MasukDi kehidupan sebelumnya, Eliska telah mencurahkan seluruh cintanya. Dia berhasil merebut hati Arjuna, pewaris Keluarga Raja Kawiswara yang merupakan dambaan semua wanita bangsawan. Tuan muda yang tiada duanya di dunia ini. Namun, setelah benar-benar menikah dengannya, barulah Eliska sadar. Memaksakan pernikahan dengan seorang penguasa tak akan pernah bisa menghangatkan hatinya. Kecuali saat bermesraan dengannya saat malam, selain dari itu, hati Arjuna sama sekali tidak pernah menempatkan Eliska di hatinya. Konon, sang pewaris itu memiliki seorang wanita simpanan di wilayah utara. Saat itulah Eliska akhirnya memutuskan untuk bercerai dan memberi tempat pada wanita dambaan suaminya itu. Namun siapa sangka, dia justru terlahir kembali ke usianya yang ke-14. Tepat pada momen saat dia baru saja diselamatkan oleh Arjuna. Di kehidupan ini, Eliska pun memutuskan. Dia rela menikah dengan siapa pun, asalkan bukan Arjuna. Seorang jenderal muda yang pendiam, pangeran kerajaan yang tampan dan anggun, atau putra ketiga Keluarga Nismara yang berbakat ... semua pria itu tampaknya tertarik pada Eliska. Namun, saat Eliska hendak melemparkan sapu tangannya dengan bersemangat, tatapan Arjuna padanya justru semakin aneh. Arjuna yang perlahan mengingat kehidupan masa lalunya berkata, "Mau kabur dariku? Jangan harap!"
Lihat lebih banyakCHAPTER ONE
“I don’t understand mother” the little boy’s face squeezed like a mop, he is in obvious disarray.
“More, I am growing hungry, you’ll understand later.” There a woman lying by the corner answered.
“Why not now? Mother!” the boy is getting really exasperated. The mom seems to be unperturbed.
“More? Leave mama alone, she’s carrying a baby.” She touches her bulging tummy.
“A baby?” he glowed in excitement and confusion. Those words sounds exciting seeing how his mother announced it but really, he cannot understand them. “Who is a baby?”
Relieved that at last he seems to have been distracted, she heaved a sigh. “A baby is another you. It is coming to stay with you and play with you.”
The boy’s face crumpled. ‘Another me?’ he thought. That’s bewildering and his little face showed it all which made his heavy mother chuckle. “So mom?” will he be turning to a wolf like us?”
His mother felt like this is taking a whole turn, she allowed the smile that crept to her face, an intelligent boy he is, just like his fa… and there her face fell, she does not want to remember that but the boy noticed.
“What is it mom?” The boy really is intelligent, his mother thought but also sensitive, something his father isn’t. She sighed. The boy crept closer, “Hey mom? Has anything happened to you? Or the baby?”
“No baby…” “Am I the baby?!” Morekish exclaimed cutting off his mother. “No!” his mother interjected immediately. Sure, this is a bundle of joy, but he is also a bag of problems. “You are my baby and your brother,” she points at her tummy, “ is a baby too.”
“Am a baby and my brother,” he stressed this, “is a baby too.” He cooed as he rubbed his mother’s tummy.
“Yes, is.” He allowed her to admire his brother hidden behind her tummy.
“So, mom?” His mother’s face was bright like the morning. “Why can’t I race to the mountain straights?” Her face gathered dust like the dusk.
She sat up. Finally, maybe it is time to open up to Morekish, when a child asks like this it is because he has reached the point of saturation. Reminiscing briefly, she remembered when as a kid just six years when she was out in the woods with her playmates. Her parents had always told her to steer off the path of the kids with the ‘rainbow eyes’ as she called them because of the color transformation their eyes undergo when they look at different things. Naturally, that never scared her as it’d scared the other children, she’d even found it endearing. She even inexplicably vibes better with them on a fundamental level, so, she could not understand her parent’s cat-killing red-hot tantrum whenever she mentions anything about playing with them.
Well, the end of it all was that, she abandoned the street kids the night she turned while playing with them, she’d first of all, made a meal of two of them and was halfway through the third when sky-rendering screams shook the hell out of her. She had run away with one of the boys of the ‘rainbow eye’ kids. She had fallen for him when he showed her who she is and had taught her how to turn. Long story, she got nailed and since then, the moldy street lights of northern Manhattan has been something living only in the dredges of her memory, her parents with it. She sighed.
