MasukDemi melunasi utang orang tuanya, Emily Fitzwilliam dipaksa menjadi milik Lucien Montague yang merupakan seorang Marquess dingin. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, Emily harus memendam identitas aslinya serta mimpinya. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Emily menyadari bahwa dirinya bukan sekadar penebus utang. Melainkan bagian rencana besar sang Marquess. Apakah ini awal keselamatannya atau justru awal dari kehancurannya?
Lihat lebih banyak“Permisi! Apakah ada orang?”
Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu depan, disertai ketukan tegas. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih sopan daripada tamu-tamu tidak diundang yang datang sebelumnya.
Emily yang masih berdiri di koridor depan setelah mengusir penagih utang sebelumnya, menarik napas panjang.
Dirapikan rambut dan ujung gaunnya yang sedikit kusut. Dia harus terlihat anggun walau bahaya sedang mengintai di sekelilingnya.
“Ya? Mau cari orang tuaku?” Emily berkata seraya membuka pintu. “Mereka sedang tidak ada di rumah. Utang akan kami bayar—”
“Bukan, Nona,” sela pria yang berdiri di hadapannya. Nada bicaranya sopan.
Emily mendongak. Dia menyadari bahwa tamu kali ini berpakaian berbeda dengan para penagih utang.
Pria di hadapannya mengenakan seragam rapi layaknya seorang kurir resmi dari kediaman bangsawan. Wajah kurir itu terlihat letih. Namun, tatapannya jauh lebih ramah.
“Ada surat untuk Count dan Countess Fitzwilliam dari Marquess,” ucap kurir itu seraya merogoh tas selempang kulitnya.
Emily terkesiap mendengar itu.
“Mar-Marquess?” tanyanya gugup.
Emily mulai berpikir keras mengenai masalah apa lagi yang telah diperbuat kedua orang tuanya hingga seorang Marquess harus mengirimkan surat secara langsung.
Kurir itu mengangguk, lalu memberikan sebuah amplop tebal dengan segel lilin berwarna merah pada Emily.
“Berikan pada orang tuamu,”katanya. “Katakan pada mereka kalau ini sangat penting.”
Emily menerima surat itu dengan kedua tangan yang gemetar karena ini kali pertama keluarga Fitzwilliam yang sudah jatuh miskin menerima surat dari seorang Marquess.
Setelah kurir itu pergi, Emily menutup pintu dan bersandar di pintu dengan jantung berdegup. Dibolak-balik surat itu.
Dia mengamati sampulnya yang hanya bertuliskan nama kedua orang tuanya dengan tulisan tangan. Ujung jarinya menyentuh segel lilin.
Dia ingin sekali membukanya. Namun, urung dilakukan.
“Ibu, Ayah!” panggilnya dengan suara meninggi agar terdengar hingga ke dapur.
Jasper dan Madeline keluar dengan langkah kaki kaku dan mata yang memindai ruang tamu. Mereka memastikan tidak ada orang asing di rumah mereka yang mulai buruk itu.
“Kenapa, Em?” tanya Madeline berbisik. “Ada apa sekarang? Siapa yang datang?”
“Ada surat,” jawab Emily seraya mengangkat amplop itu.
“Dari siapa?” Jasper bertanya dengan waspada.
“Dari Marquess,” balas Emily.
Madeline mendekat cepat dengan wajah memucat di siang hari yang cukup terik.
“Marquess katamu?” tanyanya.
Tanpa permisi, Madeline merampas surat dari tangan Emily.
Emily merosot ke lantai. Pikiran buruk mulai berkelebat di kepalanya. ‘Apakah kami akan dipenjara? Apakah rumah ini akan disita hari ini juga?’
Emily menatap wajah Madeline yang kini seputih kertas.
“Tidak mungkin,” bisik Madeline yang membuat Emily meremang.
“Jasper… ini dari Marquess… Montague,” bisik Madeline lagi.
Emily yang tidak paham hanya menatap kedua orang tuanya bingung, gugup, dan takut bercampur menjadi satu.
Jasper yang mendengar itu nyaris tersedak. Direbut surat itu lalu membukanya kasar dan membacanya.
“Mon—Montague,” desisnya dengan tatapan tidak percaya dan ngeri.
Isi surat itu termasuk singkat.
[Dengan ini mengundang Count dan Countess Fitzwilliam datang ke kantor Marquess untuk membicarakan masalah finansial yang macet. Tertanda: Marquess Montague]
“Ibu, Ayah, ada apa sebenarnya?” tanya Emily saat melihat ketakutan orang tuanya. “Apakah Marquess akan menyita rumah kita?”
