MasukLily adalah seorang gadis dengan nilai keberuntungan besar, anak seorang komandan di ketentaraan pada zaman kuno yang sudah ikut berperang pada usia 18 tahun. Kejadian aneh menimpa Lily, begitu usianya mencapai 20 tahun, yang selalu mengalami mimpi berulang dalam 1 bulan terakhir. Resah? Gelisah? Tentu saja. Tapi ketakutan itu nyata, besar sekali sampai ia merasa dirinya berada dimimpi tersebut. Pengejaran, pembunuhan, dan monster yang memakan manusia. Membuat hidup Lily terganggu. Sampai akhirnya, Lily bertemu lelaki tua berjanggut putih yang menatapnya tanpa berkedip, yang kemudian Lily abaikan meski ia merasa sedikit takut. Menjauhinya dan mencoba melupakannya, tetapi lelaki tua itu ternyata datang ke mimpinya. Berbicara banyak hal, dan memberikannya sebuah cincin bertatahkan safir biru. Perubahan besar pun terjadi.
Lihat lebih banyakHari itu sama seperti biasanya, aku melangkahkan kaki ke sekolah dengan setengah hati.
SMA Bintang Raya mungkin sekolah impian banyak orang. Tapi bagiku, itu hanya tempat di mana aku menjalani rutinitas yang membosankan. Aku Nayla Putri, bukan siapa-siapa di sekolah ini. Bukan siswi berprestasi, bukan pula gadis populer. Aku hanyalah satu dari ratusan siswa yang berlalu-lalang di koridor sekolah tanpa meninggalkan jejak berarti. Tapi hari ini, tanpa aku sadari semua kehidupanku akan berubah. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana hari itu dimulai. Langit cerah, suasana sekolah ramai seperti biasa. Teman-temanku sibuk membicarakan banyak hal, mulai dari tugas yang harus dikumpulkan hingga rumor tentang siapa yang sedang naksir siapa. Aku hanya duduk di bangku kelas sambil mendengarkan obrolan mereka tanpa terlalu banyak ikut campur. Hanya sesekali tersenyum atau mengangguk jika diminta pendapat. "Nayla dengerin deh, si Arga ketua OSIS itu makin keren aja, ya?" tanya Maya, sahabatku yang paling bersemangat setiap kali berbicara tentang cowok. Aku hanya menoleh dan tersenyum tipis. Arga? Siapa yang tidak kenal dengan Arga Pratama? Ketua OSIS yang terkenal kharismatik, tampan, dan tentu saja pintar. Dia selalu jadi topik hangat di sekolah. Meski tidak pernah berinteraksi langsung dengannya, aku tahu betapa kagumnya banyak siswi pada sosoknya. Termasuk Maya tentunya. "Tapi serius, Nay. Kamu enggak tertarik gitu?" lanjut Maya, tapi kali ini menatapku dengan serius. Aku tertawa kecil dan menggeleng. "Aku? Tertarik sama Arga? Hahaha, enggak mungkin, May. Lagian dia bahkan enggak tahu kalau aku ada di sekolah ini." Maya mengerutkan kening. "Jangan pesimis gitu dong. Kamu juga cantik kok Nay. Lagian, siapa tahu nasib baik lagi berpihak sama kamu." Aku hanya mengangkat bahu. Nasib baik? Itu mungkin tidak berlaku untukku. Tapi ya, tidak ada salahnya bermimpi sedikit, kan? Pagi itu berlanjut dengan biasa saja, sampai bel masuk berbunyi. Pelajaran pertama dimulai, dan aku kembali tenggelam dalam buku catatanku, aku mencatat setiap hal yang diterangkan oleh guru di depan kelas. Jam-jam pelajaran berlalu tanpa ada kejadian yang istimewa, sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Ketika aku sedang asyik membuka kotak makan siangku di kantin bersama Maya, tiba-tiba ada seorang siswa laki-laki yang menghampiriku. Aku tidak mengenalnya, tapi seragamnya menunjukkan