LOGINMalam di dalam gua terasa panjang dan penuh kegelisahan. Wisanggeni terbaring di atas hamparan daun kering yang Ratna kumpulkan, tapi matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kilasan-kilasan pertempuran dengan prajurit bayangan muncul kembali. Pedang cahaya, cambuk api hitam, dan tali bayangan yang mencabik-cabik dadanya. Yang paling mengganggu adalah api biru yang muncul tanpa ia panggil. Api itu terasa asing, seperti suara dari masa lalu yang berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
Ratna duduk bersila di dekat mulut gua, menjaga tirai cahaya keperakan yang ia ciptakan. Matanya sayu, tapi ia berusaha keras untuk tetap terjaga. Di pangkuannya, lonceng perak kecil yang ia gunakan tadi sudah mulai kehilangan kilaunya. Menggunakan alat suci seperti itu dua kali berturut-turut dalam waktu singkat hampir menguras seluruh cadangan energi spiritualnya.
“Kau tidak perlu berjaga sendirian,” suara Wisanggeni terdengar dari dalam gua. “Aku bisa bergantian.”
Ratna menoleh, tersenyum lemah. “Kau baru saja bertempur habis-habisan. Tubuhmu butuh istirahat lebih dari aku.”
“Tapi kau juga menggunakan banyak energi. Lonceng itu…”
“Aku akan pulih. Sebagai pendeta, aku dilatih untuk memulihkan energi dengan meditasi. Lagipula, malam ini aku tidak bisa tidur.” Ia menatap ke luar gua, ke arah hutan yang gelap. “Ada sesuatu di luar sana. Bukan prajurit bayangan tapi esuatu yang lain. Aku merasakannya sejak matahari terbenam.”
Wisanggeni berusaha untuk bangun, melawan rasa lelah di sekujur tubuhnya. Ia duduk di samping Ratna, ikut menatap ke luar. Hutan malam memang terlihat menyeramkan. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti siluet raksasa, suara jangkrik dan burung malam bercampur dengan lolongan serigala di kejauhan. Tapi di antara semua itu, ada keheningan yang aneh. Seolah alam sedang menahan napas.
“Apa yang kau rasakan?”
Ratna menutup mata, berkonsentrasi. “Energinya dingin. Tapi bukan dingin seperti bayangan. Lebih seperti kesedihan. Seperti ada sesuatu yang menangis, tapi tidak bisa bersuara.”
Wisanggeni merasakan dadanya berdenyut. Bukan api suci yang keemasan, tapi api biru yang tadi. Ia mengangkat tangannya, dan kali ini, percikan biru kecil muncul di ujung jarinya. Tidak panas, tapi terasa seperti sentuhan lembut.
“Api arwah itu bereaksi,” bisik Ratna, membuka matanya. “Mungkin ada jiwa yang tersesat di sekitar sini.”
Mereka berdiri bersama, perlahan melangkah keluar dari gua melewati tirai cahaya. Hutan di depan mereka gelap gulita, tapi Wisanggeni bisa melihat sesuatu, sebuah cahaya biru samar yang berkelap-kelip di antara pepohonan, seperti kunang-kunang yang kehilangan arah. Mereka mengikuti cahaya itu. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terasa dinginnya. Bukan dingin suhu, tapi dingin yang menusuk hingga ke tulang, dingin yang berasal dari alam lain. Pepohonan di sekitar mulai berubah. Daun-daunnya mengering seketika, ranting-rantingnya membeku dalam posisi aneh.
Di sebuah tempat terbuka di tengah hutan, mereka melihatnya. Sesosok perempuan berpakaian putih, duduk bersimpuh di atas batu besar. Rambutnya panjang tergerai, menutupi wajahnya. Dari tubuhnya, cahaya biru pucat memancar lemah, seperti lampu yang hampir padam.
Ratna menghentikan langkah Wisanggeni. “Itu arwah. Arwah yang terperangkap.”
“Kenapa ia di sini?”
“Mungkin ia tidak bisa menemukan jalan pulang. Atau mungkin ada yang menahannya.”
