MasukAku terbangun di dalam novel yang kubaca, sebagai istri kedua pangeran kejam yang mati di bab 80. Seorang wanita lemah, hanya alat untuk melahirkan pewaris, lalu dibunuh oleh permaisuri bermuka lembut. Masalahnya, jiwa di tubuh ini adalah mahasiswa Kriminologi dengan mental baja dan nalar tajam. Aku tahu cara membaca kebohongan dan tahu siapa yang akan membunuhku. Jika kematian adalah akhir yang ditulis untukku, maka aku akan mematahkan takdir itu! Kali ini, yang akan mati bukan aku.
Lihat lebih banyak“Nyonya, Pangeran Alex tidak akan datang malam ini.”
Jemari Isabella yang tengah berjuang melepaskan mahkota di kepalanya seketika berhenti. Matanya berkedip cepat.
“Pangeran Alex memutuskan akan menghabiskan malam bersama Putri Helena,” lanjut pria itu dengan nada rendah dan hati-hati seperti sedang menyampaikan kabar dukacita.
Seketika keheningan turun. Matteo sudah bersiap-siap jika istri kedua sang pangeran ini akan mengamuk atau minimal vas bunga Murano di atas meja akan mendarat di wajahnya. Namun, detik berikutnya, pundak Isabella justru berguncang.
Isabella menoleh dengan mata yang berbinar terang. “Serius? Dia benar-benar ke tempat Helena dan tidak akan kembali ke sini sampai pagi?” Jawabnya dengan tawa kecil.
Dahi matteo berkerut dalam, bingung. “Benar, Nyonya, Pangeran Alex minta maaf karena—”
“Oh, tidak perlu meminta maaf! Sungguh ini berita luar biasa,” potong Isabella nyaris melompat kegirangan. Kemudian ia merogoh kantong uangnya. Ada puluhan koin perak dan satu koin emas di dalamnya. Namun ia mengambil satu koin emas kemudian melemparkannya pada Matteo yang menangkapnya dengan gerakan reflek. “Untukmu karena sudah membawa kabar baik,”
“Nyonya?” seru Matteo, matanya membulat.
“Cepat, panggilkan Mona! Katakan padanya aku ingin anggur terbaik sekarang juga!?” titah Isabella tak memberi kesempatan pada pengawal itu untuk protes.
Matteo langsung mengangguk patuh kendati isi kepalanya gaduh. Di matanya, Isabella anomali. Di saat para wanita lain berlomba ingin menarik perhatian sang pangeran, ia justru memilih menjauh seolah pangeran itu kuman.
…
Matteo keluar dari paviliun dengan otak yang kosong. Ia menunggangi kuda miliknya menuju istana Rose, di mana Alex Harrington sedang berdiri mematung sembari menyesap anggur mahal dengan rahang yang mengeras.
Alex sebetulnya merasa bersalah karena tidak menemui istri barunya di malam pertama mereka. Bagaimanapun, tanggung jawab politik memaksanya untuk bermalam di istri pertama.
Ketika Matteo menghampirinya, Alex bertanya penasaran. “Bagaimana reaksinya?”
Matteo terdiam beberapa saat.
“Dia menangis? Dia pasti marah,” ucap Alex menyimpulkan. Helaan napas berat lolos dari bibirnya.
Matteo berdehem canggung, tangannya meremas koin emas di sakunya. “Maaf, Yang Mulia. Nyonya Isabella tidak menangis atau marah. Beliau justru memberikan hamba koin emas sebagai hadiah karena membawa berita itu.”
Alex menurunkan gelas bertangkai di tangannya. Matanya memicing. “Hadiah?”
“Nyonya terlihat sangat bahagia, Yang Mulia. Bahkan hamba mendengar tadi ia mengucapkan syukur lalu menyuruh pelayan Mona untuk membawakannya anggur terbaik istana,”
Brakkk!
Alex menaruh gelas Venesia itu ke atas meja dengan keras hingga isi di dalamnya memercik. “Dia bilang apa? Syukur?”
Seketika udara terasa menipis. Yang terdengar hanya deru napasnya sendiri.
“Menarik,” desisnya lirih, tatapannya lurus ke depan. Salah satu sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis.
Bahagia? Syukur?
Seharusnya gadis itu kecewa dan sedih mendengar kabar suaminya tidak datang saat malam pengantin mereka, pikirnya.
Alex berubah pikiran. Ia memutuskan untuk pergi ke paviliun Honeysuckle.
