
Iblis Yang Mencintaiku
Kehidupan Ara dipenuhi oleh kematian, kekerasan, dan hal-hal yang seharusnya tak pernah dilihat oleh orang biasa. Dia diberkati—atau mungkin dikutuk—dengan indra keenam, sebab di dalam dirinya bersemayam jiwa Araphael, seorang malaikat yang keberadaannya telah dihapus tujuh ratus tahun yang lalu.
Sejak kecil, tragedi tak henti-hentinya menghantuinya: ayahnya pergi, ibunya bunuh diri di hadapannya, dan masyarakat mencapnya sebagai anak yang aneh.
Setelah membunuh pamannya yang kejam untuk melindungi satu-satunya orang yang pernah memperlakukannya dengan baik, Ara dikirim ke pusat rehabilitasi, dan setahun kemudian kembali ke rumah—menjalani kehidupan yang hampa.
Segalanya berubah ketika dia menjual dirinya di pasar gelap dan dibeli oleh Anthony J. Wallenstein, seorang pria misterius yang ternyata telah menunggunya selama berabad-abad.
Semakin mereka dekat, semakin banyak pula hal yang terungkap. Dan jiwa malaikat yang tersegel dalam diri Ara perlahan bangkit, membawa kutukan yang mengancam dunia, memaksa mereka mempertaruhkan cinta, nyawa, dan takdir yang menentang Surga maupun Neraka.
Read
Chapter: 195 - Luka yang Tak Pernah Mengering"Kalau begitu," bisiknya sambil menarik Ara kembali ke dalam pelukannya, lalu melanjutkan, "tetaplah bahagia bersamaku."Ara terdiam beberapa saat seraya menggigit bibirnya pelan, lalu mengangguk dan kembali memeluk Anthony. Cukup lama mereka dalam posisi tersebut, sebelum akhirnya Anthony lebih dulu mengurai pelukan mereka dan beringsut ke tepi ranjang, dan duduk di sana.Ara masih berbaring, dan lagi-lagi memandangi punggung Anthony. Bohong jika dia mengatakan bahwa dirinya tidak tertegun setiap kali melihat luka itu. Namun, anehnya, tak setetes darah pun pernah menetes dari daging yang koyak tersebut, bahkan ketika Anthony berbaring atau bergerak.Anthony pernah mengatakan bahwa darah dari luka itu telah berubah menjadi sutra merah. Menjadi selimut yang pernah menghangatkan tubuhnya dan kain yang selama ini melindungi matanya.Memikirkannya membuat dada Ara kembali terasa sesak.Ingatan tentang mimpi yang dialaminya selama koma berputar lagi di
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: 194 - Kebahagiaan yang RapuhSosok tegap dengan tubuh bagian atas yang tak tertutupi sehelai benang pun itu sedang berbaring di atas ranjangnya. Seulas senyum tipis terukir di bibir Anthony saat memandangi wajah gadis yang tertidur dalam pelukannya, terlelap dengan kepala bersandar pada lengannya yang dijadikan bantal.Wajah itu terlihat begitu tenang.Kulitnya yang pucat dan halus tampak semakin lembut di bawah cahaya pagi yang menyelinap dari balik tirai. Bulu mata Ara melengkung cantik, hidung kecilnya terlihat menggemaskan, pipinya yang kini sedikit lebih berisi tampak sehat, sementara bibir mungilnya sesekali merengut setiap kali Anthony dengan jahil menyentuh pipinya.Memang, hanya Jung Ara yang mampu membuat Anthony meragukan seluruh keyakinan yang selama ratusan tahun dia pegang teguh.Dulu, Anthony percaya bahwa dirinya tak akan pernah mencintai siapa pun lagi. Setelah kehilangan Araphael, dia mengira seluruh cinta dalam dirinya telah mati. Namun, Jung Ara mematahkan semua k
