MasukAyra mengira kematian adalah akhir, namun ia justru terbangun dalam tubuh Lady Aurelia Veridian—sang antagonis kejam yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan mereka yang membencinya. Bertekad mengubah nasib, Ayra membuang topeng kelamnya dan memilih jalan kebaikan. Namun, di istana yang penuh dengan duri, kebaikan adalah magnet bagi bahaya. Empat pria berpengaruh dengan rahasia gelap kini mengelilinginya dengan maksud dan tujuan berbeda. Akankah Lady Aurelia bisa merubah takdirnya? Apa saja rahasia kelam para pria berpengaruh itu?
Lihat lebih banyakAsap hitam mengepul dari gedung administrasi yang terbakar, jeritan para korban masih menggema di telinga Aurelia. Di gerbang istana, Jenderal Valerius tersenyum puas, artefak penetralisir sihir di tangannya memancarkan gelombang energi putih yang membuat Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Caelan melemah. Bisikan dingin dari "Ordo Penulis" kembali menusuk benak Aurelia, 'Kau telah melihat kebenaran, Pewaris. Dan sekarang, kau akan membayar harganya.' Ancaman itu terasa lebih pribadi, lebih mengerikan, daripada kehancuran fisik."Kita harus mundur!" teriak Lucien, suaranya dipenuhi amarah dan frustrasi. Pedang api hitamnya berkedip-kedip, hampir padam. Kekuatannya telah dinetralkan, membuatnya tidak berdaya melawan kerumunan manusia yang kini dipenuhi kebencian.Alaric menggeram, tubuh werewolf-nya yang melemah membuatnya rentan terhadap lemparan batu. Caspian dan Jasper berusaha menciptakan perisai, tetapi kekuatan alam mereka juga terkikis. Caelan terhuyung, naluri rubahnya tumpul,
Pengakuan Alaric tentang Zayne yang mencari artefak untuk "memutus ikatan takdir" menghantam Aurelia dengan gelombang kegelisahan baru. Bukan hanya ancaman dari Leluhur Raja Kegelapan, tetapi juga ancaman terhadap keberadaan mereka sebagai karakter dalam "naskah" Ordo Penulis, yang kini Zayne ingin manipulasi. Pertemuan perjamuan yang seharusnya penuh kebahagiaan itu seketika terasa hambar. "Memutus ikatan takdir?" bisik Aurelia, suaranya tercekat. Ia menatap Alaric, lalu ke arah Lucien dan Caelan. "Apakah itu yang dimaksud 'Penulis' yang ibuku sebutkan? Mengubah alur cerita kita?" Alaric mengangguk, matanya serius. "Aku tidak tahu persis, Aurelia. Tapi energi artefak yang ia cari terasa kuno dan berbahaya. Ia memiliki potensi untuk mengganggu jalinan realitas itu sendiri." Lucien mengepalkan tangannya. "Pria itu ingin menjadi dewa. Dia tidak hanya ingin menghancurkan Aethelgard. Dia ingin menulis ulang seluruh alam semesta sesuai kehendaknya." Di tengah kekhawatiran itu, Aurelia
Mata raksasa berwarna merah darah yang menjulur dari kedalaman palung, tangan bayangan raksasa yang menggenggam novel 'Kutukan Putri Antagonis' dengan ukiran "Ordo Penulis" di sampulnya, menghantam Aurelia dengan realitas yang lebih dingin dari lautan itu sendiri. Kata 'Penulis' yang ibunya bisikkan dalam visi, peringatan dari dirinya di dunia lain, semua itu kini terangkai menjadi sebuah kebenaran yang mengerikan: keberadaan mereka hanyalah sebuah cerita yang dapat diubah atau dihapus sesuka hati oleh entitas tak dikenal. "Tidak mungkin..." bisik Aurelia, suaranya tercekat. Ia merasa kakinya lemas, semua kekuatan primordialnya, bahkan Jantung Samudra yang baru ia terima, terasa tak berarti di hadapan ancaman meta-fisik ini. "Itu... itu apa?" seru Jasper, suaranya dipenuhi kengerian saat melihat tangan raksasa dan buku itu. Ia, bersama Tetua Mermaid dan perwakilan kaum mereka, semuanya membeku di tempat, mata mereka membelalak. "Pergi! Kita harus segera pergi dari sini!" teriak Tet
"Penulis" Kata itu memutarbalikkan semua yang ia pahami tentang realitas. Dunia ini, takdirnya, hidupnya—semuanya hanyalah bagian dari sebuah narasi yang ditulis oleh entitas tak dikenal. Perasaan itu, ditambah dengan bisikan dingin dari "Ordo Penulis" yang terus menghantuinya, menciptakan gelombang kegelisahan yang kuat. Ia adalah Ratu, penyelamat Aethelgard, tetapi di inti jiwanya, ia hanyalah sebuah karakter dalam sebuah cerita yang bisa dihapus kapan saja. "Aurelia? Kau baik-baik saja?" tanya Caspian, melihat ekspresi Aurelia yang berubah pucat. Ia menyentuh bahu adiknya dengan cemas. Aurelia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran mengerikan itu. "Aku... aku baik-baik saja." Ia memaksakan senyum, meskipun ia tahu itu tidak meyakinkan. "Kita harus segera kembali. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan." Mereka berdua kembali ke istana, di mana Lucien, Alaric, Caelan, dan para pemimpin ras lainnya sedang menunggu. Suasana dewan masih tegang, dengan perselisihan antara






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan