Kebangkitan Kembali Sang Phoenix

Kebangkitan Kembali Sang Phoenix

last updateLast Updated : 2026-07-02
By:  Vanilatte733Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Mei Li Yue, gadis berusia 21 tahun yang merupakan pembunuh bayaran di abad 21, terjatuh di sebuah sumur tua saat dia bertugas yang mengakibatkan dirinya terlempar ke masa lampau. Terbangun di tepi jurang curam bersama dengan Zhang Li Yue, Permaisuri kekaisaran Feng yang baru saja tewas karena dibunuh oleh Xi Liu Ri Selir utama di istana harem kekaisarannya. Mei Li Yue yang baru saja terkejut karena terbangun di tepi jurang curam dikejutkan lagi karena terbangun di samping Permaisuri yang memiliki wajah yang sama. Mei Li Yue tidak bodoh, dia tahu dia telah ber-transmigrasi di masa lampau dilihat dari sang mayat yang diyakininya orang yang penting di tempatnya berpijak sekarang, pakaiannya yang kuno dan tempat dia sekarang sangat rimbun akan pepohonan besar dengan akar-akar yang mencuat keluar. Bertemu dengan roh sang Permaisuri, Mei Li Yue diminta untuk menggantikan dirinya menjadi permaisuri di kekaisarannya dan membalaskan dendam untuk kematiannya dan adiknya yang sudah mati bersamanya. Mei Li Yue geram setelah mendengar cerita Permaisuri Zhang dia akan balas dendam bukan hanya kepada orang yang telah membunuh Permaisuri Zhang dan adiknya tapi juga kepada orang-orang yang dulu menghina Permaisuri Zhang. Mei Li Yue juga geram karna suami Permaisuri Zhang yaitu Kaisar Feng Wu Lan bersikap acuh walaupun dia mengetahui ketidakadilan yang di dapatkan Permaisurinya. Bagaimana perjalanan Mei Li Yue yang menggantikan Permasuri Zhang, dan pembalasan dendam atas kematian Permaisuri Zhang dan adiknya. Dan bagaimana kisah pertemuannya dengan sang penguasa kekaisaran Feng?

View More

Chapter 1

Chapter. 1

Malam yang hening dan gelap gulita, di saat semua orang sedang terlelap di tidurnya, tapi tidak dengan Li Yue yang mana waktu malam merupakan waktu dia bekerja.

Malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya bagi Li Yue, karena malam ini merupakan malam yang ditunggu-tunggunya.

Malam ini dia akan membalaskan dendam yang sudah dia tahan bertahun- tahun.

Dia akan membunuh Fuan Gu dan istrinya, mafia ternama di kotanya sekaligus pembunuh ayah angkatnya.

Fuan Gu adalah orang tua yang keji, bahkan dia sanggup membunuh anak kecil, maupun bayi. Tidak terhitung berapa kepala sudah dia habisi demi keserakahannya.

Rumah megah yang terletak di samping hutan dengan penjagaan yang ketat menjadi tantangan sulit yang harus dihadapinya.

Bermodalkan belati kecil, bahan peledak, pisau lipat, pistol dan beberapa alat hasil rakitannya sendiri yang Li Yue tampung di tas punggung kecilnya untuk memudahkan rencana. Malam ini, akan menjadi malam yang panjang.

Li Yue mulai mencari jalan masuk ke rumah sang mafia, mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh para penjaga. Langkah kakinya begitu ringan, bergantian menapak kaki tanpa meninggalkan suara seolah ia mengambang di atas angin.

Sesampainya di dalam rumah, cahaya dari lampu gantung kristal yang berpendar menyambut Li Yue. Perempuan berusia 21 tahun itu berdiri bergeming di balik bayangan pilar. Matanya yang sedingin es memindai lorong, membaca ritme sunyi bangunan megah tempatnya berdiri.

Ketukan selop yang ritmis masuk ke indra pendengaran. Seorang pelayan melintas seraya membawa nampan. Tanpa suara, Li Yue melesat dari balik pilar. Sebelum pelayan itu menyadari, telapak kanan Li Yue mengayun keras, menghantam titik saraf di tengkuk pelayan itu.

Li Yue menyeret tubuh yang pingsan itu ke dalam gudang penyimpanan makanan. Di tempat itu, Li Yue menanggalkan seragam pelayan, lalu mengenakannya ke tubuhnya sendiri. Ditambah dengan alat make up yang dibawanya, ia merubah hampir keseluruhan wajahnya, agar menyerupai wajah pelayan tersebut.  Sosoknya kini sudah berganti, kini ia menjadi seorang pelayan rumah.

"Dari mana saja kau?!" sentak salah seorang pelayan yang melihatnya keluar dari gudang penyimpanan makanan.

"Saya dari gudang penyimpanan makanan, tadi saya memeriksa beberapa bahan makanan, apakah masih layak untuk dimakan atau tidak," jawab Li Yue.

"Ohh... ini sudah saatnya Tuan Besar makan malam, dan Tuan Besar ingin makan di dalam kamarnya."

'Waktu yang pas untuk bertemu dengan malaikat mautmu,' batin Li Yue.

"Kenapa kau diam saja? Cepat siapkan makanan Tuan Besar. Jangan lupa juga untuk memberikan Tuan Besar obat seperti perintah Nyonya. Ingat, obatnya ada di lemari atas samping kiri botol yang berwarna kuning," jelas pelayan tersebut panjang lebar kemudian pergi meninggalkan Li Yue yang sedang tersenyum penuh kemenangan sendirian di dapur.

Saat menyiapkan makanan, Li Yue menambahkan sedikit obat yang membuat siapapun yang mengkonsumsinya akan bisu sementara ke dalam makanan yang akan dihidangkannya.

Menyiapkan minuman serta mencari obat yang akan diminum oleh calon korbannya malam ini.

Setelah menemukan obat yang dicari, Li Yue menukar obat-obatan yang ada dengan obat-obatan yang racikannya sendiri yang akan mengakibatkan peminumnya akan merasakan panas di setiap aliran darahnya.

Mulanya ini hanya rencana cadangan, niatnya untuk langsung membunuh sang korban tidak jadi karena ketatnya penjagaan yang ada.

Tapi ternyata dewa sedang berpihak kepadanya, dengan membuatnya menjadi pelayan yang akan menyiapkan makanan terakhir untuk calon korban. Rupanya dewa juga ingin calon korbannya cepat tiada di dunia ini, pikir Li Yue.

Berjalan dengan cepat, agar tugasnya juga cepat selesai. Li Yue sampai di depan kamar Fuan Gu yang dijaga ketat oleh dua orang berbadan besar, berpakaian hitam.

"Makan malam Tuan Besar sudah siap," ucap Li Yue.

Sejujurnya Li Yue muak memanggil Tuan Besar kepada calon korbannya itu, tapi apa pun cara akan dia lakukan supaya semuanya lancar.

"Masuklah."

"Tunggu!" kata salah satu penjaga menghentikan dia masuk ke dalam.

"Ada apa?"

"Apa itu?" tanya sang penjaga sambil menunjuk botol kuning yang dibawanya.

"Ini adalah obat Tuan besar, Nyonya memerintahkan kami para pelayan untuk memberikan obat ini pada Tuan," jawabnya lancar agar tidak dicurigai oleh penjaga.

Seakan tak percaya akan penjelasan Li Yue, penjaga itu memanggil seorang pelayan yang melintas. "Hei kau, kemari."

"Iya, ada apa?"

"Apa benar, ini adalah obat Tuan Besar?" Penjaga itu menunjuk botol kuning yang berisikan kepingan obat buatan Li Yue.

"Benar, itu adalah obat Tuan Besar, kami diperintahkan oleh Nyonya untuk memberikannya kepada Tuan Besar," jelas pelayan.

"Baiklah kau boleh pergi, dan kau silahkan masuk, mungkin Tuan Besar sudah menunggu."

"Permisi," pamit Li Yue masuk ke dalam kamar calon korbannya.

Tiba di dalam ruangan pribadi sang mafia, Li Yue melihat calon korbannya itu sedang berbaring dengan nyenyak di peraduan.

"Tuan, waktunya anda makan malam setelah itu minum obat dari Nyonya," ucap Li Yue yang membuat calon korbannya bangun.

"Hm, siapkan makanannya disana," tunjuknya ke deretan sofa mewah dengan meja kecil di tengahnya.

"Baik, Tuan," pamit Li Yue sambil mendorong troli yang digunakannya.

Sembari menyiapkan makanan dan peralatannya, Li Yue mulai mengamati situasi sekitarnya.

Kamar yang megah, di dominasi warna coklat kayu bercampur dengan warna emas di setiap ukiran perabot kayu yang ada dan warna merah maroon di tirai-tirai kamar membuatnya menjadi lebih mewah.

Di dalam mewahnya kamar ini dia harus membunuh pemiliknya, membalaskan dendamnya dan juga ratusan nyawa yang melayang karena ketamakannya.

Mengingat banyaknya penjagaan di rumah megah ini dan juga beberapa penjaga di luar kamar, Li Yue harus hati-hati mengambil langkah.

'Pasti ada senjata tersembunyi disini, tidak mungkin tua bangka ini hanya mengandalkan para penjaga, aku harus berhati-hati,' batin Li Yue.

"Semuanya sudah siap, Tuan. Silahkan nikmati," ' makanan terakhirmu,' lanjutnya dalam hati.

"Kau boleh keluar," usir Fuan Gu.

"Tapi, Tuan. Nyonya memerintahkan saya untuk memastikan anda meminum obat," dusta Li Yue.

'Mana mungkin aku keluar dan tidak melihatmu tersiksa'

"Wanita tua itu… ya sudah kalau begitu," gerutu Fuan Gu.

Pria paruh baya yang terkenal akan kekejamannya itu mulai makan dengan lahap, tanpa adanya rasa curiga sedikitpun.

'Ckckck, andai kau tahu makanan yang kau makan itu beracun, sudahlah, nikmati saja saat-saat terakhir dari hidupmu.'

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status