Wisanggeni melangkah mendekat perlahan. Api biru di ujung jarinya semakin terang saat ia mendekati arwah itu. Ketika ia hanya berjarak beberapa langkah, arwah itu mengangkat kepalanya.
Wajahnya cantik, tapi pucat seperti mayat. Matanya kosong, namun ketika melihat Wisanggeni, ada secercah harapan di sana. Ia membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya bisikan angin yang seakan mewakilinya untuk berbicara.
Aku… tidak bisa pulang…
Suara itu terdengar langsung di dalam kepala Wisanggeni. Ia tersentak, tapi tidak mundur.
“Siapa kau? Kenapa kau di sini?”
Arwah itu menunjuk ke dadanya sendiri atau lebih tepatnya, ke sebuah luka menganga di dadanya, yang meski sudah tidak berdarah, masih terlihat mengerikan. Luka itu berbentuk aneh, seperti bekas cakar.
Aku dibunuh… oleh makhluk bayangan… sebelum aku sempat mengucapkan pamit kepada anakku…
Ratna yang mendekat dari belakang Wisanggeni ikut merasakan kesedihan itu. “Kau terperangkap di sini karena urusan yang belum selesai?”
Arwah itu mengangguk. Anakku. Ia masih kecil. Ia menungguku pulang setiap malam di pinggir desa. Tapi aku tidak bisa menemuinya. Ada penghalang. Api hitam yang menghalangi jalanku.
Wisanggeni dan Ratna saling bertukar pandang. Api hitam itu pasti sisa-sisa serangan prajurit bayangan. Mereka tidak hanya membunuh, tapi juga memerangkap arwah korbannya, mencegah mereka mencapai alam baka.
“Apa yang bisa kami lakukan?” tanya Wisanggeni.
Arwah itu menatapnya dengan mata yang penuh harapan. Api di tanganmu… api biru itu… bisa memurnikan penghalang hitam. Aku merasakannya. Tapi kau harus membantuku menemukan jalannya.
Wisanggeni ragu. Ia baru pertama kali menggunakan api biru secara sadar, dan itu pun tanpa kendali. Apakah ia sanggup?
Tapi Ratna meletakkan tangan di bahunya. “Kau bisa, Wisanggeni. Api arwah itu adalah warisan ibumu. Gunakan instingmu. Jangan pikirkan tapi rasakan.”
Wisanggeni menarik napas dalam, lalu memejamkan mata. Ia mencoba merasakan api biru itu, bukan sebagai kekuatan, tapi sebagai bagian dari dirinya sendiri. Ia membayangkan ibunya, Arimbi, yang tidak pernah ia kenal secara langsung. Dari cerita ayahnya, Arimbi adalah pejuang yang lembut, yang selalu melindungi yang lemah, bahkan setelah kematian.
Api biru di ujung jarinya mulai membesar, menjalar ke seluruh tangannya. Rasanya dingin, tapi tidak menusuk seperti air segar di musim kemarau. Wisanggeni membuka mata, dan kini ia bisa melihat jalannya. Di udara, tepat di belakang arwah itu, ada kabut hitam yang berputar perlahan. Seperti pusaran kecil. Itu pasti penghalang yang dimaksud. Dengan hati-hati, ia mengulurkan tangannya yang berselimut api biru ke arah kabut itu. Begitu menyentuhnya, kabut hitam itu mendesis, mengeluarkan suara seperti jeritan. Ia mencoba melawan, mencoba melilit tangan Wisanggeni. Tapi api biru itu semakin kuat, membakar kabut dari dalam. Dalam beberapa detik, kabut itu lenyap. Dan tiba-tiba, di tempat yang sama, muncul sebuah jalan. Jalan bercahaya keperakan yang membentang ke atas dan menembus kanopi hutan.
Arwah itu tersenyum untuk pertama kalinya, senyum yang tulus. Terima kasih… aku bisa pulang sekarang…
Sebelum pergi, ia menatap Wisanggeni sekali lagi. Kau membawa dua api, anak muda. Dua warisan dari dua dunia. Jangan biarkan salah satu padam. Keduanya sama pentingnya.
Lalu tubuhnya perlahan naik, mengikuti jalan cahaya itu, sampai akhirnya lenyap di antara bintang-bintang.
Wisanggeni dan Ratna berdiri diam menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu. Udara di sekitar terasa lebih ringan sekarang. Hutan kembali normal, daun-daun yang tadi mengering perlahan menghijau kembali.
“Kau baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa,” kata Ratna pelan. “Kau membebaskan jiwa yang terperangkap.”
Wisanggeni menatap tangannya. Api biru itu sudah padam, tapi ia masih merasakan hangatnya di dadanya. “Aku tidak menyangka bisa melakukannya. Rasanya… seperti naluri.”
“Itu memang naluri, Wisanggeni. Warisan ibumu. Arimbi dikenal sebagai pelindung arwah. Bahkan dalam naskah kuno, ia sering digambarkan menuntun jiwa-jiwa yang tersesat ke alam baka. Sekarang, kau yang mewarisi tugas itu.”
Mereka kembali ke gua saat langit timur mulai memucat. Fajar sebentar lagi tiba. Setelah memastikan tirai perlindungan masih utuh, mereka berdua duduk bersandar di dinding gua, kelelahan tapi juga merasa lega.
“Kita harus segera bergerak setelah matahari terbit,” kata Ratna. “Desa terdekat dari sini adalah Desa Wukir Sari. Di sana kita bisa membeli bekal dan mungkin mencari informasi tentang jalan menuju Gunung Agni.”
Wisanggeni mengangguk. Tapi sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba dadanya terasa panas. Api suci di dalamnya berdenyut kencang. Tidak seperti peringatan bahaya, tapi seperti sesuatu yang lain. Ia merasakan gambaran samar. Sebuah desa kecil di kaki bukit, asap membubung dari rumah-rumah, dan teriakan ketakutan.
“Ada apa?” tanya Ratna, melihat perubahan di wajah Wisanggeni.
“Aku melihat sesuatu. Sebuah desa. Sedang diserang.”
“Desa Wukir Sari?”
“Mungkin. Aku tidak tahu. Tapi api di dadaku, ia menunjukkannya padaku.”
Ratna berdiri, wajahnya tegang. “Jika itu benar, kita tidak bisa menunggu sampai matahari terbit. Kita harus pergi sekarang.”
Wisanggeni juga berdiri, meski tubuhnya masih terasa lelah. “Kau yakin? Perjalanan malam berbahaya.”
“Lebih berbahaya jika kita diam dan membiarkan orang-orang mati.”
Tanpa banyak bicara, mereka mengemasi barang-barang dan segera meninggalkan gua. Jalan menuju Desa Wukir Sari ternyata tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua jam perjalanan jika berjalan cepat. Tapi hutan malam penuh dengan ketidakpastian. Untungnya, Ratna hafal medan ini. Ia sering melakukan perjalanan ke desa-desa sekitar untuk membeli kebutuhan candi. Mereka berjalan dalam keheningan, hanya diterangi cahaya bulan yang redup. Sepanjang jalan, Wisanggeni terus merasakan denyut di dadanya. Semakin cepat, semakin kuat, seperti jantung yang berdetak dengan sangat kencang. Ia tahu itu pertanda bahwa mereka mendekati sumber bahaya.
Dan benar saja, ketika mereka sampai di tepi hutan yang membatasi desa, pemandangan mengerikan terbentang di depan mereka. Desa Wukir Sari terbakar. Rumah-rumah panggung dari kayu dilalap api merah jingga. Asap hitam membubung tinggi, menutupi bintang-bintang. Di tengah desa, suara teriakan dan tangisan bercampur dengan suara gemuruh yang mengerikan. Suara yang sama dengan prajurit bayangan kemarin. Tapi ini bukan lima prajurit. Setidaknya ada dua puluh, mungkin lebih, bertebaran di seluruh desa. Mereka membakar, menghancurkan, dan menangkap warga yang mencoba melarikan diri.
Ratna menutup mulutnya, menahan isak. “Tidak… ini terlalu mengerikan…”
Wisanggeni sudah melangkah maju, tapi Ratna menariknya. “Tunggu! Kau tidak bisa masuk begitu saja. Mereka terlalu banyak.”
“Aku tidak bisa diam saja melihat ini, Ratna! Orang-orang ini tidak bersalah!”
“Aku tahu. Tapi kita harus pintar. Jangan gunakan api suci, itu akan menarik perhatian mereka lebih banyak. Gunakan api arwah. Api itu tidak terlalu mencolok, dan mungkin bisa membebaskan jiwa-jiwa yang terperangkap seperti tadi.”
Wisanggeni menghembuskan napasnya dan mengangguk. Ia menarik napas dalam, memanggil api biru di dalam dirinya. Kali ini, api itu muncul lebih cepat. Seluruh tubuhnya kini diselimuti cahaya biru pucat yang hampir tidak terlihat di tengah gelapnya malam.
Ratna mengeluarkan lonceng peraknya yang sudah sedikit pulih. “Aku akan mengalihkan perhatian mereka dari sisi timur desa. Kau masuk dari barat, bebaskan warga yang terjebak. Bertemu di tengah jika sudah selesai.”
“Hati-hati, Ratna.”
“Kau juga.”
Mereka berpisah. Ratna berlari menyusuri pinggir desa menuju timur, sementara Wisanggeni menyelinap dari barat, melewati kebun-kebun warga yang hangus terbakar.
Begitu memasuki desa, Wisanggeni menyaksikan kengerian lebih dekat. Seorang ibu berlari sambil menggendong bayinya, dikejar oleh prajurit bayangan. Wisanggeni bergerak cepat, menyelinap di antara bayang-bayang, lalu tiba-tiba muncul di depan prajurit itu. Prajurit bayangan terkejut, tapi sebelum sempat bereaksi, tangan Wisanggeni yang berselimut api biru sudah menyentuh dadanya. Sama seperti sebelumnya, prajurit itu membeku, lalu terurai menjadi serpihan. Tapi kali ini, tidak ada jeritan. Hanya keheningan.
Ibu itu menatap Wisanggeni dengan takut dan harap. “Kau… kau siapa?”
“Tidak penting. Cepat lari ke hutan, jangan berhenti sampai jauh dari sini.”
Ibu itu mengangguk lalu berlari, menghilang di antara pepohonan. Wisanggeni terus bergerak dari satu titik ke titik lain. Setiap kali ia melihat warga yang terjebak, ia menyelamatkan mereka. Setiap kali ia bertemu prajurit bayangan, ia menghancurkannya dengan api biru. Tapi jumlah mereka terlalu banyak, dan ia mulai kelelahan.
Di sisi timur, Ratna mengayunkan loncengnya, menciptakan gelombang suara yang mengganggu konsentrasi para prajurit. Beberapa dari mereka mengejarnya, tapi ia terus bergerak, memancing mereka menjauh dari desa. Ia berlari ke arah sungai, berharap air bisa memperlambat mereka. Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul sosok yang tidak ia duga. Pemimpin prajurit bayangan yang kemarin. Ia tersenyum melihat Ratna.
“Kita bertemu lagi, pendeta kecil. Kali ini, tidak ada anak api yang melindungimu.”
Ratna mundur, memegang loncengnya erat-erat. “Apa yang kalian inginkan dari desa ini?”
“Kami ingin menarik perhatian Wisanggeni. Dan sepertinya, itu berhasil. Ia sudah ada di desa sekarang, kan? Bagus. Batara Kala ingin melihat sejauh mana kekuatannya berkembang.” Pemimpin itu tertawa. “Tapi untuk jaga-jaga, kami butuh sandera. Dan kau adalah pilihan yang sempurna.”
Ia melangkah maju, tangan bayangannya meraih Ratna. Tapi tiba-tiba, tubuhnya tertahan. Ia menunduk, dan melihat tangan Wisanggeni yang berselimut api biru menembus dadanya dari belakang.
“Jangan sentuh dia,” suara Wisanggeni dingin.
Pemimpin itu terkejut, lalu tersenyum getir. “Kau datang tepat waktu. Tapi tidak apa-apa… kami sudah mendapatkan apa yang kami inginkan… sebentar lagi… Batara Kala sendiri… yang akan datang…” ucapnya lalu tubuhnya terurai, lenyap bersama angin malam.
Wisanggeni menarik Ratna ke dalam pelukannya, melindunginya. “Kau selamat.”
Ratna menggenggam lengannya, tubuhnya gemetar. “Aku tahu kau akan datang.”
Di belakang mereka, desa masih terbakar. Tapi perlahan, suara gemuruh mulai mereda. Prajurit-prajurit bayangan yang tersisa, tanpa pemimpin, mulai mundur ke dalam bayangan. Mereka sudah mencapai tujuan mereka. Menarik perhatian Wisanggeni, menguras tenaganya, dan mengirim pesan. Wisanggeni menatap desa yang hancur, hatinya dipenuhi amarah dan kesedihan. “Ini semua salahku. Mereka menyerang desa ini karena aku.”
Ratna meraih tangannya. “Bukan salahmu, Wisanggeni. Ini ulah Batara Kala. Dan sekarang, lebih dari sebelumnya, kita harus melanjutkan perjalanan. Kita harus menemukan cara mengalahkannya, sebelum lebih banyak orang tak bersalah menjadi korban.”
Mereka berdiri di tengah puing-puing yang masih berasap, dua sosok kecil di bawah langit yang mulai memerah oleh fajar. Perjalanan mereka masih panjang. Dan di ujung perjalanan itu, pertempuran terbesar menanti.
Langit timur perlahan berubah jingga. Malam yang dipenuhi kobaran api mulai menyerah pada cahaya fajar, tetapi Desa Wukir Sari belum benar-benar terbebas dari luka. Asap masih mengepul dari sisa-sisa rumah panggung yang hangus. Bau kayu terbakar bercampur dengan tanah basah memenuhi udara, sementara suara tangis dan rintihan terdengar dari berbagai penjuru desa.Beberapa warga sibuk memadamkan bara yang masih menyala menggunakan ember-ember bambu. Sebagian lain berusaha mengangkat balok-balok kayu yang roboh, berharap masih ada anggota keluarga yang dapat diselamatkan.Wisanggeni berdiri mematung di tengah halaman desa. Tatapannya menyapu setiap sudut yang porak-poranda. Seorang anak kecil menangis sambil memeluk tubuh ibunya yang terluka. Di sisi lain, beberapa lelaki berusaha memperbaiki kandang ternak yang runtuh. Tidak jauh dari sana, seorang kakek terduduk lemas di depan rumahnya yang kini hanya menyisakan tiang-tiang gosong.Semua pemandangan itu seakan be
Malam di dalam gua terasa panjang dan penuh kegelisahan. Wisanggeni terbaring di atas hamparan daun kering yang Ratna kumpulkan, tapi matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kilasan-kilasan pertempuran dengan prajurit bayangan muncul kembali. Pedang cahaya, cambuk api hitam, dan tali bayangan yang mencabik-cabik dadanya. Yang paling mengganggu adalah api biru yang muncul tanpa ia panggil. Api itu terasa asing, seperti suara dari masa lalu yang berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti.Ratna duduk bersila di dekat mulut gua, menjaga tirai cahaya keperakan yang ia ciptakan. Matanya sayu, tapi ia berusaha keras untuk tetap terjaga. Di pangkuannya, lonceng perak kecil yang ia gunakan tadi sudah mulai kehilangan kilaunya. Menggunakan alat suci seperti itu dua kali berturut-turut dalam waktu singkat hampir menguras seluruh cadangan energi spiritualnya.“Kau tidak perlu berjaga sendirian,” suara Wisanggeni terdengar dari dalam gua. “Aku bisa bergantian.”Ratn
