Chapter: Bab 14. Kenapa Harus Simbol Itu?Semua pertanyaan di kepala Sandy mendadak buyar ketika belasan anak baru mulai berdatangan mengisi ruangan.Raka segera menyapa mereka dengan gaya santainya yang khas. Setelah pertemuan dibuka, dia membagikan kertas sketsa dan pensil untuk latihan dasar.“Siang ini, aku mau lihat kemampuan kalian dalam membuat sketsa. Nggak ada tema. Kalian bebas menggambar apa aja yang kalian suka.”Begitu Raka selesai memberikan penjelasan, para siswa mulai sibuk membuat sketsa masing-masing.Sandy menarik napas, berusaha mengusir bayangan lukisan taman yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.Namun, sia-sia.Pikirannya terus kembali pada lukisan anonim yang tergantung di dinding sanggar.Sambil melamun, Sandy tetap menggoreskan pensil di atas kertas sketsanya. Sesekali dia menambahkan beberapa garis tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang digambarnya.Beberapa menit kemudian, Raka menghampiri Sandy sambil mengamati hasil gambarnya."Lho… Bukannya ini taman di lukisan yang tadi kamu liha
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Bab 13. Siapa yang Melukis Tempat Ini?Dengan ragu, Sandy menarik kursi dari meja besar dan duduk di depan Natha. “Mau nanya apa, Kak? Kok serius amat. Jadi deg-degan nih,” tanya Sandy sambil tersenyum canggung, berusaha mengurangi debar di dadanya. Natha melepaskan jemarinya dari atas keyboard. Dia bersedekap, menyandarkan punggungnya, dan menatap Sandy dengan tatapan serius. “Siapa yang mengantarkan kolak itu?” tanya Natha tanpa basa-basi. “Mama tidak cerita apa-apa soal mengirim makanan ke rumahmu.” Sandy mengerjapkan mata, agak terkejut mendengar pertanyaan itu. “Emm… Seingatku yang mengirim seorang bapak-bapak, Kak. Dia memakai jas hujan dan basah kuyup,” jawab Sandy jujur. “Dia tahu namaku, dan dia bilang kalau paket itu dari kediaman Tuan Natha.” Natha tampak berpikir. Begitu pula dengan Sandy. Otaknya memutar kembali memori tentang helm kurir yang sama dengan helm di foto profil aplikasi pesan milik Natha. Sandy menimbang apakah dia perlu menyampaikan masalah helm itu kepada Natha. Namun, akhirnya dia memilih
Last Updated: 2026-06-27
Chapter: Bab 12. Jadi Aku Doang yang Pernah ke Sana?“Itu Kak Natha, kan? Dia yang kirim pesan ke kamu?” tanya Keira penasaran, membuyarkan lamunan Sandy yang masih terpaku menatap detail helm di layar ponselnya.“Iya,” jawab Sandy.“Kirim pesan apaan? Sini lihat!” Bianca merebut ponsel Sandy saking penasarannya.Setelah membaca pesan itu, Bianca mengembalikan ponselnya.“Buruan bales! Aku penasaran ngapain dia nanya kamu lagi di mana?”“Nggak, ah, males. Biarin aja,” jawab Sandy.“Eh, kok gitu sih… Kasihan tahu kalau dicuekin,” timpal Bianca."Lagian dia tahu nomorku dari mana, ya?" gumam Sandy."Dia kan Ketua OSIS, San. Mau nyari nomor ponselmu tinggal buka data anak baru," sahut Keira santai.Sandy cuma manggut-manggut."Udah, bales dulu! Kasihan itu cowok ganteng nungguin," desak Bianca.Karena terus didesak Bianca, Sandy pun mengetik di ponselnya dengan jari sedikit gemetar. Setelah berdebat dengan Keira tentang isi pesannya, Sandy akhirnya mengirim balasan singkat.Sandy: Di rumah Bianca, Kak. Ada apa, ya?Beberapa detik kemudian,
Last Updated: 2026-06-26
Chapter: Bab 11. Kok Perhatian Banget, Sih?"Aduh, gimana ini? Turun nggak, ya? Mana belnya bunyi terus," gerutu Sandy dari balik selimut. Dia beranjak duduk, lalu meraih ponselnya di atas nakas. Saat hendak menelepon Mamanya, tiba-tiba Sandy teringat sesuatu. “Ya, ampun, saking paniknya aku sampai lupa kalau rumah ini kan ada video intercom-nya.” Dengan langkah perlahan dan jantung yang masih sedikit berdebar, dia turun ke lantai satu lalu menyalakan layar video intercom di dekat pintu masuk. Layar menampilkan sorotan kamera dari gerbang depan. Ternyata, di depan pagar berdiri seorang pria dengan jas hujan yang basah kuyup karena guyuran air hujan. "Malam, Pak, cari siapa, ya?" Mendengar suara yang tiba-tiba muncul, pria berjas hujan itu tampak tersentak kaget. Dia refleks celingukan mencari sumber suara, sebelum akhirnya menyadari keberadaan lensa kamera kecil di dinding pagar dan langsung mendekat ke sana. "Permisi, paket makanan untuk Nona Sandy," sahut pria di seberang sana. Suaranya terdengar agak samar k
Last Updated: 2026-06-25
Chapter: Bab 10. Siapa Itu di Atas Atap?"Kak," panggil Sandy memecah keheningan. "Ya?" sahut Natha tanpa menolehDia masih fokus membelah jalanan Kota Malang yang mulai tersendat karena genangan air di sana-sini."Orang tua Kakak kok bisa tahu namaku? Kak Natha pernah cerita tentang aku ke mereka?” Sandy akhirnya menyuarakan rasa penasarannya.“Oh, itu. Kemarin lusa waktu aku pulang nggak pakai jaket, Mama nanya jaketku ke mana. Aku bilang aja dipinjam adik kelas namanya Sandy.”“Kamu yang minjemin ya, bukan aku yang pinjam.”“Ya, ya… sama aja lha.”"Tapi masa gara-gara gitu doang langsung ingat namaku, sih?"Natha hanya mengangkat bahu. Tak mau membahasnya lagi.Tiba-tiba Sandy teringat jaket Natha di dalam tasnya. Dia tidak lagi peduli alasan Natha yang terlihat dibuat-buat. Sandy pun segera mengeluarkan paper bag berisi jaket Natha dari dalam tasnya.“Oh iya ini, Kak. Terima kasih jaketnya. Hampir aja lupa.”Natha hanya mengangguk dan meminta Sandy menyimpannya di kursi belakang.Setelah itu, mereka kembali diam. Sand
Last Updated: 2026-06-24
Chapter: Bab 9. Anaknya Aneh, Orang Tuanya Juga“Kak, Natha yang bener dong! Kita mau ke mana? Kalau nggak dijawab aku lompat nih!” seru Sandy sedikit keras agar suaranya tidak teredam angin yang berhembus cukup kencang.Sandy mencengkeram ujung jaket Natha dengan erat karena sejak tadi motor sport hitam milik Ketua OSIS itu melaju dengan kencang.“Eh, jangan!” jawab Natha panik.Dia sedikit melambatkan laju motornya setelah mendengar ancaman Sandy.“Ya udah kasih tahu dong!”“Aku mau mampir ke rumah sebentar. Ada laporan yang ketinggalan.”Mendengar jawaban itu Sandy akhirnya diam.Motor itu terus melaju membelah jalanan sampai masuk ke kawasan Ijen Nirwana Residence. Rumah-rumah di kanan-kiri jalan ini berukuran besar dengan pohon-pohon rindang di halaman rumah. Taman-tamannya tertata rapi, membuat mata yang memandang merasa nyaman.Beberapa saat kemudian, motor Natha melambat dan berbelok memasuki halaman sebuah rumah bergaya modern kontemporer berlantai dua dengan cat dominan abu-abu.Natha mematikan mesin motor tepat di area
Last Updated: 2026-06-23