Kakak Tingkatku Ternyata Pangeran Berdarah Perak

Kakak Tingkatku Ternyata Pangeran Berdarah Perak

last updateÚltima actualización : 2026-06-15
Por:  Celestial SoulActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
13 calificaciones. 13 reseñas
20Capítulos
163vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Bagi Alya Senandika, beasiswa di Universitas Cakrawala adalah awal baru yang tampak menarik. Namun, segalanya berubah saat menyaksikan darah perak mengalir dari luka Revan Lazuardi Rajata. Revan bukan sekadar kakak tingkat misterius yang memiliki kekasih bernama Vanya. Di tengah penindasan Vanya dan konspirasi maut, Alya harus memilih. Akankah Alya membantu Revan meski harus membayar dengan nyawanya sendiri? Sanggupkah cinta mereka bertahan?

Ver más

Capítulo 1

BAB 1: Cakrawala di Swarnaloka

"Udah sampe, Pak? Ini beneran alamatnya, kan? Enggak salah, kan?" tanya Alya seraya melongokkan kepalanya ke jendela taksi daring yang sedikit terbuka. Mobil itu masih bergerak pelan.

Mata Alya memindai bangunan megah era kolonial yang ada di hadapannya. Alisnya berkerut karena sedikit khawatir sopir taksi daring yang dinaikinya tersasar.

"Enggak salah, Neng.” Sopir taksi menyahut lalu terkekeh pelan. “Ada tulisannya gede banget di gerbang utama tadi. Universitas Cakrawala. Neng mahasiswi baru, ya?”

Alya mengangguk pelan. Merasa malu karena meragukan sopir tersebut.

“Wah, selamat ya, Neng,” ujar sopir taksi itu dengan nada riang. “Masuk sini susah banget lho. Apalagi dapetin beasiswanya.”

Alya hanya tersenyum tipis. Itu merupakan senyum demi menyembunyikan rasa gugup daripada rasa bangga. Sejujurnya, dia sendiri tidak menyangka mendapatkan beasiswa di kampus ternama itu.

Bagi Alya yang tumbuh besar di panti asuhan, kesempatan ini terasa seperti sebuah keajaiban yang juga sekaligus beban.

Alya merapatkan tas selempang yang berisi buku catatan kesayangannya ke dada. Baginya, universitas ini bukan sekadar tempatnya berkuliah, tapi tiket untuk keluar dari nasibnya sebagai anak panti asuhan.

‘Gue harus sukses, atau gue nggak akan punya apa-apa di dunia yang keras ini,’ pikirnya.

Begitu taksi berhenti sepenuhnya di depan sebuah gedung yang tampaknya menjadi titik temu mahasiswa baru, Alya segera turun.

Segera saja dia disambut udara panas yang terjebak di antara kemegahan kampus. Sopir taksi membantunya menurunkan dua koper besar miliknya dan meletakkannya di trotoar.

Alya kembali memerhatikan sekitar lalu menarik napas panjang demi mengumpulkan tenaga. Di hadapannya, bangunan besar dengan pilar-pilar putih berdiri megah sangat serasi dengan lantai lobinya yang terbuat dari marmer mengkilap.

Dia kemudian menunduk, memerhatikan pakaian yang dikenakan. Sebagai penerima beasiswa penuh, Alya sadar betul penampilannya sangat kontras dengan mahasiswa lain yang turun dari mobil mewah menggunakan pakaian mahal.

Alya hanya mengenakan kaus putih polos, kemeja flanel kotak-kotak yang sudah agak pudar warnanya, dan celana jeans usang. Bahkan semua pakaian itu merupakan hasil donasi dari beberapa donatur yang datang ke panti.

‘Nggak apa-apa, Al. Fokus ke tujuan lo datang ke sini. Belajar,’ batinnya menguatkan hati.

Alya mulai menarik koper-kopernya menuju asrama putri yang letaknya cukup jauh di bagian dalam kampus. Roda kopernya berbunyi kasar di atas jalanan aspal yang bersih.

Sebelumnya, pihak pengurus panti sudah memberikan petunjuk jalan dan gambaran letak asramanya, jadi Alya tidak terlalu buta arah ketika datang untuk pertama kalinya.

Tepat di belokan menuju jalan setapak asrama, sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti mendadak di dekatnya.

Hal itu membuat Alya tersentak dan hampir saja kehilangan keseimbangan. Jantungnya berdegup kencang karena kaget.

Pintu belakang mobil itu terbuka, seorang pria turun dengan gerakan yang tenang. Pria itu mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung asal hingga siku.

Wajahnya sangat tampan menurut Alya. Namun, memiliki aura yang dingin dan tertutup. Yang mengejutkan bagi Alya, warna matanya hitam pekat.

Semua itu membuat Alya terpaku bahkan tidak sengaja menatap mata pria itu selama beberapa detik. Namun, pria itu hanya melirik koper-kopernya yang sedikit menghalangi jalannya dengan tatapan tidak senang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan permintaan maaf karena hampir menyerempet Alya, pria itu berjalan melewatinya begitu saja. Alya menatap kepergian pria itu dengan mengerutkan hidungnya, tidak suka.

“Dasar nggak punya sopan santun,” bisik Alya setelah pria itu menghilang dari pandangannya. “Untung gue nggak kena serangan jantung. Mentang-mentang naik mobil mewah.”

Alya merasa kesal dan hatinya dongkol. Tapi entah kenapa di saat yang sama, ada rasa penasaran yang menggelitik benaknya.

Sebagai orang yang gemar menulis cerita, sosok pria itu terasa seperti karakter yang menarik untuk dituangkan ke dalam tulisan.  Jiwa Alya yang seorang penulis tiba-tiba muncul.

“Catat dulu deh, siapa tahu jadi ide tulisan gue selanjutnya,” gumamnya.

Alya segera merogoh tasnya, mengambil pulpen dan buku catatan kecilnya. Sambil tetap berdiri di pinggir jalan, dia menulis dengan cepat.

[Pria berkemeja navy itu punya tatapan yang seolah membekukan waktu. Dingin, tidak tersentuh, seolah dia bukan bagian dari dunia yang berisik ini. Ada sesuatu yang janggal dari caranya berjalan.]

"Dek, mau masuk asrama ya? Sini, saya bantu dorong kopernya ke lobi."

Suara berat itu mengagetkan Alya. Dia menggumam sebagai jawabannya dan buru-buru menutup bukunya. Seorang satpam kampus yang tampak ramah sudah berdiri di sampingnya. Di bagian dadanya tertulis nama Darto.

"Eh, iya Pak. Makasih banyak ya, Pak," jawab Alya sopan.

Sambil berjalan menuju lobi, Darto melihat ke arah gedung yang bertuliskan Arkeologi. “Tadi itu namanya Revan. Setau saya, dia senior di sini.”

“Oh,” sahut Alya. “Jadi namanya Revan ya.”

Darto mengangguk. “Orangnya memang begitu, Dek. Jangan diambil hati ya, dia memang jarang ngomong sama orang."

Alis Alya terangkat. 

“Oya, Pak? Sombong banget,” celetuk Alya tanpa sadar.

Darto tertawa kecil pada komentar Alya yang menurutnya ‘asal bunyi’.

“Dia itu sebenarnya pintar banget. Tapi ya memang tertutup.” Darto memberitahukan Alya lagi. “Sudah, ayo masuk. Kuncinya nanti kamu ambil di resepsionis asrama dulu. Bawa berkasnya kan?"

Alya mengangguk lalu menuju bagian resepsionis asrama.  Setelah urusan administrasi selesai, Alya mendapatkan kunci kamar nomor 204.  Darto bahkan membantunya menuju kamar 204.

Pintu kamar terbuka, Alya meletakkan koper-kopernya dan duduk di tepi tempat tidur yang masih terbungkus plastik.

Dia menghela napas panjang karena merasa lelah sekaligus lega. Tiba-tiba, dia teringat kembali pada orang yang bernama Revan tadi.

Alya mengambil kembali buku catatan dari dalam tasnya, berniat merapikan tulisan yang tadi dia buat dengan terburu-buru.

Namun, saat membuka tas selempangnya, Alya menyadari ada sesuatu yang tertinggal di dalam tasnya. Sebuah benda yang bukan miliknya.

Alya menarik keluar sebuah gantungan kunci berbahan perak dengan ukiran yang sangat rumit. Di tengahnya terdapat simbol sebuah gerbang dengan aksara yang tidak dikenalinya.

Alya mengernyitkan dahi seraya membolak-balikkan gantungan kunci tersebut.

“Ini punya siapa?” bisiknya bingung. “Gue yakin ini nggak ada di dalam tas waktu packing. Masa punya anak panti? Perasaan nggak ada yang bawa-bawa ginian.”

Masih menatap benda itu, Alya kemudian teringat kejadian saat Revan berpapasan dengannya.

“Mungkin nggak sih kalau lo ini punya Revan? tapi gimana caranya lo masuk ke dalam tas gue sih?” gumamnya heran.

Baru saja Alya hendak memperhatikan ukiran itu lebih dekat, terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras dan beruntun dari luar kamarnya.

Brak! Brak! Brak!

"Buka pintunya! Saya tahu kamu bawa sesuatu yang bukan punya kamu!"

Alya membeku di tempatnya sebab suara itu terdengar berat dan sangat mengancam. Itu bukan suara Darto, dan bukan juga suara Aini yang merupakan petugas asrama yang ramah.

Jantung Alya seolah berhenti berdetak ketika melihat gagang pintu kamarnya tiba-tiba bergerak turun perlahan dari luar. Seseorang sedang berusaha masuk paksa ke kamarnya.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reseñasMás

Tutty Frutty
Tutty Frutty
Darah perak? Dua kata yang bikin penasaran.
2026-06-12 06:35:58
1
0
Davilia
Davilia
Ceritanya recomended bgt,, tiap bab ceritanya bkin penasaran.. good job thooorr
2026-06-12 00:07:26
1
0
arsen
arsen
seru banget ceritanya jadi ini si Revan melindungi dalam diam ya ngga sabar buka kunci bab berikutnya makin lama makin seru
2026-06-11 22:38:16
1
0
Heylaa
Heylaa
pokoknya rekomended bgttt
2026-06-11 21:20:49
1
0
Heylaa
Heylaa
seru bgt wehhh aslii. gak boring soalnya aku nge ship Revan sama Alya hehe
2026-06-11 21:20:23
1
0
20 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status