Pria berwajah tampan tapi dingin itu menoleh ke arah pengawalnya. “Siapkan kuda sekarang!”
Dengan langkah cepat, sang pengawal menyeret kakinya untuk menyiapkan kuda untuknya.
Kini Alex sudah berada di depan pintu Paviliun Honeysuckle. Ia mengetuk pintu dengan ritme pelan.
Seorang pelayan terhenyak saat melihat kedatangannya. Sang putra mahkota berdiri dengan aura yang kharismatik dan intimidatif.
Gegas, ia membungkuk hormat. “Yang Mulia—” kata-katanya terputus. Bahkan sebelum selesai berbicara.
Hanya dengan melihat tatapan Alex, pelayan itu langsung menguak daun pintu dengan lebar, memberi ruang sang pangeran untuk masuk.
Tanpa sepatah kata pun Alex melesak masuk ke dalam paviliun lalu berjalan menuju kamar tidur Isabella. Pangeran itu berhenti sejenak di depan pintu, jemarinya menyentuh cincin perunggu yang dingin. Perlahan ia mendorongnya. Dan, engselnya berdecit lirih. Rupanya, istri ke duanya tidak mengunci kamarnya.
Ketika pintu terbuka, Isabella terkesiap melihat siapa yang datang. Cangkir porselen import yang dipegangnya nyaris jatuh. Untunglah, ia buru-buru menaruhnya di atas meja kendati dalam perasaan yang ketar-ketir akibat tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, melihat kedatangan pangeran yang tiba-tiba.
“Yang Mulia,” seru Isabella menegakkan tubuhnya, terpaksa. Ia melakukan hormat sebagai formalitas. “Hamba mengira … Anda sedang berada di istana Rose bersama Putri Helena.”
Alex tidak menjawab. Ia justru melangkah maju, setiap hentakan sepatu duckbill miliknya di lantai terasa menyesakkan dada Isabella.
Langkahnya berhenti tepat di depan istrinya. Sangat dekat. Isabella bahkan bisa menghidu aroma maskulin yang menguar dari tubuh liatnya.
Alex menatap Isabella lekat. Matanya bergulir, memindai penampilannya dari pucuk kepala hingga ujung kaki.
Isabella mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna putih yang hanya dilapisi jubah tidur yang longgar. Tentu saja, gaun itu memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambut madunya terurai berantakan. Sekilat, ia seperti seorang wanita yang memang sedang menantikan kehadiran suaminya.
Namun, bagi gadis itu, tentu saja ini bukan tentang malam pertama yang senantiasa didambakan oleh kaum hawa, melainkan kekecewaan besar karena merasa waktu pestanya terusik.
“Kau memberikan koin emas pada ajudanku hanya karena aku tidak datang, Isabella?” bisik Alex, suaranya parau di daun telinga Isabella.
Isabella tercekat. Tubuhnya menegang, napasnya tertahan.
Suara tangisan bayi yang baru saja terlahir seharusnya bisa membuat Alex merasa senang. Naasnya, bertepatan bayi itu lahir, Isabella tak sadarkan diri. Alex dilanda panik. Ia memekik, berusaha membangunkan istrinya. “Isabella bangun! Bangun, Sayang!” teriaknya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya yang sedikit berjambang. Ia menoleh tajam ke arah tabib dengan tatapan yang memicing tajam. “Lakukan sesuatu, Tabib!”Suara baritonnya yang menggelegar membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkesiap. Perawat langsung membawa bayi itu dari sana untuk membersihkan bayi yang masih berlumur darah itu. Sarah mengekori wanita itu, mengawasinya dengan siap siaga. Begitupula dengan Mei Lin terus berada di sana mendampingi Isabella dengan perasaan sesak. Dengan tangan yang gemetar sang tabib segera memeriksa denyut nadi Isabella yang lemah. Seketika ia menghela napas panjang. Isabella masih bernapas meskipun lemah. “Yang Mulia, Nyonya kehilangan banyak darah.
“Yang Mulia, ada apa?” bisik dayang sang ratu tatkala melihat Cecilia diam termangu, menatap lama Sophia.Cecilia meneguk salivanya sebelum menjawab. “Aku harus memastikan sesuatu,” balasnya. Tatapannya kembali tertuju pada Sophia yang masih tampak lesu. Di samping ranjang, ibunya, Maria menyuapinya bubur. “Maaf, Yang Mulia. Ini sudah waktunya Sophia makan dan minum obat.” Ujar Maria meminta ijin. Sebuah kehormatan kedatangan sang ratu yang sudi menjenguk putrinya. Bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Silakan, lanjutkan saja!” ucap Cecilia sembari meneguk minumannya kembali.Namun, tatapannya masih tertuju pada Sophia, mengamati gerak geriknya secara cermat. Barulah setelah gadis itu minum obat, Cecilia memberanikan diri berbicara. “Sophia. Bolehkah saya melihat bahumu? Saya hanya ingin memastikan luka. Jika tak kunjung sembuh. Istana akan mengirimkan tabib terbaik lagi untuk mengobatimu.”Sophia menatap Cecilia dengan sungkan. “Oh, boleh.”Gadis itu kemudian menyingkap a
“Bohong... ini semua bohong!” jerit Helena histeris, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Mendengar kabar tentang keluarganya, hatinya hancur berkeping-keping. Semua telah raib. Ia tidak memiliki apapun saat ini. Keluarga, suami dan harta serta harga dirinya sudah hilang. Bahkan, ia telah resmi menjadi buronan istana Ashmond! Bukan lagi putri mahkota. Pun, bukan lagi anak seorang Kepala Klan besar bernama Moreau. Helena mencengkram gaunnya dengan sorot mata yang gelap. Ia berdiri gemetar di tengah ruangan yang luluh lantak. Vas bunga, cermin hias, hingga perabotan kayu habis hancur berantakan di lantai. Perkamen maklumat kerajaan berstempel emas yang membawa kabar kematian ayahnya dan kehancuran klan Moreau lecek tercengkeram di tangannya.Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Air mata kemurkaan dan rasa frustrasi yang membakar terus melintasi pipinya yang tirus dan pucat.“Bohong... ini semua bohong!” jerit Helena histeris seraya menyapu kasar barang-baran
“Bella,” panggil Alex bernada lembut. “Ah, apa Alex?” jawab Isabella bangun dari lamunannya. Alex menautkan jari jemarinya ke tangan istrinya. Senyum hangat masih terulas dari wajahnya. “Kau suka kan aku renovasi istana ini? Meski hanya beberapa bagian saja,”Isabella menghela napas panjang. Tatapannya mengitari semua sudut bangunan tersebut. “Aku suka. Nuansanya jadi beda dan lebih segar”Alex tersenyum penuh kelegaan. Akhirnya, ia bisa memboyong Isabella ke istana itu tanpa banyak drama. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak. Toh, istri pertamanya yang sudah bikin dosa padanya justru memilih melarikan diri dari istana. Sudah tidak ada lagi tempat untuknya baik istana apalagi … hatinya. Alex ingin memulai kehidupan barunya dengan istri satu-satunya. Tidak ada lagi istri kedua atau istri lainnya. Tiba-tiba langkah Isabella menghentikan langkah kakinya sesaat. “Kenapa kau lakukan ini? Aku rasa.. Istana sudah sangat indah sebelumnya.”Isabella tidak mempermasalahkan soal temp
Isabella tidak pernah menyangka jika ada dua pria yang sengaja meminta doa dan jimat keberuntungan darinya sebelum berlangsungnya acara pacuan kuda. Ke dua pria itu juga bukan sembarang pria. Mereka memiliki hubungan langsung dengan Alex Harrington. Satu pria adalah Noah Von Frederic, pengawal prib
Isabella tersentak mendengar teriakan Alex. “Apa kau mau cari mati?” bentak Alex. rahang kokohnya menegang. Ia setengah berlari mendekati Isabella lalu menarik lengannya kasar, menjauh dari kuda perang bernama Apollo. “Lepaskan Alex!” Isabella berusaha memutar pergelangan tangan pria itu. Tenagany
Lapangan pacu istana Ashmond bergolak oleh antusiasme para bangsawan yang hadir. Namun tiba-tiba saja pusat atensi teralihkan, bukan pada lintasan balap, melainkan di tribun kehormatan. Isabella Laurent berjalan masuk dengan dagu terangkat. Tadi, ia sempat menghapus lapisan bedak yang menempel di p
Di sebuah kamar mewah terdengar obrolan dua orang wanita yang terdengar seru dengan dipenuhi gelak tawa. “Kau lihat reaksi gadis itu, Anne?” Helena menahan tawa ketika mengingat kejadian kemarin saat Isabella justru duduk di barisan belakang berbaur dengan perwira. Anne tersenyum kaku. “Hamba meli


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak