MasukDiana Porteiz mati karena kelelahan bekerja sebagai dokter dermatologis muda. Arwahnya pindah ke tubuh tokoh figuran novel yang ditakdirkan mati karena menggantikan kakak tirinya menikah dengan antagonis buruk rupa dan kejam, Putra Mahkota Arthur Vanderblit. Kisah di dalam kisah mulai terkuak, bahkan kisah baru ikut tertulis menggunakan benang takdir, bukan lagi tinta. Tentang hitam yang tak selalu hitam, dan putih yang tak selalu putih. "Jika aku menumpahkan darah di sini, apa Yang Mulia bisa benar-benar berjanji akan selalu membantuku?" Arthur menatap Diana dingin. "Siapa yang tahu sebelum darahmu benar-benar tumpah?"
Lihat lebih banyak“Nona! Jangan tutup matamu!”
Diana membuka matanya mendengar pekikan tertahan itu. Ia menatap Embun, pelayan pribadinya yang tengah memandangnya dengan ekspresi cemas.
“Mohon jangan tidur, Nona. Nanti pakaian Anda kusut….” Embun berucap lebih halus. “Jika itu terjadi, saya khawatir Putra Mahkota akan marah dan menyakiti Anda.”
Itu membuat Diana menghela napas pelan.
Saat ini, Tubuhnya dibalut hanfu pengantin merah darah. Sulaman emas menjalar dari pundak hingga ujung rok, sementara di sekelilingnya sudah dihias warna merah menyala, dilapisi ornamen emas dan sulaman phoenix yang membentang memenuhi dinding, khas kamar mewah bangsawan kerajaan Cina kuno.
Sesuai cerita yang Diana ketahui, malam ini akan menjadi malam pertama pernikahannya.
Diana sebenarnya adalah seorang dokter spesialis kulit dari masa depan. Ia meninggal dengan konyol karena kelelahan bekerja.
Lalu, tiba-tiba saja dia sudah ada di dunia ini, sebuah dunia novel zaman kuno yang populer di tempat aslinya.
Saat terbangun beberapa hari yang lalu, Diana mengetahui bahwa tubuh ini adalah milik Diana Sinclair, putri bungsu keluarga Sinclair yang dipaksa menggantikan kakaknya, Isabella, untuk menjadi pengantin putra mahkota yang terkenal buruk rupa dan kejam.
Meski begitu, pengorbanannya tidak dihargai oleh mereka. Malam ini juga, Diana akan dibunuh oleh Isabella dan Alon, tunangan asli Diana, sekaligus si pemeran utama pria dalam cerita. Tubuhnya akan dibuang ke jurang dan dikatakan tewas karena kecelakaan setelah melarikan diri dari istana pangeran mahkota.
Toh, memang semua wanita yang dikirim sebagai istri sang putra mahkota selalu berakhir tanpa nyawa setelah malam pertama.
Lagipula, sejak awal, karakter Diana memang dinilai sebagai batu sandungan untuk hubungan Isabella dan Alon, si pemeran utama pria, sekaligus tunangan asli Diana.
Akan tetapi, tentu saja Diana tidak akan bersedia mati konyol sesuai cerita seperti itu.
“Baiklah, Embun. Aku tidak akan tidur,” ucap Diana lembut, menenangkan pelayannya dengan senyuman. “Kamu bisa pergi sekarang.”
Embun tampak ragu dan cemas, tapi ia menurut dan undur diri.
Tok, tok.
Tepat setelah kepergian Embun, terdengar suara ketukan samar terdengar dari jendela.
Diana menutup matanya dan menghela napas dalam-dalam.
Yang mengetuk itu adalah pelayan pribadi Isabella, kaki tangan yang akan mengantar Diana ke tempat Alon menghabisinya. Diana yang asli akan dengan senang hati membuka jendela dan ikut kabur.
Tapi, Diana yang sekarang membiarkan ketukan itu berulang sampai tiga kali sebelum keheningan kembali menguasai. Baru kemudian, ia berdiri pelan. Mata birunya berubah dingin seiring langkahnya mendekati jendela.
Lalu, alih-alih membukanya, Diana justru menguncinya rapat dan kembali ke tempat tidur.
Beruntung, karena tepat setelah ia merapikan pakaian pengantinnya–
BRAK!
Pintu utama kamar terbuka keras, terdengar hingga ke kamar pengantin.
Darah Diana tersentak. Instingnya memerintah tubuhnya untuk segera duduk di tepi kasur seperti semula lalu menarik tudung pengantinnya turun hingga menutupi wajah.
Ia memaksa napasnya stabil, meskipun jantungnya berdegup liar seiring telinganya menangkap langkah kaki seseorang. Samar, ia melihat sosok setinggi lebih dari 185 cm berdiri di hadapannya.
Arthur.
Putra Mahkota Norvenia.
Diana mengenali pria itu sebagai tokoh antagonis dalam novel. Arthur digambarkan sebagai monster berhati dingin, wajah buruk rupa, brutal, dan pembunuh berdarah dingin.
Tak aneh jika dirinya tegang saat pria itu menyingkap tudung pengantinnya dengan gerakan perlahan, tapi tegas.
Fokusnya langsung tenggelam dalam sepasang mata biru gelap di hadapannya, tampak jernih seperti kristal yang disimpan di dasar danau beku. Dan kini tengah menatapnya tajam dan waspada.
Topeng emas menutupi setengah wajah pria itu, menyisakan garis rahang kokoh dan bibir tipis yang terkatup rapat. Rambut hitamnya panjang, diikat dengan pengikat rambut emas yang menunjukkan status tertinggi seorang bangsawan.
Arthur.
Tokoh yang dikutuk novel sebagai monster.
Namun, nyatanya pria itu justru tampak seperti malaikat perang. Gagah dan berwibawa.
“Sinclair?” Suaranya berat, dingin, memecah kesunyian ruangan seperti pisau tipis yang digesek di permukaan kaca.
Diana menegakkan punggungnya, menatap Arthur lurus-lurus sebelum membalas senyuman itu. Iris biru pucat khas keluarga Sinclair di matanya berkilat tajam, menunjukkan ketegaran dan ketenangan yang membuat Arthur mengernyit samar.
Diana kemudian berdiri perlahan dari duduknya, kain pengantin merahnya menjuntai mengikuti gerakan tubuhnya.
Bunga phoenix emas yang terpasang di mahkotanya berkilau lembut diterpa cahaya lilin kamar.
Ia menunduk dengan anggun, membungkuk tepat di hadapan pria bertopeng emas itu.
“Saya menyapa Yang Mulia Putra Mahkota,” ucapnya formal, suaranya jernih dan stabil, sama sekali tidak menunjukkan ketakutan ataupun keraguan. “Salam.”
Dua minggu telah berlalu sejak guntur peperangan di perbatasan Barat berhenti bergemuruh. Sisa-sisa reruntuhan benteng pertahanan Kekaisaran Delore yang hancur perlahan-lahan mulai dimusnahkan oleh pasukan gabungan Norvenia dan faksi klan Rumi. Tanah tandus yang dulunya bersimbah darah kini dibersihkan, mengubur dalam-dalam memori kelam tentang tirani Alon yang telah runtuh berkeping-keping. Kaisar Arthur tiba kembali di Ibu Kota Norvenia tepat di saat musim dingin benar-benar telah angkat kaki dari daratan. Hamparan salju putih yang membeku kini sepenuhnya menghilang, digantikan oleh hamparan rumput hijau dan kuncup-kuncup bunga krisan yang mulai bermekaran. Suhu udara yang hangat dan bersahabat menyambut kepulangan sang Dewa Perang beserta pasukan elitenya. Aroma kemenangan membubung tinggi di sepanjang jalan kota, di mana ribuan rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan namanya. Namun, Arthur tidak memedulikan semua kemegahan itu. Ia bahkan melewati barisan sambutan upacara dari para
Sorakan kemenangan menyerukan nama Kaisar Arthur dan kejayaan Kekaisaran Norvenia menggema dengan sangat lantang di sepanjang lembah perbatasan. Suara gemuruh dari ratusan ribu prajurit memecah keheningan pegunungan salju, mengubur sisa-sisa ketakutan yang sempat mencekam beberapa saat lalu. Begitu tubuh Kaisar Alon tumbang tak bernyawa di atas hamparan salju yang membeku, runtuh pula pilar Kekaisaran Delore. Kemenangan mutlak kini sah menjadi milik Norvenia.Namun, di tengah atmosfer euforia yang membara itu, kedamaian belum sepenuhnya mendarat. Tak lama setelah Alon mengembuskan napas terakhirnya, sepasang mata tajam milik Arthur menangkap pergerakan dari arah celah bukit. Pasukan lain yang mengenakan zirah perang lengkap tiba-tiba muncul dan merangsek masuk ke dalam area pertempuran.Melihat kedatangan rombongan asing tersebut, Arthur, Sai, dan Adipati Deon secara refleks kembali memasang raut wajah waspada. Tangan mereka kembali mencengkeram gagang pedang yang masih bersimbah dara
Diana masih duduk berlutut dengan khusyuk di atas bantalan beludru merah. Jemarinya yang ramping bergerak ritmis, memindahkan sebutir demi sebutir biji tasbih Buddha berukuran besar yang terbuat dari kayu gaharu hitam. Ia telah berada di posisi itu sejak fajar menyingsing, mengabaikan rasa kaku yang mulai menyerang persendiannya. Bibi Erna berdiri tidak jauh di belakangnya, meremas selendangnya dengan gundah. Matanya menatap cemas pada punggung Permaisuri yang tampak tegang. "Yang Mulia, Anda sudah berdoa terlalu lama hari ini. Saya khawatir Anda akan jatuh sakit nanti jika terus memaksakan diri dalam kondisi mengandung seperti ini," ucap Bibi Erna, suaranya sarat akan rasa cemas yang mendalam. Diana tidak beranjak sedikit pun dari posisinya. Tasbih besar di tangannya terus bergerak tanpa henti. Ia melirik Bibi Erna sekilas melalui sudut matanya, lalu menjawab dengan suara rendah yang datar namun bergetar oleh emosi, "Bagaimana mungkin aku bisa makan dan tidur dengan tenang, jika
"Saya telah membunuh Raja Debi," ucap Althaf sekali lagi, suaranya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati dalam keheningan kamar. Denada menatap ksatria di hadapannya dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya hingga ia merasa sedikit pening. Segala skenario yang telah ia susun rapi bersama Isabella seolah koyak di bagian tepi oleh tindakan impulsif ksatria ini. "Apa... apa yang sebenarnya terjadi, Althaf? Kenapa kau bertindak sendiri tanpa perintah?" tanya Denada, mencoba menekan getaran dalam suaranya agar tetap terdengar seperti seorang permaisuri yang berwibawa, meski kedok rapuhnya semalam masih membekas. Althaf tetap berlutut dengan tegak, zirah peraknya yang ternoda darah memantulkan cahaya lilin yang temaram. "Yang Mulia Selir Isabella telah menceritakan semua fakta tentang Kaisar Alon kepada saya sore tadi, sebelum jamuan dimulai. Hamba telah mengetahui semuanya, Yang Mulia. Pengkhianat besar
“Bagaimana bisa Putra Mahkota diculik?!”Suara Kaisar menggema keras di aula dalam istana kekaisaran.BRAK!Telapak tangannya menghantam meja kayu ukir hingga tinta di atasnya bergetar. Wajahnya yang biasanya penuh wibawa kini tampak tegang dan panik. Garis-garis usia di dahinya semakin dalam, me
“Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena di
Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk ram
Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak