Chapter: BAB 20: Saksi Mata yang Tak Sengaja“Ugh. Ini di mana?”Alya merintih merasakan tubuhnya yang tidak nyaman. Matanya masih terpejam. Satu tangannya menyentuh kepalanya.Perlahan dia membuka matanya. Alisnya berkerut saat matanya menatap ruangan. Seingatnya, dia ada di taman. Ambruk begitu saja sembari mendengar lengkingan Vanya yang begitu nyaring.Dia sedang berbaring di sofa tua sendirian. Alya berusaha bangkit untuk duduk. Seluruh tubuhnya lemas. Dia memejamkan matanya lagi. Tenggorokannya terasa kering dan sakit.Brak!Terdengar suara pintu terbuka lalu tertutup kembali. Alya membuka matanya. Dia melihat Revan masuk ke dalam ruangan itu dengan tangan membawa botol air mineral.Tanpa banyak bicara, Revan menghampiri Alya lalu menyodorkan botol air mineral itu. Alya menerima botol itu lalu meminumnya sedikit.“Makasih, Kak,” ucap Alya menyodorkan kembali botol itu pada Revan. Suaranya serak bukan main."Minum lagi.” Revan berkata. “Jangan bantah."Suaranya terdengar sangat rendah, hampir menyerupai bisikan, tapi penuh
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: BAB 19: Tulisan dalam Amarah"Neng, nggak mau masuk kelas? Nanti dicari dosen."Teguran dari seorang petugas kampus menyentak kesadaran Alya yang sedari tadi mematung di tepi kolam ikan. Dia akhirnya menoleh perlahan. Matanya menatap kosong ke arah pria paruh baya yang memegang sapu lidi tersebut."Sebentar lagi, Pak. Saya mau duduk di sini dulu," jawab Alya pelan.Petugas tersebut menghela napas lalu tersenyum."Ya sudah, tapi jangan kelamaan ya, Neng. Udah mulai panas ini," pesan petugas itu lagi karena kasihan melihat wajah Alya yang tampak tertekan."Iya, Pak. Terima kasih," balas Alya singkat.Petugas taman itu mengangguk ragu lalu berjalan pergi meninggalkan Alya sendirian. Alya menarik napas panjang dengan mata masih menatap kolam itu. Dia tidak membiarkan satu tetes air mata pun jatuh karena makalahnya yang kini hancur menjadi di dasar kolam.Setelah pu
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 18: Sabotase Tugas"Pagi, Al. Tumben tidurnya pules banget."Suara Rini menyapa indera pendengaran Alya. Gadis berambut pendek itu sedang berdiri di depan cermin kecil sambil merapikan kerah kemejanya. Dia sudah bersiap untuk berangkat ke fakultas Ekonomi.Alya membuka matanya perlahan lalu meregangkan tubuhnya. Dia mengerjap beberapa kali melihat cahaya matahari pagi yang menembus jendela kamar asrama.Ucapan Rini membuat Alya mengerutkan keningnya. Semalam, setelah pulang dari Lab tua itu, Alya sebenarnya mengambil bantal yang dijemurnya terlebih dahulu lalu merapikan tempat tidurnya. Setelah itu barulah dia minum obat yang diberikan Revan dengan skeptic.Ajaibnya, Alya tidak merasakan sakit sedikit pun. Kepalanya tidak lagi berdenyut nyeri dan rasa mual di perutnya reda. Obat cair dari Revan semalam benar-benar memulihkan kondisinya secara total.Alya menyunggingkan senyumnya."Iya, Rin. Tubuh gue rasanya enteng banget hari ini," balas Alya sambil bangkit dari kasur dan meregangkan kembali otot-ototn
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 17: Pertolongan dan Penolakan Revan“Kakak bisa jelasin ke saya?”Pertanyaan Alya menggantung di udara malam. Keheningan kembali mengambil alih laboratorium tua tersebut. Hanya suara angin yang menyusup lewat celah jendela kayu yang terdengar menemani mereka berdua.Revan masih mematung di tempatnya. Pria itu menatap mata Alya yang dipenuhi campuran antara rasa kecewa dan harap. Ada gejolak emosi yang tertahan di balik wajah sedingin es milik Revan.Pria itu membuka mulutnya perlahan ingin mengucapkan sebuah kalimat. Namun, sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya, tubuh Revan tiba-tiba tersentak dengan sangat hebat.Revan mengerang tertahan dan langsung membungkukkan badannya. Tangan kirinya mencengkeram erat bahu kanannya dengan kekuatan penuh.Dia meremas jaketnya sendiri seolah berusaha meredam sesuatu yang menusuk dari dalam kulitnya."Kak Revan? Kakak kenapa?!" pekik Alya pa
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: BAB 16: Lab Tua di Tengah Malam“Lo mau ke mana, Al?” tanya Rini dengan mata setengah terpejam.Alya menghentikan kegiatannya memakai sepatu. Dia mencoba nyengir pada Rini yang melihatnya bingung.“Laper gue, Rin. Mau cari jajanan dulu, ya.”Rini menguap lebar lalu mengangguk. “Jangan lama-lama, ya.”Alya berdiri dari duduknya di tepi tempat tidur lalu mengangguk. “Iya. Tenang aja. Lo tidur aja. Nggak usah nungguin gue ya.”Rini bergumam sebagai jawabannya.Alya perlahan keluar dari kamar asramanya. Asramanya sudah sepi malam itu. Hanya ada satu atau dua orang yang keluar atau masuk asrama.Alya mempercepat langkahnya. “Sebentar aja. Terus balik. Udah.”Alya mengatakan itu seraya menuju tempat yang di tulis oleh Revan di kertas. Dia ingin mengabaikan permintaan itu tetapi tidak bisa.
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: BAB 15: Upaya Menghindar"Lo mau muter lewat gerbang timur, Al? beneran? Jauh banget lho dari fakultas lo," keluh Rini sambil membetulkan letak tas ranselnya.Alya mengangguk mantap seraya mempercepat langkah kakinya. "Nggak apa-apa. Sekali-sekali. Hitung-hitung olahraga pagi biar sehat."Rini mendengus pelan. Karena jadwal kelas pagi Ekonomi dan Sastra kebetulan sama-sama jam delapan, mereka biasanya berjalan bersama hingga ke persimpangan jalan utama kampus.Namun, rute yang dipilih Alya pagi ini benar-benar tidak efisien. Membuat Rini yang membawa barang banyak di tasnya merasa kesulitan.Gadis berambut pendek itu tentu saja tidak tahu bahwa Alya memiliki alasan lain yang jauh lebih mendesak daripada sekadar olahraga.Sejak insiden di kantin kemarin, Alya sudah membulatkan tekadnya. Dia menyusun ulang seluruh rute perjalanannya di dalam area Universitas Cakrawala.Gedung Arkeologi
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 120: Jejak"Di sini Emily menari? Di tempat sekotor ini?"Adrian bergumam pelan sembari menatap sisa-sisa panggung yang telah menjadi arang. Sepatu botnya menginjak abu yang masih menyisakan bau hangus.Dia tidak bisa membayangkan adiknya, seorang putri dari Valoria, harus mencari nafkah di lingkungan yang begitu kumuh dan berbahaya. Kembali Adrian teringat mengenai kegemaran Emily dan juga nama panggungnya."Tuan, distrik ini benar-benar sarang tikus," lapor Gareth yang baru saja kembali dengan napas tersengal.Wajah Gareth tampak kusam dan jubahnya sobek di bagian lengan karena baru saja terlibat perselisihan di pasar gelap. Dia menghabiskan waktu berjam-jam menyusuri gang-gang di Ashwood demi mencari keberadaan Jasper Fitzwilliam.Namun, mencari seorang bangsawan bangkrut di tengah ribuan pengemis ternyata jauh lebih sulit dari dugaan."Kau tidak menemukan jejaknya s
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 119: Rencana Penyusupan"Jaga dia, Margreth. Aku harus pergi," ucap Adrian dengan suara rendah. Namun, penuh penekanan di koridor sayap timur yang sunyi.Dia baru saja menutup pintu kamar tempat Emily beristirahat dengan sangat hati-hati setelah menungguinya tidur sebentar.Tangannya masih memegang gagang pintu emas itu, seolah berat untuk melepaskan pengawasannya dari sosok wanita di dalam kamar tersebut. Kamar yang memang selalu dipersiapkannya jika kelak adik kandungnya akan kembali lagi.Margreth yang merupakan pelayan tua yang setia itu, segera menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang Grand Duke.Wajahnya masih menyiratkan keterkejutan setelah melihat Emily yang begitu mirip dengan mendiang Duchess Sophia. Ia menyadari bahwa misi tuannya kali ini bukan sekadar tugas militer biasa."Hamba mengerti, Tuan Adrian. Hamba tidak akan membiarkan seekor lalat pun mengganggu istirahat Lady," jawab Margreth dengan suara bergetar.Adrian menghela napas pelan. Dia mulai khawatir margreh akan terselip lidahn
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab 118: Airmata MargrethKemudian, bahu Margreth berguncang hebat oleh tangisan haru yang tidak bisa ditahan lagi saat menatap Emily.Emily terkejut dan mundur satu langkah lalu bersembunyi di balik tubuh tegap Adrian. Jantungnya berdebar kencang melihat reaksi ekstrem dari pelayan tua yang baru pertama kali ditemuinya ini."Margreth, tenangkan dirimu,” ucap Adrian pada pelayan tua itu. “Bersihkan kekacauan ini sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang tegas.Mata biru Adrian menatap tajam ke arah pengasuh tuanya itu. Adrian memberikan gelengan kepala yang sangat tipis. Itu merupakan sebuah perintah tanpa suara agar Margreth tidak mengucapkan kata-kata yang bisa memicu kepanikan Emily lebih jauh sebelum dia mendapatkan bukti kuat dari Ashwood.Margreth egera menangkap isyarat dari sang Grand Duke. Wanita tua itu menyeka air matanya dengan terburu-buru menggunakan ujung celemeknya, lalu mengangguk patu
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Bab 117: Tiba di Valoria"Apakah ini benar-benar rumah majikanmu, Tuan Adrian?"Emily menatap tidak percaya ke arah jendela kereta yang kini terbuka lebar. Di hadapannya, menjulang sebuah kastil megah dari batu kelabu dengan menara-menara tinggi.Pekarangan kastil itu sangat luas, dikelilingi oleh taman mawar putih yang tertata sangat rapi dan dijaga oleh puluhan ksatria berbaju zirah lengkap dengan lambang singa emas di dada mereka.Adrian tersenyum tipis mendengar kekaguman Emily yang menurutnya begitu lugu. Dia menahan diri untuk tidak membetulkan ucapan gadis itu bahwa kastil ini bukanlah milik majikannya, melainkan milik Adrian sendiri."Ya, Emily. Majikanku adalah orang yang sangat baik," dusta Adrian dengan nada suara yang diusahakannya tetap tenang dan terjaga. "Dia telah mendengar kemalangan yang menimpamu dan bersedia memberikan tempat tinggal terbaik serta paling aman untukmu di dalam kastil ini."Adrian membuka pintu kereta dan turun terlebih dahulu ke atas tanah pelataran yang bersih. Dia berbali
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Bab 116: Selamat Datang Di ValoriaUsia yang sangat cocok, tanda lahir bulan sabit yang melingkar sempurna di bahu kanan, dan fakta bahwa dia dibesarkan oleh pengkhianat bernama Jasper Fitzwilliam. Semua kepingan teka-teki belasan tahun itu kini telah menyatu dengan sempurna di dalam kabin kereta ini.Emily adalah Emmeline Goldwyn, Putri Valoria yang hilang.Adrian bergeser sedikit mendekat, lalu mengulurkan tangannya menyentuh pundak Emily dengan kelembutan yang sangat tulus dari seorang kakak kandung."Kau tidak perlu menggunakan nama itu lagi jika itu membuatmu menderita, Emily," ucap Adrian lembut. "Di Valoria, kau bisa memulai hidup yang baru. Kau adalah wanita yang bebas sekarang."Emily mendongak, menatap mata biru Adrian yang bersinar penuh kehangatan. "Apakah menurutmu aku bisa menghapus nama itu sepenuhnya dari hidupku, Tuan Adrian? Aku takut suamiku akan melacakku menggunakan nama itu.""Tentu saja kau
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 115: Nama yang Mengejutkan"Nama mereka Jasper dan Madeline Fitzwilliam,” jawab Emily seraya menatap Adrian bingung. “Mengapa wajahmu mendadak sangat tegang, Tuan Adrian?"Emily menatap Adrian dengan kening berkerut halus. Keheningan merayap di dalam kabin kereta mereka. Hingga hanya suara gesekan roda kayu di atas jembatan batu terdengar berkali-kali lebih nyaring.Emily bisa melihat dengan jelas rahang kokoh Adrian mengeras seketika, dan cengkeraman tangan pria itu pada lututnya mengetat di balik sarung tangan kulitnya.Adrian membeku di tempatnya duduk. Nama itu, Jasper Fitzwilliam, bergema keras di dalam kepalanya bagaikan guntur di siang bolong.Nama itu menghancurkan seluruh ketenangan ksatria yang selama ini dia banggakan. Nama itu adalah pengkhianat terbesar dalam sejarah keluarga Goldwyn.Pria yang paling dicari oleh seluruh pasukan rahasia Valoria selama sembilan belas tahun terakhir.Jasper Fitzwilliam adalah iblis yang membawa lari adiknya, Emmeline.Ingatan Adrian seketika terlempar kembali ke mala
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: PromoTerima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca cerita ini. yuk ramaikan cerita aku yg lain. judulnya Istri Gadai Marquess Kejam. Dan ada satu lagi judulnya Kakak Tingkatku Ternyata Pangeran Berdarah Perak dengan genre fantasi dan Young Adult. Terima kasih yaaa. semoga kalian sehat selalu.
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 172: Warisan Kasih Sayang“Ivan! Kamu beneran mau naruh ide kampanye semulus ini di meja Direktur? Ini tuh terlalu kalem, nggak ada gigit-gigitnya! Kamu denger nggak sih?”Suara Alea melengking di tengah hiruk pikuk ruang divisi kreatif Arrazka Media. Gadis itu melemparkan map draf ke meja kerja Kaivan dengan bunyiplakyang cukup keras.Beberapa staf lain hanya melirik sekilas, sudah terbiasa melihat "anak magang" bernama Ivan itu menjadi sasaran empuk omelan Alea yang terkenal tanpa filter.Kaivan mengangkat kepalanya, membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum tenang.“Justru itu intinya, Al. Kita nggak perlu teriak-teriak buat narik perhatian audiens. Kadang, pesan yang disampaikan dengan lembut jauh lebih masuk ke hati daripada yang maksa.”Alea mendengus, ia menarik kursi di samping Kaivan dan duduk dengan gaya serampangan. “Lembut itu buat lagu n
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 171: Jejak yang Terhapus“Selamat datang di rumah, Jagoan. Inggris beneran bikin kamu tambah tinggi ya?”Suara lembut Savita menyambut Kaivan tepat saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang tengah rumah besar keluarga Arrazka. Savita berdiri dengan anggun, mengenakan tunik sutra berwarna pastel.Wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa, meskipun garis-garis usia mulai terlihat halus di sudut matanya.Lima belas tahun telah berlalu sejak badai besar itu, dan Savita telah menjelma menjadi salah satu pemimpin media paling berpengaruh di negeri ini setelah berhasil mengambil alih dan melakukanrebrandingtotal Janardana Media Grup menjadi Arrazka Media.Kaivan tersenyum lebar. Diletakkan koper kabinnya dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Tubuh Kaivan kini menjulang tinggi, melampaui tinggi Savita.“Kangen banget sama masakan Mama. Di sana cuma makan roti sama past
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 170: Janji di Balik Kelopak Bunga“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 169: Pulang ke Hati Mama“Maaf, Bu Gita. Berdasarkan verifikasi data di KUA dan catatan sipil, pernikahan Anda dengan Pak Mahendra Janardana dinyatakan tidak sah secara hukum. Anda tidak memiliki hak wali atas aset apa pun.”Suara Bastian terdengar datar di dalam ruang pertemuan kantor hukumnya. Gita, yang duduk di seberang meja dengan wajah pucat dan tanpa riasan, tampak seolah baru saja disambar petir.Dia tidak lagi mengenakan perhiasan mewah. Dia hanya mengenakan blus katun yang sudah mulai kusut dan tas yang sudah kusam.“Nggak mungkin! Kami punya buku nikah! Kami punya saksi!” teriak Gita.Suaranya melengking putus asa hingga memicu isak tangis bayinya di dalam kereta dorong.Bastian menyodorkan sebuah dokumen hasil investigasi forensik kepolisian.“Buku nikah itu dokumen palsu yang dipesan Mahendra. Saksi yang hadir saat itu orang bayaran,” ucap Bastian. “Mahendra sengaja melakukannya agar dia nggak perlu membagi sepeser pun hartanya jika suatu saat Anda menuntut cerai.”Gita merosot di kursinya. Air m
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 168: Fajar Setelah Badai“Pa, lihat ke depan. Jangan nunduk lagi. Dunia harus lihat kalau Papa sudah bebas.”Suara Savita terdengar lembut saat menggandeng lengan Bagas Arrazka tepat di depan gerbang besar Lembaga Pemasyarakatan. Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah, seolah ikut merayakan keadilan yang akhirnya menemukan jalan pulang.Bagas, yang mengenakan kemeja katun rapi pemberian Savita, menghirup napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca menatap hamparan aspal dan pepohonan di luar tembok penjara yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.“Rasanya kayak mimpi, Vita. Papa pikir Papa bakalan mati di dalam sana sebagai pecundang,” bisik Bagas, suaranya parau menahan haru.“Papa bukan pecundang. Papa itu pahlawan buat aku,” sahut Savita sambil mengeratkan gandengannya.Di belakang mereka, Bastian dan Bagus tersenyum lebar. Bastian baru saja menyelesaikan urusan administrasi pembebasan Bagas setelah Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali.Nama Bagas Arrazka resmi dibersihkan dari segala tuduhan
Last Updated: 2026-05-01