dia adalah salah satu pengurus OSIS. "Nayla Putri?" tanyanya tegas. Aku mengangkat kepala, sedikit bingung. "Iya, aku Nayla." "Kamu diminta untuk datang ke ruang OSIS sekarang. Ada yang ingin berbicara denganmu," katanya lagi tanpa banyak penjelasan. Jantungku berdegup kencang. Ruang OSIS? Siapa yang ingin bertemu denganku di sana? Aku melirik Maya yang tampak sama terkejutnya denganku. "Siapa? Kenapa?" tanyaku pelan, merasa tak ada alasan bagiku dipanggil ke tempat itu. "Saya hanya diminta untuk menyampaikan pesan. Kamu bisa langsung ke sana sekarang." Dengan perasaan campur aduk, aku berdiri dari tempat dudukku. Maya tersenyum penuh harap. "Wah, jangan-jangan ini pertanda bagus, Nay. Mungkin kamu akan masuk OSIS!" Aku menatapnya skeptis. Aku? Masuk OSIS? Rasanya terlalu mengada-ada. Namun, karena tak ada pilihan lain, aku pun mengikuti arahan siswa itu menuju ruang OSIS. Ruang OSIS terletak di ujung gedung sekolah, sedikit terpisah dari kelas-kelas lainnya. Selama ini, aku tidak pernah punya alasan untuk masuk ke sana. Setiap kali melintasinya aku hanya melihat dari luar, tempat itu selalu terlihat sibuk dan penuh dengan orang-orang yang berwibawa. Ya seperti Arga. Ketika aku tiba di depan pintu, napasku sedikit tertahan. Aku tidak tahu apa yang menantiku di balik pintu itu, tapi aku merasa jantungku semakin cepat berdetak. Aku mengetuk pintu pelan. "Permisi…" Pintu terbuka, di baliknya berdiri seorang siswa yang tak lain adalah Arga Pratama. Dia berdiri dengan postur tegap mengenakan seragam OSIS yang rapi. Matanya yang tajam menatapku sebentar, lalu dia tersenyum tipis. Senyum yang membuatnya terlihat lebih ramah daripada rumor yang kudengar. "Nayla Putri kan?" tanyanya, suaranya terdengar tenang dan serius. Aku mengangguk, mencoba menahan kegugupan yang tiba-tiba menyerang. "Iya, aku Nayla. Kamu… Arga kan?" Dia tertawa kecil dan mengangguk. "Betul. Masuk silakan duduk. Ada yang ingin kami bicarakan denganmu." Tanpa banyak berpikir lagi, aku melangkah masuk ke ruangan itu. Di dalam, ada beberapa siswa OSIS lainnya yang sedang sibuk dengan tugas mereka. Ruangan itu dipenuhi poster kegiatan sekolah dan jadwal rapat. Arga menunjuk kursi di depan mejanya, dan aku pun duduk dengan perasaan tak menentu. "Kami sedang melakukan beberapa perombakan dalam kepengurusan OSIS," kata Arga membuka pembicaraan. "Dan setelah mempertimbangkan beberapa nama, kami ingin menawarkan posisi sekretaris OSIS kepadamu." Jantungku hampir berhenti mendengar kata-katanya. Sekretaris OSIS? Aku bahkan tak pernah terlibat dalam organisasi apapun di sekolah. Mengapa mereka memilihku? "Tapi… kenapa aku?" tanyaku bingung. "Aku bahkan tidak pernah ikut kegiatan OSIS sebelumnya." Arga tersenyum, kali ini sedikit lebih lebar. "Itu salah satu alasan kenapa kami memilihmu. Kami butuh seseorang yang bisa membawa perspektif baru. Dari catatan prestasi akademismu dan rekomendasi beberapa guru, kami yakin kamu adalah pilihan yang tepat." Aku menatapnya masih tidak percaya. "Aku tidak tahu… Aku tidak pernah berpikir untuk bergabung dengan OSIS." "Kami tidak butuh jawaban sekarang," kata Arga dengan nada tenang. "Pikirkan saja dulu. Tapi kami percaya, kamu punya potensi besar, Nayla." Aku duduk diam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Arga, ketua OSIS yang terkenal itu baru saja memintaku bergabung menjadi sekretarisnya? Ini pasti mimpi kan? Setelah beberapa saat, Arga melanjutkan bicaranya. "Kami ingin mendengar jawabanmu dalam dua hari. Tapi tolong, pertimbangkan ini baik-baik." Aku mengangguk pelan. Dua hari? Sepertinya itu terlalu cepat untuk mengambil keputusan sebesar ini. Tapi di sisi lain, tawaran ini mungkin adalah kesempatan yang tak akan datang dua kali. Setelah pembicaraan singkat itu, aku pamit dan meninggalkan ruang OSIS dengan kepala penuh pertanyaan. Saat berjalan kembali ke kelas, Maya sudah menungguku dengan ekspresi penasaran. "Jadi, apa yang terjadi?" tanyanya antusias. Aku menatapnya dengan mata penuh kebingungan. "Mereka… mereka menawariku posisi sekretaris OSIS." Maya terkejut, lalu senyumnya merekah lebar. "Kamu bercanda kan? Itu luar biasa Nay!" "Tapi aku enggak tahu, May. Aku enggak pernah terlibat di OSIS. Kenapa mereka memilih aku?" Maya memegang bahuku erat. "Karena mereka melihat potensi kamu, Nay. Kamu harus terima ini! Ini kesempatan besar!" Aku terdiam memikirkan kata-kata Maya. Benarkah aku punya potensi yang mereka lihat? Atau mungkin ini hanya kesalahan? Namun satu hal yang pasti, sejak pertemuan dengan Arga, hidupku di sekolah tak akan pernah sama lagi.** "Katakan padaku, apa yang membuat kalian mengetuk pintu?" Tanya Lily pada keduanya, tapi sama-sama fokus pada makanan. Menggigit dan menyuapkan makanan, membuat Lily menghela nafas karena diabaikan. "OH! Kalian melihatku makan ayam makanya mengetuk pintu, kan?!" Tanyanya curiga, keduanya hanya mengincar makanannya. Ansley menalan potongan ayam dimulutnya. Ia menatap Lily dengan panik, menggeleng dengan cepat. Adapun Andien yang mulutnya masih penuh langsung membantah. "Tidak! Tidak! Kami benar-benar ada urusan, tentang inti kristal!" Ucapnya, membuat Lily mengernyit jijik. "Habiskanlah, kau menjijikkan ew!" Ucap Lily seraya mengusap wajahnya dengan tisue yang ada ditengah meja. "Ewww! Kondisikan sikapmu!" Ucap Ansley ikut jijik tapi ada tawa di akhir. "Kau, begitu lapar ya? Padahal biasanya kau yang paling anggun, hahaha!" Ejek Ansley, Lily juga ikut tertawa mendengarnya. Karena selama perjalanan ini, Andien memang yang paling banyak diam. Tidak disangka ia benar-benar be
** Lily terbangun dari tidurnya, langsung keluar dari ruang ketika ia mendengar ketukan dari pintu kamar di RV. Suara Shion dan Allen yang bertanya tentang keadaannya. Tapi karena awalnya Lily tidak kunjung membuka pintu dan pintu terkunci, alhasil kedua orangtuanya yang sama-sama baru bangun juga ikut mengetuk. Kehabisan energi membuat tidur Lily menjadi lebih nyenyak dari biasanya. Jadi awal-awal ia tidak mendengar. "Datang! Datang!" Pekik Lily sedikit panik, dan langsung membuka pintu menyambut semua orang dengan senyum lebar. "Ada apa? Maaf aku tidur terlalu nyenyak." Ucap Lily seraya menggaruk kepalanya. "Kau baik-baik saja sayang, ada yang tidak nyaman?" Tanya sang ibu yang paling khawatir, sang ayah juga menatapnya lekat-lekat. Shion dan Allen menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan ibunya. "Aku baik-baik saja, bu, kalian apakabar? Ada yang terluka? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Lily menatap satu persatu orang didepannya. "Kami baik-baik saja, hanya sedikit lel
** Sepeninggal Ryu, Lily membuka kedua matanya. Menatap langit-langit RV kamarnya dan menyunggingkan senyum kecil. Ia sudah menebaknya selama beberapa hari kedua kelompok bersama. Bahwa Ryu mungkin laki-laki yang tidur dengan pemilik tubuh sebelumnya. Perkataan Ryu barusan, Lily dengan jelas mendengarnya. Tapi ia tidal berniat mengungkap, biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tidak akan mengaku lebih dulu, biar dia yang berbicara jika memang ingin mengakuinya. Selama ia tidak berbuat jahat dan macam-macam, maka Lily tidak akan mencari perhitungan dengannya. Lagipula malam itu, berdasarkan ingatan pemilik tubuh asli, kejadian yang terjadi diantara Lily dan Ryu adalah sebuah kecelakaan. Sama sekali tidak sengaja, bahkan menurutnya ini adalah kesalahan pemilik tubuh sendiri karena salah memasuki kamar. Ryu yang terpengaruh obat dan Lily yang telah mabuk sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. Shion dan keluarga juga tidak menyalahkan, malah menyalahkan masing-masi
** Ryu tahu akan kedatangan beberapa orang dibelakang, dia tidak menghentikannya sama sekali. Tunggu saja dan lihat apa yang akan mereka lakukan, jika berniat mencelakai kelompok maka ia tidak akan memberi ampunan. Jika berniat ikut bertarung, itu bagus, maka ia tidak perlu repot-repot mencari perhitungan meski sangat tidak suka akan kesalahan yang mereka buat. Mengabaikan beberapa lrang dibelakang, Ryu lantas menatap Lily yang asyik menebas dengan raut semangat. Cipratan darah mengenai tubuh dan wajahnya, tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Ia terlihat lebih cantik hari ini, benar-benar membuat Ryu terpesona. Ryu hampir tidak bisa menahan diri apalagi ketika keduanya bersampingan. Tapi cara ia menebas kepala zombie tanpa sedikitpun rasa takut ini benar-benar membuatnya lebih menarik. Bisa disebut kecantikan kejam, pikir Ryu. Meski memikirkan beberapa hal berantakan, Ryu tetap tidak mengurangi serangannya pada zombie-zombie yang masih terus maju. Ia bahkan memerinta
**Entah karena Lily sudah mulai ikhlas atau memang keadaan didunia sana yang sedikit tenang. Tidak seperti biasanya, kali ini Lily bangun secara alami tanpa kelelahan dan nafas terengah yang akhir-akhir ini ia rasakan. Disampingnya, sudah ada Chloe yang sebetulnya membangunkan Lily yang tertidur.
** Setelah memperhitungkan semua hal di dalam ruang dengan banyak ide yang belum terealisasikan, Lily lantas kembali ke danau dengan posisi semula. Kedua kaki yang menjulur menyentuh air. Setelahnya ia beranjak, berniat menghampiri Chloe yang mungkin akan selesai dalam waktu dekat. Dan dugaan
** "Hah... hah... hah..." Bangun dengan nafas terengah, Lily menatap langit-langit dengan perasaan lelah dan pusing. Masih teringat kepanikan semua orang didunia sana. Ketakutannya sama dengan ketakutan sebelumnya. Tapi, perasaan dikepung seperti itu, sama halnya dengan posisi prajuritnya yang d
** Setelah menunjukkan keajaiban pada sang ayah, membuatnya sangat terkejut sampai butuh beberapa saat untuk ayahnya sadar kembali dari keterkejutannya, Lily hanya diam, bingung harus melakukan apa melihat ayahnya seperti itu. Tapi, tidak ada pilihan lain. Ia harus memberitahu ayahnya karena ia b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.