More was excitedly waiting. His mother seems to be on a hangover. Hoping she crosses over though.
“More baby?” she called. Morekish only whispered a reply, his eyes as large as saucers waiting for the big reveal.
“The mountain straights”, she began “is the home of the mountain pack. They are…”
“Mountain pack? Who are they? Are they those red wolves that always travel in groups with three men carrying their loads?
“No, they’re not. The mountain pack has spotted coats.” His mother answered.
“Okay, thought they are the red ones, those are always angry and they rarely appear down the mountains.” Morekish sang.
“Yes, More, you are correct.”
“But mom, why…?”
“More allow me to finish my story or I won’t tell again.”
More almost passed out. “No, mom,” he exclaimed like a kid who just saw a Halloween ghost, “please, don’t stop.”
His mom was pleased.
“I was once part of the Mountain pack.”
“Mom?” More exclaimed, mouth was agape like the Great Canyon, he is ready to pour one thousand and one questions but his mother’s fierce glare was quenching them…till it could not anymore. “Why? How? How did we come here? No, how could you come from those ferocious angry beasts? No, mom! Why haven’t you told me this before? How could we have stayed here all this while and not with your people? No! By the way, where is your spotted coat? When you turn, you are green and not red and blue? So, what are you saying exactly?” all these in a thunderous stretch deafening the whole cavern.
His mom allowed the downpour to cease before allowing the sustained sigh she had heaved to drop. The room became cold, but whirly.
Silence. Moments passed. Heated but inquisitive glares were starting to melt. The mother was searching something beyond her son’s face to know if something had changed, something she hopes strongly she has not shattered. She sighs as his face started melting back into the child’s it is, that was a huge let off. Morekish was staring, staring deeply at his mother to know if he has changed something. If his outburst has accomplished more than he wanted and wrecked some things, things he does not know but solidly depends on. More specifically, his mother’s willingness to continue the story.
“More,” his mother breathed.
“Yes?” he barely whispered. His mother peered at him again.
“We will continue this story another day, we have to sleep now.”
Heartbroken. That was all Morekish is. How bad of him to have allowed that outburst to happen, but he knows his mother. When she speaks like this, there is no changing it and to his sleeping bed he went, the day is over. The moon blinked through the cavern’s door and night fell.
She drew the rock over the cave’s mouth to go care for her baby. Not the outbursting one, at least, with tears.
Dwiana melirik mereka berdua, tetapi tidak terlalu memikirkannya. Pertengkaran pasangan adalah hal lumrah.Arjuna minum cukup banyak, jadi Eliska menopangnya naik ke kereta.Setelah mabuk, Arjuna menjadi lebih aktif bicara. Dia bertanya, "Apa lukaku jelek sekali?""Nggak jelek," sahut Eliska."Jadi kenapa kamu terus menolakku?" tanya Arjuna sambil menatapnya.Eliska tertegun."Apa kamu sudah nggak mencintaiku lagi?" tanya Arjuna lagi dengan suara serak. Jika didengar secara cermat, ada nada sedih dari cara bicaranya.Eliska merapatkan jarak dan memeluk Arjuna, lalu membujuknya, "Bukan begitu. Kamu terluka, jadi aku ingin kamu istirahat dan memulihkan diri dulu."Berhubung Arjuna terluka, Eliska-lah yang harus bekerja keras. Itu terlalu melelahkan, Eliska tidak kuat."Jadi, apa istriku mencintaiku?" desak Arjuna.Eliska menjawab dengan menciumnya. Baiklah, lebih baik berikan saja apa yang suaminya inginkan.Awalnya, Arjuna terkejut dengan pendekatan Eliska yang begitu tiba-tiba. Namun,
Janita malah bertanya sambil tersenyum, "Apa Kak Mahesa bisa membantuku mendapatkannya? Sebagai gantinya, aku akan memperkenalkanmu pada gadis tercantik di ibu kota. Bagaimana?"Mahesa membalas, "Gadis tercantik di ibu kota? Bukannya itu kamu?"Mahesa ingin sekali berkata bahwa dia menginginkan Janita, jadi jangan mengincar sarjana itu lagi. Dirinya adalah putra mahkota. Dengan orang tua yang bijak, dia bisa membujuk mereka agar dia hanya menikahi Janita seorang."Bukan aku," bantah Janita sambil menepuk bahunya. "Putri kelima Kediaman Menteri jauh lebih cantik dariku. Dia dan Kak Mahesa akan menjadi pasangan serasi. Dia juga pernah mengirimkan kue untuk Kak Mahesa. Ingat, 'kan?"Mahesa tidak ingin mendengar lebih banyak dan berucap dingin, "Nggak ingat.""Setelah bertemu beberapa kali lagi, kamu pasti akan mengingatnya," ucap Janita.Mahesa kehilangan kata-kata."Kalau memang nggak bisa bersamanya, aku juga harus mencari suami. Kalau nggak ada pilihan lain, aku sama Adnan saja. Dia pa
Awalnya Bara tidak berkata apa-apa. Namun begitu Eliska datang, dia tiba-tiba bertanya pada Arjuna, "Menurut Ayah siapa yang lebih cantik, Ibu atau adikku?"Arjuna melirik Bara yang sedang tersenyum. Dia tahu putra sengaja ingin mencari masalah."Tentu saja ibumu lebih cantik," sahut Arjuna dengan tenang. Putrinya belum mengerti apa yang dikatakannya. Kalaupun mengerti, istrinya tetapi paling cantik di matanya.Bara mencebikkan bibir, merasa bosan dengan tanggapan ayahnya. Dia suka orang tuanya bertengkar. Dengan begitu, dia bisa tidur ditemani ibunya di malam hari.Bagi Bara, ayahnya adalah yang terbaik dalam segala hal, kecuali fakta bahwa dia selalu memonopoli sang ibu, tidak pernah mau mengalah padanya.Arjuna menatap Bara, menyadari kilat kecewa di matanya.Malam itu, setelah Bara mandi dan bersiap tidur, pintu kamarnya dibuka seseorang. Anak itu merasa ada yang menyibak selimutnya. Sambil menggosok matanya, dia melihat ayahnya telah menggendongnya."Ayah mau bawa aku ke mana?" ta
1. Kelahiran Janita.Eliska mengandung putrinya saat dia menemani Arjuna ke Surtara.Setiba di Surtara, Eliska baru mengerti apa yang Arjuna maksud dengan lingkungan yang keras. Kondisi kehidupan di sana jauh lebih sulit daripada perbatasan, terutama masalah kekurangan air.Sekarang karena hubungan mereka membaik, Eliska bersedia berkeliling dan melihat-lihat bersama Arjuna. Di kehidupan lampau, dia mana mau pergi bersama Arjuna yang dingin. Itu hanya akan membuatnya bertambah bosan. Lagi pula, penjagaan juga cukup ketat untuk berkeliaran.Unus telah naik jabatan dan menikah dengan Annisa. Eliska beberapa kali bertemu dengannya di Surtara. Annisa selalu terlihat canggung, tetapi tetap tetap ramah mengirimkannya makanan. Lantaran malu untuk datang sendiri, dia hanya mengutus pelayan atau Unus untuk membawanya.Eliska juga tidak berinisiatif mencari Annisa. Bukan karena dia tidak menyukainya, tetapi mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalu, memang lebih baik mereka tidak bertemu.S
Misteri kematian Bagas telah mendapat kejelasan. Dia dibunuh oleh suku Surtara yang tertangkap basah saat beraksi.Metode yang mereka gunakan untuk menyebarkan bocoran soal ujian ke kediaman orang-orang Yanuar juga segera terungkap. Ternyata ada mata-mata yang menyusup di sisi Yervan dan bertindak a
Eliska meninggalkan Arjuna dan bergegas pergi ke paviliun depan.Arjuna menyuruh Unus menggiling tinta. Dia hendak menulis surat untuk memberitahukan berita kehamilan Eliska pada Talita dan Dwiana."Putra Bangsawan, apa saya boleh menulis surat untuk Nona Annisa?" tanya Unus dengan malu-malu.Arjuna
Hati Harini gelisah melihat Hendra hanya diam. Jika dia benar-benar memiliki ekor, dia mungkin sudah mengapitnya di antara kedua kaki dan sesekali mengibaskannya untuk menjilat pemuda itu.Harini sedikit takut pada Hendra, tahu bahwa dia bukan orang yang baik hati.Setelah Hendra membawanya kabur da
Bahkan jika ada kemungkinan kecil Hendra tidak menyukai Harini, tetapi tetap mengenalinya ... sekalipun dia curiga ada yang bermasalah dari resep titipan Eliska, hasil pemeriksaan belum tentu akan menunjukkan keanehan apa pun.Lagi pula, di mata Hendra, Yanuar dan Arjuna berada di kubu yang sama. Di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak