LOGINNovel Terjemahan : "Kamu tandai wanita lain setelah kamu bermalam denganku?" "Kamu hanya budakku, Sisilia. Buang saja janin itu!" Sisilia begitu sakit, tanpa sadar dia menitikkan air mata. Namun, Harlan tidak memedulikan dirinya bahkan menyiksa hingga pingsan. Setelah merasa kuat, Sisilia berusaha melarikan diri. Para penjaga mansion milik Harlan memburu Sisilia. Keadaan yang mengenaskan, hampir seluruh tubuh cantiknya tercabik membuat Sisilia kembali pingsan dan dibuang oleh para penjaga di pinggiran Sungai Junka. Hidup nelangsa membuat Sisilia bangkit setelah dibantu oleh wanita tua bernama Rebeca. Bersama wanita tua itu hidup Sisilia makin berwarna. Apakah Sisilia berhasil menjalani hidup normal bersama kelompoknya? Akankah Sisilia bertemu lagi dengan jodoh sejatinya?
View More"Haha, buang saja si buta itu dari klan kita. Bikin malu saja!" teriak salaah satu anggota klan bulan.
"Ampuni aku, Ketua. Kesalahan ini tidak akan saya ulangi lagi, aku mohon!" pinta seekor serigala perempuan yang buta. "Apa jaminan untuk sikapmu yang tidak akan terulang, sedangkan kau buta seumur hidupmu, Sisilia!" Hentak sang Alpha. "Biar aku jadi budakmu selamanya, Ketua." "Hahh, seseorang yang buta apa bisa memuaskan. Bahkan untuk merawat dirinya saja dia tidak mampu, apalagi harus merawat sang Alpha. Cuih!" hina anak perempuan sang Alpha. Sisilia menunduk, dia tidak bisa memilih akan terlahir dengan keadaan apapun. Andai ada pilihan, serigala muda itu pasti ingin terlahir sempurna. Namun, takdir berkata lain. Meskipun kata serigala baik Sisilia adalah seorang omega yang cantik dan lembut, tetapi keberadaannya selalu dikucilkan oleh yang lain. "Bisakah kau hangatkan ranjangku, Sisilia?" tanya Alpha tua pemimpin klan itu. "Ayah!" Hentak anak perempuan Alpha. "Kita jual saja si buta ini pada seorang Lycan kejam yang ada di pegunungan Alpen, Ayah. Seperti biasa sebagai umpan buat perjalanan kita nanti!" Sisilia menggeleng lemah, bibirnya tidak bisa berkata untuk menolak. Suaranya tercekat pada tenggorokannya. Lidahnya tiba-tiba menjadi kelu dan terlipat, sangat sulit untuk digerakkan. "Apa yang ingin kau katakan, Buta. Haha, kini bertambah deritamu menjadi bisu. Si buta menjadi bisu!" teriak anak Alpha yang seusia Sisilia. "Aku tidak bisu, Nona. Sungguh, ini suaraku!" desis Sisilia dengan bibirnya bergerak. "Suaraku, mana suaraku!" batin Sisiilia sambil memegangi lehernya. Tawa melengking sang pewaris klan bulan membuat hati Sisilia semakin gundah, wanita serigala muda itu pun di rundung oleh semua anggota kawanan. Baik muda maupun tua. Bahkan tubuhnya sudah menjadi konsumsi umum serigala pria. Dengan tanpa menggunakan sehelai kain pun, si buta di arak menggelilingi semua anggota kawanan. Tangan-tangan jahil mulai menyentuh tubuhnya yang mulus dan tanpa cacat. Namun, ada sepasang mata yang membulat kala dilihatnya ada setitik tanda yang selama ini dia cari. Bibir wanita tua itu melebar tipis, sangat tipis. "Sabarlah sebentar, Sisilia! Takdir akan membawamu kembali," batin wanita tua itu. Sisilia terus di pertontonkan di seluruh anggota klan tanpa kain penutup, tubuhnya terekspos begitu indah. Ada yang meremat dua bukit yang sedang tumbuh, ada pula yang meremat bagian lainnya. Sakit, hati serigala muda itu sakit dan perih. Hingga akhirnya dia dihempas pada setumpuk jerami kering. "Di sini tempatmu, Buta!" Sisilia segera mengendus tempat yang baru saja diberikan oleh pewaris Klan. Dia menganguk tanpa bersuara mendapat perlakuan yang kurang baik. "Ingat, sebentar malam akan ada tamu untukku. Kau ... Jangan keluar dari sini!" Setelah berucap yang begitu pedas, sang pewaris pun berjalan meninggalkan Sisilia sendiri yang sebelumnya melempar seleembar kain tipis. Merasa ada kain yang menyentuh kulitnya, Sisilia gegas meraihnya. Tangannya yang putih bersih meraba tekstur kain tersebut. "Ini ... Begitu tipis, kupakai pun bagai aku tak memakai. Iya sudah kupakai saja, masih untung ada!" batin Sisilia. Serigala muda itu berjalan tertatih sambil tangannya meraba udara kosong, hal ini dia lakukan agar tidak melakukan kesalahan. Samar terdengar gemericik air, langkahnya terhenti untuk memastikan apa yang dia dengar. "Air? Apakah di daerah ini subur? Aroma ini begitu nyata, harum dan wangi. Belum lagi suara derasnya air itu, heem!" kata Sisilia bermonolog. Serigala buta itu tidak mengerti jika kawanannya sudah berpindah tempat pada wilayah yang lebih subur dan hijau. Maka banyak sekali yang menginginkan wilayahnya dengan melamar putri ketua klan. Sisilia terlihat merendamkan kedua tapak kakinya di aliran sungai yang deras. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja dia alami. Berbagai aroma serigala telah menyapa indera penciumannya, tetapi dahinya berkerut kala mengingat satu aroma yang sama dengan dirinya "Siapa pemilik aroma itu? Bisakah aku menemukan dia lagi dan bertanya mengenai asal usulku?" batin Sisilia. Serigala muda itu semakin tenggelam dalam pikirnya hingga tidak menyadari kala ada dua tangan mendorongnya ke sungai. Sisilia menjerit kaget dan segera berteriak meminta tolong. Namun, tidak ada satu aroma yang mendekat padanya. Bahkan angin bertiup masih sama, tidak ada perubahan sedikitpun. Bibir Sisilia semakin merapat. "Sungguh sial nasibku hari ini!" Sisilia terus berusaha berenang menuju ke tepian, tetapi arus sungai begitu deras hingga dia susah untuk bernapas. Setelah terbawa begitu jauh, tubuh itu pun terhempas pada batuan besar dalam keadaan setengah perubahan serigalanya. Sementara di tempat semula terlihat seorang gadis menyeringai penuh arti. Apa yang telah dia lakukan merasa telah berhasil. Dengan bersenandung lirih langkahnya berayun ringan menuju ke kawanan klannya yang sedang berjemur di pinggiran sungai yang lain. "Hai, Rhena! Sini gabung dengan kita," ujar serigala wanita muda lainnya. "Aku harus bersiap untuk acara nannti malam, maaf!" "Ah iya hampir lupa, semoga sukses dan ada yang cocok dengan pilihanmu!" Rhena pun berjalan menuju ke rumahnya, wanita muda itu masih bersenandung lirih. Dia langsung menuju kamar pribadinya dan bersiap diri. "Kalian pasti akan terpana dengan apa yang aku miliki, gadis itu sudah kubuang tidak ada lagi saingan saat kau datang pangeranku. Aku masih teratas daripada gadis buta itu," ujar Rhena lirih. Gadis itu terus bermonolog sambil mematut dirinya di cermin. Wajahnya yang cantik dengan bibir merah natural dan hidung tinggi membuat dia semakin terlihat sempurna. "Lihatlah, cantik aku daripada gadis buta itu. Kau pasti akan terpikat!" Sementara di luar wilayah terdengar derap langkah yang berbeda. Rhena masih asyik memoles wajahnya agar terlihat lebih menarik. Kawanan serigala dari klan lainnya sudah berkumpul di sebuah arena untuk mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Bugary sang Alpha tua. Tawa terdengar menggelegar kala Bulgary bertemu sosok Alpha timur. Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan, setelahnya Bugary memberi tempat pada tamunya. Di ruang gelap sudut kota terlihat seorang gadis tertatih berjalan dengan tongkatnya. Tangannya mengais tumpukan sampah. Setelah mendapat sebungkus nasi dan minuman bekas, gadis itu pun berjalan mencari tempat untuk melanjutkan aktifitasnya. Bau nasi basi dan minuman menyengat hidung wanita muda itu, tetapi dia tidak memedulikan karena saat ini perutnya begitu ingin diisi makanan. "Aku harus kuat, semua ini hanya sementara hingga purnama depan!" ujarnya lirih. Wanita itu terus memaksakan makanan itu masuk ke perutnya tanpa mengunyah. Dia menahan aroma yang tidak sedap dan tidak memedulikan sekitarnya. Meskipun sensornya menangkap adanya dua sorot tajam yang selalu memerhatikan cara dia makan dari kejauhan. "Jika kau datang untuk melenyapkan nyawaku, aku siap!"Raja Lycan Edward Slovasky masih melangkah meninggalkan arena pertempuran itu. Sedangkan Alpha Female Sniders mengikuti langkahnya dengan sedikit berlari. Suaranya yang terus memanggil nama pasangannya itu seakan hilang dibawa angin malam. Merasa jika suaranya tidak diterima oleh kekasihnya membuat emosi Alpha female Sniders memuncak. "Edward!" Panggilnya dengan nada tinggi bahkan disertai dengan angin kencang. Merasakan aliran udara yang berubah seketika langkah Raja Lycan Edward Slovasky pun berhenti, dia berbalik badan. Bibirnya tersenyum kaku. "Maaf!"Alpha famale Sniders berjalan dengan langkah panjang seakan dia berlari di udara. Begitu kakinya menginjak tanah, saat itu juga terlihat wajah cemberut. "Mengapa bisa kau tinggalkan aku dengan tubuhmu penuh luka?" Geram sang alpha female, "apakah aku tidak ada arti?"Raja Lycan Edward Slovasky hanya tersenyum simpul, lengannya bergerak meraih jemari pasangannya. Tanpa bersuara ditautkannya jemari itu dan mulai melangkah bersama.
