukan mencari sumber suara, sebelum akhirnya menyadari keberadaan lensa kamera kecil di dinding pagar dan langsung mendekat ke sana. "Permisi, paket makanan untuk Nona Sandy," sahut pria di seberang sana. Suaranya terdengar agak samar k
Sepanjang perjalanan pulang, Sandy lebih banyak diam menatap keluar jendela mobil. Tangannya tidak lepas dari jaket milik Natha yang kini ada di pangkuannya. Pikirannya berputar pada semua yang sudah dia lalui hari ini. Mulai dari kejadian dijemput paksa ke ruang OSIS, obrolan berdua dengan Natha,
Sesuai instruksi Natha tadi siang, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Sandy terpaksa menyeret kakinya menuju ruang OSIS. Sepanjang jalan, dia komat-kamit berdoa agar sang Ketua OSIS tidak ada di sana. Cukup Alya saja yang dia hadapi.Namun, begitu pintu kayu itu terdorong terbuka, harapan Sandy
Sandy pikir keputusannya untuk kabur kemarin sore sudah benar. Namun, dia meremehkan kegigihan seorang Natha.Menyadari suratnya diabaikan, Ketua OSIS itu memilih mengambil tindakan yang lebih agresif.Pada hari ketiga MPLS, saat jam istirahat baru saja dimulai, ketenangan Sandy kembali terusik.S
Hari kedua MPLS berjalan tidak kalah melelahkan dari hari pertama. Begitu bel istirahat berbunyi, Sandy menarik napas lega.“Ke kantin, yuk!” ajaknya kepada Bianca, Keira dan Farel.Bianca dan Keira setuju, tapi Farel tidak bisa ikut.“Sorry, ya, gaes. Aku sudah ada janji sama Rio.”Baru saja Farel






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews