author-banner
BoardMarker
BoardMarker
Author

Novels by BoardMarker

Kurir Pemilik Sistem

Kurir Pemilik Sistem

Wandi, adalah seorang kurir miskin yang hidup mengenaskan. Namun suatu hari, ia mengalami kecelakaan yang mengubah hidupnya. Bagaimana kisah Wandi selanjutnya? Ikuti kisahnya di buku yang bertajuk 'Kurir Pemilik Sistem' ini.
Read
Chapter: Kenyataan Pahit (part 4)
Wandi tidak tahu berapa lama dia duduk di atas motor itu. Yang dia tahu, langit mulai gelap. Jalanan desa yang tadinya jingga keemasan, kini berubah menjadi biru kelam. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Suara jangkrik dan kodok mulai terdengar bersahutan.Dia sadar kalau dia sudah menangis.Air mata mengalir di pipinya tanpa suara. Tidak ada isakan. Tidak ada ledakan emosi. Hanya air mata yang jatuh, membasahi kemeja biru mudanya, membasahi setang motor yang masih dia pegang."Tina..." bisiknya.Namun Tina tidak mendengar. Tina sudah jauh. Tina bersama pria lain. Pria yang bisa memberinya hidup layak. Pria yang tidak harus menjual gantungan kunci rongsokan untuk bisa membeli beras.Wandi menghela napas panjang. Napas yang terasa berat, seperti mengeluarkan seluruh udara dari dadanya yang sesak.Dia menyalakan mesin motor.Brummm.Suara knalpot yang tadinya halus, kini terdengar seperti rintihan kesedihan.Wandi memutar setang. Motornya berbelok 180 derajat, menghadap ke a
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Kenyataan Pahit (Part 3)
Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah warna dari biru menjadi jingga keemasan. Awan-awan tipis terlihat seperti kapas yang terbakar di ujung cakrawala. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore.Wandi memasuki wilayah Desa Cibogo. Jalanan mulai menyempit, hanya cukup untuk satu mobil. Di kiri kanan, kebun teh terhampar hijau, dengan pegunungan di kejauhan yang diselimuti kabut tipis. Udara terasa sejuk, sangat kontras dengan panasnya Jakarta. Wandi menarik napas dalam-dalam. Aroma daun teh segar dan tanah basah memenuhi hidungnya.Dia mengikuti jalan setapak yang berkelok-kelok. Sesekali dia harus berhenti untuk memberi jalan kepada kambing atau sapi yang berkeliaran bebas. Anak-anak desa yang sedang bermain bola di pinggir jalan menatapnya dengan heran, mungkin karena plat motor B (Jakarta) dianggap aneh di desa yang hanya dihuni motor berplat T (Subang) atau plat E (Cirebon)."Permisi, Bang. Rumahnya Pak Haji Samsudin di mana, ya?" tanya Wandi pada seorang bapak-bapak yan
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: kenyataan Pahit (part 2)
Jam menunjukkan pukul 09.45 ketika Pakde Slamet mengelap tangannya dengan kain lap hitam dan berkata, "Selesai, Wan. Coba kamu cek."Wandi berdiri. Matanya menjelajahi motor yang kini tampak seperti baru lahir. Setang sudah lurus sempurna. Lampu depan baru berkilauan seperti mata kucing di malam hari. Spion kiri dan kanan terpasang rapi, dengan kaca yang masih bening tanpa goresan. Body samping yang tadinya penyok, sekarang sudah rata kembali. Memang masih ada bekas-bekas goresan yang tidak bisa dihilangkan tanpa dempul dan cat ulang, tapi setidaknya tidak terlihat seperti habis dihajar truk."Oli ganti, busi ganti, kampas rem ganti, rantai dikencengin, semua beres," lapor Pakde Slamet sambil mengusap keringat di dahinya. "Total... mari kita hitung."Dia mengambil kalkulator kecil dari saku bengkelnya. Jari-jarinya yang gemuk menekan tombol-tombol dengan cekatan."Lampu depan baru seratus lima puluh, spion sepasang delapan puluh, jasa setang lurusin dua ratus, ketok body dua ratus lim
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: kenyataan pahit (part 1)
Wandi tidak bisa tidur semalaman. Bukan karena kesedihan, meskipun hatinya masih perih mengingat Tina pergi membawa Nila. Bukan karena kegembiraan, meskipun rekening banknya kini menunjukkan angka yang belum pernah dia lihat seumur hidup. Tapi karena otaknya terlalu sibuk berpikir. Merencanakan. Memvisualisasikan. "Besok aku perbaiki motor. Lalu aku ke desa. Aku temui Tina. Aku tunjukkan bukti transfer. Aku bilang, 'Lihat, Tin. Aku tidak gila. Benda itu nyata. Dan ini baru awal.'"Tina pasti kaget. Mungkin dia akan menangis. Mungkin dia akan memelukku. Mungkin dia akan minta maaf karena sudah meragukanku. Lalu kita akan kembali. Kita cari kontrakan yang lebih layak. Nila bisa sekolah di tempat yang bagus. Tina bisa beli baju baru. Kita bahagia.Itu skenario indah yang berputar di kepala Wandi berulang kali. Skenario yang membuatnya tersenyum di tengah gelapnya malam, di atas kasur yang kini hanya dia sendiri yang menghangatkannya.Tapi ada suara kecil di kepalanya, suara yang realisti
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: Hidup Yang Berubah (part 5)
Wandi menatap layar ponselnya lama. Angka dua ratus lima belas juta rupiah berkedip di depan matanya, tujuh nol mengikuti angka itu seperti mimpi yang tak mau hilang. Ia menghitung dalam hati, jari telunjuk menggeser layar naik turun, memastikan angka itu nyata.“Uangnya sudah masuk, Mas?” tanya pria pemilik toko dari belakang meja.Wandi mengangguk, suaranya serak. “Sudah, Pak. Terima kasih.”“Terima kasih kembali.” Pria itu dengan hati-hati memasukkan arca kecil ke kotak beludru merah, lalu menyimpannya ke brankas besi di belakang. “Kalau Mas punya barang antik lain, jangan lupa ke sini. Saya bayar bagus.”“Baik, Pak.”Bel kecil di atas pintu berbunyi saat Wandi mendorongnya keluar. Matahari sore menyengat kulitnya yang sudah penuh keringat dan debu. Tapi ia tak merasakan panas. Hanya getaran di dada, campuran haru dan tak percaya.Ia berdiri di trotoar Menteng yang rindang. Orang-orang berlalu lalang: pekerja kantoran dengan tas kulit, ibu-ibu belanja di supermarket, pengemis duduk
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Hidup Yang Berubah (part 4)
Wandi berdiri diam di depan meja kaca. Pria paruh baya berbatik itu mengamatinya dari ujung rambut acak-acakan hingga sepatu boots yang penuh debu dan noda darah kering. Tatapannya dingin, penuh penilaian—seperti sedang memutuskan apakah pengunjung ini pengamen, pengemis, atau preman yang datang minta jatah.“Ada yang bisa dibantu?” tanya pria itu, suaranya datar, nada yang biasa dipakai untuk mengusir orang tak diundang.Wandi memaksakan senyum, meski bibirnya terasa kaku. “Permisi, Pak. Saya mau jual barang.”Pria itu mengangkat alis. Matanya melirik saku celana Wandi yang sedikit menggembung. “Barang apa?”Wandi merogoh saku dalam dengan gerakan pelan, hati-hati. Jari-jarinya yang kasar menyentuh logam dingin. Ia keluarkan gantungan kunci kecil itu dan letakkan di atas meja kaca. Benda itu terlihat kecil dan tak berarti di telapak tangan kotornya—patina hijau kusam, ukiran aus, seperti besi rongsokan biasa.Pria itu tertawa kecil. Tawa sinis yang pendek. “Mas, ini toko barang antik
Last Updated: 2026-07-15
You may also like
Raja Boneka
Raja Boneka
Fantasi · Butterfly Flower
989 views
Balaskan Dendamku, Asteria
Balaskan Dendamku, Asteria
Fantasi · Frasadelia
967 views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status