Setelah kepergian Raja Lycan Edward Slovasky, Edwin berdiri tegak menatap tajam pada sosok Esther yang masih bungkam. Untuk beberapa detik mereka saling diam dalam pemikirannya masing-masing. Setelah suasana mulai membaik, suara Esmeralda keluar dengan volume sangat rendah. "Apakah tidak bisa kalian berbagi tempat dengan kami para penyihir, Madam Esther?"Merasa namanya disebut, Esther mengangkat kepala menatap pada sosok adik tiri Raja Lycan Edward Slovasky--Edwin. "Apakah kau masih inginkan Kastil ini, Tuan Edwin?"Edwin mengeram kasar, dia menatap tajam pada Esther, "hak apa kamu mempertanyakan hal itu padaku. Yang pasti akulah yang berhak atas Kastil ini selain Edward sialan itu.""Jika kau mendapatkan jatah wilayah, mana yang kau inginkan, Nona Esmeralda?" tanya Esther dengan nada dingin. Esmeralda terdiam, dahinya berkerut mencari sebuah kata yang tepat untuk menentukan wilayah yang cocok buat para penyihir. Kedua kelopak matanya mengerjakan ringan disertai senyum penuh arti
Alpha female Sniders menatap sendu pasangannya, lalu berganti menatap Esther dan Esmeralda bergantian. Dia mendengus panjang. "Apakah saat ini Kastil Perak juga dalam penyerangan, Esther, Harlan?" tanya Alpha female Sniders, lalu pandangannya berganti pada penyihir wanita, "apakah ini sudah menjadi rencana kamu, Nona?"Esmeralda hanya diam dengan tatapan tidak bisa diartikan. Sementara Esther memberanikan diri menatap mata alpha. "Esther!" "Iya, Alpha female. Tetapi Alpha Harlan Stuward tidak ikut turun tangan meskipun dia hadir di sana.""Berikan kertas itu padaku, Edward!" Alpha female Sniders meminta dengan kata lembut dan mengulurkan telapak tangan. Untuk sesaat sang raja hanya diam menatap pasangannya itu. Otaknya masih berputar mencari sesuatu yang selama ini masih misteri. Berbagai pertanyaan muncul di otak kecil sang raja, tetapi dia belum ingin ungkap semua secara gamblang. Hanya kedua matanya menatap heran pada Esther. "Darimana kau dapatkan ini semua, Esther?" Suara R
Disaat yang begitu krusial, seberkas sinar Perak melesat memisahkan dua entitas kuat hingga ketiga tubuh terpental dan membentur dinding. "Edward!" Suara Sisilia berteriak keras saat melihat tubuh kekasihnya melayang ke udara dan jatuh membentur dinding Kastil. Di saat bersamaan tubuh Esther terbang di depan Alpha female Sniders dan dia langsung membungkuk memberi hormat. "Maafkan bawahan jika berbuat salah, Alpha." Esther berkata dengan nada rendah dan menunduk. Wanita paruh baya itu tidak berani mendongak melihat wajah atasannya. Aura Alpha female Sniders begitu terasa dingin, tanpa berkata wanita itu melesat menuju ke tubuh pasangannya yang terjatuh bercampur kubangan darah. Diraihnya kepala raja Lycan lalu dibawa ke pangkuannya. Jemari putih nan lentik membelai wajah raja Lycan penuh hangat. "Sayang, jangan tinggalkan aku!" bisik Alpha Female Sniders. Melihat sikap alpha yang tidak peduli dengan kedatangannya membuat hati Esther perih. Lalu dia memilih berjalan menuju ke lo
"Suasana makin tegang, pertempuran mungkin akan sulit dihindari, Alpha Stuward.""Kau tahu semua ini berawal dari serigala buta yang direkomendasikan oleh Azim.""Semua sudah terlanjur dan itu sesuai dengan petunjuk Moon Gooddes. Sulit akan terhindar, lagipula kejadian itu sudah bertahun lamanya te
Tubuh Sisilia bersinar keemasan. Tubuhnya menyatu dengan serigala kesayangan. Sinar mata yang biasanya kosong kini mulai mengeluarkan sinar. "Berhati-hatilah, Alpha Sisilia. Kami masih butuh Anda!" Ester berkata sambil menepuk punggung kokoh serigala perak tersebut. Sang serigala melolong panjang
"Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter. Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia. "
Mobil porche merah memasuki sebuah kastil tua yang terlihat begitu kokoh. Tanpa terhambat, mobil tersebut langsung masuk ke halaman kastil dan disambut dengan wajah sengit seorang pria paruh baya. "Ada perlu apa hingga seorang Harlan Stuward datang langsung ke gubug reyot?" tanya Baron-ayah Rhena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.