Mereka telah berjalan beberapa jam ketika matahari mulai tinggi. Kabut telah menyusut, memperlihatkan pemandangan hutan yang luas di sekeliling mereka. Di kejauhan, Gunung Agni terlihat samar-samar, puncaknya diselimuti awan putih.“Kita akan beristirahat sebentar di sana,” kata Ratna, menunjuk ke sebuah gua kecil di sisi bukit. “Ada mata air di dalamnya, dan tempat itu cukup tersembunyi.”Mereka masuk ke dalam gua yang sejuk dan gelap. Ratna menyalakan lentera kecil dari tasnya, menerangi dinding batu yang basah oleh tetesan air. Di bagian dalam, memang ada mata air kecil yang mengalir jernih.Saat Wisanggeni minum, ia tiba-tiba merasakan getaran aneh di dadanya. Api suci berdenyut lebih cepat, seperti peringatan.“Ada yang tidak beres,” katanya, berdiri tegak.Ratna juga merasakannya. “Energinya berat. Seperti ada sesuatu yang mengintai.” Ucapnya dengan waspada.Dari luar gua, terdengar suara langkah kaki yang banyak dan berat. Lalu suara yang serak dan dingin, yang jelas bukan bera
Fajar belum sepenuhnya merekah ketika Ratna sudah sibuk di ruang dalam candi. Tas kain sederhana sudah tergeletak di atas tikar, berisi bekal makanan kering, gulungan naskah pilihan, botol air, dan beberapa ramuan penyembuh. Ia bergerak dengan cepat namun efisien, setiap gerakannya penuh ketenangan yang lahir dari tahun-tahun hidup sebagai penjaga tempat suci. Namun di balik ketenangan itu, ada getaran halus kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda alam. Sedangkan Wisanggeni menunggu di pelataran candi, menatap langit timur yang perlahan berubah dari hitam menjadi ungu, lalu jingga pucat.Pikirannya masih penuh dengan kata-kata ayahnya semalam. “Keberanian tanpa kebijaksanaan adalah bencana.” Apakah keputusannya membawa Ratna ikut dalam perjalanan ini adalah bijaksana? Atau justru egois? Ia tahu bahaya yang mengancam, tahu Batara Kala tidak akan berhenti. Tapi di sisi lain, Ratna adalah satu-satunya orang yang me
Hari-hari berlalu dengan lambat di candi Gunung Arum. Wisanggeni perlahan pulih, meski kekuatannya masih jauh dari normal. Api di dadanya kini stabil, berdenyut dengan ritme yang teratur seperti detak jantung, tetapi warnanya masih pucat. Campuran antara oranye dan abu-abu, seolah masih mencari bentuk yang sebenarnya. Ratna sibuk merawatnya sekaligus meneliti naskah-naskah kuno yang tersimpan di ruang bawah candi. Ruangan itu gelap, penuh dengan debu dan aroma apek kertas usang. Di sana, ia menemukan gulungan-gulungan lontar yang menceritakan sejarah Kahyangan dan Naraloka dalam bahasa yang hampir punah. Bahasa Dewa Bisa, bahasa yang hanya dipahami oleh para pendeta tinggi.Suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti hutan di sekitar candi, Ratna duduk di samping Wisanggeni dengan sebuah gulungan terbuka di pangkuannya. Wajahnya tampak sangat serius. “Aku menemukan sesuatu,” katanya, suaranya bergetar sedikit. “Tentangmu, Wisanggeni. Tentang mengapa kau berbe
Langit di atas Bale Sidang Kahyangan masih berwarna jingga gelap, seperti bekas luka bakar raksasa yang belum sembuh seutuhnya. Pusaran api suci Simbar Agni telah padam, tapi sisanya masih berserakan di udara. Percikan cahaya merah yang perlahan mendingin dan jatuh seperti salju api. Para dewa belum beranjak sedikit pun, mereka masih duduk dalam formasi melingkar, wajah-wajah mereka disinari cahaya temaram dari lampu-lampu angkasa yang menggantung di langit-langit ruangan sidang.Batara Guru masih duduk di singgasananya, kedua tangannya memegang erat tongkat suci Kayu Kalimasada. Matanya tertutup, tapi semua yang hadir tahu bahwa pikirannya sedang melesat jauh, menimbang, menganalisis, meraba konsekuensi dari keputusan yang baru saja dijatuhkan. Di sisinya, Batara Narada berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, gulungan kitab suci terbuka di tangannya, tapi matanya menatap kosong ke arah tempat Wisanggeni berdiri tadi.Gatotkaca masih berada di posisinya, di sisi barat







