Iblis Yang Mencintaiku

Iblis Yang Mencintaiku

last updateLast Updated : 2026-07-19
By:  Shiooki Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
8 ratings. 8 reviews
229Chapters
1.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kehidupan Ara dipenuhi oleh kematian, kekerasan, dan hal-hal yang seharusnya tak pernah dilihat oleh orang biasa. Dia diberkati—atau mungkin dikutuk—dengan indra keenam, sebab di dalam dirinya bersemayam jiwa Araphael, seorang malaikat yang keberadaannya telah dihapus tujuh ratus tahun yang lalu. Sejak kecil, tragedi tak henti-hentinya menghantuinya: ayahnya pergi, ibunya bunuh diri di hadapannya, dan masyarakat mencapnya sebagai anak yang aneh. Setelah membunuh pamannya yang kejam untuk melindungi satu-satunya orang yang pernah memperlakukannya dengan baik, Ara dikirim ke pusat rehabilitasi, dan setahun kemudian kembali ke rumah—menjalani kehidupan yang hampa. Segalanya berubah ketika dia menjual dirinya di pasar gelap dan dibeli oleh Anthony J. Wallenstein, seorang pria misterius yang ternyata telah menunggunya selama berabad-abad. Semakin mereka dekat, semakin banyak pula hal yang terungkap. Dan jiwa malaikat yang tersegel dalam diri Ara perlahan bangkit, membawa kutukan yang mengancam dunia, memaksa mereka mempertaruhkan cinta, nyawa, dan takdir yang menentang Surga maupun Neraka.

View More

Chapter 1

1 - Dia Milikku

"Kau, ikutlah denganku."

Suara berat seorang pria berjubah hitam menggema di ruangan bawah tanah yang pengap.

Sang gadis yang dipanggil hanya terdiam. Kepalanya tetap tertunduk, seolah tidak lagi memiliki tenaga untuk mempertanyakan apa pun.

Namanya Jung Ara. Usianya baru sembilan belas tahun. Beberapa waktu lalu, dia datang ke tempat ini atas kemauannya sendiri setelah tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan.

Perdagangan manusia, katanya.

Ara datang bukan karena mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Dia hanya sudah kehabisan pilihan. Sejak kecil, hidup seolah tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas.

Ayahnya pergi tanpa pernah kembali.

Ibunya, yang tak lagi sanggup menanggung tekanan hidup dan tingkah aneh Ara yang selalu berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat, juga sering menangis karena tiba-tiba terluka, pernah mencoba membunuhnya. Saat kesadarannya kembali, wanita itu justru memilih mengakhiri hidupnya sendiri di depan mata Ara karena rasa bersalahnya.

Sejak hari itu, Ara tinggal bersama pamannya. Namun, tempat itu tak pernah menjadi rumah baginya. Hari-harinya dipenuhi pukulan, makian, dan hinaan. Di sekolah dia dijauhi teman-temannya karena dianggap aneh. Orang-orang menyebutnya pembawa sial, anak iblis, bahkan gila.

Semuanya hanya karena Ara mampu melihat sesuatu yang tak mampu dilihat manusia lain.

Puncaknya terjadi ketika dia mengambil seribu won untuk membeli obat bagi neneknya yang sakit. Pamannya marah besar, dia mengamuk seperti binatang liar yang terusik. Nenek yang berusaha melindunginya dipukul tanpa ampun hingga meninggal di hadapan Ara.

Hari itu, kewarasan Ara ikut mati. Dia mengambil sebilah pisau, dan menikam pamannya berkali-kali. Setelah itu, dia menyerahkan diri ke polisi. Lalu dikirim ke pusat rehabilitasi karena mentalnya yang rusak.

Dua tahun di pusat rehabilitasi tidak mengembalikan hidupnya. Saat keluar, dia hanyalah seorang mantan pembunuh dengan kondisi mental yang rapuh. Tak ada keluarga yang menunggunya di rumah. Yang menunggunya hanyalah rentenir yang terus menagih utang peninggalan pamannya dengan kekerasan.

Ara makin merasa kosong. Perlakuan yang dia dapat sedari kecil membuatnya tak bisa bersosialisasi, apalagi mendapat pekerjaan untuk melunasi utang pamannya.

Ara pernah berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, setiap kali berada di ambang kematian, tubuhnya selalu gemetar. Dia terlalu takut untuk benar-benar mati. Karena itu, ketika mendengar tentang pasar gelap, Ara akhirnya membuat keputusan.

"Kalau aku memang terlalu pengecut untuk mati ... biarlah orang lain yang menentukan nasibku."

Jika menjual dirinya bisa melunasi utang itu. Jika setelah ini dia tak perlu lagi kembali ke kehidupan yang telah menghancurkannya. Mungkin, itulah akhir yang paling pantas untuk seseorang sepertinya.

***

Kini Ara berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela. Lampu-lampu kekuningan yang menggantung redup di langit-langit, membuat kulitnya tampak semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana yang dikenakannya membuat dirinya terlihat seperti persembahan.

Di sekelilingnya, manusia-manusia lain menunggu nasib di balik jeruji. Sementara di luar jeruji, para pembeli mengamati mereka seperti sedang memilih barang.

Ara menunduk dalam-dalam. Dia bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Bukan hanya milik manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua. Perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia. Juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka.

Ara bisa melihat mereka semua.

Kemampuan yang seharusnya disebut anugerah itu justru berubah menjadi kutukan yang merenggut keluarganya.

Kutukan yang membuatnya kehilangan masa kecil. Dan kutukan yang menghancurkan alasan untuk tetap hidup.

"Aku pernah mendengar kabarnya, tapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus."

"Sepertinya masih remaja, sayang sekali berakhir di tempat ini."

"Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?"

"Dia bisa melihat kita."

Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Namun, semua itu sudah tidak berarti lagi. Siapa pun yang membelinya, apa pun yang akan terjadi setelah ini, dia tidak peduli.

"Jung Ara."

Ara membuka mata. Dia melangkah mendekati jeruji ketika namanya dipanggil. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong.

Beginilah akhir hidupnya.

Setidaknya, semuanya akan segera selesai.

"Tidak apa-apa. Ini pilihanku," batinnya lirih.

Beberapa orang mengeluh karena 'barang' seperti Ara jatuh ke tangan pria tua itu, sebagian lain hanya menggeleng pelan. Namun, sebelum transaksi benar-benar selesai, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Udara seketika berubah drastis.

Tubuh Ara menegang. Dia langsung tahu, bahkan sebelum dia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang.

Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu-lampu berkedip pelan mengikuti langkahnya. Makhluk-makhluk yang sebelumnya berdiri dengan angkuh kini menundukkan kepala.

Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar. Setiap langkahnya membuat udara terasa lebih berat, seolah dunia mengakui kehadirannya.

Dalam satu gerakan cepat, dia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung kesakitan.

"Sepuluh juta," ucapnya datar.

Ruangan mendadak riuh. Ada yang tertawa, ada juga yang mengumpat. Sementara pria tua yang masih dicengkeram melotot marah sambil melontarkan sumpah serapah, pria berjubah hitam itu bahkan tidak meliriknya.

“Poundsterling. Berikan dia padaku."

Seketika seluruh ruangan terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut. Tak seorang pun berani bersuara.

Ara perlahan mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, dia melihatnya. Sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Dia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia.

Dia bukan makhluk gaib biasa.

Dia berbeda.

"Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara.

“Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan.

Peluh dingin mengalir di pelipis Ara. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar.

Bukan karena nominalnya, tetapi cara pria itu mengatakan 'milikku' tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membeli barang. Melainkan seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang telah sudah lama ditunggu.

Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, Melainkan karena secercah harapan yang bahkan tidak berani dia akui.

***

Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri tepat di depannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya.

"Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?"

Pandangan mereka bertemu sesaat. Tatapan pria itu terlihat dingin. Namun, entah mengapa tidak terasa menghakimi.

"Baik," jawab Ara lirih.

Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Dia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita sudah selesai. Kami pergi."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik meninggalkan ruangan. Ara mengikuti di belakangnya dengan langkah pelan.

"Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara. Sementara Jong Su, si penanggung jawab acara masih memandangi punggung pria berjubah hitam itu yang perlahan menghilang di balik lorong.

"Lebih baik kau diam." Pria itu mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih kepada sosok Ara yang berjalan mengikuti pria tersebut. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi.

***

"Apa kau masih mengingatku?" tanya pria itu pelan tanpa menoleh.

Ara tentu mengernyit. "Maaf, apa kita pernah bertemu?"

Pria misterius itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis.

"Tujuh ratus tahun. Waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian. Tapi kali ini, aku tidak akan kehilanganmu lagi."

Ara mendengar gumaman tersebut. Namun, dia sama sekali tidak mengerti. []

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

StarSea25
StarSea25
seruuuuu bangett ceritanyaa yaa. dari judul dan cover udah klik bangettt.........
2026-07-17 13:15:19
1
0
Indy Tralia
Indy Tralia
Ini cerita fantasy pertama yg aku baca. Jujur, ini diluar ekspektasiku. alurnya memang lumayan berat, makanya harus baca dan pahami pelan-pelan. Tapi penulisnya pinter banget menjabarkan suasana POV tokoh pria atau wanitanya. love it!! Semangat terussss
2026-05-29 20:35:38
2
0
Maufy Izha
Maufy Izha
ceritanya unik, aku baru pertama baca roman fantasi dengan tipe kayak, ternyata seru. Ditunggu selalu updatenya thor
2026-04-24 18:12:26
1
0
istrikookie10
istrikookie10
semangattttt
2026-03-26 01:33:22
1
0
Ayuwine
Ayuwine
seru banget ceritanya
2026-03-25 18:29:41
1
0
229 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status