Home / Fantasi / My Blind Mate / 6. Penolakan

Share

6. Penolakan

Author: Shaveera
last update publish date: 2026-05-01 05:28:00

Mobil porche merah memasuki sebuah kastil tua yang terlihat begitu kokoh. Tanpa terhambat, mobil tersebut langsung masuk ke halaman kastil dan disambut dengan wajah sengit seorang pria paruh baya.

"Ada perlu apa hingga seorang Harlan Stuward datang langsung ke gubug reyot?" tanya Baron-ayah Rhena

"Ijinkan saya bertemu dengan Rhena, Tuan Baron!" pinta Harlan

Baron menatap nyalang pria yang sudah membuat putrinya berlari tanpa arah, tetapi Harlan justru berbalik menatap dingin dan datar. Sepertinya lelaki itu tidak takut akan kekuasaan Baron.

"Kau bawa aku masuk atau usahamu hancur, Tuan Baron!" kata Harlan datar.

Akhirnya Baron membawa Harlan masuk lebih dalam hingga sampai di ruang yang luas barulah langkah panjang kakinya berhenti dan berbalik menatap Harlan.

"Silakan lanjut menuju lorong kanan, sampai ujung akan Anda jumpai pintu. Di situlah putriku berada!"

"Baik." Usai berkata Harlan melanjutkan langkahnya sesuai informasi Baron.

Harlan terus menyusuri lorong sambil membawa obor kecil sebagai penerang jalannya. Derap langkahnya yang dingin mampu terbaca oleh Rhena yang sedang duduk sendiri di pinggir jendela.

Wanita muda tidak berniat pergi dari posisinya, dia masih ingin menatap pekatnya malam. Hingga suara pintu dibuka pun Rhena masih duduk di pinggir jendela.

"Rhe, tidakkah kamu sudi menatapku?"

"Buat apa, toh wanita buta itu masih ada di sana. Lanjutkan saja hubunganmu dengan si buta, aku tidak peduli," kata Rhena dingin.

Harlan berjalan dengan kedua tangannya berada di saku celana, langkahnya terasa begitu dingin dan Rhena menyadari hal itu. Namun, wanita itu belum ingin berpaling pada Harlan.

Langkah Harlan makin mengikis jarak hingga sejengkal. Tangannya yang panjang dan kekar terulur meraih dua bahu wanitanya, kemudian diputar agar bisa menghadap padanya.

"Tatap aku!" Hentak Harlan.

"Buat apa, kau sudah tidak peduli lagi!" kata Rhena lantang sambil menghempas kedua lengan Harlan.

Sikap wanita muda membuat Harlan mengeram kasar, lalu dicengkeramnya dagu runcing wanita tersebut. Tatapan dingin menusuk jantung Rhena, tetapi wanita itu masih mampu melawan tatapan sang Alpha.

"Apa yang kau inginkan agar aku bisa dapatkan hatimu lagi?"

"Buang wanita buta di kastil milik kamu itu, jika perlu bunuh dia!"

"Tidak mungkin, dia masih aku butuhkan. Apalagi saat ini tidak ada penghangat ranjangku," jawab Harlan masih mode datar.

"Pergi!"

Rhena mendorong tubuh lelakinya dengan keras bahkan lebih menghentak kasar. Tubuh Harlan bergeming, tidak tampak raut kecewa sedikit pun. Pria itu justru tertawa terbahak mendapati perlakuan penuh dengan penolakan.

Sikap Rhena ini menunjukkan jika dia ada rasa pada Harlan. Jadi oleh Harlan makin dibuat cemburu agar wanitanya mencapai puncak gairah yang tentunya bisa dinikmati malam itu.

"Aku akan lakukan apapun yang kau inginkan, Rhe. Ada syaratnya, temani aku minum malam ini, bagaimana?"

"Buang dulu wanita buta itu, akan lebih baik jika bunuh saja!"

Tanpa bicara apapun, Harlan merogoh saku celananya dan mulai menghubungi salah satu bawahannya agar menyiksa Sisilia. Dia sengaja berkata dengan nada tunggi agar Rhena bisa mendengar jelas perintahnya.

"Sudah selesai, tinggal menunggu hasilnya. Bagaimana dengan tawaranku?"

"Baik, aku bersiap dulu. Keluar dari kamarku!"

"Biarkan aku di sini, toh semua tubuhmu sudah pernah aku lihat," kata Harlan.

Rhena tidak menolak lagi. Dengan gerak lambat, wanita itu melepas satu per satu kain penutup tubuhnya. Terlihat jelas kulit nan putih bersih dengan dua gundukan berukuran sedang dan padat membuat hasrat Harlan mulai naik.

Kedua mata Harlan menatap kelamin Rhena yang terlihat bersih tanpa ada rambut membuat Harlan menelan salivanya.

"Seindah itu milikmu, Rhe." Harlan terpana dengan tampilan Rhena.

"Malam ini, Aku milikmu, Harlan!"

Tanpa berkara, Harlan segera menerjang tubuh bugil wanitanya. Langkah dinginnya mengikis jarak dengan melepas satu per satu pakaian yang dikenakan hingga sampai di depan Rhena tubuh Harlan sudah telanjang.

"Harlan, lepaskan!" Hentak Rhena sambil meronta.

Kekuatan Rhena tidak mampu menolak semua sentuhan Harlan. Dengan ganas diterkamnya tubuh mulus Rhena. Dia mengeram sambil melumat dan menyesap payudara milik wanitanya. Rhena tidak bisa menahan gejolak dalam jiwa.

Akan tetapi, entah ada kekuatan darimana tiba-tuba tubuh Harlan terpental keluar dari kamar Rhena melalui jendela.

"Pergi dan jangan tampakkan wajahmu sebelum wanita itu menyingkir!"

"Sialan, kau berani menolak aku, Rhena. Akan kuhabisi dirimu suatu saat nanti!" umpat Harlan sambil melompat meninggalkan halaman samping rumah dalam wujud serigala.

Usai kepergian Harlan segera Rhena membereskan kamarnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri. Apa yang dilakukan oleh lelakinya sangat diluar kendali dan diluar batas.

Sementara Harlan berlari sambil sesekali melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Dia terlihat begitu kekar dan gagah. Serigala setengah manusia itu akhirnya sampai di sebuah kamar gelap milik Sisilia.

Tangannya yang kekar dan panjang bergerak cepat menggoyak semua yang ada di sekitarnya. Suara beberapa benda jatuh tidak membuat Sisilia bergerak. Wanita itu masih duduk tegak di pinggir ranjang dengan masih berbusana tipis.

Harlan meraung, dengan ganas diterkamnya tubuh lemah wanitanya tanpa belas kasih. Tubuh harum Sisilia mampu membangkitkan hasrat yang tidak tersampaikan. Tubuh Sisilia terkunci oleh tenaga besar dan kuat milik Harlan membuat wanita itu tidak bisa bergerak dengan leluasa.

"Tuan, lepaskan! Aku kesakitan," jerit Sisilia.

Aap yang terucap dari bibir tipis merona tidak menghentikan gerakan brutal Harlan. Justru makin mendekat dan mencengkeram erat, melumat serta menghisap bibir tersebut hingga napas Sisilia tersendat. Tangan kekar Harlan juga mencengkeram leher jenjang nan mulus milik Sisilia hingga kepala wanita itu tengadah dengan mulut terbuka.

"Tuan!"

Suara Sisilia tertelan begitu saja dalam kuluman mulut besar Harlan. Jari telunjuknya terus bergerak kasar pada area vital membuat Sisilia mengerang antara nikmat dan sakit. Jiwa wanita itu makin terkoyak perih. Harlan makin bergerak liat menyaksikan wanitanya mengerang.

"Dasar jalang, nikmati apa yang aku suguhkan padamu!"

Harlan terus bergerak memajukan kejantanannya dalam goa sempit milik Sisilia, dia tidak memedulikan teriak kesakitan wanitanya. Cukup lama Harlan bermain di atas tubuh Sisilia hingga wanita itu memejamkan kedua mata menyembunyikan manik mata hijau miliknya.

Kondisi Sisilia yang sudah terpejam tidak menyurutkan niat Harlan menyalurkan hasratnya. Entah sudah berapa kali lelaki itu menyemburkan benihnya dalam rahim Sisilia hingga kesekian kali Harlan mengerang panjang mencapai puncak kenikmatan yang begitu nikmat.

"Hai, bangun!" ucap Harlan usai mengerang panjang dan mendapati tubuh Sisilia merosot ke bawah.

"Sialan, pingsan rupanya!" Harlan segera menyambar boxernya dan memakainya sambil berjalan menuju pintu.

"Piter!" Dengan lantang Harlan memanggil asistennya kemudian menyuruhnya untuk membuat tubuh tidak berguna Sisilia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blind Mate   97. Waktu berburu

    Semua mata memandang pada Rhena, lalu mereka berganti saling pandang. Tetua masih bungkam menunggu jawaban anggota yang ada. "Baik, mungkin dengan begini kita bisa menentukan kelayakan seorang alpha.""Baik. Tentukan waktunya sekalian, karena aku juga harus kembali ke Alpha Stuward," kata Rhena dengan nada datar. Semua anggota menatap pada sang Tetua dengan gerakan yang sama. Mereka mengangguk. "Kita tunggu purnama depan, saat itu kekuatan kalian akan berada di puncak. Bagaimana?"Warior saling pandang, lalu mereka secara serempak menatap pada omega. "Apakah kalian akan ikut penentuan ini?" "Apakah kami bisa?""Semua bisa asal kalian miliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin seperti syarat dalam pack kita sebelumnya," jawab Tetua. "Tunggu, apa kalian lupa?"Seketika mereka yang ada di sana menjadi terdiam dengan pandangan terfokus pada tetua. "Jadi saat kita berburu itu awal dari penentuan alpha baru, apakah seperti itu, Tetua?" tanya seorang omega. Tetua seketika tertawa

  • My Blind Mate   96. Kabar Rhena

    Tetua pack Stigma masih terus berbincang dengan para anggota pack yang tersisa sepuluh saja. Mereka berkumpul membentuk lingkaran dengan saling menjabat tangan untuk menguatkan niat. Di antara mereka masih ada dua warior, satu gamma, enam omega dan tetua. Mereka membuat perjanjian untuk sementara menunggu kabar dari putri alpha--Rhena. Mereka sembunyi di goa-goa yang sulit tercium oleh para anak buah raja Lycan. Meskipun menunggu kabar dari Rhena, ada beberapa omega ingin bebas. "Jika kalian inginkan kebebasan, silakan saja. Saya sebagai tetua hanya bisa menyerahkan keputusan itu," kata tetua. "Aku ingin membangun pack kecil sendiri tentunya Anda masih menjadi tetuanya, Tuan Acrilick.""Iya benar, aku juga setuju dengan ide Gamma Aiden," kata salah satu warior. Tetua menatap Gamma Aiden yang terlihat lebih dewasa dan mumpuni dalam memimpin anggota pack yang tersisa. "Aku masih belum menguasai masa perubahan dengan baik, Tetua. Di usiaku yang sekian masih bingung untuk melakukan

  • My Blind Mate   95. Pack Stigma

    Usai perkelahian yang menguras tenaga tubuh Alpha Female Sniders seketika terkulai lamas tanpa daya. Tubuh indahnya luruh ke tanah, untung masih bisa ditangkap oleh Raja Lycan Edward. Pria itu segera membawa tubuh kekasihnya berlari ke tempat yang lebih stabil. Di bawah pohon rindang, tubuh Alpha Female Sniders di dudukan bersandar pada akar besar yang muncul ke permukaan tanah. "Apakah selelah ini hingga sulit bernapas?" tanya Raja Lycan Edward. "Aku juga tidak mengerti mengapa dan ada apa dengan tubuhku, Edward," jawab Alpha Female Sniders "Kapan terakhir siklus menstruasi kamu, Sisilia?"Alpha Female hanya menatap pasangan keduanya dengan dahi berkerut, dia tidak mengerti apa hubungan antara siklus menstruasinya dengan kondisi tubuh. "Beberapa hari silam kita sering bercinta, mungkinkah saat ini kamu sedang hamil, Sisilia?""Tidak mungkin, aku hanya kelelahan. Tunggu sebentar saja sudah lebih baik," jawab Alpha Female tegas. Raja Lycan mengulum senyum, dia pun bangkit dari du

  • My Blind Mate   94. Malam Hangat

    Ujung kaki bangku kayu yang diinjak oleh Rhena patah membuat tubuhnya limbung. Dengan kecepatan geraknya, Alpha Harlan berlari meraih tubuh Rhena hingga dia tidak sampai jatuh mencium tanah. Kedua mata saling terkunci untuk beberapa saat membuat jantung Rhena berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia segera memberontak agar terlepas dari pelukan alpha. "Terima kasih, Alpha."Tanpa banyak bicara, kedua lengan alpha bergerak meraih tubuh Rhena dan di gendong ala bridal. Kemudian tubuh itu dibawa lari menuju ke packhoues pribadi. Melihat sikap alpha yang mulai manis pada Rhena membuat para pekerja menatap heran. "Apakah ini bisa dikatakan sebagai kehangatan alpha?""Mungkin alpha kita lebih serius lagi memperbaiki hubungannya dengan Nona Rhena."Semua pekerja berharap apa yang terlihat akan segera terjadi hingga pack mereka memiliki Luna yang begitu cantik dan elegan. Sementara alpha membawa tubuh Rhena hingga masuk ke ruang pribadinya dan mendudukkan pada sofa single. "Tunggu di sin

  • My Blind Mate   93. Malam Nikmat Rhena

    Bulan belum sempurna menampakkan wujudnya, tetapi gairah Alpha Harlan mulai naik. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan gairahnya yang sudah lama tidak tersalur. Kesibukan dalam mengejar kembali cinta sang mantan ternyata telah menguras gairahnya hingga saat melihat paha mulus Rhena hasratnya terbakar. Rhena yang merasakan adanya hasrat pasangan hanya mengulum senyum, dia tidak ingin melanjutkan aksinya lagi. Kali ini dia harus mendapatkan kepastian akan posisinya di pack alpha tersebut. "Bagaimana Alpha?"Alpha Harlan Stuward masih diam, pandangannya tidak lepas pada pangkal paha Rhena yang mulai memancing hasratnya. Saat ini Rhena memakai gaun terusan hanya menutupi alat kelaminnya. Sekali tarik gaun itu maka semua aset tubuhnya bisa dinikmati oleh sang alpha. Harlan semakin tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Meskipun beberapa file belum selesai dia periksa, akhirnya Alpha itu menyerah dengan hasratnya. Dia berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah mengikis jaraknya dengan

  • My Blind Mate   92. Penthahouse Alpha Harlan

    Setelah berhasil melarikan diri, Alpha Harlan membawa tubuh Rhena ke packhouse miliknya. Kehadiran Rhena membawa angin segar bagi pack tersebut. Namun, tidak bagi Rhena. Wanita muda itu masih merasakan ketidaknyamanannya dengan setiap penghuni pack. Sudah tiga hari Rhena berada di pack spectra. Selama itu dia belum berani muncul di permukaan seluruh anggota pack. Rhena hanya berdiri di sisi jendela menghadap pada halaman packhouse. Di saja semua kegiatan pack terlihat dengan jelas termasuk bagaimana cara alpha memberi arahan pada anggotanya dalam keseharian. Rhena tidak mengerti mengapa saat ini perlakuan alpha berubah dari sebelumnya, apakah dia sudah bisa melupakan sosok Sisilia yang selama ini menghantui hubungan keduanya. Rhena memindai seluruh kondisi pack tersebut hingga kedua matanya berhenti di perkebunan anggur di sisi yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Deretan pohon anggur begitu teduh dengan buah yang bergelantungan mendekati matang. "Rupanya bisnis anggur sudah m

  • My Blind Mate   7. Dibuang Lagi

    "Gila itu orang, tubuh mulus seperti ini di hancur lebur kan hingga tanpa sisa!" umpat Piter. Meskipun pria tampan itu mengomel dia tetap melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Ada rasa nyeri yang menjalar di dalam tubuh Piter kala dilihatnya darah segar mengalir dari pangkal paha Sisilia. "

  • My Blind Mate   5. Hamil

    Beberapa hari yang lalu sebelum semua terjadi, Sisilia merasa bahwa tubuhnya sedang tidak baik. Maka dia pun meminta ijin pada Harlan untuk memanggil dokter untuknya. Dan semua terjadi. Saat itu seakan dunia dalam genggamannya, dia hamil anak Harlan. Meskipun semua berawal dari kekerasan dan ketid

  • My Blind Mate   4. Wanita Lain yang Ditandai

    Sudah satu bulan penuh Sisilia berada di mansion milik Harlan. Selama itu pula dia tidak bisa bebas berkeliaran bahkan untuk mengenakan pakaian layak pun tidak pernah. Apa yang dilemparkan Harlan hanya dua kain tipis dan mungil yang mampu untuk menutupi dua aset vitalnya. Akan tetapi meskipun dipe

  • My Blind Mate   3. Malam Panjang

    Harlan terpaku, dia tidak bisa membuka pembicaraan. Wajah Sisilia yang masih polos mampu menghipnotis jiwanya hingga hanya kedua bola matanya yang berputar. "Huft, sungguh auranya begitu memenjarakan jiwaku.""Tuan, apa yang kau inginkan?" tanya Sisilia. "Malam ini kau adalah milikku!"Sisilia men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status