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: 193 - Kehangatan yang Mereka Bagi"Hanya itu? Tuan tidak menyembunyikan apa pun dariku, 'kan?" Ara bertanya lirih, tatapannya begitu serius. Tersirat permohonan yang terpancar dari sana, seolah memberitahukan bahwa dia tidak ingin dibohongi.Jika Anthony berbohong lagi, sesuatu dalam dirinya akan benar-benar patah.Sedangkan sang iblis tak bersayap menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan."Tidak ada, Sayang." Suaranya terdengar rendah dan menenangkan. "Saat waktunya tiba, aku akan menunjukkannya padamu."Pipi Ara seketika menghangat saat Anthony memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Anthony mengatakannya dengan begitu alami, seolah panggilan itu memang sudah menjadi bagian dari dirinya. Baru saja Ara hendak membuka mulut untuk membantah atau setidaknya meminta penjelasan lebih lanjut, telunjuk Anthony lebih dulu menyentuh bibirnya."Aku bisa menebak apa yang ingin kau katakan," ujarnya, lalu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang membuat diriny
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: 192 - Anak kita"Hei, Vance. Apa yang kau lakukan? Kau tidak pergi?"Sosok yang dipanggil Vance tak menjawab. Dia menoleh ke belakang sambil memegang dada kirinya yang berdenyut tidak biasa. Tak ada siapa-siapa di sana selain pepohonan raksasa, angin yang berembus pelan, dan beberapa makhluk yang terlihat berlalu-lalang.Kedua alisnya mengernyit.Lalu, tanpa sadar, bibir tebal itu membisikkan sebuah nama yang telah terukir di dalam jiwanya.***"Jung Ara."Pemilik rambut jelaga itu tertawa pelan. Suara tawanya yang rendah dan berat mengalun hangat di antara mereka, seolah ingin meredakan kecemasan yang sejak tadi memenuhi dada sang gadis. Kemudian Anthony menggenggam kedua tangan Ara."Apa perlu aku memenuhi langit dengan tulisan, 'aku mencintaimu, Jung Ara', menggunakan darahku?" tanyanya seraya menyunggingkan senyum tipis. "Atau kau ingin aku menguras lautan dan mempersembahkan kepala Raja Lautan untukmu?"Ara langsung menggeleng beber
Last Updated: 2026-07-02
Chapter: 191 - Pertanyaan yang Paling Ditakuti"Maksudmu Noah Lee? Pria dari gereja yang selama ini mengawasimu?" tanya Yuuscar, dahinya tampak mengernyit bingung.Yuuscar terdiam sesaat.Mengapa pula Anthony menyebut Noah Lee 'pria tua'? Bukankah dia lebih tua dari pria gereja itu?Sementara di sana, Anthony kembali mendengkus lirih. Kali ini, bahunya sedikit berguncang karena menertawakan ucapan Yuuscar.Jika pria pucat itu tahu bahwa Noah Lee sebenarnya adalah Raja Iblis yang sedang menyamar, mungkin dia akan menyesal karena pernah menyebutnya sebagai pria agamais ceroboh dan impoten."Ya, dia," jawab Anthony singkat. Pandangannya bergulir ke arah jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga sorot matanya tampak sedikit meredup. "Kupikir dia tidak akan berkeliaran lagi di sekitarku setelah membuka topengnya," gumamnya pelan.Ucapan itu membuat Yuuscar mengernyit semakin dalam. Namun, sebelum pria itu sempat bertanya lebih jauh, Anthony sudah meliriknya sambil
Last Updated: 2026-07-01
Chapter: 190 - Sedia Payung Sebelum Hujan"Bisa kau lepaskan ekspresi bengismu itu?"Yuuscar menatap datar pria yang baru saja duduk di hadapannya. Punggungnya bersandar santai, sementara kedua lengannya terlipat di depan dada. Meski diundang datang kemari, sang tuan rumah bahkan tidak mau repot-repot menyajikan teh atau makanan ringan pada tamunya. Dan sekarang, dia malah memelototinya seperti itu.Sungguh etika yang buruk."Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Kukira kau sudah memberitahu Ara perihal benih yang kau tanamkan di dalam perutnya." Yuuscar mengangkat kedua bahunya ringan, lalu dengan malas merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua, kemudian meletakkannya di atas meja. "Barang pesananmu."Anthony mengembuskan napas kasar. Tangan kanannya bergerak menyugar rambutnya ke belakang sebelum mengusap dagunya. Bola mata mighblack itu bergulir memandang kotak yang barusan diletakkan Yuuscar. Dahinya mengernyit tidak nyaman ketika rencana yang
Last Updated: 2026-07-01