LOGINKehidupan Ara dipenuhi oleh kematian, kekerasan, dan hal-hal yang seharusnya tak pernah dilihat oleh orang biasa. Dia diberkati—atau mungkin dikutuk—dengan indra keenam, sebab di dalam dirinya bersemayam jiwa Araphael, seorang malaikat yang keberadaannya telah dihapus tujuh ratus tahun yang lalu. Sejak kecil, tragedi tak henti-hentinya menghantuinya: ayahnya pergi, ibunya bunuh diri di hadapannya, dan masyarakat mencapnya sebagai anak yang aneh. Setelah membunuh pamannya yang kejam untuk melindungi satu-satunya orang yang pernah memperlakukannya dengan baik, Ara dikirim ke pusat rehabilitasi, dan setahun kemudian kembali ke rumah—menjalani kehidupan yang hampa. Segalanya berubah ketika dia menjual dirinya di pasar gelap dan dibeli oleh Anthony J. Wallenstein, seorang pria misterius yang ternyata telah menunggunya selama berabad-abad. Semakin mereka dekat, semakin banyak pula hal yang terungkap. Dan jiwa malaikat yang tersegel dalam diri Ara perlahan bangkit, membawa kutukan yang mengancam dunia, memaksa mereka mempertaruhkan cinta, nyawa, dan takdir yang menentang Surga maupun Neraka.
View More"Kau, ikutlah denganku."
Suara berat seorang pria berjubah hitam menggema di ruangan bawah tanah yang pengap. Sang gadis yang dipanggil hanya terdiam. Kepalanya tetap tertunduk, seolah tidak lagi memiliki tenaga untuk mempertanyakan apa pun. Namanya Jung Ara. Usianya baru sembilan belas tahun. Beberapa waktu lalu, dia datang ke tempat ini atas kemauannya sendiri setelah tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Perdagangan manusia, katanya. Ara datang bukan karena mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Dia hanya sudah kehabisan pilihan. Sejak kecil, hidup seolah tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas. Ayahnya pergi tanpa pernah kembali. Ibunya, yang tak lagi sanggup menanggung tekanan hidup dan tingkah aneh Ara yang selalu berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat, juga sering menangis karena tiba-tiba terluka, pernah mencoba membunuhnya. Saat kesadarannya kembali, wanita itu justru memilih mengakhiri hidupnya sendiri di depan mata Ara karena rasa bersalahnya. Sejak hari itu, Ara tinggal bersama pamannya. Namun, tempat itu tak pernah menjadi rumah baginya. Hari-harinya dipenuhi pukulan, makian, dan hinaan. Di sekolah dia dijauhi teman-temannya karena dianggap aneh. Orang-orang menyebutnya pembawa sial, anak iblis, bahkan gila. Semuanya hanya karena Ara mampu melihat sesuatu yang tak mampu dilihat manusia lain. Puncaknya terjadi ketika dia mengambil seribu won untuk membeli obat bagi neneknya yang sakit. Pamannya marah besar, dia mengamuk seperti binatang liar yang terusik. Nenek yang berusaha melindunginya dipukul tanpa ampun hingga meninggal di hadapan Ara. Hari itu, kewarasan Ara ikut mati. Dia mengambil sebilah pisau, dan menikam pamannya berkali-kali. Setelah itu, dia menyerahkan diri ke polisi. Lalu dikirim ke pusat rehabilitasi karena mentalnya yang rusak. Dua tahun di pusat rehabilitasi tidak mengembalikan hidupnya. Saat keluar, dia hanyalah seorang mantan pembunuh dengan kondisi mental yang rapuh. Tak ada keluarga yang menunggunya di rumah. Yang menunggunya hanyalah rentenir yang terus menagih utang peninggalan pamannya dengan kekerasan. Ara makin merasa kosong. Perlakuan yang dia dapat sedari kecil membuatnya tak bisa bersosialisasi, apalagi mendapat pekerjaan untuk melunasi utang pamannya. Ara pernah berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, setiap kali berada di ambang kematian, tubuhnya selalu gemetar. Dia terlalu takut untuk benar-benar mati. Karena itu, ketika mendengar tentang pasar gelap, Ara akhirnya membuat keputusan. "Kalau aku memang terlalu pengecut untuk mati ... biarlah orang lain yang menentukan nasibku." Jika menjual dirinya bisa melunasi utang itu. Jika setelah ini dia tak perlu lagi kembali ke kehidupan yang telah menghancurkannya. Mungkin, itulah akhir yang paling pantas untuk seseorang sepertinya. *** Kini Ara berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela. Lampu-lampu kekuningan yang menggantung redup di langit-langit, membuat kulitnya tampak semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana yang dikenakannya membuat dirinya terlihat seperti persembahan. Di sekelilingnya, manusia-manusia lain menunggu nasib di balik jeruji. Sementara di luar jeruji, para pembeli mengamati mereka seperti sedang memilih barang. Ara menunduk dalam-dalam. Dia bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Bukan hanya milik manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua. Perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia. Juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka. Ara bisa melihat mereka semua. Kemampuan yang seharusnya disebut anugerah itu justru berubah menjadi kutukan yang merenggut keluarganya. Kutukan yang membuatnya kehilangan masa kecil. Dan kutukan yang menghancurkan alasan untuk tetap hidup. "Aku pernah mendengar kabarnya, tapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus." "Sepertinya masih remaja, sayang sekali berakhir di tempat ini." "Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?" "Dia bisa melihat kita." Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Namun, semua itu sudah tidak berarti lagi. Siapa pun yang membelinya, apa pun yang akan terjadi setelah ini, dia tidak peduli. "Jung Ara." Ara membuka mata. Dia melangkah mendekati jeruji ketika namanya dipanggil. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong. Beginilah akhir hidupnya. Setidaknya, semuanya akan segera selesai. "Tidak apa-apa. Ini pilihanku," batinnya lirih. Beberapa orang mengeluh karena 'barang' seperti Ara jatuh ke tangan pria tua itu, sebagian lain hanya menggeleng pelan. Namun, sebelum transaksi benar-benar selesai, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Udara seketika berubah drastis. Tubuh Ara menegang. Dia langsung tahu, bahkan sebelum dia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu-lampu berkedip pelan mengikuti langkahnya. Makhluk-makhluk yang sebelumnya berdiri dengan angkuh kini menundukkan kepala. Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar. Setiap langkahnya membuat udara terasa lebih berat, seolah dunia mengakui kehadirannya. Dalam satu gerakan cepat, dia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung kesakitan. "Sepuluh juta," ucapnya datar. Ruangan mendadak riuh. Ada yang tertawa, ada juga yang mengumpat. Sementara pria tua yang masih dicengkeram melotot marah sambil melontarkan sumpah serapah, pria berjubah hitam itu bahkan tidak meliriknya. “Poundsterling. Berikan dia padaku." Seketika seluruh ruangan terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut. Tak seorang pun berani bersuara. Ara perlahan mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, dia melihatnya. Sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Dia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia. Dia bukan makhluk gaib biasa. Dia berbeda. "Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara. “Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan. Peluh dingin mengalir di pelipis Ara. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar. Bukan karena nominalnya, tetapi cara pria itu mengatakan 'milikku' tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membeli barang. Melainkan seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang telah sudah lama ditunggu. Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, Melainkan karena secercah harapan yang bahkan tidak berani dia akui. *** Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri tepat di depannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya. "Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?" Pandangan mereka bertemu sesaat. Tatapan pria itu terlihat dingin. Namun, entah mengapa tidak terasa menghakimi. "Baik," jawab Ara lirih. Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Dia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita sudah selesai. Kami pergi." Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik meninggalkan ruangan. Ara mengikuti di belakangnya dengan langkah pelan. "Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara. Sementara Jong Su, si penanggung jawab acara masih memandangi punggung pria berjubah hitam itu yang perlahan menghilang di balik lorong. "Lebih baik kau diam." Pria itu mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih kepada sosok Ara yang berjalan mengikuti pria tersebut. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi. *** "Apa kau masih mengingatku?" tanya pria itu pelan tanpa menoleh. Ara tentu mengernyit. "Maaf, apa kita pernah bertemu?" Pria misterius itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis. "Tujuh ratus tahun. Waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian. Tapi kali ini, aku tidak akan kehilanganmu lagi." Ara mendengar gumaman tersebut. Namun, dia sama sekali tidak mengerti. []Pada akhirnya, seluruh hidangan yang disajikan habis tak bersisa, termasuk hidangan penutup berupa mango cheesecake dengan yuzu sorbet, serta mille-feuille yang dihiasi anggur dan rasberi segar.Anthony memperhatikan Ara sejak suapan pertama hingga terakhir, gadis itu makan dengan lahap dan tidak sekali pun menunjukkan tanda-tanda mual.Makan malam mereka berakhir di bar lantai lima puluh dua. Lagi-lagi, tak ada tamu lain selain mereka. Suasana tenang itu seolah menjadi hadiah terakhir bagi dua insan yang sedang menikmati penghujung tahun.Dari balik dinding kaca, London bermandikan cahaya. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Anthony sesekali menyesap cocktail-nya, sementara Ara menikmati secangkir minuman hangat sambil terus memandangi pemandangan di luar.Udara musim dingin terasa begitu dingin. Namun, jemari mereka yang terus bertaut membuat Ara sama sekali tidak merasakannya.Tak lama kemudian, mereka men
"Kau baik-baik saja?" Anthony segera bangkit dari kursinya, lalu berlutut di sisi Ara. Tangannya mengusap perlahan punggung gadis itu, berusaha meredakan rasa mual yang datang tiba-tiba.Wajahnyadipenuhikekhawatiran.SudahlebihdarisemingguAratidakmengalamimorningsickness.Anthonysempatberpikirkondisikehamilangadisitumulaistabil.Namun,melihatAramenutupmulutsepertiini,seluruhketenanganyangberusahadiabangunseketikaruntuh.Aramenganggukpelan.Rasabersalahjustrumemenuhidadanya.DiatidakinginmerusakmalamyangtelahdipersiapkanAnthonydengansepenuhhati."Hanyamualsedikit,"ucapnyasambiltersenyumtipis. 
'Kalau aku yang lebih dulu pergi, siapa yang akan membangunkanmu kembali ketika kau hancur, Ara?'"Hm? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Anthony, memilih mengabaikan pikirannya sendiri.Ara tersentak pelan. Dia menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak."Dia mendongak hanya untuk mendapati tuan Wallenstein yang sedang menundukkan kepala, menatapnya penuh kasih. Tanpa disadari, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman indah yang memancing Anthony untuk mendaratkan kecupan lembut di atasnya. Walau dia bertanya seperti itu, Ara tahu bahwa sang tuan mendengarnya."Masih ada waktu dua puluh menit lagi, apa kau masih ingin di sini?"Ara mengangguk. Entah sudah berapa kali Ara memandangi wajah pria itu, tetapi rasanya dia tidak akan pernah bosan. Pria ini tidak pernah gagal membuat Ara jatuh cinta, dia benar-benar mencintainya, bahkan lebih besar dari yang dia kira. Setiap kali menatap Anthony, hatinya selalu dipenuhi berbagai macam pe
Setelah berkendara hampir setengah jam, menikmati hamparan salju yang menyelimuti London, gemerlap lampu Natal yang menghiasi setiap sudut jalan, serta tawa hangat para penduduk lokal dan wisatawan yang larut dalam semangat pergantian tahun, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.Sebenarnya ada jalur yang lebih singkat, hanya sekitar lima belas menit. Namun, Anthony sengaja memilih jalan memutar. "Supaya perjalanan kita tidak membosankan. Sekalian menikmati pemandangan," begitu katanya.Bagi Ara, alasan itu sama sekali tidak penting. Lima belas menit ataupun tiga puluh menit, semuanya terasa sama selama Anthony berada di sampingnya.Sejak meninggalkan Stasiun Paddington, pria itu tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka. Sesekali Anthony mengangkat tangan Ara untuk dikecup lembut, lalu melontarkan kalimat-kalimat sederhana yang selalu berhasil membuat pipi gadis itu memerah.Berkat semua itu, perjalanan mereka terasa begitu singkat. Traum
“Perutku rasanya aneh,” gumam Ara seraya menyentuh perutnya, sesekali meremasnya kecil.Anthony mengernyit heran. Dia menggenggam tangan Ara lalu menyingkirkannya perlahan sebelum telapak tangannya sendiri berpindah menyentuh perut gadis itu. Lembut dan penuh kehati-hatian.
"Araphael." "Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersaya
"Kau ... dan ibuku ...." Mengapa ayah membunuh ibu? Anthony tidak tahu. Lebih tepatnya, dia tidak pernah ingin tahu. Sejak mengetahui kebenaran itu, dia terlanjur marah. Terlanjur dipenuhi kebencian. Mencari alasan di baliknya bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya.
Pada akhirnya, malam panjang itu berhenti ketika tubuh Ara benar-benar menyerah pada kelelahan. Sesaat setelah Anthony memeluknya erat dalam dekapan hangat, kesadaran gadis itu perlahan tenggelam bersama napasnya yang mulai teratur. Anthony masih terdiam cukup lama di atas ranjang, menatap wajah A
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore