LOGINWandi, adalah seorang kurir miskin yang hidup mengenaskan. Namun suatu hari, ia mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Bagaimana kisah Wandi selanjutnya? Ikuti kisahnya di buku yang bertajuk 'Kurir Pemilik Sistem' ini.
View MoreWandi tidak tahu berapa lama dia duduk di atas motor itu. Yang dia tahu, langit mulai gelap. Jalanan desa yang tadinya jingga keemasan, kini berubah menjadi biru kelam. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Suara jangkrik dan kodok mulai terdengar bersahutan.Dia sadar kalau dia sudah menangis.Air mata mengalir di pipinya tanpa suara. Tidak ada isakan. Tidak ada ledakan emosi. Hanya air mata yang jatuh, membasahi kemeja biru mudanya, membasahi setang motor yang masih dia pegang."Tina..." bisiknya.Namun Tina tidak mendengar. Tina sudah jauh. Tina bersama pria lain. Pria yang bisa memberinya hidup layak. Pria yang tidak harus menjual gantungan kunci rongsokan untuk bisa membeli beras.Wandi menghela napas panjang. Napas yang terasa berat, seperti mengeluarkan seluruh udara dari dadanya yang sesak.Dia menyalakan mesin motor.Brummm.Suara knalpot yang tadinya halus, kini terdengar seperti rintihan kesedihan.Wandi memutar setang. Motornya berbelok 180 derajat, menghadap ke a
Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah warna dari biru menjadi jingga keemasan. Awan-awan tipis terlihat seperti kapas yang terbakar di ujung cakrawala. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore.Wandi memasuki wilayah Desa Cibogo. Jalanan mulai menyempit, hanya cukup untuk satu mobil. Di kiri kanan, kebun teh terhampar hijau, dengan pegunungan di kejauhan yang diselimuti kabut tipis. Udara terasa sejuk, sangat kontras dengan panasnya Jakarta. Wandi menarik napas dalam-dalam. Aroma daun teh segar dan tanah basah memenuhi hidungnya.Dia mengikuti jalan setapak yang berkelok-kelok. Sesekali dia harus berhenti untuk memberi jalan kepada kambing atau sapi yang berkeliaran bebas. Anak-anak desa yang sedang bermain bola di pinggir jalan menatapnya dengan heran, mungkin karena plat motor B (Jakarta) dianggap aneh di desa yang hanya dihuni motor berplat T (Subang) atau plat E (Cirebon)."Permisi, Bang. Rumahnya Pak Haji Samsudin di mana, ya?" tanya Wandi pada seorang bapak-bapak yan
Jam menunjukkan pukul 09.45 ketika Pakde Slamet mengelap tangannya dengan kain lap hitam dan berkata, "Selesai, Wan. Coba kamu cek."Wandi berdiri. Matanya menjelajahi motor yang kini tampak seperti baru lahir. Setang sudah lurus sempurna. Lampu depan baru berkilauan seperti mata kucing di malam hari. Spion kiri dan kanan terpasang rapi, dengan kaca yang masih bening tanpa goresan. Body samping yang tadinya penyok, sekarang sudah rata kembali. Memang masih ada bekas-bekas goresan yang tidak bisa dihilangkan tanpa dempul dan cat ulang, tapi setidaknya tidak terlihat seperti habis dihajar truk."Oli ganti, busi ganti, kampas rem ganti, rantai dikencengin, semua beres," lapor Pakde Slamet sambil mengusap keringat di dahinya. "Total... mari kita hitung."Dia mengambil kalkulator kecil dari saku bengkelnya. Jari-jarinya yang gemuk menekan tombol-tombol dengan cekatan."Lampu depan baru seratus lima puluh, spion sepasang delapan puluh, jasa setang lurusin dua ratus, ketok body dua ratus lim
Wandi tidak bisa tidur semalaman. Bukan karena kesedihan, meskipun hatinya masih perih mengingat Tina pergi membawa Nila. Bukan karena kegembiraan, meskipun rekening banknya kini menunjukkan angka yang belum pernah dia lihat seumur hidup. Tapi karena otaknya terlalu sibuk berpikir. Merencanakan. Memvisualisasikan. "Besok aku perbaiki motor. Lalu aku ke desa. Aku temui Tina. Aku tunjukkan bukti transfer. Aku bilang, 'Lihat, Tin. Aku tidak gila. Benda itu nyata. Dan ini baru awal.'"Tina pasti kaget. Mungkin dia akan menangis. Mungkin dia akan memelukku. Mungkin dia akan minta maaf karena sudah meragukanku. Lalu kita akan kembali. Kita cari kontrakan yang lebih layak. Nila bisa sekolah di tempat yang bagus. Tina bisa beli baju baru. Kita bahagia.Itu skenario indah yang berputar di kepala Wandi berulang kali. Skenario yang membuatnya tersenyum di tengah gelapnya malam, di atas kasur yang kini hanya dia sendiri yang menghangatkannya.Tapi ada suara kecil di kepalanya, suara yang realisti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews