Wisanggeni : Api Dari Langit

Wisanggeni : Api Dari Langit

last updateLast Updated : 2026-07-30
By:  Ana AuliaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Wisanggeni tidak pernah meminta dilahirkan sebagai anak dari dua dunia. Namun darah dewa dan manusia yang mengalir dalam tubuhnya membuat para penghuni Kahyangan takut akan keberadaannya. Ketika api suci Simbar Agni kehilangan keseimbangan, Wisanggeni dijadikan kambing hitam dan diasingkan ke bumi. Di sana, ia bertemu Ratna, seorang penjaga candi kuno yang menyimpan rahasia tentang masa lalunya. Saat pasukan Naraloka mulai memburu mereka dan perang besar mengancam tiga alam, Wisanggeni menemukan kenyataan yang lebih mengerikan daripada pengasingannya sendiri. Ternyata kekuatan yang dicari semua pihak selama ini berada di dalam dirinya. Kini ia harus memilih. Menjadi api yang menyelamatkan dunia atau menjadi api yang membakarnya hingga menjadi abu.

View More

Chapter 1

Bab 1 : Api yang Tidak Padam

Langit malam menggantung berat di atas Kahyangan. Angin membawa bau besi dan belerang. Udara yang biasanya harum dupa namun kini penuh terasa panas yang menyengat. Di tengah luasnya bentangan samudra awan, berdiri sebuah singgasana raksasa berlapis cahaya keemasan: Bale Mandira. Di sanalah para dewa berkumpul, menatap pusaran api yang membara di udara, sebuah nyala yang tak pernah padam sejak dunia diciptakan.

Simbar Agni. Api suci yang menjaga keseimbangan antara langit, bumi, dan Naraloka.

Namun malam itu berbeda. Nyala api itu bergetar lebih kencang daripada biasnya. Lidah-lidahnya menjulur liar dan memercikkan bunga-bunga cahaya merah seakan ingin melukai langit. Suara gemuruh terdengar keras, dan seluruh Kahyangan bergetar seolah gunung tertusuk sambaran petir.

“Batara Guru…” suara seorang dewa muda terdengar gugup. “Api itu…, Api itu seolah-olah kehilangan kendalinya.” Ucapnya lagi sambil terus memperhatikan cahaya api yang masih membara dari kejauhan.

Sosok agung di singgasana utama membuka matanya perlahan. Batara Guru, pemimpin para dewa, duduk tegak dengan tatapan tajam seperti bara yang tertutup embun. Cahaya dari tubuhnya menyala redup, bukan karena takut, tetapi karena sebuah firasat yang di rasakannya sekarang. Ia tahu api itu bukan hanya sekadar menyala tak beraturan, melainkan sebuah tanda.

“Siapa yang menjaga Simbar Agni?” tanyanya, suaranya bergema bagai petir yang tertahan.

Tak ada yang berani menjawab. Sampai kemudian, dari sela barisan para penjaga, muncul seorang pemuda bertubuh tinggi, berselimut aura panas. Matanya menyala seperti batu rubi yang hidup. Ia menunduk dalam, suaranya bergetar namun tegas.

“Hamba, Batara Guru. Wisanggeni yang menjaga Simbar Agni.”

Desis terdengar. Para dewa saling berpandangan, sebagian mundur dan sebagian lainnya menatapn Wisanggeni dengan curiga.

Nama itu, Wisanggeni, selalu membawa bisik-bisik di antara para makhluk khayangan. Anak yang lahir dari persatuan dua dunia: Gatotkaca sang manusia setengah dewa, dan Dewi Arimbi dari kaum raksasa. Ia bukan dewa sepenuhnya, juga bukan manusia sepenuhnya.

“Engkau yang menjaga api suci,” kata Batara Guru perlahan. “Dan kini api itu memberontak.”

Wisanggeni mengangkat wajahnya. “Hamba tidak mengubah apa pun, Baginda. Hamba hanya menatap nyalanya dan api itu menyala dengan sendirinya.”

Suara Batara Narada, penasihat tua yang berdiri di sisi kanan singgasana, menggema berat.

“Menatap api suci dengan mata fana adalah kesalahan, anak muda. Api merespons jiwamu. Bila jiwamu goyah, maka nyalanya ikut bergejolak.”

Beberapa dewa mengangguk setuju. Wisanggeni mengepalkan tangannya seakan menahan emosi yang mulai muncul di dalam dirinya. “Jadi karena darahku tidak murni, aku dituduh membuat langit terbakar?” tanyanya.

Batara Guru terdiam lama. Hanya matanya yang bergerak, menatap jauh ke pusaran api yang semakin liar. “Tidak akan ada nyala tanpa sebab,” katanya akhirnya. “Dan tidak akan ada sebab tanpa jiwa yang menyalakannya.”

***

Langit Kahyangan berubah warna, dari biru menjadi jingga, dari jingga menjadi merah darah. Burung Garuda terbang rendah di atas samudra awan seakan menjerit ketakutan. Bahkan para apsara berlarian meninggalkan taman bunga langit. Di puncak Bale Mandira, api suci semakin meluap. Dan dari balik kobaran itu, terdengar suara. Suara yang diyakini bukan milik manusia atau dewa mana pun.

Simbar telah bangkit… penjaga lama telah gagal…

Suara itu seperti bisikan sekaligus teriakan. Wisanggeni tertegun. Di dalam dadanya, sesuatu terasa berdenyut, seperti bara yang hidup. Matanya menatap pancaran api itu, dan untuk sesaat, ia melihat bayangan… bayangan wajah seorang perempuan dengan cahaya di dahinya. Namun begitu ia berkedip, bayangan itupun lenyap.

Batara Guru berdiri. “Sidang para dewa dimulai malam ini. Kita harus menentukan siapa yang bertanggung jawab sebelum api suci menelan langit.”

***

Bale Sidang Kahyangan dipenuhi cahaya. Dewa-dewa duduk melingkar di atas awan putih yang memancarkan kilau lembut. Di tengah lingkaran, Wisanggeni berdiri sendirian, terikat rantai cahaya yang melingkari pergelangan tangannya. Di hadapan mereka semua, Batara Guru mengangkat tongkat suci. Suaranya menggema ke seluruh alam.

“Api suci adalah nyawa jagat. Bila ia bergolak, keseimbangan terguncang. Wisanggeni, penjaganya, maka ialah yang harus memberi penjelasan.”

Wisanggeni menatap lurus ke arah para dewa. “Aku tak berbuat apa pun selain menjaga. Tapi api itu… api itu seakan berbicara padaku.”

“Berbicara?” Batara Narada mencondongkan tubuhnya. “Apa yang dikatakannya?”

Wisanggeni menutup mata, berusaha mengingat suara yang seakan masuk kedalam dirinya. “Ia berkata: penjaga lama telah gagal. Dan sesuatu dari bawah sedang naik.”

Seketika suasana menjadi tegang. Beberapa dewa menatap Batara Kala yang duduk di sisi paling luar. Sosok besar berkulit hitam legam dengan mata seperti bara merah. Ia tersenyum tipis.

“Jadi kau menyalahkan bayangan, anak muda? Selalu mudah menyebut nama gelap untuk menutupi kesalahanmu sendiri.”

Wisanggeni menatapnya. Api di matanya kini menyala lebih terang. “Aku tidak menyebut nama siapa pun, Batara Kala. Tapi jika kegelapan mulai bergerak, mungkin engkaulah yang lebih tahu penyebabnya.”

Suara tawa rendah terdengar, tapi Batara Guru menghentikan mereka sebelum sebuah kekacauan lainnya hadir.

“Cukup.” Ia mengetuk tongkatnya ke lantai. “Kita tak akan menuding tanpa bukti. Namun hingga api ini tenang, penjaganya harus disingkirkan dari Kahyangan.”

Wisanggeni tertegun. “Disingkirkan? Apakah maksud Baginda, Hamba dibuang?”

“Diturunkan ke Arcapada,” jawab Batara Guru dingin. “Agar engkau belajar menahan bara di hatimu. Jika kau mampu menguasainya, barulah langit akan menerima kembali keberadaanmu.”

Batara Narada menunduk. “Hukuman bijak, Baginda.”

Namun Wisanggeni menatap ayahnya, Gatotkaca, yang sejak tadi diam di sisi barat ruangan.

“Ayahanda… apakah kau setuju aku diasingkan?”

Gatotkaca menggenggam gagang tombaknya erat. Matanya seakan dipenuhi oleh duka.

“Anakku, bahkan langit pun tak sanggup menampung kekuatanmu. Mungkin bumi bisa mengajarkanmu arti kendali.” Ucapnya lembut pada putra semata wayangnya itu.

Wisanggeni tertawa getir. “Jadi bahkan darahku sendiri dianggap aib?”

Ia menunduk, lalu berbisik, “Baiklah, bila langit menolak nyalaku, maka aku akan belajar membakarnya sendiri.” Seketika api di tubuhnya menyala dan memecahkan rantai cahaya.

Para dewa terkejut dengan apa yang di lakukan Wisanggeni, tetapi Batara Guru mengangkat tangannya. Cahaya putih menyelimuti Wisanggeni, dan dalam sekejap tubuhnya lenyap lalu jatuh dari langit seperti meteor.

Langit Kahyangan seketika gelap. Api suci telah padam. Namun di timur yang jauh, cahaya merah mulai terbit, seolah matahari baru lahir dari amarah.

***

Hujan turun di hutan belantara Arcapada. Petir menyambar di antara pepohonan yang meliuk ditiup badai. Seekor burung hantu menjerit saat cahaya merah menembus awan dan jatuh menghantam bumi. Tanah berguncang. Pepohonan tumbang. Ketika debu mulai mereda, tampak seorang pemuda terbaring di tengah kawah kecil, tubuhnya berlumur abu. Di dadanya, bara kecil masih berdenyut. Hidup namun lemah.

Wisanggeni membuka matanya perlahan. Dunia di sekitarnya gelap dan sunyi. Ia mencoba berdiri, tetapi tubuhnya terlalu berat. Setiap kali ia menarik napas, dadanya terasa terbakar dari dalam. Ia tidak lagi mendengar suara para dewa, tidak lagi mencium harum langit. Hanya bau tanah basah dan rasa asing yang menusuk.

“Di mana… aku?” suaranya serak. Tak ada jawaban. Hanya suara hujan yang terdengar.

Ia menatap tangannya, api kecil muncul di telapak tangannya. Tapi api itu dingin, seperti cahaya tanpa panas. Ia menatapnya lama, kemudian menutup kembali matanya.

“Mungkin beginilah rasanya menjadi manusia,” gumamnya lirih.

Di kejauhan, di balik derasnya hujan, seberkas cahaya lentera bergerak. Suara langkah kaki mendekat perlahan, diikuti suara perempuan lembut yang memanggil.

“Siapa di sana? Apakah ada yang terluka?”

Wisanggeni tak menjawab. Ia hanya menatap siluet perempuan itu: mengenakan kain putih sederhana, rambutnya tergerai basah. Di tangannya, lentera bergetar karena angin. Cahaya dari lentera itu menimpa wajahnya, memperlihatkan mata yang jernih seperti danau.

Wanita itu terbelalak kaget saat melihat seseorang tergeletak tidak berdaya dengan tubuh yang penuh luka. Ia berlutut di samping Wisanggeni. “Astaga, apakah kau masih hidup?”

Suara itu terdengar asing tapi hangat. Wisanggeni ingin menjawab, tapi kesadarannya perlahan mulai pudar. wanita itu menatap bara kecil di dada Wisanggeni, tak tahu bahwa ia sedang menatap api suci yang bisa menelan dunia.

“Tenanglah, aku akan membawamu ke candi. Di sana ada tempat berlindung.”

***

Cahaya lilin menari di dinding batu. Suara gamelan halus terdengar dari kejauhan, bergema samar di ruang suci candi tua itu. Wisanggeni terbaring di atas tikar pandan, tubuhnya dibalut kain putih dan penuh dengan obat-obatan traditional menutupi luka-lukanya. Di sampingnya duduk seorang perempuan yang sedang menggiling ramuan dari daun hijau dan akar wangi.

“Aku Ratna,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Pendeta penjaga candi Gunung Arum. Kau jatuh dari langit, bukan?”

Wisanggeni menatap langit-langit batu di atasnya. “Aku bahkan tak tahu siapa diriku sekarang.”

Ratna menatapnya sesaat, lalu tersenyum lembut. “Kadang, untuk menemukan makna, kita harus kehilangan nama terlebih dulu.”

Ia meneteskan ramuan ke luka yang ada di tubuh Wisanggeni. Uap putih muncul, disertai bunyi mendesis. Wisanggeni meringis tapi tak bersuara. Dalam diam, Ratna memperhatikan nyala kecil di dada pria itu yang kadang muncul lalu padam lagi.

“Api yang tidak padam…” gumam Ratna lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Aku pernah membaca tentangnya di naskah tua. Api yang menandai kelahiran dan kehancuran.”

“Dan kau percaya pada dongeng itu?” tanya Wisanggeni lemah.

Ratna tersenyum samar. “Terkadang, dongeng hanyalah sejarah yang lupa ditulis.” Jawabnya.

Hening sejenak. Hanya suara hujan di luar candi yang terdengar samar. Wisanggeni menatap Ratna, mata itu seolah mengenal sesuatu yang lebih dari dunia manusia. Ada ketenangan, tapi juga rahasia. Ia ingin bertanya lebih jauh, namun kelelahan menelan kesadarannya lagi.

Saat ia tertidur, Ratna menatap bara kecil di dadanya. Cahaya itu berdenyut… satu, dua kali… lalu memancarkan sinar halus ke wajahnya. Untuk sesaat, ia merasa seperti melihat sesuatu di dalam nyala itu. Bayangan langit yang terbakar, suara-suara para dewa, dan nama yang bergema dari masa lalu:

Wisanggeni.

Ratna menatap ke luar candi. Hujan sudah reda, tapi langit masih merah di ufuk timur.

“Api dari langit…” bisiknya pelan. “Apa yang kau bawa ke dunia ini, orang asing?”

Di luar, petir menyambar bersahut-sahutan. Dan untuk pertama kalinya, candi tua itu bergetar, seolah ikut bernapas bersama nyala api di dada sang pengasingan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status