INICIAR SESIÓNIbu Wong juga berdiri, menjabat tangan Arini. "You did a great job, Ms. Arini. We'll seriously consider your proposal.""Thank you, Ibu Wong."Tuan Tan, yang paling muda di antara ketiganya, berdiri paling akhir. "Ms. Arini, I hope that personal good news you mentioned earlier will make you even happier."Arini tersenyum. "It already does, Mr. Tan. It already does."Para investor keluar dari ruangan, ditemani oleh Pak Hendra dan Bu Dewi yang akan mengantarkan mereka ke mobil. Arini duduk di kursinya, menghela napas panjang.Mbak Sari, sekretarisnya, mendekat. "Bu, mau saya bawakan kopi?""Ya, Sari. Kopi hitam ya. Jangan pakai gula.""Siap, Bu."Mbak Sari berbalik, tapi kemudian berhenti. "Bu Arini, saya mau bilang sesuatu.""Apa, Sari?""Tumben hari ini Bu Arini senyum terus. Biasanya di meeting, Bu Arini galak. Maaf. Maksud saya... tegas."Arini tertawa. "Sari, kamu sudah berapa tahun kerja sama saya?""Sudah 2 tahun, Bu.""Apakah selama 2 tahun itu kamu pernah lihat aku pacaran?"Mb
Presentasi selesai. Investor dari Singapura keluar ruangan untuk istirahat sebentar. Tim Arini juga keluar, meninggalkan Arini sendirian di ruang meeting.Arini duduk di kursinya, menghela napas panjang. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena gugup, tapi karena lega. Presentasi berjalan lancar. Investor terlihat tertarik. Kebutuhan pendanaan mungkin akan disetujui, meskipun mungkin dengan negosiasi kecil.Dia membuka ponselnya. Ada pesan dari Wandi.[Rin, gimana meetingnya? Aku doain lancar. Nanti aku jemput jam 5 di tempat biasa, ya. Aku sudah siap jadi supir pribadi kamu.]Arini tersenyum lebar. Jarinya mengetik balasan dengan cepat.[Meeting lancar. Investor sepertinya tertarik. Nanti siang kita lanjut negosiasi. Makasih doanya. Kamu jangan lupa makan siang, ya.]Balasan dari Wandi muncul beberapa detik kemudian.[Siap, Nyonya CEO. Aku sekarang lagi di pasar loak. Lagi hunting barang antik. Semoga dapet lagi kayak meteorit.]Arini tertawa kecil. Jarinya mengetik lagi.[Hati-hati,
"Eh, nggak, Bu. Saya... Saya hanya kaget. Biasanya Bu Arini kalau pagi, jawabannya 'iya' saja, lalu langsung pergi. Sekarang Bu Arini... ramah."Arini tersenyum. "Hari ini saya baik hati, Pak Budi. Manfaatkan."Budi tertawa kecil. "Siap, Bu."Arini melanjutkan langkah. Dia melewati ruang tim pemasaran, di mana Lina, kepala divisi pemasaran, sedang rapat kecil dengan timnya. Lina melihat Arini lewat dan melambai. Arini membalas lambaian dengan senyum lebar. Lina terkejut, tangannya yang melambai berhenti di udara, mulutnya menganga.Dia melewati ruang tim IT, di mana Rudi, kepala divisi IT, sedang menatap layar monitor dengan ekspresi frustrasi. Rudi tidak melihat Arini lewat karena terlalu fokus dengan kode program yang mungkin error. Arini tidak mengganggu.Sampai di ujung koridor, Arini berbelok ke kiri, menuju ruang meeting utama. Pintu ganda dari kayu jati dengan gagang kuningan mengilap terbuka sedikit. Dari dalam, terdengar suara orang-orang berbincang dalam bahasa Inggris dan M
Arini menghela napas panjang. Napas yang lega. Napas yang bahagia. Napas yang terasa seperti melepaskan beban berat yang sudah dia pikul selama bertahun-tahun."Dia bilang dia cinta aku. Dia bilang dia tidak mau lagi terjebak dalam masa lalu. Dia bilang aku adalah alasan dia tersenyum setiap pagi."Arini menutup matanya. Dia membayangkan Wandi berdiri di depannya, tersenyum, dengan lesung pipit di pipi kirinya yang membuatnya terlihat seperti anak laki-laki polos meskipun dia sudah dewasa. Dia membayangkan mereka berjalan bergandengan tangan di tepi pantai, atau duduk di tebing menikmati matahari terbenam, atau sekadar diam di dalam mobil sambil mendengarkan radio."Ini nyata, ya? Aku tidak mimpi?"Arini membuka mata. Dia menepuk pipinya sendiri, sedikit sakit. Berarti tidak mimpi.Dia tertawa kecil. Tawa yang keluar dari sela-sela bibirnya yang masih tersenyum."Udah... cukup... jangan berlebihan, Arini. Kamu harus fokus dengan kerjaan kamu hari ini," gumam Arini pada dirinya sendiri
Pintu lift menutup perlahan di belakang Arini. Suara mekanik khas lift gedung perkantoran, suara kabel yang berputar, roda gigi yang saling mengait, dan angin yang tersedot dari celah-celah pintu, mengiringinya naik ke lantai 24. Biasanya, di waktu seperti ini, Arini akan membuka ponselnya, membaca ulang agenda meeting, memeriksa pesan-pesan dari timnya, atau sekadar menatap layar lift dengan ekspresi datar, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang panjang.Tapi pagi ini berbeda.Arini berdiri di tengah lift, kedua tangannya memegang tas laptop di depan perutnya, seperti anak sekolah yang baru pertama kali masuk SD. Matanya menatap pintu lift yang mengilap, tapi tidak benar-benar melihat. Yang dia lihat adalah bayangan Wandi—wajah Wandi yang teduh, matanya yang dalam, bibirnya yang bergerak pelan mengucapkan tiga kata yang mengubah segalanya."Rin, aku cinta kamu."Arini menggigit bibir bawahnya. Senyumnya melebar. Tidak bisa dia tahan. Senyum yang muncul dari dalam hati yang pal
"Yang aku tahu, sekarang, di sini, di dalam mobil ini, aku tidak bisa lagi memungkiri perasaanku. Aku mencintaimu, Arini."Air mata Arini jatuh.Bukan deras. Bukan isak tangis. Tapi tetes demi tetes, perlahan, mengalir di pipinya yang mulus. Dia tidak menyeka. Dia membiarkan air matanya jatuh, membasahi kemeja putihnya yang rapi."Mas Wandi..." suara Arini pecah, "aku... aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama. Sejak malam di tebing, ketika kamu bilang kamu mulai melupakan Tina. Sejak kamu bilang aku adalah alasan kamu tersenyum setiap pagi. Sejak kamu... menyelamatkan nyawaku."Arini meraih tangan Wandi dengan kedua tangannya. Dia menggenggamnya erat, seperti tidak mau melepaskan."Mas Wandi, aku juga cinta kamu. Aku cinta kamu sejak pertama kali kamu bilang, 'Mbak, angka Mbak merah. Mbak akan mati.' Waktu itu aku kira kamu orang gila. Tapi kemudian kamu membuktikan bahwa kamu tidak gila. Kamu menyelamatkanku. Dan semenjak itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu."Mereka ber