Madeline menatap Emily lalu berkata, “Ayah dan Ibu akan berdiskusi. Kau pergilah ke dapur, Em. Makanlah lebih dulu.”
Suara Madeline yang mendadak lembut itu justru justru terasa janggal bagi Emily. Walau begitu Emily menurut meski ada rasa curiga.
Sisa hari itu dihabiskan Emily dengan penuh rasa penasaran sebab kedua orang tuanya tidak mengatakan apa pun mengenai Marquess.
Pagi hari berikutnya, sebuah kereta kuda sewaan membawa Jasper dan Madeline menuju pusat kota.
“Count dan Countess Fitzwilliam, silakan masuk. Kalian sudah ditunggu.”
Seorang wanita berambut hitam dengan wajah datar membuka pintu ganda. Madeline dan Jasper melangkah masuk ke dalam kantor Marquess.
Ruangan itu tidak besar. Namun, setiap inci dari interiornya berteriak tentang uang yang tidak terbatas.
Terdapat karpet beludru mahal, rak buku dari kayu langka, dan aroma tembakau memenuhi udara.
“Silakan duduk.”
Wanita itu menunjuk dua kursi mewah di depan meja besar lalu undur diri. Madeline menelan ludah, merasa begitu kecil di ruangan yang didominasi warna gelap dan atmosfer mengintimidasi.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri memunggungi mereka. Pria itu sedang menuangkan cairan ke dalam gelas kristal.
Saat pria itu berbalik, aura dominasi memenuhi ruangan. Wajahnya tampan tetapi dingin dengan mata hijau yang mampu mengetahui dosa siapa pun.
Jasper kemudian berdehem. Dia mencoba menetralkan kegugupannya dibawah tatapan Marquess.
“Terima kasih telah mengundang kami, Marquess,” ucapnya dengan suara terdengar menyedihkan.
Marquess Montague duduk di kursinya lalu menyesap minumannya perlahan. Dia sedang menilai. Tatapannya membuat keringat mengalir di punggung Jasper dan Madeline.
“Count,” ucap Marquess dengan suara bariton. “Kalian hanya datang berdua?”
“Y-ya, Marquess. Putri kami tidak bisa ikut,” jawab Jasper cepat.
Marquess meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi nyaring di atas meja marmer.
“Kalian sudah tahu kenapa kalian di sini?” tanyanya dingin.
Madeline mengangguk terlalu cepat.
“Kami akan usahakan membayar, Marquess! Beri kami waktu!” jawab Madeline dengan memohon.
Marquess menatap mereka datar. “Kalian bisa kalkulasikan berapa total utang kalian?”
Jasper gagap, otaknya mendadak buntu. “Itu… itu…”
Marquess membuka laci dan mengeluarkan tumpukan kertas. Didorongnya kertas itu ke hadapan mereka.
“Aku sudah mencatat semuanya,” katanya. “Aku sudah membeli semua utang kalian dari para kreditur lain. Sekarang, kalian hanya berutang padaku.”
Madeline gemetar mengambil kertas itu dengan tangannya. Matanya membelalak lalu diletakkan kembali kertas itu saat mengetahui jumlahnya.
“Aku tahu semua utang kalian. Aku tahu aset kalian,” ujar Marquess tenang. “Tanah, ladang, rumah… semuanya tidak cukup untuk menutup utang kalian bahkan seperempat dari angka di kertas ini.”
Jasper menunduk. Madeline bersandar lemas di kursinya. Harapan mereka gugur. Mereka mulai berpikir akan dipenjara, atau lebih buruk, menjadi gelandangan.
“Lalu kami harus bagaimana, Marquess?” tanya Madeline parau dan hampir menangis.
Marquess bangkit berdiri lalu berjalan perlahan mengitari meja.
“Aku akan membantu kalian,” ucapnya. “Dengan syarat. Tunjukkan aset lain yang bisa digadaikan.”
Pertanyaan itu membuat Madeline terkejut.
“Kami tidak punya yang lain lagi, Marquess! Hanya itu!” seru Jasper merasa mulai frustrasi.
Marquess berhenti tepat di depan mereka. ditatapnya lurus ke dalam mata mereka. “Kalian memilikinya, Count.”
“Maksud Anda?” tanya Madeline. Walau nadanya terkesan bingung, akan tetapi otaknya berputar cepat mencari celah.
“Kalian memang tidak menulisnya di kertas mana pun,” ujar Marquess memberi teka-teki. Kemudian kembali duduk di kursinya.“Jika kalian setuju, aku akan melunasi semua utang kalian.”
Ditatap Jasper dan Madeline dengan sorot tajam.
“Setiap koinnya,” lanjut Marques. “Bahkan aku akan memberikan tunjangan hidup bulanan agar kalian bisa kembali hidup layak seperti bangsawan.”
Tawaran itu menggiurkan. Keduanya saling berpandangan dan sekejap saja sebuah pemahaman yang tidak terucap muncul di antara suami istri itu.
“Ah,” Madeline bersuara. Matanya mendadak berbinar. “Kami memang tidak memiliki harta benda lain, tetapi kami memiliki putri.”
Jasper mengangguk cepat. “Apakah bisa putri kami digadaikan untuk menggenapi utang-utang kami? Putri kami cantik. Dia bisa menjadi selir Anda, Marquess.”
Hening. Marquess memutar gelas kristalnya.
Jasper dan Madeline menahan napas sebab takut tawaran itu ditolak. Menjadikan putri seorang Count sebagai selir adalah penghinaan, tetapi mereka rela demi uang.
“Baik,” ucap Marquess.
Kelegaan memenuhi Jasper dan Madeline. Madeline mulai membayangkan gaun-gaun baru dan Jasper membayangkan kembali ke meja judi dengan tegak.
“Semua utang lunas,” lanjut Marquess yang membuat senyum mereka memudar. “Asalkan aku menikahi putri kalian.”
“Apa?” seru mereka bersamaan.
“Aku tidak butuh selir,” tegas Marquess. “Aku butuh istri. Itu tawaranku.”
Jasper dan Madeline ternganga. Menjadi mertua Marquess. Status sosial mereka akan melesat.
“Kami setuju!” seru Madeline terlalu cepat seraya menahan euphoria dan tanpa memikirkan keputusan Emily.
“Ini sebuah kehormatan!” tambah Jasper dengan senyum lebar.
Marquess Montague tidak tersenyum. Wajahnya seperti pebisnis yang baru saja menutup transaksi jual beli barang.
“Bagus. Syaratnya Pernikahan dilakukan tiga hari lagi,” ucapnya Marques lagi datar. “Tanpa pesta, tanpa pengumuman. Dan Emily akan tinggal bersamaku, masa depannya terjamin.”
Keduanya mengangguk tanpa berpikir. Asalkan utang mereka lunas, mereka setuju saja.
“Kami setuju, Marquess,” ucap Jasper, membungkuk hormat berulang kali.
Marquess mengangguk tanpa senyum.
“Kami permisi,” ucap Jasper lagi lalu menarik Madeline keluar dari ruangan itu.
Marquess menatap kepergian mereka dengan senyum yang penuh rencana.
Perjalanan pulang terasa berbeda. Ketakutan di dalam kereta kuda telah berganti dengan tawa keserakahan. Jasper dan Madeline merasa pemenang lotre.
Kereta berhenti di depan rumah. Di halaman depan, Emily sedang menyiram bunga mawar seraya bersenandung pelan mencoba menghibur diri.
Emily menoleh saat mendengar suara roda kereta, lalu tersenyum lega melihat orang tuanya pulang selamat.
Jasper memberi kode pada Madeline.
Madeline turun dari kereta lalu menghampiri Emily dengan senyum lebar yang belum pernah dilihat seumur hidupnya.
“Emily, Sayang,” ucap Madeline meraih tangan putrinya. “Ayah dan Ibu punya kabar gembira yang akan mengubah hidup kita selamanya.”
"Di sini Emily menari? Di tempat sekotor ini?"Adrian bergumam pelan sembari menatap sisa-sisa panggung yang telah menjadi arang. Sepatu botnya menginjak abu yang masih menyisakan bau hangus.Dia tidak bisa membayangkan adiknya, seorang putri dari Valoria, harus mencari nafkah di lingkungan yang begitu kumuh dan berbahaya. Kembali Adrian teringat mengenai kegemaran Emily dan juga nama panggungnya."Tuan, distrik ini benar-benar sarang tikus," lapor Gareth yang baru saja kembali dengan napas tersengal.Wajah Gareth tampak kusam dan jubahnya sobek di bagian lengan karena baru saja terlibat perselisihan di pasar gelap. Dia menghabiskan waktu berjam-jam menyusuri gang-gang di Ashwood demi mencari keberadaan Jasper Fitzwilliam.Namun, mencari seorang bangsawan bangkrut di tengah ribuan pengemis ternyata jauh lebih sulit dari dugaan."Kau tidak menemukan jejaknya s
"Jaga dia, Margreth. Aku harus pergi," ucap Adrian dengan suara rendah. Namun, penuh penekanan di koridor sayap timur yang sunyi.Dia baru saja menutup pintu kamar tempat Emily beristirahat dengan sangat hati-hati setelah menungguinya tidur sebentar.Tangannya masih memegang gagang pintu emas itu, seolah berat untuk melepaskan pengawasannya dari sosok wanita di dalam kamar tersebut. Kamar yang memang selalu dipersiapkannya jika kelak adik kandungnya akan kembali lagi.Margreth yang merupakan pelayan tua yang setia itu, segera menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang Grand Duke.Wajahnya masih menyiratkan keterkejutan setelah melihat Emily yang begitu mirip dengan mendiang Duchess Sophia. Ia menyadari bahwa misi tuannya kali ini bukan sekadar tugas militer biasa."Hamba mengerti, Tuan Adrian. Hamba tidak akan membiarkan seekor lalat pun mengganggu istirahat Lady," jawab Margreth dengan suara bergetar.Adrian menghela napas pelan. Dia mulai khawatir margreh akan terselip lidahn
Kemudian, bahu Margreth berguncang hebat oleh tangisan haru yang tidak bisa ditahan lagi saat menatap Emily.Emily terkejut dan mundur satu langkah lalu bersembunyi di balik tubuh tegap Adrian. Jantungnya berdebar kencang melihat reaksi ekstrem dari pelayan tua yang baru pertama kali ditemuinya ini."Margreth, tenangkan dirimu,” ucap Adrian pada pelayan tua itu. “Bersihkan kekacauan ini sekarang juga!" perintahnya dengan suara bariton yang tegas.Mata biru Adrian menatap tajam ke arah pengasuh tuanya itu. Adrian memberikan gelengan kepala yang sangat tipis. Itu merupakan sebuah perintah tanpa suara agar Margreth tidak mengucapkan kata-kata yang bisa memicu kepanikan Emily lebih jauh sebelum dia mendapatkan bukti kuat dari Ashwood.Margreth egera menangkap isyarat dari sang Grand Duke. Wanita tua itu menyeka air matanya dengan terburu-buru menggunakan ujung celemeknya, lalu mengangguk patu
"Apakah ini benar-benar rumah majikanmu, Tuan Adrian?"Emily menatap tidak percaya ke arah jendela kereta yang kini terbuka lebar. Di hadapannya, menjulang sebuah kastil megah dari batu kelabu dengan menara-menara tinggi.Pekarangan kastil itu sangat luas, dikelilingi oleh taman mawar putih yang tertata sangat rapi dan dijaga oleh puluhan ksatria berbaju zirah lengkap dengan lambang singa emas di dada mereka.Adrian tersenyum tipis mendengar kekaguman Emily yang menurutnya begitu lugu. Dia menahan diri untuk tidak membetulkan ucapan gadis itu bahwa kastil ini bukanlah milik majikannya, melainkan milik Adrian sendiri."Ya, Emily. Majikanku adalah orang yang sangat baik," dusta Adrian dengan nada suara yang diusahakannya tetap tenang dan terjaga. "Dia telah mendengar kemalangan yang menimpamu dan bersedia memberikan tempat tinggal terbaik serta paling aman untukmu di dalam kastil ini."Adrian membuka pintu kereta dan turun terlebih dahulu ke atas tanah pelataran yang bersih. Dia berbali
“Kalian berdua!”Suara Lucien menggelegar, memantul di dinding-dinding kamar pelayan itu.Lucien berdiri di ambang pintu. Tubuhnya yang tinggi itu mengisi seluruh bingkai pintu hingga menghalangi cahaya lampu lorong.Wajah
Henry tersenyum canggung melihat Alice. “Ah, Nona Alice. Selamat sore.”Alice hanya melirik Henry sekilas. Dia mengabaikan sapaan itu lalu menatap Lucien dengan mata berkaca-kaca.“Kepalaku sakit sekali sejak siang tadi, Lucien,” r
“Apa?”Alice ternganga lebar. Wajahnya yang basah oleh air mata kini menjadi merah padam karena malu yang mencoba dia tahan.Dia menatap Lucien dengan tatapan tidak percaya, mulutnya membuka lalu menutup seperti ikan yang butuh air.&nb
“Aku tidak pernah mengatakan itu!” bantah Emily. Suaranya keras. Menggelegar.“Diam!” Lucien mengangkat tangannya untuk menghentikan perdebatan itu.Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Kepalanya mendadak sakit. Dia seharusnya su






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan